Aku bangun siang hari ini. Hari sabtu dan minggu yang seharusnya menjadi hari liburku, sudah terpakai untuk agenda pergi bersama Indra. Akan tetapi tidak apa-apa. Ini bayaran untuk uang tiga digit yang sudah aku hamburkan. Aku benar-benar berhenti mengeluh setiap tahu diri kalau Indra tidak pernah meminta aneh-aneh. Jam setengah sebelas aku naik ke mobilnya Indra karena hari ini aku akan pergi ke apartemennya. Aku bangun siang sementara dia begadang untuk mengurus pekerjaan. “Lo tidur berapa jam dah?” tanyaku sambil memasang sabuk pengaman. “Cuma satu jam tadi jam lima ke enam.” Aku membuka mulut. Mobil Indra mulai melaju. “Lo nyetir PP kemarin Jakarta-Cianjur, Cianjur-Jakarta, terus cuma tidur satu jam dan sekarang nyetir? Kenapa nggak minta Pak Nanang aja sih? Emang lo nggak capek

