"Apa yang mau kamu buktikan, Mona?" ucapku sambil menekan tubuhku pada tubuhnya. Aku sengaja melakukannya agar dia tahu apa yang aku rasakan. Dia mungkin berfikir aku lemah syahwat karena belum menyentuh hingga sekarang, jika bukan karena janjiku pada Papinya sudah kuterkam dia sejak lama. Dia binggung hendak menjawab apa, ucapannya terbata-bata. Sejujurnya aku sangat gemas dibuatnya, wanitaku ini sangat berani dan agresif. "Kamu pikir aku lemah syahwat?" bisikku di telingaku tanpa berniat mengubah posisiku. "Kamu tidak pernah menyentuhku bagaimana aku tidak berpikir begitu? jika seorang laki-laki tidak menyentuh istrinya dari sejak menikah kalau gak lemah syahwat, homo atau punya penyakit, kan!" ketusnya. "Apa kamu pikir aku lemah syahwat?" bisikku, aku lagi-lagi menekan tubuhku p

