Bab 1
Selama janur kuning belum melengkung, hati ini akan selalu menyebut namamu kala ku bersenandung.
Sebelum bendera kuning berkibar, rasa yang kumiliki akan semakin berkobar.
Tapi ....
Kamu terlalu jauh meski begitu dekat di mata, dan bibir ini tak juga mampu mengucap dalamnya rindu yang selama ini terpendam.
Kau begitu jauh saat ragamu begitu dekat.
Kau layaknya bintang nun jauh di sana, hanya bisa kupandang tanpa bisa kugapai.
Seandainya suatu saat kau tahu ....
Ada aku yang mengharapkanmu di pagi dan malamku.
Seorang gadis mendesah lelah di depan sebuah cermin. Sapuan tangannya yang memegang spon bedak berhenti. Dia terus memandangi pantulan wajahnya di cermin. Paras ayu yang ia miliki tidak mampu memuaskan hatinya. Padahal wajah ayunya lebih menarik dari sekedar wajah cantik. Dia hanya bisa meratapi ketidakmampuannya dalam mengungkapkan perasaannya pada orang yang ia kasihi.
Rendahnya rasa percaya diri yang ia miliki mengakibatkan ia terus mengubur perasaannya.
Namanya Wilis Anak Diti, gadis manis dengan kulit sawo matang yang selalu menganggap dirinya tidak menarik hanya karena kulitnya tidak putih. Bukan tidak bersyukur, tapi hidupnya dikelilingi oleh orang-orang dengan kulit putih.
Ayah dan ibunya putih, kakak laki-laki satu-satunya juga putih. Bukan kulit putih seperti bule, tapi lebih ke kulit cerah. Menjadi satu kewajaran saat Wilis sekarang sering minder karena warna kulit karena sejak kecil sering diledek perihal warna kulitnya yang lebih gelap dibanding anggota keluarganya yang lain.
“Wilis, buruan! Mau bareng Mamas, nggak?” teriak Bromo dari teras depan rumah. Dia sudah siap dengan sepeda motornya yang sudah kinclong.
Sementara itu di dalam kamar Wilis masih memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik warna baby pink dicampur dengan warna orange. Tidak terlalu tebal, hanya sekedar menyamarkan warna bibirnya agar tidak terlalu kusam.
“Tungguin, bentar!” jawab Wilis dari dalam kamarnya.
“Lama banget, lima menit nggak keluar Mamas tinggal, ya!”
Mendengar itu, Wilis bergegas merapikan rambut dan segera menyambar tasnya. Hampir setiap hari hal sama berulang. Tempat kerja Wilis yang dekat dengan lokasi kantor Bromo membuat mereka sering berangkat bekerja bersama. Sejak masih sekolah hingga kini sudah bekerja mereka hampir selalu berangkat bersama. Pun saat mereka berangkat kuliah dulu.
“Wilis, Arga ngajakin Mamas berangkat bareng. Kita naik mobil Arga aja, ya,” ucap Bromo saat Wilis sudah siap dan berjalan ke teras depan.
“Terserah aja, selama aku sampai ke tempat kerja naik apa aja oke.”
Wilis tersenyum samar, ada rasa senang saat tahu dia akan berangkat bersama Arga. Setidaknya dia bisa melihat wajah teduh Arga sebelum dia menjalankan rutinitas kerja seperti biasa. Bagi Wilis, Arga seperti vitamin yang dapat memberikan semangat. Hanya melihatnya sekilas saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga, apalagi berangkat kerja bersama dalam satu mobil.
Arga adalah teman dari Bromo, sejak masih duduk di bangku sekolah Arga kerap main ke rumah. Bisa dibilang Bromo dan Arga adalah sahabat sejati. Mereka cukup dekat dan sudah seperti saudara sendiri. Sebenarnya Arga dan Wilis bekerja di bawah perusahaan yang sama, sayangnya mereka ditempatkan di kantor yang berbeda.
“Ntar pulangnya biar Argo aja yang jemput, ya,” ucap Bromo.
Wilis yang sudah merasa senang mendadak suram, ibarat siang yang cerah tiba-tiba tertutup awan mendung. Gelap. Jika Arga seperti mentari yang hangat maka Argo adalah matahari di siang hari yang terik, panas dan membakar. Namun kehadirannya membuat Wilis seperti ditimpa hujan badai.
Argo adalah adik dari Arga, dia sepantaran dengan Wilis. Saat dulu Argo main ke rumah Bromo untuk mengerjakan tugas kelompok, kadang dia akan membawa adiknya. Biasanya Bromo akan meminta Wilis untuk menemani Argo agar dia tidak bosan.
“Nggak usah deh, Mas. Ntar Wilis pulang sendiri aja.”
“Nggak bisa, ntar kamu mampir ke tempat nggak jelas dan alasannya Mamas nggak jemput kamu lagi,” tolak Bromo.
“Nggak, nggak akan. Pokoknya jangan nyuruh si tengil itu jemput Wilis. Titik.”
“Kenapa, sih? Kayaknya benci banget sama Argo, awas jangan terlalu benci. Nanti kamu bisa cinta sama dia.”
“Idih amit-amit, deh, Mas. Kayak nggak ada cowok aja cinta sama cowok tengil kayak dia. Mana dia suka gombal sana-sini. Jangankan sama cewek cantik, kambing dibedakin aja bisa dia gombalin,” ucap Wilis.
“Wilis, Mamas kasih tahu, ya. Batas antara benci sama cinta lebih tipis dari kulit ari. Makanya jangan terlalu benci atau terlalu cinta. Ini nasehat berharga, lho.”
“Terima kasih Mas Bromo untuk nasehat berharganya,” sarkas Wilis. “Bisa gitu, ya, jomblowan ngasih nasehat tentang cinta.”
Bibir Bromo sudah komat-kamit dan bersiap untuk membalas sindiran Wilis tapi mobil Arga keburu datang.
Tin ... tin ... tin ....
Arga parkir tepat di depan teras rumah Bromo, dia tidak turun dan langsung meminta Bromo dan Wilis untuk naik. Arga sengaja meminta Bromo berangkat bersamanya karena pagi ini mereka akan bertemu klien di luar kantor. Maklum saja, Arga dan Bromo bekerja di perusahaan yang sama meski jabatan mereka berdua berbeda.
“Pagi, Mas Arga,” sapa Wilis saat masuk ke dalam mobil.
“Pagi juga, Wilis,” jawab Arga ramah. Dengan senyum Arga yang berlesung pipit semakin menambah kesejukan di wajah Arga. Bagaimana Wilis tidak meleleh melihat senyum Arga, coba?
“Hmm, cuma Arga nih yang disapa?” ucap Argo yang duduk di belakang Arga. Kursi depan akan diisi oleh Bromo, jadi sejak dari rumah dia sudah duduk di bangku belakang.
“Pagi, Argo,” ucap Wilis dengan senyum yang dipaksakan.
“Pagi juga, Wilis. Makin eksotis aja makin hari. Kemarin habis berjemur lagi?”
Wilis tidak menjawab pertanyaan mengada-ada Argo. Ini juga yang menjadi salah satu alasan Wilis tidak suka dengan Argo. Mulutnya terlalu cablak sebagai seorang laki-laki. Setiap hal kecil akan Argo tanyakan dengan cara yang membuat Wilis kesal. Argo juga salah satu orang yang kerap membully Wilis.
Jika ada orang yang patut disalahkan untuk rendahnya kepercayaan diri Wilis maka Argo menjadi salah satu diantaranya. Dia yang paling sering bilang kulit Wilis yang eksotis atau semacamnya.
“Abaikan kata-kata Argo, ya, Lis. Argo hanya iri saja nggak diajakin pergi sama kamu ke pantai minggu lalu,” ucap Arga membesarkan hati Wilis. Kadang mulut adiknya memang keterlaluan, dia tidak bisa membedakan mana bercanda dan mana yang bully-an.
“Iya, Mas. Wilis nggak pernah ambil pusing ucapan Argo. Biarin aja, namanya juga anak kecil. Kalau bicara suka nggak dipikirin dulu,” ucap Wilis.
“Tsk, kau hanya beberapa bulan saja lebih tua dariku. Jangan menyebutku anak kecil! Lagian aku bukanya bicara tanpa dipikir lebih dulu, tapi aku ini orang yang jujur,” ucap Argo yang tidak terima dibilang masih kecil.
“Sudah-sudah, mesra-mesraannya lanjut nanti sore lagi. Kita harus berangkat, udah siang nih,” sela Bromo. Dia sudah tidak heran kalau Argo dan Wilis akan berdebat setiap kali mereka bertemu. Toh tidak lama mereka akan bermain bersama lagi.
Di dalam mobil saat dalam perjalanan, Wilis dan Argo masih saja meneruskan perdebatan. Jika bukan karena malu pada Arga, Wilis pasti akan membalas semua kata-kata Argo. Sebagai gadis yang ingin terlihat anggun di mata laki-laki yang ia sukai, Wilis terpaksa menahan diri.
“Kalian ini, lama-lama Mamas nikahin juga, nih, siapa tahu jadi akur, ” ucap Bromo. Dia senang saja jika Wilis berjodoh dengan Argo, dengan begitu mereka benar-benar akan menjadi satu keluarga.
“Ogah!” bantah Wilis seakan dia benar-benar harus menikah dengan Argo. Kadar ketidaksukaan Wilis pada Argo sudah mencapai batas di mana dia tidak akan meliriknya meski populasi laki-laki di dunia lenyap dan hanya menyisakan Argo seorang.
“Pede, siapa juga yang mau sama cewek kayak kamu. Lap ingus aja masih pake baju,” ucap Argo tak mau kalah. Sampai sekarang hobi favoritnya adalah membuat Wilis murka.
“Kenapa kalau aku lap ingus pake baju? Yang penting nggak pake baju kamu, kan?” usaha Wilis untuk diam dan tampil anggun di depan Arga selalu gagal jika ada Argo.
“Jorok tahu!”
Kali ini Wilis benar-benar malu karena dia bisa melihat Arga tersenyum meski dari samping. Dia takut Arga menertawakannya. Dia melirik bengis pada Argo yang tertawa di sampingnya.
Karena kesal, Wilis menginjak kaki Argo dengan keras untuk melampiaskan kekesalannya. Argo yang tidak siap berteriak keras saat kakinya diinjak oleh Wilis. Dia mengaduh dan ingin membalas Wilis dengan balas menginjak kakinya. Namun Wilis dengan gesit menghindari kaki Argo.
Di dalam mobil, Argo dan Wilis tidak bisa tenang karena kaki mereka saling kejar dan menghindar.
Bromo dan Arga mengabaikan mereka berdua karena memang seperti itulah kebiasaan mereka saat bertemu. Seperti kucing dan anjing. Namun jika tidak ada akan saling menanyakan.
Sedikit lagi mereka akan sampai di tempat kerja Wilis. Arga selalu mendahulukan mengantar Wilis lebih dulu jika mereka berangkat bersama.
“Jangan pulang dulu, nanti biar Argo yang menjemput kamu, ya,” ucap Arga.
“Nggak usah repot-repot, Mas Arga. Wilis bisa pulang sendiri, kok.”
“Nggak repot, kok. Pulang kerja kita mau makan-makan bareng keluarga sama temen-temen Mas. Kamu juga datang, ya. Nanti biar kamu datang sama Argo.”
“Oh, gitu. Oke, deh.”
“Okay, Wilis. Bye, kerja yang rajin, ya,” ucap Arga.
Wilis melambaikan tangan saat mobil Arga melaju pergi. Wajahnya merona bahagia karena nanti malam dia akan kembali bertemu dengan Arga untuk makan malam. Entah mimpi apa semalam sampai hari ini dia mendapat kebahagiaan bertubi-tubi.
Baru mau masuk ke dalam kantor, Wilis berhenti saat ponselnya berdering menerima pesan masuk. Awalnya Wilis ingin mengabaikan pesan itu karena berasal dari Argo, tapi saat membaca pesan yang terlihat di jendela pesan, Wilis buru-buru membuka pesan dari Argo.
Argo: [Jangan senang dulu! Bang Arga ngajak makan malam karena mau ngenalin tunangannya.]
Jeder!!!
Bagai petir di siang bolong, Wilis rasanya tidak punya tenaga lagi untuk berdiri.