Chapter 11 Persiapan

1852 Kata
Air mataku itu tidak bisa berhenti menetes malam ini. Padahal aku sudah menangis sejak tadi. Tangisan karena memikirkan betapa teganya yang Meri dan Ilham perbuat padaku. Tidak ada kata maaf. Bahkan seolah aku yang jahat disini. Tangisan ini semua dipicu karena aku melihat postingan Meri yang dengan bangga menunjukkan bahwa ia sedang rapat. Kemungkinan untuk proyek 1 milyar yang tadi dengan arogannya Ilham katakana padaku. Aku masih sakit hati dengan perlakuan mereka dan merasa sedih saja kenapa malah terkesan tidak adil. Mereka tetap bahagia setelah dosa yang mereka lakukan. Bahkan Meri. Sahabat yang selalu aku banggakan. Aku bagikan segala hal untuknya, tidak terlihat merasa bersalah. Selain merasa sakit karena terkhianati, aku juga sedih karena kehilangannya. Hidup ini terasa sepi sekali sebab selama ini, hanya bersama mereka ku habiskan waktu. Tanpa rasa bosan, dan penuh dengan sukacita. Setelah mengusap air mata, tubuhku yang merebah itu berguling agak ke tepi ranjang. Agar bisa menjangkau ponsel di atas meja. Setelah benda pipih itu dalam genggamanku, aku segera memainkannya. Ada pesan dari Eca, partner kerja di agensiku. “Apanih. Eca mau ketemu?” Sejak dipecat, aku sengaja tidak menghubungi orang agensi. Mereka juga tidak ada yang mengubungiku. Kalau dipikir-pikir, rasanya janggal juga. Sebab aku sangat dekat dengan partner kerja. Akhirnya aku setujui untuk bertemu dengan Eca besok. Mataku kemudian berbinar saat muncul panggilan telepon masuk dari Anjas. “Akhirnya cintaku!” Dengan cekatan aku angkat telepon darinya. “Anjasss! Kangen!” pekikku. “Mbak aku udah transfer 20 juta.” “Hah serius?” Aku mengganti posisi tidur menyamping sambil menerima telepon. “Iya. Mbak kan dipecat katanya dan nggak ada tabungan. Nggak ada pemasukan jadi aku kirimin 20 juta.” “Tapi itu banyak banget. Kamu gimana nanti hidupnya?” Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal keuangan Anjas. Percayalah dia lelaki yang tekun bekerja. Sudah rajin membantu bapak bekerja di bengkel sejak Anjas kecil dan dia sempat main saham saat SMA. Kala itu dia untung banyak jadi sudah punya tabungan tiga digit berkat ketekunannya. Jadi tidak mengejutkan kalau dia transfer uang sebanyak itu. “Aman. Ambil aja bukan aku pinjemin itu. Biasanya juga Mbak Vira sering kasih banyak uang.” Baru saja selesai menangis, aku kembali menangis. “Mbak kenapa? Kok nangis? Uangnya kurang kah?” Aku malah semakin terisak. Rasanya mengharukan karena memiliki saudara sebaik Anjas. Untungnya dia royal padaku. Si kembar juga. Aku menangis karena terharu. “Kamu baik banget. Nggak kayak Ilham sama Meri jahat. Pokoknya Mbak sumpahin kamu dapet jodoh orang baik.” Sebenarnya aku ingin menceritakan soal Indra. Gatal rasanya ingin menceritakan hal seperti karena aku sudah terbiasa menceritakan apapun yang aku alami, pada Ilham dan Meri. Sekarang aku sudah tidak punya teman cerita, jadi rasanya sunyi sekali. Akan tetapi kalau cerita mengenai Indra pada Anjas, aku khawatir dia malah tidak setuju. “Kak Ilham ngapain lagi?” “Tadi dia dateng ke kost. Nanyain database. Padahal udah arsip rapi semua loh.” Aku melanjutkan cerita mendetail tentang tadi yang terjadi tadi saat Ilham datang. Berkat itu, emosi Anjas jadi tersulut. “Udah pokoknya Mbak Vira jangan nangisin cowok kayak gitu. Liburan aja dulu kemana biar pikiran fresh. Nanti kalau udah baikan, lanjut cari kerja lagi. Rejeki bisa datang dari mana saja Mbak. Yang penting berusaha dan jangan patah semangat. Rejeki bisa datang dari mana saja. Iya dari Indra misalnya. Aku jadi merasa tidak enak begini. Air mataku kembali menetes. Teringat betapa kesulitannya aku karena tidak punya uang. Sekarang jadi kelimpahan begini. “Mbak jangan sedih. Aku jadi kepikiran disini.” Langsung ku usap air mataku agar Anjas tidak kepikiran. “Iya, iya. Langsung bahagia ini abis ditransfer 20 juta.” Meski aku tahu adikku itu punya tabungan, aku tidak pernah dengan sengaja memerasnya. Sekarang pun senang campur tidak enak menerima sebanyak itu darinya. “Pokoknya makasih ya Anjasku Sayang.” *** Pertemuanku dengan Eca berlangsung di Grand Indonesia. Berkat transferan dari Anjas, aku bisa dengan percaya diri pergi ke Grand Indonesia. Soal kartu yang diberikan Indra dan juga uang yang ia sempat transfer padaku, akan aku kembalikan nanti saat pertemuan mingguan kami. Aku sudah memesan ruang VIP di salah satu restoran Korea. Restoran favoritku. Tempat yang cukup sering aku datangi bersama Ilham. Ah, rasanya menyebalkan kalau semua tempat yang aku sukai jadi ternoda karena kenangan bersama lelaki itu. Ya, mau bagaimana lagi. Empat tahun aku habiskan bersama Ilham. Tentu banyak jejak kenangan bersama dia. “Mbak Vira!” Suara nyaring Eca itu membuatku langsung menoleh. Eca masuk diantar oleh waiter. Melihat Eca yang sumringah, aku pun berdiri dan langsung menyambut pelukannya. Kami cipika cipiki dan kemudian duduk. “Pesen dulu,” pintaku berhubung waiter sudah terlanjur masuk kemari. Selesai memesan dan waiter pergi, Eca langsung terlihat antusias. “Mbak. Sebenernya ada apaan sih? Anak-anak tuh pada bingung semua tau karena tiba-tiba Mbak Vira dipecat.” Sebenarnya aku itu ingin pamit kepada partner kerjaku di agensi. Mengingat kami lumayan akrab. Inginnya sih aku traktir mereka. Akan tetapi beberapa hari lalu kan aku tidak ada uang. Jadi aku urungkan saja niat itu. Untungnya juga tidak ada orang agensi yang menghubungiku. Kesannya aneh memang karena silahturahmi kami terputus begitu saja. Hingga sekarang Eca mengajak bertemu. “Katanya Mbak Meri, Mbak Vira ada ngelakuin hal fatal. Kami semua repot banget beberapa hari ini. Pada bingung mau kontak Mbak Vira apa enggak. Nah kemarin baru agak tenang tuh.” “Karena dapet proyek 1 milyar?” tanyaku. “Iya. Mbak Vira tahu?” tanya Eca terkejut. Aku menganggukkan kepala. “Ilham yang pamer. By the way tadi kamu bilang apa, Ca? Aku dipecat karena neglakuin kesalahan fatal.” Eca menganggukkan kepalanya. “Kesalahan fatal gimana?” “Nah itu. Kak Ilham sama Mbak Meri tuh nggak ngejelasin. Katanya nggak usah bahas soal Mbak Vira lagi. Fokus aja kerja dan running agensi tanpa dia. Sumpah Mbak. Padahal kami tuh pusing banget dari kemaren bingung. Kak Ilham tuh ngedirectnya nggak bener. Mbak Meri apalagi. Pada kayak anak ayam kehilangan induk.” Aku masih tidak menyangka Ilham dan Meri berbuat sampai sebegitunya. Sudah salah, malah memfitnah. “Menurut kamu aku bisa buat kesalahan fatal apa coba?” “Nah itu! Aneh. Nggak mungkin Mbak Vira buat salah yang fatal banget. Makanya aku langsung ajakin Mbak Vira ketemu. Soalnya aku nggak percaya dan ngerasa ada yang janggal.” Oke kali ini aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Akan aku luapkan semuanya pada Eca. Aku beberkan semua. Supaya setidaknya ada yang tahu kebenarannya. Kalau aku sampai difitnah begini, sudah benar-benar keterlaluan. “Mereka jahat banget sumpah. Mereka yang ngelakuin kesalahan fatal tau, Eca! Ilham sama Meri selingkuh.” Eca nampak terkejut. Ia membuka mulutnya. “Hah, yang bener?” Aku menganggukkan kepala. Ku keluarkan ponsel dari tas. Akan aku tunjukkan buktinya. Video tidak senonoh itu. Yang mati-matian aku tahan agar tidak mengunggahnya di media sosial. Setelah Eca menonton video itu, ia nampak speechless. “Mbak Vira ya ampunn…” Eca langsung menutup mulutnya. Terlihat bingung harus mengatakan apa. “Kamu tau nggak, Ca? Mereka selingkuh terus Ilham yang mutusin aku. Udah gitu dengan nggak tau malunya dia bilang Meri lebih baik. Terus kemaren dia ke kost aku minta database, pake ngatain lagi. Terus ternyata dia malah nyebar fitnah di agensi. Dia kenapa jahat banget sih!” curhatku. Air mataku menitik lagi kan jadinya. Melihat aku yang mulai menangis, Eca langsung berpindah