Sudah empat tahun aku tinggal di kost ini. Selama itu pula bisa dihitung berapa kali aku menggunakan fasilitas dapur umum. Mentok-mentok aku memasak makanan yang sederhana. Sekarang aku memasak menu yang bisa dibilang cukup effort membuatnya. Sejak pagi aku sudah pergi ke pasar dekat kost untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan. Benar-benar tumben aku pergi sendiri ke pasar begini. Apalagi membeli bahan-bahan makanan. Untungnya sudah berlatih dengan Bu Wati. Ya meskipun berbeda tempat, tetap saja lumayan membuatku percaya diri berbelanja ke pasar.
Berhubung Indra minta empat menu, aku buatkan sayur kangkung, ayam kecap, tempe kecap, dan telur rebus. Juga ada beberapa buah yang aku iris. Lumayan kan untuk pemula seperti aku? Aku juga sudah beli s**u. Pokoknya empat sehat lima sempurna untuk Indra.
Aku agak lambat dalam memasak. Tidak secepat saat aku mengerjakan pekerjaan di depan laptop. Akan tetapi tidak apa-apa. Jam satu siang baru beres urusan di dapur. Itu sudah termasuk memasukkan masakanku ke kotak bekal. Indra akan datang nanti.
For your information, aku sudah minta tolong pada salah satu anak kost yang kebetulan melintas saat aku memasak di dapur. Kata dia masakanku sudah bagus untuk ukuran pemula. Bu Wati juga bilang begitu. Intinya masakanku enak dan bisa dimakan.
Aku bergegas mandi dan bersiap. Tentu saja aku sudah mengabari Indra kalau dia bisa tiba disini jam satu siang.
Aku tidak pakai make up. Sebab memakai make up itu lumayan melelahkan juga. Toh hanya bertemu Indra. Aku sebut hari dimana ia menilai masakanku sebagai hari penghakiman. Entah akan seperti apa komentar dia nanti. Sebab ini pertama kalinya.
Belum genap pukul satu siang, Indra kirim pesan kalau dia sudah berada depan kostku. Baguslah kebetulan aku juga sudah selesai bersiap. Langsung saja aku angkut tas berisi kotak bekal tersebut. Aku hanya membawa tas itu, botol minuman, dan ponsel. Toh hanya bertemu di mobil Indra saja.
Sengaja aku tidak mau dia datang ke ruang tamu kost. Malas soalnya ditanya-tanya oleh ibu kost. Sebab ibu kost taunya aku berpacaran dengan Ilham. Ibu kostku baik dan aku sangat akrab dengan beliau. Hanya saja malas membicarakan penyebab sakit hatiku.
Mobil Fortuner hitam milik Indra sudah terlihat. Hanya dengan sandal jepit pun aku mendekatinya. Kemudian langsung membuka pintu mobil saja dan masuk.
“Hai calon suami. Ini dia masakan calon istrimu,” ucapku usmringah.
Moodku benar-benar baik semenjak Indra bilang dia yang memegang kendali atas proyek yang Ilham kerjakan. Jadi akan aku perlukan dia seolah raja. Tutur kata lembut, perangai ramah. Intinya apapun demi menunjukkan betapa aku sangat berterima kasih pada lelaki itu. Siapa sangka Indra melakukan pergerakan tidak terduga. Mana keren banget lagi.
“Kok pake baju begini?”
Pertanyaan itu membuatku mengangkat satu alisnya.
“Kenapa emang? Ada yang salah?” tanyaku bingung.
“Ganti. Kita kan mau pergi.”
“Pergi kemana?” tanyaku terkejut.
“Ke mall. Temenin gue beli baju.”
Aku mengernyitkan kening. Kenapa Indra itu tidak bilang dari awal sih? Kan aku bisa langsung saja bersiapnya.
“Kenapa baru bilang sih?”
“Baru kepikiran.”
Padahal aku sudah mendambakan tidur sepuasnya hari ini sebab hari ini libur dari semua kelas. Astaga aku masih tidak paham kenapa jadwal kelas memasak dan belajar golf itu benar-benar enam hari full setiap minggunya. Hanya libur satu hari yang sekaligus dijadikan agenda hari penghakiman.
“Sana ganti sama dandan. Gue tunggu disini sambil makan masakan lo.”
“Yah kok gitu. Gue mau lihat ekspresi lo langsung nyobain makanan gue!”
Supaya aku bisa menilai Indra berkata jujur atau tidak. Kalau aku tidak lihat ekspresi dia langsung, kan tidak tahu nanti penilaian dia murni atau manipulasi. Sebab itu berpengaruh kepada seberapa keras aku harus rajin memasak membuktikan kemampuanku. Lebih baik memasak santai, yang penting bisa memasak kan? Daripada aku harus push belajar seolah harus jadi chef.
“Biar cepet.”
“Biar cepet,” ucapku menirukan ucapan Indra dengan cara meledek.
“Siapa suruh lo mendadak pengen ngemall.”
