“Tapi lo juga jangan nonton, nanti kita lanjutin bareng-bareng.” Aku kemudian mengangguk, sambil membiarkan Bagas meninggalkanku sendirian di UKS. Bukan masalah besar sebenarnya, hanya saja kalau aku kembali sendirian, pikiranku akan kembali pada saat-saat sore kemarin. Atau paling tidak, dengan bodohnya aku akan kembali membuka-buka room chat di ponsel. Buru-buru aku menggeleng pelan, sambil memasukkan ponsel ke dalam saku, kemudian memejamkan mata. Kali ini aku harus tidur dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Sampai suara langkah kaki yang mendekat, mengalihkan atensiku. “Dis, lo sakit?” Dan satu kalimat dengan raut cemas itu sukses membuatku terpaku sesaat. Kenapa di saat aku sangat ingin menghindari manusia ini, dia malah datang di hadapanku tanpa diundang. Aku

