Oke sekarang aku jadi merasa semakin tidak enak kepada Indra. Karena aku sudah menghambur-hamburkan uangnya. Sepertinya mulai sekarang aku akan berhemat, atau minimal pakai uang yang dikirim Anjas. “Lo kan buat roti tadi. Rotinya dimana?” tanya Indra kemudian. “Masih didalem oven,” ucapku menyengir. Akan tetapi ovennya sudah aku matikan sejak tadi dan ya aku terlupa untuk memindahkannya. “Ya udah biarin aja dulu. Gue jadi ngantuk gini by the way.” Mulut Indra terbuka karena menguap, ia pun menutupnya. Aku memperhatikan wajah Indra itu yang kelihatan memprihatinkan. Kantung mata menghitam yang begitu terang-terangan. Sorot mata lelah yang kentara. Lalu wajahnya yang terlihat kusam dan kotor? Biasanya dia kelihatan bersih. “Lo nggak perawatan muka berapa hari?” Seingatku waktu kami

