Chapter 17 LDR Satu Bulan

2314 Kata
Pukul tiga dini hari aku terbangun karena bermimpi Ilham dan Meri. Dalam mimpi itu kami berlibur bersama. Gara-gara mimpi itu, aku jadi merindukan masa-masa yang dulu dan mulai menitikkan air mata. “Kok mereka jahat banget sih!” Biar bagaimana pun sudah begitu banyak kenangan yang kami lalui bersama. Aku masih ingat betapa bahagianya aku setiap pergi bersama mereka. Baik itu date bersama Ilham, pergi bersama Meri saja, atau pergi bertiga. Rasanya bahagia sekali. Air mataku mulai terus menetes. Rasanya tidak percaya kalau sekarang benar-benar menjadi seperti ini. Sialnya aku lebih benci fakta bahwa aku kehilangan mereka dibanding pengkhianatan yang mereka lakukan. Jelas rasanya berbeda sekali. Hidupku sekarang terasa sepi, juga membosankan. Aku bangkit dari atas ranjang dan kemudian duduk di atas lantai sambil memainkan ponselku. Aku membuka roomchatku dengan Meri, juga Ilham. Aku baca semuanya. Memang dasar suka mencari penyakit. Sudah tahu itu semakin memicu sakit hatiku, malah dilakukan. Lihatlah betapa dulu aku selalu menceritakan apapun pada mereka. Sekarang, aku tidak bisa bercerita pada siapa pun. Anjas? Dia slow respon dan juga tipikal yang terlalu serius, kami benar-benar tidak satu frekuensi. Si kembar? Aku tidak ingin mengganggu kuliah mereka meski ya sebenarnya mereka tidak keberatan. Semuanya aku simpan sendiri dan hanya tunjukkan yang bahagianya saja. Apalagi pada orang tuaku. Aku sampai sekarang belum bilang kalau sudah tidak bekerja, aku hanya bilang sudah putus dengan Ilham karena perbedaan pendapat. Ya, pendapat. Baginya Meri lebih baik daripada aku, bagiku Meri sama buruknya dengan Ilham. Bahkan untuk cerita betapa sulitnya aku belajar memasak pun tidak bisa. Hidupku sepi dan benar-benar menyedihkan. Aku lantas membuka IG. Masih menggunakan fake account. Akun pertama yang aku tuju adalah akun milik Indra. Sudah lima hari semenjak dia buat akun IG. Aku tidak pernah staling akunnya tapi sekarang mendadak jadi penasaran. Apalagi kami belum pernah bertemu sejak malam itu. Katanya dia sedang ada proyek besar dan kemungkinan tidak akan muncul seminggu dua minggu. Baguslah kalau begitu, aku jadi tidak perlu memasak untuk dievaluasi. “Hah!” Mataku membulat melihat jumlah pengikutnya Indra. “Banyak banget!” Aku langsung memeriksa satu-satunya foto yang dia unggah. Itu foto bangunan di Mykonos. Intinya menyebalkan sekali cerita dibalik foto itu. Aku sudah minta supaya unggah foto yang ada dianya, tapi Indra tidak mau. Kami berdebat dan yah ujung-ujungnya argumen dimenangkan oleh Indra. Daripada dia tidak mau posting foto sama sekali. “Gilak komen isinya cewek semua!” Memang tidak sebanyak itu juga tapi sungguh itu terlalu banyak untuk ukuran akun baru. “Ini beneran Ignya Kak Indra?” Aku membaca komentar foto itu. Semuanya seolah takjub dan bersyukur karena Indra buat IG? Ada juga beberapa akun lelaki yang ikut bersyukur. “Akhirnya buat IG. OTW jadi selebgram ini mah.” Aku terus membaca rentetan komentar yang ada. Bahkan jumlah suka fotonya pun lebih dari seribu. Yang benar saja? Detik kemudian aku tersenyum. Sialan memang perubahan mood ini. Air mataku bahkan belum mengering sepenuhnya tapi aku sudah tersenyum saja karena senang. “Bagus dong kalo Indra akunnya rame begini. Jadi nanti kalo Ilham stalk, keliatan wah. Apalagi ramenya organik gini.” Berhubung aku dan Ilham bekerja di agensi marketing jelas sangat mudah mengenali akun yang ramai secara alami atau organik dengan akun yang ramai karena beli. “Oke good.” Aku langsung mengirim pesan kepada Indra. Dia bilang kalau aku ada perlu apapun, tidak apa chat saja. Katanya kalau sempat pasti akan dibalas. Ya mengingat dia sibuk ngoding dan bekerja. Aku sudah punya rencana baru sekarang, stok foto bersama Indra. Jadi nanti kalau sudah tiba saatnya untuk masa pamer, tinggal unggah-unggah saja. Untuk punya lebih banyak stok foto bersama Indra maka aku harus rajin pergi bersama dia. Aku: Kapan free? Mau jalan-jalan Aku mulai berpikir enaknya pergi kemana ya dengan Indra? Pokoknya harus ke tempat yang spot fotonya bagus. Aquarium date? Tapi aku sudah pernah dengan Ilham. Harus yang belum pernah dan mewah. My future husband : Kemana? Oh, Indra membalas? Padahal ini jam tiga dini hari. Aku : Eh lo bales? Bukannya sibuk ngoding? Tidak lama setelah pesan itu terkirim, panggilan telepon masuk dari Indra. Aku langsung angkat saja. “Halo…” “Mau main kemana?’ “Ya kemana aja gitu ngedate.” “Gue ada kerjaan. Full sibuk sebulan. Jadi nggak bisa dulu.” “Sebulan? Lo bilang seminggu dua minggu.” Mana boleh begitu! Setelah aku bersusah payah agar Indra buat akun IG, sekarang disaat aku ingin sering bertemu supaya bisa stok foto malah dia yang sibuk. Dan sebulan? Yang benar saja. Berapa banyak foto yang seharusnya bisa aku stok dalam waktu selama itu. Lalu kalau sebulan Indra sibuk, kegiatanku sehari-hari jadinya hanya bolak-balik dapur dan lapangan golf begitu? “Kan perkiraan.” Aku berdecak sebal. “Kenapa sebulan sih?!” Tiba-tiba masuk sebuah pesan dari Indra. Sebuah foto. “Lo ngirim apaan?” “Foto kerjaan.” Aku membukanya dan mengangkat satu alis. Isinya adalah foto sebuah laptop dan dua monitor berukuran besar. Tampilannya sudah jelas aku tidak paham. Entah apa itu. “Kenapa emangnya lo tiba-tiba pengen jalan-jalan?” “Ya pengen aja. Main kemana gitu. Bukan cuma main golf, main bulutangkis, main biliar loh ya. Gue bosen tiap hari kalo nggak belajar masak, ya belajar golf. Setiap hari banget loh, capek juga.” Jelas aku tidak akan bilang terang-terangan pada Indra soal niatku itu. Takutnya dia tidak mau. Nanti saja pas bersama tinggal foto-foto. “Kita nggak bisa ketemu dulu satu bulan. Bisa lebih lama. Jadi lo jalan-jalannya sama kartu gue aja.” Aku menghela napas. “Terus evaluasi masakan gue gimana?” “Next month baru kita mulai lagi. Sekarang belajar aja dulu sesuai jadwal kelas. Kalo bisa nanti udah jago pas gue ketemu lo.” Aku diam. Kemudian terpikir saja. “Kalo gue mau liburan ke Bali pake kartu lo gimana?” “Iya, Vira. Pake aja. Asal jangan aneh-aneh. Jangan ke klub sendirian atau ngajak cowok. Silahkan pake sepuasnya. Anggap aja permintaan maaf gue nggak bisa nemuin lo satu bulan ini.” “Ini serius nggak papa gue ngabisin duit lo?” “Pake aja.” “Kalo gue kabur gimana? Udah untung nih gue.” “Kan udah gue bilang berarti lo kehilangan kesempatan jadi istri gue. Gue percaya lo nggak akan kabur, karena lo butuh gue.” Si Indra ini percaya diri sekali tapi benar sih ucapannya. Aku tidak akan kabur. Indra itu investasi jangka panjang yang menjanjikan. “Oke. Gue serius ya soal make duit lo. Beli barang branded, ke salon.” “Iya, Vira, iya. Udah ya gitu aja. Gue mau lanjut kerja lagi. Lo jangan begadang. Good night, Vira.” Sambungan telepon langsung terputus tanpa repot-repot Indra menungguku membalas ucapannya. “Good night good night, udah pagi kali.” *** Aku bangun kesiangan karena begadang. Bagaimana tidak begadang, sehabis teleponan dengan Indra aku tidak bisa tidur. Jadi aku putuskan untuk mencari ide tempat yang akan aku kunjungi kalau luang. Jelas tempat-tempat mewah yang punya spot foto bagus. Kalau tidak bisa stok foto bersama Indra, aku stok foto sendiri saja kalau begitu. Yang paling penting juga aku mau ubah penampilan. Supaya semakin cantik. “Ya ampun kelas!” Aku melupakan fakta bahwa aku harus datang lebih awal karena harus beli bahan membuat cupcake. Jadi tidak enak dengan Bu Wati. Aku langsung mengirim pesan pada beliau, meminta maaf karena ketiduran dan baru bangun. Pesanku itu langsung dibalas dengan panggilan masuk dari Bu Wati. Jelas langsung aku angkat. “Halo, Bu.” “Halo, Vira. Ini jadi sebenarnya tadi pagi Indra telepon. Minta supaya jadwal kelas kamu dibuat jangan terlalu padat. Jadi hari ini kamu libur saja ya? Besok Vira bisa kesini sambil kita bicarakan jadwal Vira enaknya bagaimana.” “Maksudnya ganti jadwal, Bu?” “Iya. Kata Indra kamu kecapekan kalo setiap hari banget. Ibu kan nggak tahu ya soalnya waktu awal Indra maunya biar kamu cepet bisa jadi dia minta setiap hari. Aku pun menahan senyum. “Jadi besok kita buat jadwal ulang ya. Senyamannya, Vira. Sekarang istirahat aja.” Aku bersorak tanpa suara. “Terima kasih ya, Bu. Kalau begitu see you besok, Bu Wati.” “Iya sama-sama Nak Vira. See you besok.” Begitu panggilan telepon berhenti, aku langsung histeris memukul bantal. Akhirnya ada jeda dari kegiatan di dapur yang terasa membosankan. “Tumben baik si Indra. Ada apa gerangan?” Aku pun langsung memeriksa pesan. “Oh, ada chat dari coach Heri juga. Aku langsung membaca pesan dari beliau. Katanya jadwal kelas diubah menjadi lima hari seminggu. “Nah gitu dong!” Lumayan libur dua hari kan dan hari ini aku libur. Oke full libur untuk hari ini. Aku kembali memeriksa akun IG milik Indra. Memastikan kalau yang aku lihat semalam bukan halusinasi. Ternyata memang benar akun Indra itu sudah banyak pengikut. Aku kemudian iseng stalking akun para perempuan yang komen di foto Indra tersebut. “Gilak cakep-cakep banget!” Mereka berkomentar bukan dengan fake account, benar-benar akun utama yang banyak pengikut dan banyak foto terunggah. Dari bagaimana mereka berkomentar tentang Indra, kelihatannya Indra ini punya banyak fans. Mereka sepertinya satu kampus dulu. “Mereka pada kaget nggak ya Indra bakal punya istri modelan gue?” Aku langsung mendekati cermin dan berkaca. Melihat tubuh dan wajahku. “Gue nggak jelek-jelek banget tapi masih ada lemak dikit. Harus body goal ini mah.” Aku terpikir untuk melakukan perawatan, pakai kartu Indra tentu saja. Dia kan bilang pakai saja. Lagi pula kan supaya aku makin cantik bukan hanya agar Ilham menyesal dan sadar, tapi juga supaya kenalan-kenalan Indra itu tidak menghinaku. Ah benar juga. Kenapa aku tidak mempertimbangkan kenalannya Indra ya? Kalau begitu aku sudah bertekad mulai sekarang. Aku benar-benar harus merubah diri, menjadi lebih cantik dan seksi. *** “Gilak kata gue mah,” ucapku sambil menghitung jumlah angka saldo kartu milik Indra. For your information, Indra sebenarnya memberiku satu kartu lagi yaitu kartu kredit. Limit kartu kreditnya juga besar. Cukup untuk beli jam tangan branded berkali-kali kalau aku mau. Sedangkan untuk kartu debitnya yang sedang aku cek saldonya sekarang. Itu ada milyaran. Oke ini namanya ketiban rejeki. Aku selalu bermimpi punya suami kaya itu sebabnya aku kerja keras bersama Ilham bangun agensi supaya hasilnya bisa kami nikmati sama-sama. Nyatanya aku malah didepak. Baguslah sekarang aku mengenal Indra. Selesai memeriksa saldo, aku langsung lanjut melangkah. Niatnya jalan-jalan saja di mall ini untuk mengisi hari libur. Aku belum putuskan mau beli apa tapi yang jelas aku berencana makan disini. Saat sedang melihat-lihat, langkahku terhenti karena melihat Meri. Perempuan itu menenteng paper bag sambil memasuki toko merk tas branded. Aku tahu kalau Meri itu suka belanja. Dibanding diriku, Meri benar-benar tipe yang kalau bisa semua harus terbaru. Dia lebih sering belanja kalau kami sedang jalan-jalan ke mall. Sementara aku lebih suka beli makanan dibanding membeli tas, sepatu, atau pakaian. “Oke waktunya flexing kartu ayang.” Aku dengan percaya diri melangkah kesana. Bisa aku lihat Meri sedang memilih tas. Aku pun mulai menatap tas-tas yang ada. Aku tidak terlalu suka tas apalagi yang harganya terlalu mahal. Akan tetapi berhubung ada Meri. Jadi aku beli saja. Sayup-sayup aku bisa mendengar perbincangan Meri. Dia menanyakan soal harga. Aku memperhatikannya sambil sesekali melihat-lihat model tas yang ada supaya tidak terlalu kentara. Kelihatannya dia ingin membeli tas itu namun terkendala harga. Aku pun tersenyum dan melangkah mendekatinya. “Saya mau beli itu, Mbak.” Ucapan serta kedatanganku yang tiba-tiba itu membuat Meri sontak langsung menoleh. Dia terkejut. “Lo ngapain disini, Vir?” “Eh, Meri. Beli tas dong,” sahutku. Meri pun tersenyum meremehkan. “Tas disini mahal-mahal tau.” Aku yakin Meri berpikir kalau aku tidak memiliki cukup uang. Apalagi dia tahu kebiasaanku yang tidak bisa menabung dan aku juga tidak bekerja. Aku hanya tersenyum dan mengabaikannya. Langsung memusatkan atensi pada staf toko yang melayaniku. “Mbak saya beli yang ini ya.” Meri menunjuk tas lain dan dia dilayani terlebih dahulu. Saat hendak pergi menuju kasir, Meri mendekatiku hanya untuk berbisik. “Tas yang lo mau itu harganya mahal banget. Lo nggak akan bisa belinya.” Aku hanya tersenyum dan lanjut berbincang singkat dengan staf toko saat Meri melenggang pergi. Tidak lama kemudian aku juga ikut ke kasir. Membayar bersebelahan dengan Meri. Dia melirikku dengan tatapan meremehkan. Saat disebut total harga yang harus aku bayar, aku langsung menatap padanya. Dia membuka mulut terkejut namun dengan cepat langsung mengkondisikan ekspresi agar terlihat biasa saja. “Lo yakin ada duit segitu, Vir?” tanya Meri terang-terangan. “Saya bayar pake debit ya, Mbak.” Aku kemudian menyerahkan kartu milik Indra. Aku sudah tes tadi kartunya berfungsi di mesin ATM. Aku tarik uang seratus ribu juga bisa dan ya untungnya pembayaran bisa aku lakukan tanpa ada kendala. Setelah menerima paper bag berisi tas mahal yang Meri inginkan itu, aku pun tersenyum padanya dan segera melenggang pergi. “Lo dapet duit dari mana? Nyolong ya?” Tanganku tiba-tiba ditarik dan tentu saja itu ulah Meri. Aku menatapnya bingung. “Yang jelas bukan dari ngerebut ya kayak lo.” Meri pun terkekeh. “Vir, Vir. Gue tau lo. Atau jangan-jangan lo emang ngerebut klien-klien VIP ya? Lo buat agensi buat nyaingin gue sama Ilham kan? Ngaku lo.” Aku hanya terkekeh. “Sorry ya, Mer. Gue bukan kayak lo tukang ngerebut dan nikung. Gue bukan pengkhianat. Cocok dah lu sama Ilham, sama-sama busuk.” Meri tersenyum sinis. “Bilang aja lo nggak terima Ilham lebih milih gue. Terus sekarang lo sok-sokan beli tas yang gue pengen. Karena lo nggak bisa milikin Ilham lagi.” Setelah itu Meri pergi begitu saja. Aku menahan diri untuk tidak mengerjarnya. “Lo cuma bisa milikin Ilham, Mer. Itu pun hasil ngerebut. Gue udah pernah milikin Ilham, tapi lo nggak akan pernah milikin kehidupan yang gue ngejalanin. Lo nggak akan bisa dapetin cowok kayak Indra. Ilham nggak ada apa-apanya dibanding Indra.” Emosi ini membuat semangatku semakin membara. Aku akan daftar gym hari ini! Akan ku booking perawatan di salon. Pokoknya harus glowing, seksi, dan menawan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN