Chapter 13 Indra Keren

2249 Kata
Ini dia hari pertamaku mengikuti kelas memasak. Kata Arianti, memasak itu dibawa enjoy saja. Memasak itu mudah apalagi kalau sudah terbiasa. Jadi aku akan bersikap biasa saja. Setidaknya aku sudah bisa basic memasak. Membut mie rebus, mie goreng, telur goreng, dan naget goreng itu termasuk basic memasa kan? Oh ya dan jangan lupakan aku sudah bisa memasak ayam kecap, meski sudah lupa bagaimana caranya. Serius aku benar-benar lupa. Tempat aku kelas memasak itu sebuah kompleks rumah. Menyenangkan juga. Jadi rasanya seperti belajar di rumah teman. Indra ini memesankan kelas memasak private untukku. Baguslah aku jadi tidak merasa malu jika ada peserta lain. Malu rasanya kalau melihat peserta lain sudah jago tapi aku masih hancur hasil masakannya. Yang mengejariku adalah seorang ibu paruh baya bernama Bu Wati. Oke bagus, aku jadi rindu ibuku kalau begini. Beliau ini pembawaannya adem dan tenang. Mengayomi sekali. “Jadi Nak Vira biasanya masak apa?” Aku menyengir kuda. “Saya seringnya beli, Bu. Paling mentok ya rebus mie. Bikin mie telor, goreng mie, goreng telor, goreng naget, terus.. pernah sekali diajarin buat ayam kecap sama temen tapi udah lupa caranya.” “Nah berhubung ini kan tujuannya supaya bisa masak makanan rumahan ya. Jadi kita belajarnya bisa santai dan lebih ke sering praktek menu yang berulang. Juga nanti selain praktik di dapur, kita akan sesekali beli bahannya. Supaya belajar juga pilih bahan yang bagus kalau belanja.” Aku mengangguk mendengar penjelasan Bu Wati. Kedengerannya seru juga. “Ya sudah kita langsung saja ya. Coba masak menu yang Nak Vira bisa. Ibu mau lihat dulu gimana cara Nak Vira memasak selama ini.” *** Ini sudah hari keenam aku menjalani kehidupan dengan rutinitas baru, kelas memasak dan belajar golf. Untuk kelas memasak itu pagi sampai siang, tapi durasinya tidak terlalu lama. Lalu belajar golf kadang sore atau malam. Selama enam hari ini juga aku tidak ada bertemu Indra. Lelaki itu bilang sibuk bekerja dan besok baru bisa bertemu. Lumayan melelahkan juga menjalani kegiatan seperti ini. Sebab aku lebih banyak bergerak.. Dibanding saat masih bekerja di agensi dulu, bisa seharian hanya duduk di depan laptop. Sore ini aku sudah selesai untuk belajar golf. Kata coach Heri aku cepat belajar. Baguslah kalau begitu. Aku harus cepat bisa. Siapa tahu dengan begitu Indra bisa segera membuat IG dan mengikuti permintaanku. Seraya duduk di kursi mengamati pemandangan danau, aku memainkan ponsel dan langsung memeriksa akun Meri serta Ilham. Bagus sekali postingan mereka selama enam hari ini adalah tentang bekerja dan bekerja. Juju raku iri sekali karena mereka bisa merasakan mengerjakan proyek senilai 1 milyar. Dulu saat aku masih bersusah payah di agensi, belum pernah merasakan dapat proyek dengan nilai sebesar itu. Aku meletakkan ponsel dan kemudian menghela napas panjang. “Oh iya belom absen.” Aku langsung menatap coach yang kebetulan sudah selesai membereskan peralatan. “Coach foto dulu,” pintaku. Dengan cepat aku bangkit dari duduk dan kemudian selfie bersama coach Heri. “Oke sip. Terima kasih coach.” “Gue duluan ya, Vira. Kalo mau santai disini dulu, santai aja.” Coach Heri itu sudah cukup tua namun gaul. Jadi beliau pakai panggilan lo-gue padaku. Kalau aku, tetap saja panggil coach untuk menghormati namun tetap mengikuti gayanya menggunakan gue. “Siap coach. Hati-hati di jalan, titip salam ke kembar.” Kebetulan beliau punya anak kembar. Jadi obrolanku dengan beliau sangat nyambung berhubung aku juga punya adik kembar. Sesi coaching bersama beliau benar-benar seru pokoknya. Aku melambaikan tangan saat beliau pergi. Setelah itu kembali duduk di kursi dan bersandar. Aku segera mengirim foto selfie bersama coach Heri ke Indra. Aku sengaja mengirim bukti-bukti bahwa aku benar-benar berlatih. “Masih belum pada dibales,” gumamku sambil scroll pesan-pesan yang aku kirim selama enam hari ini. Tidak mungkin kan dia kabur? Sebab kartunya ada padaku. Semoga saja tidak. Aku sudah sangat semangat begini. Awas saja Indra kabur. “Udah kelar belajar golf?” Aku langsung menoleh saat mendengar suara Indra itu. “Udah, coach Heri udah balik. Akhirnya nongol lo. Kemana aja? Chat gue nggak pernah dibales.” Jujur aku kesal karena Indra benar-benar seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada kabar. Pesanku tidak dibaca. Memang sih lelaki itu sudah bilang kalau dia akan sangat sibuk bekerja jadi tidak merespon pesanku. Hanya saja siapa sangka benar-benar genap enam hari tanpa merespon. “Kangen?” tanyanya dengan ekspresi datar. Indra kemudian duduk di kursi sebelahku. “Ya bukan. Kirain kabur.” “Kabur? Kartu gue masih ada di lo. Rugi dong gue kalo kabur.” “Ya abis chat gue nggak direspon sama sekali.” “Kan gue udah bilang kerja. Nyari duit buat nafkahin lo.” Aku hanya mengernyitkan kening saja mendengarnya. “Ngapain lo kesini?” tanyaku kemudian. Indra melirikku. Mulai muncul firasat tidak enak. “Main badminton yuk?” ajak Indra kemudian. Aku mengalihkan pandangan dari menatapnya menjadi menatap hamparan rumput di depanku. Kemudian aku menghela napas. Sungguh rasanya tubuhku terlalu lelah untuk bermain bulutangkis. “Gue capek.” “Cuma kelas masak sama belajar golf aja capek.” Aku berdecak. Kini menatap Indra dengan kesal. “Main bulutangkis sama temen lo aja. Siapa gitu kek. Ajakin. Gue mau balik, capek. Apalagi besok kan harus presentasi masakan ke lo.” Aku bangkit dari tempat duduk. Mau segera keluar dari sini. Sambil melangkah menuju lobi saja aku pesan ojek online. “Kalo lo menang main badminton lawan gue, gue langsung buat IG.” Aku yang sudah berdiri dan bersiap untuk pulang itu pun menatap Indra dengan raut wajah pasrah. Detik kemudian aku terpaksa tersenyum. “Emang paling bisa ya lo! Ya udah ayok. Main dimana?” *** “Game, 21 5.” Aku kalah. Ucapan dari wasit tersebut membuat aku langsung terduduk di tempat. Lalu setelah itu aku merebahkan diri saja di atas lantai yang menjadi lapangan bulutangkis ini. Pandanganku kemudian menatap langit-langit yang ruangan. Seharusnya aku sadar diri saat Indra begitu percaya diri menantangku. Dia mainnya jago. Aku benar-benar kewalahan bermain bulutangkis dengannya. Jangankan bisa menang melawan dia. Menyamai skor dia saja tidak mungkin. Sekarang aku sudah benar-benar lelah. Jadi aku langsung merebahkan diri saja disini dengan kondisi tubuh penuh keringat. “Gimana sih. Masak kalah.” Suara Indra yang meledek itu sudah tidak bisa memancing emosiku. Aku kesal tapi tenagaku habis. Jadi aku hanya diam saja dan masih tetap memandang langit-langit. Tiba-tiba saja wajah Indra terlihat. Ia menunduk menatapku. “Pingsan lo?” Aku menghela napas. Aku kemudian memejamkan mata saja. “Tau ah. Capek banget gue.” “Lo mau balik apa tidur disini?” Pertanyaan itu langsung membuatku membuka mata dan menatap Indra lagi. Dia masih berdiri dan kini berkacak pinggang. Jangan sampai aku ditinggal disini. “Balik. Bentar dulu deh gue istirahat. Capek!” keluhku. Aku serius. Meski kegiatanku sehari-hari hanya kelas memasak dan belajar golf, tapi yang membuatku lelah adalah perjalanan yang harus ditempuh setiap harinya. “Tiduran di mobil aja sambil jalan nyari makan. Laper gue.” Aku mulai menatap Indra dengan kesal. Dasar tukang ngatur! Jadi dia ingin kami buru-buru meninggalkan tempat ini karena dia lapar? Padahal aku cuma minta waktu sebentar saja. Tangannya pun diulurkan bermaksud membantuku untuk bangun. Akan tetap aku putuskan bangun sendiri saja. “Mau makan dimana badan bau keringetan gini?” tanyaku setelah berdiri. “Rumah makan langganan gue,” ucap Indra. Lelaki itu kemudian menyerahkan sebotol air untukku. Tidak aku ambil dan langsung melengos saja menuju tempat tasku diletakkan. *** Begitu aku duduk di kursi mobil, Indra mengatur kemiringan kursi sampai aku merasa nyaman untuk merebahkan diri. Sekarang sudah jam sembilan malam dengan kondisi aku belum mandi dan tubuh basah oleh keringat. Sebenarnya aku juga lapar tapi sungguh dibanding mengisi perut dengan makanan, aku lebih ingin langsung pulang saja ke kost. “Jangan tidur lo,” ucap Indra mengingatkan. “Padahal gue udah mau tidur nih,” sahutku. Mobil mulai melaju. “Masak apa buat besok? Empat menu loh ya.” “Ada deh. Liat aja besok,” sahutku. Sengaja. “Sok misterius. Awas aja nggak bisa dimakan.” “Jangan ngeremehin gue ya.” Indra tidak menyahut lagi. Tiba-tiba ada telepon masuk untuknya, Indra pun segera memasang earphone. Aku langsung otomatis diam. Takut kalau itu telepon dari keluarganya. Bisa repot kan kalau mereka mendengar suara dan seketika ngebet ingin bertemu. Mengingat Indra bilang keluarganya jelas akan langsung setuju siapa pun perempuan yang Indra kenalkan ke mereka. Jujur aku jadi penasaran kenapa keluarganya jadi terkesan sehopeless itu sampai langsung setuju saja yang penting Indra menikah. Indra mulai bicara dengan bahasa inggris. Oke sepertinya ini urusan pekerjaan. Indra bilang dia bekerja untuk perusahaan luar negeri. Alasan yang masuk akal kenapa dia bisa punya banyak uang. Aku pun jadi menatap lelaki itu selama dia menyetir sambil bicara dengan telepon. Kelihatan keren. Oke, calon suamiku memang keren. Sangat keren. Aku pun jadi tersenyum. Baguslah kalau aku dapat kualitas unggul begini. *** Kami pesan ayam bakar! Aromanya enak sekali saat baru tiba dan terhidang. Sama-sama ayam bakar tapi beda varian sambalnya. Aku sambal kecap sementara Indra sambal matah. Saat makan, aku pun merasa terkagum-kagum dengan rasanya. Sepertinya aku akan ketagihan makan disini. “Ini enak banget loh gilak,” ucapku sambil mengambil nasi, daging, dan sambal dengan sejumput jariku. Aku makan pakai tangan. “Mana coba?” pinta Indra. Dia duduk di sebelahku. “Ambil aja,” ucapku seraya menunjuk piringku dengan mata. Kalau dia, silahkan saja ambil sendiri. Saat hendak menyuap ke mulutku, tanganku tiba-tiba ditahan oleh Indra. Lelaki itu kemudian mengarahkan tanganku untuk menyuap ke mulutnya. “Iiiih!” Indra ini tidak sopan sekali. Main nyelonong saja. Padahal dia bisa ambil sendiri dengan tangannya. Aku masih belum terbiasa kalau ada orang lain yang makan dengan tanganku. Waktu perjalanan pulang dari Bogor dan Indra minta disuapi. Itu saja rasanya sangat aneh bagiku dan penuh dengan keterpaksaan. “Kan bisa ambil sendiri sih,” ucapku protes seraya menarik tanganku yang masih dipegangnya. “Iya enak nih. Gue belum pernah coba yang sambel kecap soalnya,” ucap Indra setelah selesai mengunyah, Setelah itu kami lanjut makan. “By the way. Lo nggak pernah make kartu gue? Nggak pernah ada notif duit keluar.” Ah iya. Aku berencana memberitahu soal uang kepada Indra. “Nah gue mau ngabarin. Adek gue udah transfer. Jadi mumpung ketemu, sekalian gue balikin kartu dan mau balikin dua juta yang gue pinjem.” “Yang waktu itu lo shopping sama ke salon, bukan pake kartu gue berarti?” “Iya.” Aku kemudian menyuap makananku dan mulai mengunyah. “Kenapa nggak pake kartu gue aja?” “Kan gue udah ditransfer sama Anjas.” “Dia transfer berapa?” “Sejumlah cinta dia ke gue,” sahutku. Akhirnya makananku habis dan perutku terasa kenyang. Berkat makanan seenak ini, rasa lelah dan badmood ku jadi hilang seketika. “Kedepannya pake kartu gue aja.” “Ntar kalo duit dari adek gue udah habis. Gue abisin duit lo.” Indra tidak menyahut. Dia bangkit untuk mencuci tangan karena sudah selesai makan. Aku juga sudah selesai tapi menunggu sampai dia kembali saja. Supaya ada yang menjaga meja. Tidak aman rasanya meninggalkan Begitu Indra kembali, aku menatapnya saat ia melangkah menuju meja. Dia juga ikut menatapku lekat sambil melangkah. Tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Aku yang mengalihkan pandangan duluan, menatap ponsel. Setelah dia kembali duduk, aku langsung bangkit untuk mencuci tangan. Berhubung suasana sepertinya santai, aku berpikir untuk mengutarakan keinginanku. Saat kembali ke meja. Aku berniat bicara to the point. Indra sedang memainkan ponselnya. “Indra…” panggilku lembut. Harus manis-manis supaya dia setuju dengan ideku. “Hmm?” Lelaki itu mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatapku. “Gue pengen bikin agensi deh. Biar bisa nyaingin si dua pengkhianat. Tapi butuh bantuan modal. Gimana?” Indra masih diam menatapku. Aku pun memegangi lengannya. “Boleh ya?” pintaku memelas. Tidak tahu akan berhasil atau enggak. “Giliran minta sesuatu, manis banget lo ya?” sindir Indra. Aku hanya menyengir kuda. Kalau aku bisa dapat modal cukup besar dari Indra. Pasti aku bisa lebih sukses dari Ilham dan Meri. Ide ini sebenarnya sudah terpikir sejak aku harus meninggalkan kantorku kala itu. Keinginan yang muncul karena aku rasanya tidak terima harus menjadi orang yang hengkang kaki dari agensi itu padahal aku yang mendirikannya. “Ya, ya, ya? Boleh ya? Bantuin modal dan moral. Pleasee.” Indra menatap kedua tanganku yang memegangi lengannya. “Enggak. Fokus belajar masak sama golf aja. Makin cepet lo bisa masak, makin baik. Nyokap gue udah mulai lagi nanya-nanya menantu.” Aku berdecak dan langsung menggeplak lengannya Indra. “Ih. Nyebelin!” Indra menatapku dan kemudian berdecak. “Lo fokus aja biar kita cepet nikah. Ilham biar gue yang urus.” Aku memutar bola mata malas. “Urus gimana? Gue minta tolong buat IG aja harus ini harus itu lah.” “Proyek 1 M yang dia dapet itu dari gue. Kendali sepenuhnya di tangan gue tanpa ketemu mereka.” Aku membuka mulutku terkejut. “Hah?” Indra tidak menyahut dan kembali fokus memainkan ponselnya. Aku berusaha memahami ucapan Indra lagi. “Kok bisa dari lo?” Baru Indra menoleh lagi padaku. “Kan gue udah bilang, gue bakal bantuin. Makanya fokus aja belajar masak, biar cepet nikah.” Perasaan iri dengki karena Ilham dapat proyek 1 milyar itu langsung sirna sekejap. Bisa-bisanya Indra baru memberitahuku. Akan tetapi tidak masalah. Aku langsung menatap Indra takjub. Berarti dia benar-benar kaya ya kalau bisa memberi proyek sebesar itu begitu saja untuk membantuku. Astaga aku rasanya senang sekali. “Gilak lo keren banget Indra. Sumpah. Aaaaa” Aku terlampau antusias jadi aku langsung memeluk Indra untuk mengekspresikan betapa senangnya aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN