Entah sudah berapa kali aku mengelilingi kawasan ini. Aku benar-benar tidak tahu. Sebelumnya, Bagas tidak pernah begini. Saat hari peringatan kematian ayahnya, biasanya Bagas hanya banyak diam dan merenung. Kadang kala, dia berubah jadi sedikit waras, tapi tidak pernah menghilang sampai seperti ini.
Hari sudah semakin sore, sebentar lagi gelap dan baik aku, Saga ataupun Mas Tama sama sekali belum menemukan keberadaan Bagas. Aku sengaja meminta Saga mencari di area sekeliling sekolah, karena dia bisa bawa motor. Sedangkan aku dan Mas Tama berpencar mencari di sekeliling perumahan kami. Sedangkan polisi? Apa yang bisa diharapkan dengan hilangnya seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun dalam keadaan sehat? Polisi tidak akan mau menurunkan pasukan Densus 88 hanya untuk mencari orang macam Bagas.
Aku sudah benar-benar frustasi mencari Bagas yang sampai saat ini belum mendapat titik terang. Ditambah sejak tadi, Ibu juga terus-terusan meneleponku karena kondisi Bunda yang tidak berhenti menangis. Seandainya aku bisa mengatakan ke Bunda, kalau kehilangan seorang anak macam Bagas tidak akan merugikannya. Tapi itu tidak mungkin.
Entah kemana perginya manusia mermaid itu. Eh, tunggu dulu. Buru-buru aku mengeluarkan ponsel dan memanggil Ibu.
“Bu, Ladis tahu Bagas ada di mana. Bilang Bunda, jangan khawatir. Ladis akan bawa Bagas pulang.”
***
Padahal awalnya aku berpikir, kalau aku berlari maka aku akan lebih cepat menemukan Bagas. Tapi sayangnya, semua ekspektasiku itu membuatku jatuh tersungkur karena kakiku sukses masuk ke lubang got. Aku memang sudah tahu Bagas ada di mana, tapi dengan kaki penuh luka dan juga sandalku yang putus, aku harus tertatih menuju tempat di mana Bagas berada.
Hari sudah berangsur gelap, dan aku baru menyadari kalau dengan kaki sependek ini, jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh, jadi terasa ratusan kali lebih jauh.
Hingga akhirnya aku berhasil menemukan Bagas yang tengah berjongkok di semak-semak pinggir empang. Semoga aku tidak mengganggu sesi buang hajatnya.
“Heh!”
Tidak menjawab, si Bagas buluk hanya bangkit sembari menatapku lurus. Dia bahkan masih memakai hoodie dan celana training yang sama dengan yang dia pakai semalam. Dengan segenap kesabaran yang semakin menipis, aku mencoba menarik napas pelan. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menerkam Bagas.
“Ngapain lo?”
“Mancing.”
Dari jutaan diksi, di saat genting seperti ini, kata mancing sukses membuatku naik darah.
“Kenapa lo nggak pulang?” tanyaku pelan, yang tidak langsung dapat jawaban. “Lo tau nggak, apa yang lo lakuin itu udah ngerugiin banyak orang?”
“Ladis ....”
“Gue tahu lo sedih, gue tahu lo marah, dan gue juga tahu kalau lo itu b**o,” lanjutku. “tapi bisa nggak, sekali aja lo nggak bikin orang lain khawatir?”
“Gue cuma lagi pengen sendiri.”
“Dengan tidur di empang?!”
“Kenapa lo mendadak peduli?” ucapnya tiba-tiba yang sukses membuatku yang memang sudah kesal, menjadi berkali-kali lipat lebih kesal.
Aku hanya diam, tidak mencoba menjawab pertanyaan gila Bagas.
“Maaf, Dis. Gue salah ngomong.” Tanpa menatapku yang tengah berusaha untuk tidak melakukan tindak pembunuhan, Bagas berlalu begitu saja.
Aku sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku kesal, aku marah, tapi aku bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ucapan Bagas yang terakhir sudah berhasil bikin aku sakit hati. Jadi usahaku selama ini sia-sia? Aku sampai tercebur got karena mencarinya, itu semua enggak ada artinya? Entah kenapa rasanya geli mengingat betapa paniknya aku tadi.
Aku benar-benar sudah berlebihan rupanya.
“Hahahaha.”
Tidak tahu kenapa, aku malah tertawa. Rasanya lucu sekali.
“Kenapa?” ucap Bagas yang ternyata berada tidak jauh dariku. Mungkin dia dengar suara tawa sumbangku barusan.
“Nggak, bukan apa-apa,” jawabku sembari berjalan menyusuri empang. “lucu aja, gue sampe masuk got tadi.”
Tidak ada jawaban. Aku memutuskan untuk terus berjalan, sampai tiba-tiba ponselku berdering. Kali ini Mas Tama yang menghubungiku.
“Bagas udah ketemu, nih. Bilang Bunda, jangan nangis lagi. Kalian semua nggak perlu khawatir.”
Aku berhenti sejenak, mencoba menetralkan gemuruh amarah yang kian bergejolak di hatiku. Perlahan aku berbalik, menatap Bagas yang memang seperti dugaanku, masih berdiri dengan tampang cengo di pinggir empang.
“Gue bukannya tiba-tiba peduli, gue kasian sama Bunda lo, yang masih harus buang-buang energi dengan nangisin anak kayak lo,” ucapku penuh penekanan.
Kemudian aku berbalik, benar-benar pergi dari sana. Terserah si Bagas bakalan ikut aku pulang atau menginap semalam lagi di sini, aku sama sekali tidak mau peduli.
Lagi-lagi ucapan laknat Bagas terngiang di telingaku. s****n! Tahu bakal begini, tadi kubiarkan saja Bagas hilang selamanya.
***
“Sandal lo kemana?”
Hening.
“kenapa celana lo kotor banget?”
Aku masih belum menjawab, dan terus berjalan mendahului Bagas.
“Dis, gue lagi ngomong sama lo!” ucap Bagas sembari menarik sebelah tanganku.
“Kenapa lo tiba-tiba peduli?” ucapku sarkas. Gue tersenyum tipis, sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Bagas.
“Gue minta maaf.”
“Simpan maaf lo buat Bunda.”
Aku terus berjalan, sama sekali tidak memedulikan keberadaan Bagas di belakangku. Sampai cowok tengil menyebalkan itu tiba-tiba saja berjongkok di hadapanku.
“Naik.”
Tidak menjawab, aku hanya terus berjalan mendahului Bagas.
“Dis, nanti lo nginjek t*i kucing.”
Cuma t*i, aku tidak takut! Masih mencoba mengabaikan Bagas, sampai lagi-lagi Bagas berjongkok di hadapanku. “Cepetan, Dis. Di depan itu ladang ranjau.”
Aku masih pura-pura tuli, hingga Bagas melepas sandalnya dan menaruhnya di hadapanku.
“Gue tahu, gue emang salah. Gue juga lagi emosi tadi, gue mohon maafin gue, Ladisha,” ucapnya sambil pasang tampang memelas.
Dia pikir aku bakalan merasa iba? Stroberi mangga asinan, sori enggak kasihan!
“Nih, lo pake sandal gue. Biar gue aja yang nginjak t*i kucing, nggak apa-apa. Asal lo maafin gue.”
“Nggak usah kebanyakan drama, Gas. Buruan jalan! Semakin cepat lo sampai rumah, semakin cepat masalah selesai,” ucapku yang sudah lelah menghadapi sikap Bagas.
“Yaudah kalau begitu naik!”
Aku hanya bisa menghela napas. Aku benar-benar sudah kalah kali ini. Satu hal yang sempat kuabaikan, aku lupa kalau Bagas punya kepala batu.
***
Begitu sampai di rumah, adegan dramatis lagi-lagi terjadi. Bunda menangis sembari memeluk Bagas. Tapi aku sudah tidak mau peduli. Setelah menelepon Saga dan memintanya langsung pulang, aku buru-buru mandi. Rasanya badanku remuk, aku bahkan masih harus mengerjakan tugas sekolah. Ini semua gara-gara si Bagas mermaid! Dan jujur saja, aku belum sepenuhnya memaafkan dia.
Sampai sebuah notifikasi tidak penting muncul di ponselku.
Tetangga: Ladis, udah tidur belom?
Ladis udah tidur ya?
Ladis, maafin Bagas ya, tadi Bagas udah keterlaluan. Bagas cuma lagi sedih.
Ladis: Berisik!
Tetangga: Ladis mau, kan, maafin Bagas?
Ladis: Jangan ulangi lagi.
Bilang maaf ke Saga.
Tetangga: Iya Ladis :'(
Aku tidak menghiraukan lagi pesan-pesan yang beruntun dari Bagas setelahnya. Karena sungguh, tugas trigonometri ini lebih menyiksaku ketimbang masalah hilangnya Bagas.
***