Chapter 16 Billiard Date

2246 Kata
Hidup kadang di dapur, kadang di lapangan golf. Sekarang lagi di lapangan golf. Aku sudah selesai belajar. Awalnya mau bersantai dulu karena lelah tapi baru ingat kalau malam ini ada pertandingan penting. Jadi aku langsung keluar bersama coach Heri, kami bersamaan menuju loket. Kebetulan juga memang ada yang ingin aku berikan pada coach Heri. “Coach gue tadi buat roti sama donat tau. Cobain ya coach.” “Oh ya? Asik dong.” Aku mengeluarkan kotak berisi roti dan donat. Jadi tadi pagi aku belajar membuat roti dan donat. Hasilnya lumayan karena diberitahu takarannya. Kalau aku buat sendiri dengan teknik kirologi, alias mengira-ngira. Mungkin jadinya bukan roti yang empuk tapi keras seperti batu. “Iya. Nih coach gue bawain banyak. Titip buat si kembar juga ya.” Coach Heri tersenyum sumringah menerinya. Aku memang sudah berniat memberikan hasil buatanku untuk dicoba oleh coach Heri. Sayangnya kalau makanan berupa lauk pauk atau olahan sayuran begitu aku belum percaya diri. Akan tetapi berhubung roti dan donat ini lumayan jadi aku bawa saja. “Wah toppingnya cantik-cantik begini. Thank ya, Vira.” Aku jadi senang. “Sama-sama coach.” Coach Heri langsung mengambil satu roti dan makan langsung di depanku. Kalau begini aku malah jadi berdebar. Lebih baik aku tidak lihat beliau memakannya secara langsung. “Enak, lembut. Lo udah sering buat roti sama donat, Vir?” “Tumben baru ini, Coach.” “Serius lu?” Aku menganggukkan kepala. “Enak loh asli.” Aku jadi salah tingkah. Apalagi saat coach Heri kembali mengambil roti yang ada. “Aduh curiga ini bisa abis sendiri sama gue di jalan pulang. Asli lembut enak, Vir. Baru pertama buat aja udah kayak gini.” Aku hanya terkekeh. “Kalo gitu gue balik duluan ya, Coach. Doain menang hehe.” Coach Heri masih mengunyah dan beliau pun menganggukkan kepala sambil mengangkat jempolnya. Aku sudah cerita pada coach kalau malam ini ada tanding biliar dengan Indra. Sekalian aku tanya-tanya saja tips main kepada beliau. Kata coach Heri, Indra jago main biliar. Ya setidaknya aku tidak akan terkejut-terkejut banget nanti. Meski mulai timbul rasa pesimis namun aku tetap berusaha percaya diri. Bola biliar itu bulat jadi masih ada beragam kemungkinan dan peluang untuk menang. Keluar dari loket, aku langsung duduk di sofa yang ada di lobi. Resepsionis pun tersenyum menyapaku. Mereka sudah hafal kalau aku diam disini karena menunggu ojek online. “Udah selesai?” Saat sedang memainkan ponselku, suara itu terdengar dan aku langsung mendongak. “Loh ngapain lo disini?” tanyaku pada Indra. “Jemput lo.” Keningku mengernyit. Indra ini seharian tidak ada menghubungiku sama sekali atau pun memberitahu kalau dia akan menjemput di tempat golf. “Kemaren kan udah gue bilang. Yuk. Kita langsung ke tempat biliar.” Aku langsung berdiri dari dudukku. “Hah? Kok langsung sih? Gue lepek begini, ya minimal mandi dulu lah,” ucapku. “Tempatnya deket sini, jadi sekalian aja.” Aku ingin membalas ucapan Indra taoi baru aku ingat kalau aku sedang ada di resepsionis. Malu kalau dilihat ribut-ribut. Aku pun langsung tersenyum kepada resepsionis yang ternyata sedang menatap kami. “Pulang dulu ya, Kak.” Aku hanya berbasa-basi kemudian menarik tangan Indra dan mengajaknya keluar. “Lo gila ya? Masak lu rapi begini gue kek gembel. Lagian lo kenapa nggak bilang sih dari awal. Kebiasaan deh suka mendadak.” Yang aku bayangkan adalah aku pulang ke kost, mandi dulu baru kemudian menunggu Indra jemput. Atau minimal kalau Indra bilang sejak awal, aku kan bisa persiapan membawa pakaian ganti. Bisa mandi disini. “Eh Indra. Jemput, Ndra?’ Kemunculan coach Heri itu berhasil membuat amarahku terpaksa aku jeda. “Iya, coach jemput Vira.” “Oke deh. Gue duluan ya. Vir, sekali lagi thanks ya buatan lo enak,” ucap coach Heri sambil mengangkat kotak berisi roti dan donat yang aku berikan tadi. Aku hanya menganggukkan kepala kepada beliau. Setelah coach Heri berlalu, Indra langsung menatapku. “Lo ngasih coach Heri apaan?” “Roti sama donat.” “Kok gue nggak dikasih?” tanya Indra. “Ya kan lo tinggal beli.” “Coach Heri dikasih masak calon suami disuruh beli.” Apalagi ini malah meributkan soal roti. “Tau ah! Udah pokoknya gue mau balik lagi ke kost. Lo kalo mau langsung ke tempat biliar silahkan. Gue naik ojek online aja.” Aku langsung memainkan ponsel dan bersiap untuk order ojek online. Saat sedang menggerakkan jemari di atas layar tiba-tiba ponselku diambil. “Ngapain mesen ojek online? Gue anter.” *** Moodku lumayan jadi baik sehabis mandi. Badan rasanya segar dan aku sudah siap untuk melawan Indra di pertandingan biliar ini. Kami sudah sampai di tempat dan aku langsung memilih stik. Tempatnya private jadi hanya kami berdua disini. “Inget ya janji lo. Pokoknya harus langsung buat IG. Disini, di tempat ini juga, langsung gue menyaksikan lo buat IG kalo gue menang.” Indra hanya mengangguk. “Bola delapan, tiga set. Setuju?” “Oke. Nentuin siapa yang break pake suit aja gimana?” pintaku. Indra setuju. Aku sudah memilih stik, begitu pun Indra. Sekarang dia sedang merapikan bola di atas meja. Setelah bola rapi, aku dan Indra suit. Sayangnya Indra yang menang jadi dia yang melakukan break. Bola sudah didorong dengan stik lalu dengan cepat membentur bola lainnya dan menyebabkan bola bergerak kesana kemari. Mataku membulat saat melihat tiga bola langsung masuk lubang. Perasaanku mulai tidak enak. Sepertinya Indra sejago itu. “Santai aja kali. Kan gue udah bilang billiard date.” Aku tidak peduli dengan biiliard date, yang aku mau adalah Indra segera membuat IG! Masih jatah Indra untuk bermain dan dia berhasil memasukkan dua bola langsung. Otomatis dia dapat bola solid sementara aku harus memasukkan bola stripe. Baru juga main sudah lima bola yang masuk. Sisa dua bola milik Indra. “Lo nggak penasaran tentang gue?’ tanya Indra. Indra tidak melihatku. Dia kelihatannya fokus sekali. Bola Indra tinggal dua kalau dia sapu bersih bisa saja ia langsung memasukkan bola nomor delapan yang berarti Indra pemenangnya, tanpa aku sempat bermain sedikit pun. “Kenapa lo tiba-tiba berubah pikiran dari yang nggak mau minjemin gue duit, jadi mendadak royal dan ngasih kartu?” Aku harus banyak bertanya supaya mengganggu fokusnya. Indra menatapku. “Udah gue bilang. Biar lo fokus belajar masak sama golf.” “Nah lanjut soal golf. Kenapa gue harus banget bisa main golf?” Indra diam, mulai membidik bola dan ya masuk. Sisa satu bola miliknya. Semakin dekat kesempatan membidik bola nomor delapan. “Karena gue suka golf dan lo harus bisa jadi partner main yang setara, biar seru.” Aku memutar bola mataku malas. Suara stik yang beradu dengan bola berbunyi, bola kali ini juga langsung masuk. “Gilak ya lo, gue belum sempet main sama sekali loh!” Aku memperhatikan posisi bola di atas meja. Posisi yang terlalu bagus untuk menang. Indra bisa menang dengan mudah di set pertama ini. “Kenapa lo susah banget dimintain tolong buat IG? Padahal itu yang paling gue butuhin untuk manes-manesin si duo.” Aku menatap Indra yang sudah mulai membidik bola. Sialnya aku malah salah fokus pada otot lengan dia. Juga pada urat nadi di tangannya. Pakaian polo berwarna hitam itu membalut tubuh Indra dengan pas. Dia kelihatan seksi. Kecuali satu, gondrong. Akan tetapi tetap saja dengan posisi tubuh seperti itu, tingkat ketampanannya bertambah sekarang. Oh, jelas aku mengagumi ketampanannya. Aku normal dan tidak menampik fakta kalau Indra untuk ganteng. Mempesona. “Bagi lo sepele cuma buat IG. Tapi bagi gue yang lebih suka hidup privat, itu bayaran yang mahal.” Stik didorong dan bola nomor delapan masuk. Menandai menangnya Indra di set pertama. “Ini kalo sampe gue kalah. Gue nggak tau dah harus ngapain lagi biar lo mau buat IG,” ucapku pasrah. Indra bangkit dari posisi membungkuknya dan kemudian menatapku. “Tenang aja. Ada tenis-” “Lo mau jadiin gue atlet atau gimana sih? Segala olahraga lo ajakin main.” Aku langsung membereskan bola supaya cepat. Set pertama aku tidak main sama sekali dan set kedua aku harus menang supaya kedudukan seimbang. Indra membantuku menyusun bola. “Sebenarnya ada cara simple kalo lo mau gue lakuin apapun yang lo mau.” Bola sudah selesai disusun dan aku mulai mengambil posisi bersiap untuk melakukan break. “Apa?” tanyaku sambil mendongak. “Lo nurut kata gue.” Astaga rasanya aku kesal sekali mendengarnya. Kurang nurut bagaimana sih aku? Belajar masak, gas. Belajar golf yang gas. Tidak posting video Ilham dan Meri ke media sosial, gas. Ikut lari, ikut semua rencana mendadaknya Indra. Aku membidik bola putih ke bola yang berjejer. Sayangnya tidak ada bola yang masuk jadi sekarang giliran Indra membidik untuk menentukan dia dapat bola solid atau stripe. “Gue kurang nurut apa sih?” “Lo banyak protes, Vira. Intinya kalo lo kooperatif, gue bakal lebih kooperatif.” “Ya kalo lo nyuruh yang aneh-aneh masak gue nurut-nurut aja.” Indra menatap bola-bola yang kini sudah menyebar. Aku yang melihat persebaran bola kali ini, cukup ngeri. Bola delapan berada di dekat lubang, jadi kalau Indra membuat ada bola yang bergerak membentur bola delapan sedikit saja, bola itu masuk dan aku menang. Dalam hati aku berharap begitu supaya langsung menang di set kedua. “Olahraga, nonton, jalan-jalan, main ke apartemen gue itu bukan aneh-aneh.” Indra membidik bola dan ya, bola delapan masuk lubang. “Yes, gue menang!” Biarpun menangnya karena kesalahan Indra. Tidak masalah. “Satu sama,” ucapku antusias. Oke masih ada harapan. Indra memang jago bermain, tapi bukan berarti ia tidak bisa berbuat kesalahan. *** Set pertama dan kedua seperti bercanda, tapi set ketiga benar-benar serius dan lama. Aku bangga karena sekarang sudah tidak ada bolaku lagi di atas meja, tapi Indra juga sih. Hanya tersisa bola delapan dan sekarang giliranku. “Siap-siap ya lo buat IG sekarang juga,” ucapku sumringah. Stikku kudorong, bola kubidik tapi tidak masuk! Aku membuka mulut karena tidak bisa berkata-kata. Sudah jelas Indra menang kali ini. Aku yang tadinya semangat dan sangat antusias sekarang mendadak lemas. Mungkin aku harus mulai berlatih untuk bersiap olahraga apalagi yang akan Indra jadikan tantangan. Indra mulai mencari posisi terbaik untuk bisa membidik bola berwarna hitam bertuliskan angka delapan tersebut. Aku yang tadinya menghadap meja pun membalikkan badan dan menghela napas. Malas melihat bagaimana kekalahanku terjadi saat bola delapan itu masuk lubang. Saat menunggu itu tiba-tiba saja Indra berpindah menjadi di depanku. Dia tahu-tahu sudah maju saja jadi aku reflek malah mundur dan hampir saja telentang di atas meja. “Eh, ngapain lo!” “Bidik kemenangan.” Aku langsung mendorong dadanya agar menjauh. Untungnya Indra langsung bangkit. “Ya nggak gitu juga kali posisinya.” “Makanya awas.” “Tinggal bilang, malah mepet.” Aku langsung bergeser. Terpaksa memperhatikan bagaimana Indra membidik bola. Bola hitam masuk dan oh… tunggu. “Yes, gue menang!!” Siapa sangka bola putih juga malah masuk ke dalam lubang. Itu artinya foul dan kemenangan menjadi milikku. Rasanya seperti aku menang Olimpiade saja, sungguh! Akhirnya Indra buat IG. “Ayo sekarang buat IG. Mana HP lo?” Aku sudah selebrasi kemenangan dengan meloncat. Sekarang saatnya buat IG. Lelahku bermain bulutangkis dan kalah, terbayar sudah. Aku duduk di atas meja biliar sementara itu Indra minum. Dia tidak berkomentar apapun. “Ayo buruan.” Indra memainkan ponselnya dan aku menunggu sambil tersenyum. Dia kemudian menghampiriku. “Nih udah,” ucapnya menunjukkan akun IG baru yang saja dia buat. Aku tersenyum sumringah. “Upload foto dong buru. Sama kasih foto profil.” “Pilihin,” ucap Indra seraya menyerahkan ponselnya kepadaku. Oke bagus. Saatnya untuk menggeledah galerinya Indra. Semoga saja banyak foto bagus. Indra masuk di depanku dan dia sekarang sedikit membungkukkan badan karena kedua tangannya bertumpu pada meja biliar. Tepat kedua tangannya berada di di sebelah pahaku. “Lo bisa nggak jangan deket-deket?” tanyaku sambil menatap kaki Indra yang bersentuhan dengan kakiku. Aku tahu Indra wangi. Aromanya tercium meski agak jauh, tapi sekarang karena jarak wajah kami sangat dekat, bukan hanya aroma tubuhnya yang bisa aku cium. Hembusan napasnya juga. Tidak bau, sungguh! Tapi ini terlalu dekat. “Ya udah nggak usah upload foto.” Tangan kanan Indra itu malah mulai menyentuh ponselnya. “Duh iya, iya!” Aku menarik ponsel Indra dan mulai scroll galerinya. “Kok nggak ada foto lo sih?” “Ada.” Yang Indra foto itu kebanyakan bangunan atau sejenis arsitektur, tapi hasil fotonya estetik juga. “Maksudnya pas lagi ganteng, pas nggak gondrong.” Aku harus memilih foto Indra yang paling tampan, terlihat kaya, dan rapih untuk diunggah. Jelas, supaya Ilham benar-benar tahu betapa kerennya Indra. Jalur pamer paling ampuh ya via media sosial. “Emang sekarang nggak ganteng?” Aku reflek mendongak dan siapa sangka jarak wajah kami sedekat itu. Aku langsung terpaku pada matanya yang menatapku. “Oh karena gue gondrong? Lo kan sukanya cowok style undercut sama poni comma hair.” Aku terkejut. Kok Indra bisa tahu? Ah, mungkin saat aku mabuk informasi itu keluar begitu saja. Jadi penasaran apa saja yang sebenarnya sudah aku katakan saat mabuk ya ampun. Indra kemudian tersenyum. Jemarinya kemudian merapikan anak rambutku yang menutupi wajah. Aku malah jadi freeze. “Tenang aja. Nanti kalo udah waktunya, gue cukur.” Indra kemudian menepuk kepalaku lembut. Istilahnya head pat atau versi gaulnya pat pat. Aku? Masih tetap diam. Aku langsung mendorong d**a Indra. Dia hanya senyum saja. “Foto lo waktu di luar negeri ada nggak? Posting itu aja deh.” Aku harus fokus pada tujuan utama. Kalau dapat yang ganteng modelan Indra, itu bonus. Harus tetap fokus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN