“Udah ah, buruan jalannya keburu maghrib,” ucapku sembari melanjutkan langkah. Namun lagi-lagi Andaru menghentikanku. “Tunggu, Dis,” ucapnya. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Benda hitam dengan rantai kecil di salah satu sisinya. Bentuknya mirip gelang, hanya sedikit besar dan sepertinya ukurannya bisa diubah sesuai keinginan. “Nih,” ucap Andaru lagi, sambil memberikan benda itu kepadaku. “Ini apaan? Gelang?” tanyaku, sambil mecoba memakai benda tadi di tanganku. Lumayan bagus, sih. Aku masih kagum dengan gelang unik yang aku pakai, sampai aku dengar si Andaru malah tertawa. Aku menatapnya heran. Apa yang dia tertawakan? Ini orang benar-benar sudah gila rupanya. “Itu kalung, Dis. Buat kucing,” katanya sambil menghentikan tawa. Oh, kenapa tidak bilang. Ak

