Aku memeriksa kembali alamat hotel yang dikirim oleh Anjas. Masih agak jauh sih dari sini. Hanya memastikan saja. Tidak lama kemudian aku merasakan pergerakan di pangkuanku. Aku menunduk menatap Indra. Ternyata dia yang mulai bergerak dan terbangun. “Udah sampe mana?” tanyanya setelah membuka mata. “Udah di Jakarta.” Indra pun bangkit duduk. Dia melihat ke sekitar. “Pak mampir dagang sate yang biasa ya,” pinta Indra. “Lo laper?” tanyaku. “Enggak. Beliin Anjas.” Aku terdiam dan baru terpikirkan. Iya juga ya ampun. Aku tidak kepikiran untuk membelikan Anjas sesuatu. Aku langsung kirim pesan padanya. Bertanya siapa tahu ada yang dia inginkan jadi biar aku belikan sekarang. “Lo mau beliin sate apa?” “Anjas sukanya apa? Atau mending jangan sate?” tanya Indra. “Sate ayam dia suka.”

