Chapter 15 Tantangan Baru

1678 Kata
Siapa yang menyangka akan bertemu dengan mamanya Indra disini. `Padahal yang sejak tadi aku hindari adalah kemungkinan bertemu dengan Ilham dan Meri. Rupanya semesta memberikan kejutan yang lebih mengerikan. Malah bertemu dengan mamanya Indra. Jelas kabur adalah hal pertama yang terlintas di pikiranku. Ya kalau tidak kabur, mau apalagi? Aku tidak tahu apapun soal Indra. Juga belum mempersiapkan diri untuk bertemu orang tuanya. Daripada aku bicara hal yang salah, lebih baik kabur saja. Semoga wanita itu tidak melihatku. Rasanya jantungku seolah hampir berhenti berdetak tadi saat mendengar bagaimana Indra menyebut wanita itu sebagai mama. Setelah melangkah menjauh dari Indra, aku masuk toilet saja. Langsung aku kirimkan pesan padanya. Bertanya tentang bagaimana kelanjutan dari rencana kami. Entah akan berapa lama dia tertahan oleh ibunya itu. Sedangkan aku sendiri bingung harus menuju kemana. Menunggu selama beberapa menit akhirnya muncul pesan balasan dari Indra. Kata lelaki itu sudah aman, aku pun langsung keluar dari bilik toilet dan mencari keberadaannya. Masih dengan mengenakan masker dan topi milik Indra, aku menatap sekeliling untuk mencari keberadaan lelaki itu. Hingga pundakku ditepuk sehingga aku merasa kaget. Saat berbalik ternyata itu Indra. “Lo ngagetin banget sumpah.” Indra cuek. “Yuk ke basement.” “Nyokap lo gimana?” tanyaku. “Aman.” “Serius? Kok bisa sih ada disini. Lo nggak tau nyokap lo disini?” “Lo kenapa kabur?” tanya Indra. Kami mulai melangkah. “Ya masak gue harus sungkem gitu sama nyokap lo? Dengan kondisi gini? Kalo nyokap lo nanya gue siapa, emang lo mau jawab apa?” “Temen.” “Yang ada nyokap lo curiga sama gue. Udah paling bener kabur. Daripada gue muncul dan ditanya-tanya. Kita kan belum bener-bener kenalan. Gue nggak tau apapun tentang lo. Yang paling ngeri juga daripada nanti tiba-tiba gue diintrogasi sama nyokap lo dan malah bikin nyokap lo nggak suka gue.” Aku kan harus tetap jaga image. Aku tidak mau calon mertuaku benci padaku hanya karena kesan pertemuan pertama yang buruk. Indra tidak mengatakan apapun. Aku rasanya masih sedikit kesal sebab aku merasa sedikit jantungan karena kejadian tadi. Seolah ketahuan habis mencuri saja. “Nyokap lagi jalan disini. Gue nggak tahu. Nyokap juga nggak tahu. Gue bilang aja ada urusan kerjaan. Beres.” “Nyokap lo beneran udah balik kan tapi? Nggak lucu kalo tiba-tiba ketemu lagi di basement.” Aku menatap Indra serius. Lelaki itu malah menyengir kuda. “Udah balik sama supir. Tenang aja.” Aku baru bisa merasa lega. Baguslah kalau begitu. *** Kami tiba saat petang. Jarak lokasi yang menjadi tempat bisnis makanan Indra itu lumayan juga. Sebuah lahan yang cukup besar dan gedungnya kelihatan besar. Berarti sudah cukup sukses kalau punya rumah produksi sebesar ini. Aku dan Indra masih di dalam mobil dan mulai merapikan amplop. Sepanjang perjalanan tadi aku memasukkan uang ke dalam amplop. Supaya ketika sampai, bisa langsung masuk saja. “Jam segini emang masih pada ada pekerjanya?” tanyaku. Indra menganggukkkan kepala. “Ini seriusan gue ikut masuk ke dalem? Kalo pada nanyain gue siapa, gimana?” “Jawab aja calon istri.” “Malu gue.” “Nggak ada yang kenal lo juga,” ujar Indra. “Gimana kalo ternyata ada yang kenal? GI yang segede itu aja tiba-tiba bisa ada nyokap lo.” Indra kemudian menatapku. Aku masih diam. Sebenarnya aku hanya ingin mencari aman saja sebelum hubungan kami bisa dibilang benar-benar resmi. Apalagi kan aku masih masa uji coba alias masih belajar untuk memenuhi syarat-syarat dari Indra. Akan tetapi lelaki itu sudah mengajakku pergi kesini. Aku masih belum ingin berkenalan dengan orang-orang di dunianya Indra. Sebab ketidakjelasan statusku. Ya meskipun kalau aku dan Indra bilang pacaran, juga sah-sah saja. Toh tidak ada yang berubah. Kami hanya saling membantu untuk kepentingan masing-masing. “Ya udah diem disini. Gue sebentar aja kalo gitu.” “Lagian lo ngapain pake ngajak gue sih? Sendiri aja mah,” ucapku seraya menyerahkan tumpukan amplop di tanganku kepada Indra. Indra menerimanya. “Berhubung lo belum kenal gue sepenuhnya. Makanya ini gue kasih tunjuk hal-hal tentang gue.” “Kan tinggal bilang aja. Kasih tau. Saling cerita.” “Biar sama buktinya sekalian. Kan lo nggak percaya sama gue,” sindir Indra. Maksud ucapan dia apa ya? Apa dia membahas soal tadi siang tentang aku yang tidak mau datang ke apartemennya? Aku memilih tidak menyahut dan hanya diam saja. Indra melepas sabuk pengamannya dan kemudian membuka pintu mobil. “Diem disini jangan kemana-kemana. Gue cuma sebentar.” “Iya. Emangnya gue bisa kemana sih?” Indra keluar dan menutup pintu mobil. Lelaki itu kemudian melangkah masuk. Aku memperhatikan punggungnya yang semakin lama menjauh hingga kemudian menghilang karena lelaki itu sudah masuk ke dalam. Aku kemudian memainkan ponselku seraya menunggu. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. “Lah HPnya nggak dibawa?” Aku bisa melihat ponsel Indra menyala karena panggilan masuk. Tanpa sengaja aku jadi melihat id caller si penelpon. Dari namanya seperti nama bule, kemungkinan urusan pekerjaan. Aku biarkan saja hingga telepon masuk itu berhenti dengan sendirianya dan menjadi panggilan tidak terjawab. “Eh jadi penasaran si Indra save kontak gue pake nama apa.” Aku pun segera menelpon kontak Indra sambil memperhatikan ponselnya. Tidak butuh waktu lama panggilan dariku masuk. Satu alisku terangkat saat melihat nama kontakku yang tertera disana, mine. *** Indra kembali sekitar lima belas menit kemudian. Begitu masuk mobil, ia langsung menatapku. “Makan dulu ya baru gue anter balik. Gue makan di restoran temen gue aja biar bisa minta tolong angetin masakan lo.” “Terus gue makan masakan gue juga?” Bagaimana ya bilangnya. Entah kenapa rasanya bosan saja kalau makan masakan sendiri. Bukan berarti masakanku tidak enak ya, tapi semacam tidak ada kejutan saja karena aku sudah tahu rasanya. “Ya lo order di restorannya.” “Oke deh.” Satu hal yang aku suka kalau pergi makan bersama Indra adalah, dia selalu punya ide makan apa dan dimana. Sebab memikirkan harus makan apa dan dimana itu cukup sulit bagiku. Aku lebih sering menjawab terserah kalau ada yang bertanya aku mau makan apa. Bahkan setelah berpikir panjang juga ujung-ujungnya ya makan ayam geprek dan ayam geprek lagi. Mobil mulai melaju. Aku yang penasaran langsung saja bertanya pada Indra. “Ceritain dong detail lo punya bisnis apa aja. Gue taunya lo kerja IT under company luar negeri, terus main saham, survei tanah, sama bisnis makanan itu.” Indra mengangkat satu alisnya. “Kapan-kapan aja. Lo nggak ada agenda kan malam ini?” tanya Indra. “Ada.” “Apa? Kan lo nganggur.” Ucapan Indra menohok sekali, namun itu memang kenyataannya. “Rebahan. Mau tidur cepet gue. Capek banget minggu ini bolak balik kelas.” Indra menoleh padaku sebentar lalu kembali fokus menatap jalanan. “Padahal baru aja mau gue ajak pulang malem. Kita jalan-jalan dulu atau nonton?” “Nggak!” Aku benar-benar butuh istirahat. Selain itu kenapa juga Indra selalu mendadak sih? Padahal tadi dia bilang selesai membawakan uang bonus untuk karyawannya, dia akan langsung mengantarku pulang. Kalau soal diajak makan, berhubung sudah malam dan aku lapar jadi ya setuju-setuju saja. “Lo sama Ilham kalo ngedate paling malem balik jam berapa?” “Pagi pernah.” “Diapain aja lo sampe pagi?” Pertanyaannya itu terkesan negatif sekali. Sebenarnya itu bukan date yang benar-benar hanya kencan, bisa dibilang kerja sambil kencan sih. Kami lembur bersama di kantor. Hanya berdua. Ah dulu rasanya itu manis sekali. “Lembur bareng,” jawabku. “Ya itu mah kerja bukan date.” Indra mengambil ponselnya. Aku baru sadar juga dia baru memeriksa ponselnya setelah sejak tadi menyetir. “Tadi ada yang nelpon kayak nama bule.” “Kenapa nggak diangkat aja?” “Ya ngapain juga gue ngangkat telepon lo. Nggak sopan.” Indra tidak menyahut. Dia melirik ponselnya sebentar sambil tetap fokus menyetir. “Lo ngapain nelpon gue?” “Kepencet tadi,” sahutku bohong. *** Akhirnya mobil Indra tiba di depan kostku. Aku langsung bertanya padanya. “Kapan lo mau buat IG? Atau apa deh biar lo cepet buat IG.” Aku kemudian mendekat ke arahnya. Kali ini benar-benar bermaksud serius. “Maksud gue tuh gini. Semakin cepet lo buat IG, semakin bagus. Biar tanggal postingan feed lo itu keliatannya udah agak lama gitu lo. Terus kalo bisa nanti pas Ilham tau akun lo, akun lo udah banyak foto-fotonya gitu. Jadi pamer ke Ilhamnya maksimal. Biar dia iri banget pokoknya.” “Harus banget pake IG?” tanya Indra. “Harus!” Tidak ada pemblokiran akun IG di antara aku, Ilham, dan Meri. Mereka masih sering melihat postinganku. Kalau aku, juga melihat postingan mereka dengan akun utamaku namun sengaja agak lama. Supaya kelihatannya agak cuek aku terhadap kehidupan mereka. Padahal sebenarnya aku selalu memperhatikan postingan mereka secepat yang aku bisa, dengan fake accountku. Ngomong-ngomong Meri dan Ilham semakin sering saja pamernya akhir-akhir ini. Mereka sering belanja dan jalan-jalan. Memang tanpa menunjukkan wajah tapi aku yakin mereka pergi bersama. “Lo bisa main biliar nggak?” “Bisa,” sahutku cepat. Aku tidak berbohong, aku memang bisa main biliar. Itu dulu gara-gara salah satu klienku ada yang suka main biliar dan aku harus pintar-pintar picthing kampanye padanya supaya terpilih. Berkat itu aku jadi jago bermain biliar. Ya setidaknya bisa sampai mengalahkan beliau dan beliau suka itu, lawan yang memang pintar dan bisa mengalahkannya. Lumayan waktu itu aku dapat proyek tiga digit yang bonusnya cukup untuk balik modal belajar biliar. “Seberapa bisa?” “Kenapa? Lo mau nantangin gue main biliar?” Aku tidak tahu seberapa jago Indra kalau bermain biliar tapi aku merasa cukup percaya diri kalau harus melawannya. “Besok gue jemput. Kita main. Kalo lo menang-” “Gue langsung buat IG,” ucapku langsung memotong ucapan Indra. Sepertinya Indra ini suka sekali menantangku. Indra tertawa. “Besok kan gue ada kelas masak sama belajar golf.” “Malemnya kan bisa,” sahut Indra. Aku menghela napas. Baiklah tidak apa-apa, demi besok Indra sudah punya akun IG. “Oke, deal.” Aku mengulurkan tangan. Indra pun segera menyalami tanganku. “Besok anggap aja biliar date. Kita bisa ngobrolin apa aja yang lo mau tau tentang gue," ucap Indra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN