Harusnya aku senang mendengar kabar ini, tapi entah kenapa yang kulakukan malah keluar masuk rumah. Sejak aku pulang sekolah tadi, Bunda dan Bagas masih sibuk merapikan barang-barang mereka yang akan dibawa ke Bogor. Aku tahu kalau akhir-akhir ini, Bunda memang pulang-pergi Jakarta-Bogor hanya untuk bekerja. Mungkin itu sebabnya, kali ini mereka memutuskan untuk pindah. Tapi aku malah kebingungan setengah mati!
“Bantuin, enggak ... bantuin, enggak ....”
Aku kembali masuk ke dalam rumah, sampai Ibu keluar sembari membawa beberapa kardus kosong.
“Kamu ngapain, sih? Mending bantuin Bagas sana!”
Akhirnya aku mengangguk dan membantu Ibu membawakan dus-dus kosong tadi. Harusnya aku bahagia, tapi ini terlalu mendadak. Maksudku, kalau memang Bagas harus pergi dari kehidupanku, itu harus ada acara perpisahannya dulu, bukannya dadakan begini.
“Bunda serius mau pindah?” tanyaku di sela-sela kesibukan Bunda mengemas pakaian.
“Kenapa? Kamu sedih ya?”
“Takut kangen dia, Bun!” sambung Bagas dari arah dapur.
Bunda hanya tersenyum lembut sembari mengelus rambutku yang acak-acakan. “Bunda nggak pergi untuk selamanya, kok. Suatu saat pasti Bunda balik lagi.”
Aku hanya mengangguk kemudian memeluk Bunda. Aku pasti akan merindukan Bunda, dan meskipun enggan mengakuinya, pasti aku juga akan merindukan kebodohan Bagas. Sampai suara klakson yang super berisik itu menginterupsi aktivitas melankolisku dan Bunda.
“Kayaknya Bunda sudah harus pergi,” ucap Bunda sambil sekali lagi memelukku.
Di luar, sudah ada Ibu. Sebelum pergi, Bunda sekali lagi berpamitan kepada Ibu. Beliau memeluk Ibu lama, sambil mengatakan hal-hal perihal komunikasi dan titip-menitip. Entah apa yang Bunda titipkan, mungkin rumah ini yang harus sesekali ditengok atau dibersihkan.
“Dis, Bunda pergi dulu, ya!” ucap Bunda sambil menepuk bahuku, dan beralih memeluk Bagas. “Bagas jangan bikin masalah.”
Tunggu sebentar. Ada yang janggal di sini. Kenapa Bunda harus memeluk Bagas, dan yang lebih anehnya lagi, Bunda memegang lengan Ibu sambil berkata, “Titip Bagas, ya, Mbak.”
Sampai mobil kijang yang ditumpangi Bunda melaju kencang, aku masih terpaku berdiri di depan rumah Bagas dengan tampang cengo. Jadi, apa yang barusan kulihat? Bagas ditinggal? Bunda pergi ke Bogor, terus apa? Mendadak aku merasa jadi manusia paling bodoh di muka bumi. Hingga sebuah tepukan mendarat di pundakku, bersamaan cengiran Bagas yang menyebalkan.
“Ngapain bengong? Yuk, pulang!” ajaknya sambil menarik lenganku.
“Itu rumah gue, Bagas!”
***
Butuh waktu dua jam untuk aku mencerna apa yang baru saja terjadi. Bunda pindah dan meninggalkan Bagas. Yang lebih parah, barusan Ibu bilang, Bagas boleh tinggal di sini. Maksudku, tinggal bertetangga dengan Bagas saja sudah cukup membuatku hampir gila, dan sekarang sumber kegilaan itu malah sedang asyik nonton DVD bajakan di rumahku.
Buru-buru aku berjalan ke dapur, menghampiri Ibu yang sedang memasak nasi.
“Bu, serius Bagas mau tinggal di sini?” tanyaku ragu.
Ibu hanya mengangguk, sambil sesekali mengaduk beras yang sudah bercampur dengan air. “Kenapa?”
“Bu, Bagas tuh ....” Aku tidak melanjutkan ucapanku, hanya memegangi dahiku dengan telunjuk.
“Kamu pusing? Minum obat.”
“Bu! Bagas itu udah gila!” ucapku yang sudah tidak tahan dengan sikap Ibu yang kelewat santai.
“Kamu yang gila. Cuci piring sana!”
Setelah mengatakan hal kejam barusan, Ibu buru-buru pergi ke luar. Aku yang tidak tahu harus berbuat apa, Cuma bisa menghela napas sembari mulai mencuci piring ditemani suara teriakan laknat si Bagas dan Mas Tama. Entah film bodoh macam apa yang mereka tonton sampai harus berteriak macam orang gila begitu.
“ANJER MUKA SETANNYA KAYAK POCONG!” teriak Bagas dengan suaranya yang bikin sakit telinga.
“Pocong itu kan setan juga, b**o!”
Ah, rasanya aku benar-benar sudah gila.
***
“Dis, makan dulu, Nak.”
“Iya, Pak bentar,” jawabku asal.
Aku menarik napas panjang sebelum mengeluarkannya perlahan. Seharian ini aku hanya mengurung diri di dalam kamar. Tugas sekolahku lumayan banyak, ditambah hanya di kamar aku bisa mendapat ketenangan. Karena sejak tadi, Bagas dan Mas Tama menonton film horor bajakan yang sama sekali tidak aku tahu judulnya apa. Bahkan memikirkannya saja aku tidak mau.
Setelah merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja, aku bergegas menyusul Bapak untuk makan malam. Ternyata Bagas, Mas Tama dan Ibu juga sudah berkumpul bersama Bapak. Aku berjalan pelan, sebelum akhirnya duduk di sebelah Ibu. Di hadapanku, Bagas dan Mas Tama sudah berisik memperdebatkan sesuatu. Rasanya aku mau cepat-cepat makan, supaya bisa lebih cepat menjauh dari dua manusia laknat itu. Sampai suara Bapak menginterupsi kegiatanku yang tengah mengambil nasi.
“Makan yang banyak, Gas,” ucapnya yang buru-buru dijawab dengan anggukan oleh Bagas.
“Nggak pake disuruh juga, Bagas makannya emang banyak, Pak.”
Yang barusan menyahut itu Mas Tama. Ini bukan pertama kalinya Bagas menumpang makan di rumahku, dan bukan pertama kalinya juga Bapak berbasa-basi seperti barusan. Tapi tetap saja, aku yang anaknya saja tidak pernah diperhatikan seperti itu oleh bapakku sendiri. Terakhir Bapak memberikanku perhatian lebih, saat aku kena sakit cacar. Dan itu kejadiannya waktu aku kelas dua SD alias, sudah lama sekali! Aku sama sekali tidak habis pikir dengan keluargaku yang entah bagaimana malah lebih sayang dengan anak tetangga. Bahkan Ibu sudah mengambilkan sepotong tempe untuk Bagas.
“Tam, kamu sudah beresin paviliun belakang? Buat Bagas tidur,” ucap Bapak.
“Udah, Pak. Tapi anaknya nggak mau tidur di sana.”
“Bagas mau tidur sama Mas Tama aja, Pak. Di kamarnya,” ucap Bagas sambil senyum-senyum menatap Bapak. Sebisa mungkin aku menahan makanan yang masuk ke dalam perut agar tidak aku muntahkan.
“Tidur di lantai.”
“Nggak apa-apa asalkan sama Mas Tama.” Bagas mulai bergelayut manja di lengan Mas Tama.
“Najis! Jauh-jauh sana!”
Bapak dan Ibu hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua alien di hadapanku, sedangkan aku sama sekali tidak berminat untuk tertawa.
“Bundamu nggak ngelarang buat tidur di sini, asal rumahmu harus selalu dibersihkan loh,” ucap Ibu mengingatkan.
“Siap! Bagas nggak akan lupa,” jawab Bagas.
Selebihnya, sesi makan hanya diisi dengan kebodohan Bagas dan Mas Tama yang sukses membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan makan.
***
Pagi ini aku bangun lebih awal. Jaga-jaga saja, takut Bagas sudah lebih dahulu masuk ke kamar mandi. Tapi sayangnya, begitu aku sampai di depan kamar mandi, pintunya sudah tertutup rapat. Tak lama, Bagas datang dengan handuk yang tersampir di leher. Itu artinya, bukan Bagas yang berada di dalam sana.
“Bu, di kamar mandi ada siapa?” tanya gue pada Ibu yang sedang sibuk di dapur.
“Mas Tama. Sekalinya bangun pagi, dia malah bertelur.”
Bagas tertawa mendengar ucapan Ibu barusan, sedangkan aku sama sekali merasa itu tidak lucu. Kalau Mas Tama sepagi ini sudah menabung di dalam sana, pasti akan memakan waktu minimal tiga puluh menit. Aku bisa terlambat kalau harus menunggu Bagas, artinya setelah Mas Tama selesai, harus aku yang mandi duluan. Buru-buru aku mengambil tempat di depan Bagas, membuat cowok kumal yang penampilannya persis gembel itu menatapku heran.
“Gue yang datang duluan, berarti gue yang mandi duluan,” ucapku sambil berkacak pinggang.
“Lah, bikin aturan sendiri lo?”
“Bodo! Pokoknya gue duluan!”
“Gabisa, enak aja!” Bagas menarik lenganku, sampai aku menyingkir dari depan pintu. “Mas Tama, buruan!” ucapnya sambil mengetuk pintu.
“Gue duluan, Bagas!”
“Kaga ada! Gue duluan!”
“Gue dulu, Bagas gembel!” Aku menjambak rambut Bagas, membuatnya hampir terjengkang.
Saat aku hampir memenangkan pertarungan dengan Bagas, Mas Tama keluar dari dalam kamar mandi dengan sambil mengibas-ngibaskan koran yang ia bawa. Detik itu juga aku menyadari sesuatu.
Aku bisa mati kalau masuk sekarang.
“Sana mandi,” ucap Mas Tama, entah pada siapa. Karena detik berikutnya Bagas malah menatapku sambil menutup hidungnya dengan handuk di lehernya.
“Lo duluan!”
“Nggak, lo aja yang duluan.”
“Ladiest first, Ladisha. Lo duluan!” ucap Bagas kali ini sambil mendorongku masuk.
“s****n, Bagas! Bukain!” teriakku dari dalam sembari menggedor pintu.
“Cepetan mandi, nanti terlambat!”
“LO MAU BUNUH GUE BAGAS s****n?!” teriakku masih sambil menggedor pintu yang ditahan Bagas dari luar agar tidak bisa terbuka. “MAS TAMA, ABIS MAKAN BANGKE LO YA?!”
“Mandi yang tenang ya, Ladis.” Aku bisa mendengar Bagas cekikikan di luar sana. s****n! Bagaimana bisa aku bertahan lima belas menit di dalam sini dengan bebauan yang sama sekali tidak bisa kudeskripsikan. Aku akan sangat bersyukur kalau saat keluar nanti, aku masih hidup.
***