Mataku bengkak. Jelas. Karena menangis semalam dan begadang juga. Aku bicara sangat lama dengan Anjas melalui telepon. Dia memberikan pemikirannya atas hal yang terjadi padaku. Kami berbincang cukup intens setelah sudah begitu lama tidak berbincang. Karena mataku bengkak, jadi aku pakai kacamata hitam. Begitu masuk ke mobil Indra, dia langsung menyadari aku yang pakai kacamata hitam. Dia hanya menatapku namun tidak mengatakan apapun. “Ini seriusan lo yang nyetir?” tanyaku. “Iya.” Mobil mulai melaju. Sejujurnya aku ingin membatalkan agenda ke Puncak ini. Hanya saja Indra sudah bersiap sejak kemarin. Dia bilang ingin healing dan terlepas dari itu, pergi ke Puncak juga kan didasari karena keinginanku. Jadi aku anggap saja ini memang healing. Apalagi setelah berbincang dengan Anjas. “Lo