tempat duduk ke sebelahku dan memelukku. “Mbak. Sumpah nggak ada yang tahu soal ini. Mbak Vira kenapa diem aja? Ih mereka kenapa keji banget gitu!” Sesi curhat bersama Eca it uterus berlanjut bahkan seraya kami menikmati makanan. Eca menceritakan semua hal yang terjadi selama beberapa hari ini. “Sumpah aku nggak nyangka mereka sejahat itu. Mbak Vira pokoknya tenang aja. Aku bakal kasih report semua yang terjadi di agensi. Terus, Mbak Vira kenapa nggak nongol di kantor aja sih? Biar sekalian klarifikasi ke orang-orang gitu. Kalo Mbak Vira nggak ada muncul sama sekali, kesannya tuduhan itu bener.” Aku juga mulai memikirkannya sekarang. “Kapan kira-kira pada ada di kantor semua, Ca? Biar aku dateng bawa hadiah perpisahan.” “Malem ini, Mbak. Ada meeting tapi santai. Pada full team. Dateng aja ke kantor. Sumpah aku mau sebarin berita ini. Biar pada tau.” *** Selesai bertemu dengan Eca, aku langsung shopping untuk mencari outfit. Aku juga sudah putuskan akan pergi ke salon. Pokoknya malam ini harus tampil memukau saat ke kantor. Akan aku anggap ini terakhir kali aku menginjakkan kaki disana. Kedatanganku tulus untuk berpamitan, tapi ya sekalian saja menunjukkan pesonaku pada dua orang pengkhianat itu. Pokoknya aku harus tampil sangat-sangat cantik. Saat bingung memilih outfit yang cocok, aku langsung kirim pesan pada Anjas. Menanyakan pendapatnya, juga pada si kembar. Akan tetapi semuanya ceklis satu. Kemungkinan sibuk semua. Padahal aku butuh jawaban yang fast respon. “Eca kali ya?” Akan tetapi aku ingat kalau dia pasti sedang di perjalanan, naik motor. “Oh iya si Indra!” Dengan cepat aku kirim foto diriku saat mencoba beberapa pakaian yang membuatku bimbang tersebut. Aku minta pendapat Indra untuk memilih pakaian mana yang membuatku terlihat lebih cantik. “Nah ini fast respon.” Saat balasan muncul darinya, senyum penuh antusias di wajahku sirna. Beli semua aja “Nggak asik banget sih!” Aku tahu Indra banyak duit, masalahnya adalah aku butuh hanya satu pakaian saja khusus untuk malam ini. Aku langsung kirim voice note saja. “Kan gue minta pilih salah satu, gimana sih!” Sayangnya hanya Indra yang merespon. Jadi pendapat lelaki itu sangat aku butuhkan sekarang. Apalagi Indra laki-laki kan. Jadi aku butuh penilaian dari selera laki-laki. Akhirnya Indra menjatuhkan pilihan. Pilihan dia oke juga. Setelah aku lihat-lihat, memang lebih bagus. *** “Menurut lo gue lebih cakep rambut panjang gini atau mesti potong?” Semenjak membeli heels dan perhiasan, Indra langsung video call karena lelaki itu bilang lebih baik langsung saja bertanya via video call. “Mau potong rambut?” Aku menganggukkan kepala. “Atau dibuat curly bawahnya aja? Gimana?” tanyaku. Indra yang kelihatannya hanya rebahan itu pun mengangkat satu alisnya. “Pokoknya menurut lo kira-kira gue bakal cantik banget kalo digimanain?” “Gue prefer rambut lo tetep panjang. Distyling aja, orang salon pasti lebih tau bagusnya digimanain.” Aku pun memutuskan mengikuti saran Indra. “Ya udah gitu aja. Gue mau nyalon, gue matiin.” “Biarin nyala aja. Gue sambil ngoding gabut. Anggap aja ASMR.” “Ngoding gabut tu gimana konsepnya?” tanyaku. Indra tidak menyahut. “Udahlah kalo mau ASMR cari di yutub aja. Boros kuota video call.” “Berapa sih kuota lo? Gue beliin.” Harusnya langsung aku matikan saja namun entah kenapa rasanya ingin membalas ucapan songongnya Indra itu. “Siap si paling berduit. Udahlah gue matiin aja.” “Kalo lo matiin, gue vc lagi.” “Nggak bakal gue angkat.” “Berarti gue nggak bakal bikin IG.” Baru teringat kalau aku harus membujuk paduka satu ini supaya mau membuat akun IG. Ya sudah kalau begitu aku kalah telak. Hanya perihal video call begini saja jadi berdebar kan? Moodku yang terasa baik semenjak shopping tadi langsung merosot. “Nggak usah cemberut. Itu Mbak salonnya kasian nungguin lo.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN