Chapter 12 Tidak Tahu Malu

1716 Kata
Memang benar segalanya butuh uang. Berkat styling rambut, outfit yang bagus, dan juga make up menggunakan jasa profesional, aku terlihat sangat cantik. Aku merasa ini benar-benar adalah tampilan tercantik diriku sejauh ini. “Gilak cakep banget lo, Vira. Emang kurang dandan aja lo.” Gaya rambut dan gaya berpakaian benar-benar merubah semuanya. Aku benar-benar tidak bisa berhenti memandangi pantulan diriku di cermin. Entah sudah berapa kali aku berfoto. “Duh kalo gue secakep ini, wajar deh dapetnya sekelas Indra kan?” gumamku seraya menatap mataku sendiri di cermin. “Ah bener. Kirim Indra.” Aku segera mengirim fotoku pada Indra. Hasil pilihan lelaki itu bagus juga. Selera Indra bagus dan aku akan terus menanyakan pendapat lelaki itu mulai sekarang. Setelah puas, aku baru keluar dari toilet. Aku sudah pesan pizza sebagai tanda perpisahan, jadi tinggal ambil saja sekarang. Biasanya orang resign memesan donat, aku pilih pizza saja supaya anti mainstream. Harga pizza lumayan juga. Aku sengaja beli varian paling mahal dan cukup banyak. Ku harap bukan hanya cukup untuk anak-anak kantor, tapi juga cukup untuk menyumpel mulut Ilham dan Meri. Tas berisi pakaianku yang tadi aku kirim ke kost via ojek online, ada ibu kost yang akan menerimanya. Karena malas rasanya harus kembali ke kost. Perhitunganku tepat juga. Tadi aku sempat massage sambil menunggu sore hari. Sekarang sudah hampir petang, ditambah estimasi kemacetan seharusnya aku bisa tiba sebelum meeting mereka mulai. Seraya menunggu taksi online, aku memainkan ponsel. Sudah ada balasan pesan dari Indra. Mau kemana? Aku jawab saja pamitan ke teman kantor. Untuk mematahkan fitnah yang Ilham sebarkan. Aku tidak sabar nanti melihat bagaimana ekspresi mereka, Ilham dan Meri. Aku kemudian membuka aplikasi IG, memantau postingan Ilham dan Meri adalah hal yang sering aku lakukan sekarang. Tentu saja dengan fake account. Kalau dengan akun asli, ketahuan sekali oleh mereka. Untungnya akun asli IGku tidak diblokir. Kami juga masih saling follow, jadi itu akan memuluskan jalanku pamer pada mereka. Ku harap Indra bisa segera membuat akun IG. Entah syarat apalagi yang akan dia minta. Jangan sampai Indra seperti Roro Jonggrang yang minta dibuatkan seribu candi. Pokoknya jangan sampai Indra minta seribu syarat. Meri posting foto di kantor. Sok pekerja keras sekali. Taksi online pesananku datang, lalu aku dengan cepat aku memasukkan box berisi pizza ke dalam mobil. Cukup banyak dan aku harus cepat. *** Saat turun dari taksi dan melihat rumah kontrakan yang menjadi lokasi kantorku itu, perasaanku kembali campur aduk. Padahal dulu aku menangis keliling mencari rumah kontrakan yang bisa dijadikan kantor. Sekarang aku harus datang kemari untuk berpamitan. “Oke. Nggak boleh cengeng. Waktunya untuk bersinar,” ucapku menguatkan diri sendiri. Pintu itu terbuka dan ada banyak motor di garasi. Motor Ilham ada di garasi, baguslah kalau target ada disini. Aku mengetuk pintu dengan percaya diri. Eca sudah memberi kabar bahwa semuanya sedang bersantai. Saat itu juga aku bisa melihat kalau ruang tamu sedang ramai. Semuanya langsung menyambut aku dengan sumringah. Kalau begini Eca pasti sudah memberitahu kebenarannya. Aku langsung dipeluk. Sontak kehebohan di ruang tamu itu berhasil membuat Ilham dan Meri muncul. Mereka pasti sejak tadi asik di ruangan mereka. Aku memberikan senyuman kepada keduanya. “Hai Ilham, Hai Meri. Mau pamit dulu ke semuanya. Meskipun dipecat ya tetap harus pamit baik-baik sih,” ucapku. Fokusku kemudian teralih pada orang-orang kantor. “Ini aku bawa pizza. Makan bareng ya,” ucapku. Eca langsung angkat bicara. “Ya ampun, Mbak. Ini kan pizza mahal banget.” Aku hanya menyengir kuda. “Guys kita meeting sekarang ya,” ucap Ilham. Aku berusaha tetap kalem dan tenang meski sekarang ingin rasanya langsung menampar lelaki itu dan menjambak rambut Meri. Lihatlah betapa sangat tidak tahu malu. “Sorry ya, Ra. Lu kalo mau farewell ngabarin dulu. Kami ada banyak proyek. Nanti aja abis meeting farewellnya. Ayo guys ngumpul-ngumpul meeting.” “Bukannya meeting masih setengah jam lagi ya?” tanya Jack. “Iya kan jadwalnya setengah jam lagi Kak Ilham. Ini mumpung Mbak Vira udah kesini. Kita farewell dulu lah.” Aneh rasanya farewell party ala-ala begini padahal statusku dipecat bukan resign. Akan tetapi biarlah, yang paling penting semua partner kerjaku sudah tahu. “Guys tapi ini kita banyak bahasan. Vir maaf ya tapi lagi ada proyek gede,” ucap Meri enteng. Perempuan itu bisa saja bersikap biasa setelah apa yang dia lakukan padaku. Merebut pacarku, merebut posisiku di agensi ini. “Nggak papa guys, kalian meeting aja. Maaf ya aku ganggu gini tiba-tiba dateng. Kalo gitu aku langsung balik aja. Pizzanya dimakan ya.” Baguslah taksi online itu sudah aku minta stand by disini. Aku sudah antisipasi kalau aku tiba-tiba diusir jadi bisa langsung pergi. Benar saja, aku diusir secara halus. Rekan-rekanku itu nampak ingin protes namun aku langsung bicara. “Kebetulan ada agenda juga jadi aku emang bisanya mampir sebentar. Oh ya, sekalian aku mau ambil barang-barang aku yang ada disini.” Aku tersenyum. Masih ada begitu banyak barangku disini. Ya bagaimana tidak, bisa dibilang tempat ini sudah seperti rumah keduaku. Terkadang aku menginap disini kalau lembur. “Oke silahkan, Vir. Sini gue temenin,” ucap Meri sok ramah. Orang-orang hanya diam menyaksikan interaksiku dengan Ilham dan Meri. Aku yakin rekan-rekan kerjaku menantikan drama yang menyenangkan. Aku juga sebenarnya ingin sekali melakukan sesuatu. Hanya saja bermain elegan adalah jalan yang aku pilih. Meskipun sebenarnya tanganku ini sangat ingin menampar dan menjambak rambut Meri. Akan tetapi sayang kukuku yang cantik baru perawatan tadi di salon mahal. Aku lantas melangkah menuju ruanganku. Diikuti Meri. Hanya kami berdua. “Gue ngajak lo ketemu, Vir. Kenapa nggak mau?” “Sorry gue sibuk," sahutku acuh. Sialannya aku jadi rindu dengan Meri. Biar bagaimana pun sudah begitu banyak yang kami lalui bersama. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa dia bisa tega-teganya mengkhianatiku begini. Ruangan ini sudah berubah drastis. Ruangan yang aku dekor atas kemauanku sendiri dan uangku. “Barang-barang gue dimana?” tanyaku to the point. Malas melihat wajah si Meri itu, pandanganku hanya fokus pada barang-barang di atas meja. Meri nampak melangkah mendekati lemari, ku tatap dia saat mengeluarkan box dari sana. Oh tepatnya kardus. “Udah gue beresin. Disini semua. Gue ngajak ketemu sekalian mau ngasih ini.” Aku hanya tersenyum sinis. Padahal biasanya juga Meri itu lancang tiba-tiba datang ke kostku. Kenapa sekarang jadi seolah sangat sulit baginya menemuiku. Entah apapun itu tujuannya ingin bertemu. Kalau memang niat, harusnya langsung datang saja. Memang dasarnya perempuan berhati busuk dan bodohnya aku baru menyadari itu sekarang. “Oke thank you.” Aku mengangkat kardus itu, berat! Bagaimana cara membawanya keluar? Aku sudah seelegan ini masak menggotong kardus seberat ini. Aku bisa saja sebenarnya, bisa pegal. “Ilham udah jadi milik gue sekarang.” Aku mengangkat satu alisku. Bisa-bisanya Meri bicara begitu. Kenapa dia terlihat bangga sekali? Aku benar-benar heran dengan Ilham dan Meri. Perubahan sikap mereka drastis sekali. Benar-benar tidak tahu malu. “Bangga banget mbaknya jadi pelakor,” sindirku. Meri langsung mendekatiku dan menatapku tajam. “Gue langsung ngomong disini aja ya, Vira. Gue udah capek banget jadi babu lo dari lama. Dan asal lo tau! Ilham itu sukanya sama gue dari awal, tapi lo yang GR dan kegatelan.” Aku pun seketika terkekeh. Inikah kepribadian asli orang yang selama ini aku anggap sebagai sahabat? Betapa busuknya. “Babu apanya? Gue nggak pernah ya memperlakukan lo kayak babu. Jangan playing victim deh! Dan PD banget lo. Kalo Ilham emang suka sama lo, kenapa dia malah deketin gue?” Jelas aku ingat betul dengan semuanya. Masa lalu kami. Jelas-jelas Ilham mendekatiku dan tidak ada sedikit pun terlihat menunjukkan ketertarikan pada Meri. “Dia emang suka sama gue. Buktinya empat tahun lo sama dia, kandas juga kan akhirnya.” “Kasian setelah empat tahun baru bisa ngerebut Ilham. Oh dan selamat menikmati bekasan gue. Jangan lupa undang ya kalo kalian nikah” ucapku. Hanya itu saja yang kuucapkan untuk melampiaskan emosi. Itu masih cukup sopan. Padahal minimal aku berikan sumpah serapah atau absen nama-nama binatang untuk mengata-ngatainya. Masih mending juga aku tidak menampar dan menjambaknya meski aku sangat ingin. Meri malah tertawa. “Itu karena gue ngalah selama ini. Its okay gue maklumin karena lo pasti iri dan sakit hati, Vir. Gue tau seberapa lo cintanya sama Ilham. Tapi sayang dia malah lebih cinta sama gue. Sini gue bantuin angkat.” Aku pikir kami akan berakhir saling menjambak di ruangan ini. Mengingat hanya ada kami berdua. Aku pun tersenyum palsu dan membiarkan Meri membantu mengangkat kardus berat itu. Aku sudahi saja perdebatan kami meski sebenarnya masih sangat ingin aku respon ucapannya. “Gue harap kita masih tetep sering nongkrong bareng,” ucap Meri kemudian. Oh good! Kesempatan bagus untuk memamerkan Indra. Double date mungkin akan jadi ide yang bagus! Sekalian biar black card Indra bisa ku pamerkan depan mereka. Iya Indra punya black card kok! Aku lihat waktu dia berikan dompetnya padaku saat beli air di warung di Nambo. *** Aku tertawa hambar di ruangan karaoke. Musik sudah dimulai tapi aku tidak menyanyi. “Gilak semuanya gilak.” Aku masih heran dengan Ilham dan Meri. Bahkan aku berpikir apa jangan-jangan aku yang gila disini? Kenapa mereka bisa bersikap seolah mereka tidak bersalah?! “Meri jadi babu gue? Ilham suka duluan sama Meri?” Aku tidak berhenti bertanya-tanya. “Ya kalo suka ngapa malah deketin gue anj!” Aku langsung mengarahkan mikrofon ke depan bibir. Mulai bernyanyi. Berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan rasa emosi. Entah berhasil atau tidak tadi kemunculanku kesana. Yang jelas aku bisa lihat Ilham cukup takjub melihat diriku. Pasti dia terkejut melihat aku yang begitu cantik. Air mataku menetes seraya aku bernyanyi. Saat itu ponsel di atas meja menyala. Langsung aku lihat ternyata pesan dari Indra. Gimana? Aku tidak tahu apa tadi itu termasuk berhasil atau tidak. Ilham dan Meri nampak tidak peduli. Belum ada kabar dari Eca soal kondisi kantor karena aku yakin masih meeting. Pertanyaan dari Indra itu semakin membangkitkan emosiku saja. Padahal aku sudah menghabiskan banyak biaya untuk tampil memukau. Aku berhenti bernyanyi. Perasaanku benar-benar gondok sekarang. Aku ingat-ingat lagi apa hal yang sebenarnya paling tidak disukai oleh dua pengkhianat itu. Mereka itu suka pamer dan selalu tidak suka kalau ada yang lebih sukses dari mereka. Ah ya memang hanya itu saja. Itu sebabnya aku sangat butuh Indra untuk balas dendam. Aku buru-buru mengetikkan pesan untuk Indra. Please banget kapan lo buat IG? Gue bener-bener butuh bantuan untuk bales perlakuan mereka
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN