“Kusut amat tuh muka, kayak serbet warteg ahahahaha!” ucap Tiara, tepat begitu aku duduk di sebelahnya.
“Lo bisa diem nggak?” tanyaku sembari menatap Tiara datar.
Tidak menjawab, Tiara hanya mengangguk pelan sebelum kembali menertawakanku. Pagi ini adalah pagi paling s**l di antara kesialan-kesialanku yang pernah terjadi karena Bagas. Setelah hampir mati karena mencium aroma gas beracun hasil ampas pengeluaran Mas Tama tadi pagi, aku masih harus menunggu Bagas yang dengan tidak tahu dirinya mandi selama tiga puluh menit. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi, karena sungguh, dia sudah membuatku menunggu lama sekali. Tidak mau memikirkannya lebih lanjut, mengingat Bagas hanya akan membuat perasaanku tambah kacau. Dan pagi ini, Tiara dengan mulut merconnya malah sibuk menertawakanku.
“Lagian emang lo kenapa, sih? Kerjaan Bagas lagi?” tanya Tiara yang sudah hafal betul sumber masalah hidupku.
Aku hanya mengangguk, sebelum kembali menjelaskan, “Bagas pindah.”
“Pindah? Tapi tadi lo masih berangkat sama Bagas, kan? Pindah kemana dia?” Tiara menggeser posisi duduknya hingga menghadap lurus ke arahku.
“Ke rumah gue,” jawabku asal yang sukses membuat tawa Tiara pecah lagi.
“Ya Tuhan, berikanlah Ladisha kesehatan, terutama untuk mentalnya. Aamiin.” Setelah mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah, Tiara kembali tertawa.
Ah, aku sempat lupa, kalau curhat ke Tiara itu sama sekali tidak membantu. Yang ada malah bikin tambah mumet. Sekilas, kutatap jam di dinding kelas. Waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh, artinya masih ada tiga puluh menit sampai bel masuk berbunyi. Tugas sekolah, semua sudah rampung kukerjakan semalam, jadi aku memutuskan untuk beli teh hangat di kantin. Berkat gas buangan ampas Mas Tama, aku jadi tidak memiliki selera makan, tapi sayangnya perut ini malah berkhianat dan minta diisi.
“Dis lo mau kemana?” tanya Tiara setelah selesai menertawakanku.
“Beli teh.”
“Tugas Bahasa Inggris lo mana?”
“Di tas, ambil aja. Kalo udah kembaliin lagi,” jawabku sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kelas.
Koridor masih ramai. Ada yang meminjam buku, ada yang mengepel lantai, ada yang menanam pohon, ada yang memanen cabai, dan masih banyak lagi kelakuan absurd murid-murid sekolahku. Cuma lapangan yang sepi, dan aku juga yakin, kalau kantin pasti ramai sekali. Jadi, aku memutuskan untuk membeli teh hangat di warung Bang Samsul yang letaknya di bawah pohon di samping sekolahku.
Bentuk sekolahku memang aneh, bukan leter L juga bukan leter U atau leter O. Kalau kata Bagas bentuk sekolah ini jajargenjang, tapi kalau menurutku, ini lebih mirip trapesium. Atau entahlah! Ada pintu keluar kecil di samping bangunan perpustakaan yang terhubung langsung dengan parkiran dan warung Bang Samsul pastinya. Beberapa murid laknat, mungkin menggunakan pintu ini untuk kabur dari pelajaran. Tapi aku lebih sering menggunakan pintu ini untuk jajan di warung Bang Samsul. Karena sekolah juga sudah bekerja sama dengan Bang Samsul yang akan mencatat siapa-siapa saja murid yang kabur dan akan segera ditindak oleh sekolah.
Aku yang lebih suka cari aman, lebih memilih jajan ketimbang kabur. Dan baru saja aku sampai di parkiran, adegan tidak menyenangkan sudah terjadi di hadapanku. Ini seratus persen tindak k*******n, aku ingat dengan jelas siapa cowok serampangan itu. Cowok yang bahkan seragamnya sudah berantakan tidak jelas di hari sepagi ini. Dan cowok itu sekarang sedang memegangi kerah seragam siswa lain yang terlihat ketakutan. Gue tidak bisa tinggal diam begitu saja. Buru-buru aku berbalik, mencari bantuan. Untungnya ada Pak Ri yang kelihatannya baru saja kembali dari warung nasi uduk di depan sekolah. Aku tahu dari gelagatnya yang sedang mengusap-usap perut buncitnya.
Tanpa pikir panjang, aku segera memanggil Pak Ri, membuat langkahnya terhenti dan menatapku garang.
“Pak, ada yang lagi mukulin orang!” ucap gue setengah berteriak.
“Kamu ... Siapa, ya?”
Astaga, memangnya itu hal penting sekarang?! Sebelum tanganku gatal dan refleks menabok kepala botak licin Pak Ri, aku segera menjelaskan apa yang terjadi.
“Ada yang lagi di pukulin, Pak, di parkiran samping. Ayo, Pak! Sebelum ada korban yang berjatuhan.”
Oke. Kata-kata terakhirku memang agak lebay, tapi aku tidak peduli. Daripada Pak Ri malah bertanya hal-hal tidak penting yang lain, lebih baik aku lebay sedikit dan membuatnya percaya. Karena benar saja, detik berikutnya Pak Ri segera mengangguk dan mendahuluiku pergi menuju parkiran samping.
Benar saja, begitu aku sampai cowok yang tadi tampak seperti korban, sudah terkapar di tanah dengan lebam di seluruh tubuh dan wajahnya. Meskipun begitu, cowok berandal itu masih saja terus memukulinya. Sebenarnya manusia seperti itu, ada masalah apa, sih di hidupnya? Hingga suara menggelegar Pak Ri menggetarkan suasana sekaligus membuatku merinding.
“Berhenti, Andaru!” ucap Pak Ri yang sukses membuat kegiatan memukul cowok tadi berhenti sejenak.
Cowok itu menoleh, menatap tajam kepada Pak Ri sebelum akhirnya beralih menatapku. s**l! Harusnya tadi aku langsung pergi dan tidak perlu terlibat dengan masalah ini.
“Nama saya Galaksi,” protesnya pada Pak Ri.
Kenapa, sih hari ini aku harus mendengar ucapan-ucapan tidak penting?
“Andaru Nabastala, ikut saya ke kantor!”
Lagi-lagi aku merinding mendengar suara Pak Ri yang begitu keras dan tegas. Sekilas, kulihat cowok yang bernama Andaru tadi melepaskan korbannya dan mengikuti Pak Ri pergi ke kantor setelah sebelumnya menatapku tajam. Setajam silet. Memangnya dia pikir aku bakalan takut?
Iya, sih. Dikit.
Tanpa memikirkan tatapan membunuh itu lebih lama, aku buru-buru menghampiri cowok yang tadi jadi korban Andaru. Penampilannya sudah benar-benar kacau, juga ada beberapa lebam di wajahnya. Buru-buru aku membeli es di warung Bang Samsul, melupakan teh hangat yang sebelumnya ingin kubeli. Kemudian menempelkan es yang tadi kubeli ke wajah seorang cowok yang disinyalir bernama Iwan. Aku sempat melihat nametagnya barusan.
“Makasih, ya,” ucap si Iwan pelan.
“Seseorang pernah bertanya, apa gue kenal Iwan? Dan sekarang gue kenal sama lo. Nama gue Ladis, kelas sebelas IPS 3.”
“Gue Iwan, kelas sebelas IPA satu. Salam kenal, Ladis.”
“Nama lengkap lo bukan, i wanna be youre boyfriend, kan?” tanyaku yang tiba-tiba teringat ucapan laknat Bagas.
“Jokes lo boleh juga.” Si Iwan tertawa, meski detik berikutnya malah meringis kesakitan.
“Gue anter ke UKS ya?”
Setelah dapat anggukan dari Iwan, aku bergegas membantunya bangun dan berjalan menuju UKS. Sepanjang jalan, aku hanya diam. Tidak berani bertanya lebih lanjut perihal masalahnya dengan Andaru. Lagipula, siapa, sih Andaru ini? Kenapa orang-orang mengenalnya sebagai Galaksi? Dan tatapan tadi ... entah mengapa memikirkannya membuat perasaanku mendadak tidak enak.
***