Dia pikir memilih baju itu bisa sekali tunjuk apa? Kalau pergi ke tempat seperti mall tetap saja aku perlu memilih baju yang proper.
“Ya udah buruan sana ganti baju sama dandan.”
Untuk berjaga-jaga, aku bawa lagi saja hasil masakanku itu ke kost. Supaya Indra tidak memakannya.
“Ogah dandan. Ganti baju aja gue,” ucapku sambil membuka pintu.
“Lo kalo mau ketemu Ilham baru semangat dandan ya?”
“Ya iyalah. Kan harus tampil cetar dan cantik mempesona depan mantan, biar nyesel,” sahutku sambil mengibaskan rambut.
***
Aku kembali dengan kondisi siap ke mall. Aku pakai pakaian serba hitam, Itu sudah paling aman. Tetap modis dan bagus.
“Dah nih cobain,” ucapku.
Aku membuka kotak bekal tersebut.
“Next time lo masak di apartemen gue aja. Biar langsung gue liatin.”
“Nggak. Gini aja. Lo nyamper kesini, makan disini. Simple kan?”
Aku malas kalau harus pergi lagi. Pasti lelah kalau harus bolak-balik ke apartemen Indra. Biar Indra saja yang kemari. Apalagi dia punya kendaraan. Sedangkan aku? Boncos kalo bolak-balik. Ya meskipun aku tidak tahu dimana Indra tinggal.
“Kenapa? Lo takut gue apa-apain?”
“Salah satu alasannya itu. Terus mager gue bolak balik.”
“Kalo gue mau macem-macem, harusnya udah dari pas lo mabuk aja.”
Ucapan Indra benar juga sih. Akan tetapi ya siapa tahu jebakan. Meski rasanya tidak mungkin. Sebab kalau diperhitungkan, Indra sudah keluar banyak uang.
“Berarti lo belum percaya sama gue,” ucap Indra.
Aku pun menatap Indra. Ya setengah setengah sih tingkat kepercayaanku padanya. Aku kan tetap harus jaga-jaga juga.
Aku pun terdiam. Bingung menanggapi.
Indra kemudian membuka kotak bekal dan mulai mencoba makananku.
“Gimana?” tanyaku kemudian.
Aku memperhatikan ekspresinya selama mencoba makanan yang aku buat.
“Lumayan. Bisa dimakan.”
Aku tersenyum sumringah penuh rasa bangga.
“Kalo enak bilang enak,” ucapku.
Soalnya Indra kelihatan terus mengunyah beberapa suap. Kalau rasanya agak kurang, ya seharusnya kan tidak seperti itu.
“Udah gue bilang lumayan, bisa dimakan. Gue lanjut makan nanti lagi. Kita berangkat sekarang,” ucap Indra seraya menutup kotak bekal. Ia membereskan kegiatan makannya dan mulai minum.
“Kalo dimakan nanti, dingin dong. Jadi nggak enak?” tanyaku ragu.
“Nanti bisa gue angetin. Yang jelas nggak akan gue habisin ini masakan perdana calon istri.”
“Jujur aja. Berarti enak kan masakan gue?”
“Lumayan,” sahutnya.
“Halah. Pakek gengsi segala.”
Indra tidak menyahut dan kemudian menatap ke arahku.
“Seatbelt,” ucap Indra mengingatkan.
***
Begitu mobil Indra sudah terparkir di basement, aku langsung memakai maskerku sebelum melangkah keluar.
“Kenapa pake masker?” tanya Indra.
“Ini GI. Bisa aja ketemu Ilham Meri kan?”
“Ya kenapa kalo ketemu?”
Aku berdecak. Aku tidak ingin mereka melihatku dengan Indra disini. Aku belum siap. Pertemuan Indra dengan mereka harus lebih keren. Meskipun bertemu di Grand Indonesia saat sedang shopping sudah lumayan keren. Akan tetapi aku sungguh ingin lebih keren daripada itu. Maklum manusia memang tidak pernah puas.
“Gue nggak mau lo ketemu Ilham sekarang. Udah ayok,” ajakku.
Indra tidak bicara lagi. Kami pun keluar dari mobil dan melangkah memasuki mall.
“Lo beli baju apaan emang?” tanyaku.
Indra memakai topi. Tahu begitu aku bawa topi juga tadi. Penampilan kami ini sudah seperti artis yang menyamar saja. Ya aku berharap tubuhku ini tidak terlalu dikenali. Semoga saja masker ini membantu ditambah rambut terurai yang menutupi wajahku.
“Buat meeting. Casual aja sih. Kliennya juga santai soalnya.”
“Ini gue bantuin milihin juga ceritanya?”
“Iya.”
“Tapi selera lo bagus loh. Outfit lo selama ini keren-keren. Kenapa nggak milih sendiri?”
“Tinggal bantu milihin apa susahnya sih? Cowok nggak selama cewek kalo belanja.”
Indra melepas topinya dan memakaikan topinya padaku. Membuatku langsung menoleh padanya.
“Kenapa gue?”
“Biar sekalian nyamarnya,” ujar Indra.
“Sini,” ujar Indra menarik tanganku. Dia menggenggamnya dan kami mulai naik eskalator.
Aku pun menarik tanganku dan mengubah posisi naik satu tangga supaya tetap berada di lajur kiri.
Sambil menunggu eskalator naik ke atas, aku memandangi lingkungan sekitar. Ini rasanya kenapa aku jadi waspada begini? Seolah aku sedang jalan dengan selingkuhan saja.
Ketika sudah tiba di lantai dua, aku langsung menoleh pada Indra.
“Mau beli dimana?” tanyaku sambil merapikan topi milik Indra. Ukuran topi lelaki itu terasa kebesaran sekali di kepalaku.
“Giordano,” ujar Indra seraya menarik tanganku.
***
Memang benar kalau lelaki belanja lebih cepat. Akan tetapi aku yang membuatnya jadi agak lama. Beberapa pakaian terlihat keren di Indra. Bagaimana ya, tubuh dia itu bagus dan ditambah dengan wajah yang tampan. Hanya sayangnya dia agak gondrong saja. Tetap ganteng sih, tapi aku lebih suka lelaki yang rambutnya rapi. Style undercut dengan poni comma masih menjadi favoritku sampai sekarang. Fun fact Ilham terlihat jelek dengan style favoritku itu. Aku harap bisa melihat Indra versi style rambut begitu. Sepertinya dia akan jauh lebih tampan kalau begitu.
Tangan kiri Indra menenteng paper bag, sementara tangan kanannya menggandeng tanganku. Aku biarkan saja.
“Abis ini gue mau tarik tunai terus temenin gue kunjungan ya.”
“Kunjungan kemana?”
Indra ini kenapa sih suka sekali mendadak memberitahu? Kenapa tidak dari awal saja.
“Bisnis rumahan.”
“Bisnis lo?”
Indra menganggukkan kepalanya.
Oke mari kita rangkum informasi yang sudah aku peroleh mengenai kekayaan Indra. Dia sempat survei tanah di daerah Nambo, lalu memiliki bisnis, punya black card, kartu prioritasnya ada banyak. Ah aku bahkan belum cek berapa saldo kartu yang Indra berikan padaku. Semenjak ia memberikannya, kartu itu masih tersimpan rapi di dompet. Tidak pernah aku apa-apakan. Kesimpulannya Indra sangat kaya. Aku langsung menatap lelaki itu. Dia waras kan dengan memilih menikahiku? Aku jadi penasaran apa yang aku lakukan saat mabuk sampai dia seyakin itu mengajakku menikah. Apalagi membantu sejauh ini. Akan tetapi baguslah. Aku anggap ini bala bantuan semesta demi memuluskan keinginanku balas dendam pada Ilham dan Meri.
“Mau ngasih bonus buat mereka.”
Kalau untuk pamer padaku, sungguh aku sudah tahu kalau Indra kaya. Akan tetapi kenapa mendadak sih?
“Terus gue ikut? Terus nanti mereka liat gue?”
“Keluarga gue nggak ada yang tahu gue punya bisnis ini.”
Aku langsung menghentikan langkah dan menarik tanganku dari genggamannya. Indra ikut menghentikan langkah juga dan kemudian menatapku.
“Jangan-jangan ilegal?” tanyaku reflek.
Mengingat dia kaya. Mungkin kah uang yang diperoleh itu ia dapat dengan cara tidak benar?
“Bukan. Usaha makanan. Keluarga gue nggak tau banyak soal bisnis-bisnis yang gue punya.”
Indra kembali menggandeng tanganku dan kami melangkah bersama.
Aku baru sadar sepertinya aku memang harus duduk bersama dan bertanya lebih banyak tentang Indra. Aku tidak tahu banyak tentang lelaki itu. Akan tetapi bagaimana ya, kalau bicara dengan dia itu bawaannya jadi kesal.
Hanya saja tidak apa-apa. Moodku masih sangat baik karena proyek satu milyar.
“Oh oke-oke,” ucapku.
Akhirnya setelah mencari keberadaan ATM, kami menemukannya. Agak antri juga. Indra memberiku kartu dan minta tarik uang juga. Katanya biar cepat.
Kali ini kartu yang kelihatannya berbeda lagi. Aku jadi penasaran sebenarnya Indra ini punya berapa kartu sih?
Indra minta tarik 10 juta. Aku pun menanti dengan penuh kesabaran. Indra sudah selesai mengantri. Jadi dia menungguku.
Akhirnya beres sudah menarik uang itu. Aku kemudian hendak melangkah menghampiri Indra. Saat itu ada seorang wanita paruh baya mendekatinya.
“Loh Indra? Lagi disini?”
Suara itu membuatku menghentikan langkah dan menatap Indra. Dia kelihatannya sangat terkejut. Kentara jelas dari ekspresinya.
“Mama?”
Hanya dengan satu kata itu aku langsung putar balik dan melangkah menjauh. Terserah kemana saja. Melangkah secepat mungkin meninggalkan Indra yang tiba-tiba dihampiri oleh mamanya itu.