Galaksi Andromeda

1681 Kata
Kalau dalam novel drama, biasanya si tokoh utama sering melakukan adegan dramatis atau menyentuh di setiap bagian cerita. Dan kalau kisahku dikategorikan sebagai novel drama, mungkin ini adalah adegan paling dramatis dalam hidupku. Setelah hilang di empang tiga hari lalu, Bagas belum juga menemukan otaknya yang hilang entah di mana. Dan hari ini, saat jam istirahat tiba, si Bagas dengan seenak udel malah menyeretku ke kantin. Padahal sesungguhnya, aku sedang benar-benar tidak ingin pergi ke kantin dengan alasan apa pun. Kecuali kalau di traktir. Dan Bagas mau menraktirku, itu sebabnya aku hanya bisa pasrah mengikutinya. “Bagas lagi ulang tahun, Dis?” tanya Tiara yang kini sudah duduk di sampingku. Gue hanya mengedikkan bahu, tidak tahu harus menjawab apa. Bagas itu makhluk paling random yang ada di muka bumi. Jangankan aku, bahkan Bunda yang melahirkannya saja kadang suka heran dengan sifat Bagas yang kelewat b**o. Begitu sampai, si Bagas dan Saga segera melesat menuju warung es kelapa Mang Bewok. Padahal niatnya aku mau makan ketoprak, tapi biarkan saja toh si Bagas juga yang membayar. Kantin masih ramai, seperti waktu jam istirahat pada umumnya. Tidak ada yang aneh, kecuali kelakuan dua makhluk laknat yang joget sambil membawa nampan penuh makanan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka pesan. “Culametan met-met, culametan met-met.” Sagara memulai dengan volume suara yang tidak biasa. Maksudku, dengan suara Saga yang sama sekali tidak enak didengar, nyanyian itu sukses membuat siapa pun yang mendengarnya mendadak sakit telinga. “Kalau ada makanan di meja, mejanya kita makan! Telolet telolet telolelolet.” Aku dan Tiara hanya bisa saling pandang, rasanya ingin menghilang dari kantin saat ini juga. Sampai Tiara berucap keras. “Bukan temen gue!” Dan yang bisa aku lakukan adalah menundukkan kepala, sambil sesekali meminta maaf pada penghuni kantin yang terganggu dengan kelakuan laknat mereka. Meskipun sebagian kelihatannya justru malah terhibur dengan kehadiran dua badut itu. “Kalian bisa duduk, nggak?” Masih sambil cengengesan, Bagas dan Saga duduk di hadapanku. Sekilas, aku menatap meja yang sudah terisi penuh dengan macam-macam makanan. Mulai dari mie goreng, ketoprak, bakso, soto sampai gorengan. Entah siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini. “Ini buat siapa? Lo mau ngasih makan orang sekampung?!” ucapku tak percaya. “Makan aja, lo pilih yang lo mau. Sisanya biar dimakan Saga.” “Siap!” jawab Saga dengan tampang berseri-seri. Aku hanya bisa menghela napas. Di sampingku, Tiara sudah mengambil semangkuk bakso, jadi aku memilih ketoprak. Sebisa mungkin aku makan dengan tenang, berusaha tidak mengalihkan pandangan pada kedua makhluk di hadapanku yang sekarang sedang memperebutkan sebuah tahu isi. Sampai suara riuh terdengar dari arah pintu masuk kantin. Di sebelah ku, Tiara juga sudah mulai bergeliat macam cacing kena garam. “Lo kenapa, Ra? Kermian?” ucap Saga sambil menggigit cabe rawit. “Itu ada Kak Galaksi.” Aku hanya diam sambil mengikuti arah pandang Tiara. Begitu juga dengan Bagas dan Saga, meskipun sepertinya potongan gorengan di meja lebih menarik atensi mereka ketimbang kakak Galaksi yang baru saja lewat. Sejenak aku memperhatikan cowok itu, yang penampilannya sebelas dua belas dengan Bagas. Rambut acak-acakan, dasi hilang entah ke mana, celana ketat, dan muka sangar. Oke untuk yang terakhir itu sama sekali tidak seperti Bagas. Dia datang bersama beberapa cowok dengan penampilan yang kurang lebih sama amburadulnya, tapi tetap dapat jeritan histeris dari cewek-cewek bermata katarak. Awalnya aku mencoba untuk tidak terpengaruh, tapi jeritan tertahan yang keluar dari mulut Tiara yang penuh bakso sungguh menggangguku. “Ra, lo bisa telan dulu nggak baksonya? Muncrat kemana-mana, najis!” omelku yang sama sekali tidak dapat respons dari Tiara. “Kak Galaksi terlalu ganteng, Dis. Ganteng banget!” “Gantengan juga gue.” Yang barusan itu Bagas. Aku hanya memutar bola mata, malas kalau harus menyaksikan perdebatan tidak penting antara Bagas dan Tiara. “Emangnya dia siapa, sih? Kok gue kayak baru ini liat dia?” tanyaku yang buru-buru dapat tatapan tidak percaya dari Tiara. Apa? Memangnya gue salah apa? “Masa lo nggak kenal Kak Galaksi? Lo kemana aja Ladisha?” ucapnya lebay. “masa lo nggak kenal bad boy most wanted number one di sekolah kita?” “Hah? Bad apaan, Ra?” tanyaku memastikan. Tiara menelan baksonya sebelum kembali menjelaskan, “Bad boy most wanted, dia itu kakak kelas paling ganteng, paling dingin, paling galak dan paling disukai cewek-cewek satu sekolah. Kemarin dia habis kena skorsing satu minggu karena tawuran sama sekolah lain, dan lo juga jarang ke kantin makanya jarang lihat.” Gue hanya manggut-manggut, dan reaksi dua kadal di hadapanku juga kurang lebih sama. Merasa tidak tertarik dengan ucapan Tiara, aku mencoba bangkit dari tempat duduk dan bermaksud membeli air mineral. Karena sesungguhnya minum es kelapa campur ketoprak hanya akan memperkeruh isi mulutku. “Mau kemana?” tanya Bagas begitu melihat pergerakanku. “Beli air putih.” Bagas mengangguk dan kembali sibuk dengan kuah soto di hadapannya. Sedangkan aku masih menunggu giliran untuk memesan minum, karena kantin selalu seperti ini saat jam istirahat. Jadi aku sebagai murid yang budiman harus mengantre sebelum membeli, sampai tubuh tinggi, kurus dan dekil itu sudah berdiri di hadapanku dan memesan kopi. Aku bahkan belum sempat memesan! “Eh, sori, Mas! Bisa nggak, tolong antre di belakang? Saya yang datang duluan!” ucapku sembari menepuk-nepuk punggung orang itu. Sampai kemudian ia menoleh, adegan yang terasa menjadi versi lambat ala tayangan drama di TV, kini tengah berlangsung di hadapanku. Oh, ternyata itu cowok bad–apalah itu–yang tadi dikatakan Tiara. Benar-benar bad, bahkan sikapnya juga buruk. “Lo ngomong sama gue?” Oke. Ternyata selain penampilan bad, muka bad, badan bad, bau juga, sifatnya juga bad, ternyata pendengaran orang ini juga benar-benar bad. Aku tersenyum singkat, menatap lurus pada bola mata hitamnya yang sama sekali tidak menakutkan. “Ming–“ “Ini gue udah beliin air putihnya, Dis! Yuk balik, ntar makanan lo keburu dingin!” ucap Tiara kelewat ceria. Tanpa menunggu jawabanku, Tiara sudah menyeretku kembali ke tempat duduk kami. Menyebalkan memang, saat aku lihat lagi cowok buluk itu malah tersenyum ke arahku. Halah! Memangnya dia pikir dia ganteng?! Aku menatap kesal pada Tiara yang kini sudah mengusap-usap punggungku.  “Sabar, Dis. Dia kena skorsing karena tawuran dan bikin anak orang koma tiga hari. Gue nggak mau lo jadi korban,” bisiknya pelan. Aku hanya mendengkus kesal, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas. Memangnya siapa, sih, Galaksi itu?! **” “Dis lo balik bareng Tiara aja ya, gue mau jemput Bunda di kantor. Kasian, katanya mau langsung pergi lagi,” ucap Bagas begitu aku baru saja keluar kelas. Entah kapan dia keluar dari kelasnya, baik Bagas atau Saga, mereka selalu berdiri di depan pintu kelasku begitu bel pulang sekolah berbunyi. “Iya, titip salam buat Bunda.” “Gue duluan kalo gitu.” Aku hanya mengangguk kemudian mencari-cari Tiara yang entah hilang ke mana. Sampai akhirnya kutemukan dia sedang berada di antara kerumunan cewek-cewek alay yang tengah meneriakkan sesuatu. Atau tepatnya seseorang. “Ra, pulang bareng yuk! Si Bagas balik duluan, mau jemput Bunda katanya,” ucapku sambil menepuk bahunya. “Bentar, Dis.” Dengan gerakan kilat, Tiara mengeluarkan ponselnya dan memotret objek yang tengah berlari di lapangan itu. “Pemandangan indah nggak boleh disia-siain.” Lagi-lagi aku hanya memutar bola mata. Malas rasanya kalau harus melihat berandalan itu lagi. Entah apa lagi masalah yang dibuatnya saat ini sampai-sampai harus dihukum lari keliling lapangan. “Lo ngapain, sih? Buang-buang waktu aja!” ucapku kepada Tiara yang masih sibuk melihat hasil fotonya barusan. “Namanya juga orang nge-fans, Dis,” jawabnya sambil cengengesan. “Apa bagusnya suka sama orang ancur-ancuran begitu? Gue lebih baik liat lo jerit-jerit nonton idol Korea ketimbang jerit-jerit liat si Galaksi. Lagian namanya apa banget.” Tiara tidak berkomentar, hanya melihatku sejenak sebelum berkata panjang lebar. “Lo belum kenal dia, Dis. Dia itu dikenal sebagai Galaksi Andromeda. Salah satu galaksi yang paling dekat dengan bimasakti, meski aslinya jauh banget. Salah satu galaksi yang indah, dan keindahannya hanya bisa dikagumi tanpa bisa dimiliki,” ucap Tiara panjang lebar. “Ya, terus hubungannya sama berandalan itu apa?” “Namanya Galaksi, ketua geng Andromeda. Kak Galaksi hanya bisa dikagumi, tanpa bisa dimiliki. Sikapnya juga dingin dan cuek, tapi ganteng. Itu yang bikin gue suka,” lanjut Tiara, masih dengan perasaan berbunga. Aku yang agak geli mendengar teori-teori absurd Tiara barusan, hanya bisa bergidig sambil buru-buru menaiki bus yang sudah berhenti di hadapanku. Sepanjang jalan, Tiara masih saja berceloteh panjang tentang kakak kelas paling apabanget yang pernah kutahu. Maksudku, si Bagas dan Saga saja sudah cukup ancur-ancuran untuk ukuran manusia normal. Dan sekarang, ada yang lebih tidak normal dibanding mereka berdua. Aku yang sudah jengah dengan ocehan Tiara, kemudian berdiri dan mempersilahkan seorang ibu yang baru saja naik. Di jam seperti ini, bus memang lumayan penuh sesak. Jadi aku lebih baik merelakan tempat dudukku ketimbang mendengarkan ocehan tidak berfaedah Tiara. “Makasih, Dek.” Aku mengangguk pelan, membalas senyum si ibu sambil mencoba mengabaikan Tiara yang sekarang malah cemberut. Siapa suruh dia membicarakan si Galaksi atau siapalah itu, padahal aku sama sekali tidak ingin tahu. ‘Malam ini tak ingin aku sendiri ...’ Aku hanya menatap lurus ke luar jendela. Mencoba menikmati perputaran waktu yang terasa melambat saat senja mulai menampakkan semburatnya. Ditemani semilir angin alam dan melodi merdu lagu era 90-an membuatku sedikit tenang. Sampai tanpa kusadari waktu berlalu, dan bus jelek ini sudah berhenti di depan halte dekat rumahku. “Gue duluan, Ra!” ucapku sembari menepuk pelan pundak Tiara. “Hati-hati, Dis.” Aku mengangguk kemudian buru-buru turun, setelah sebelumnya memberikan selembar uang pecahan dua ribu rupiah kepada abang supir yang baik hati. Kenapa kubilang abang itu baik hati, karena sepanjang perjalanan abang itu sama sekali tidak ngebut dan ugal-ugalan. Aku berjalan pelan-pelan, sampai kakiku melintasi rumah Bagas yang anehnya ada sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya. Padahal setahuku, Bunda tidak punya mobil. Lalu itu mobil siapa? Benakku bertanya-tanya. Sampai tak lama, Bunda keluar dengan tumpukan kardus di tangannya. “Eh, Ladis baru pulang?” Aku mengangguk pelan, “Iya, Bun. Bunda ngapain?” “Bunda lagi packing, Dis. Besok Bunda akan pindah,” “HAH?!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN