BAB 1 - Kembali Ke Masa Lalu
"Ka kita mau ke mana?"
"Udah kamu diem aja, ikutin Kaka!"
"Tapi Ka, aku belum bilang suami aku!"
Vania tidak menggubris ucapan adiknya Vanya. Hujan deras mengguyur jalan tol malam itu, membuat jarak pandang sangat terbatas. Sebuah sedan berwarna hitam metalik melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha mengejar waktu.
Tatapan Vania tajam ke depan, berusaha terus fokus dengan derasnya hujan yang menerjang. Seketika wajah Vania berubah panik. Rem mobilnya tidak berfungsi. s**t!
Vania berusaha mengurangi kecepatan, namun itu semua percuma. Mobil semakin melaju cepat. Vania berusaha mengendalikan dengan tetap menghindari pengemudi di depannya.
"Ka, pelan-pelan jangan ngebut!"
Vania tetap fokus ke depan, tangannya memegang erat setir mobil. Rahangnya mengeras, antara marah, tegang semua dapat ia rasakan. Di tambah dia bersama orang yang dia sayangi adiknya. Demi lepas dari jeratan kelicikan suaminya Riko.
Vania berusaha menyelamatkan Vanya , darinya. Setelah mengetahui kebusukan pria yang selama ini menyamar, jadi sosok pria yang baik. Namun ternyata busuk, dan membahayakan nyawa adiknya. Vania berencana membawa Vanya kabur darinya.
Keadaan semakin mencekam, Vanya memegang pada pegangan yang berada di sisi pintu. Matanya sedikit terpejam, karena takut.
"Ka kamu gila ya? Kita bisa mati kalau begini!"
"Sudah serahkan semua sama Kaka!"
"Ka please! Berhenti! AKU BILANG BERHENTI!"
"KAKA AWAS!! AA...!"
Mendengar teriakan adiknya, Vania gagal fokus. Mobilnya tergelincir, menghantam pembatas jalan dengan sangat kuat, hingga terdengar suara benturan yang sangat dahsyat. Mobil sampai melayang dan terguling-guling, terhempas jauh hingga beberapa kilometer jauhnya.
Salah satu wanita yang berada di dalam mobil terhempas keluar—Vania.
DUARR!!
Terdengar suara ledakan hebat dari mobil yang ia tumpangi bersama adiknya. Sebelah tangan terulur tepat di mana mobil itu meledak.
"Vanya ..." suaranya yang lirih memanggil nama adiknya yang berada di dalam mobil tersebut. Tubuhnya yang penuh luka lebam, dan darah yang bercucuran. Vania berusaha bangkit untuk menyelamatkan adiknya.
Tap ... Tap ... Tap ...
Terdengar suara langkah dengan cipratan air, yang berjalan mendekatinya. Seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata hitam, berhenti tepat di depannya.
Ia buka kacamata itu! Mata Vania melebar sempurna saat Riko suami dari adiknya kini berada tepat di depannya. Ia berjongkok dengan senyum liciknya, menatap ke arah Vania yang terkapar tidak berdaya.
"Vania Ruby Zamora, ternyata kau yang menyebabkan adik mu mati!"
Vania berusaha menggelengkan kepalanya, mengelak pernyataan yang Riko ucapkan padanya.
"b******k!"
DORR!!
Terdengar suara tembakan yang begitu nyaring di telinganya, tubuhnya terasa terhempas melayang dengan pandangan perlahan memutih.
Ada sebuah sinar di ujung penglihatannya, rasa bersalah pada adiknya kini menyelimuti diri Vania. Bayangan wajah sang adik yang tersenyum padanya seolah perlahan sirna, menghilang bagai abu.
Mata Vania memanas seolah meminta kesempatan ke dua pada Tuhan. Untuk menyelamatkan adik kesayangannya.
"Tuhan berikan aku kesempatan lagi—"
******
"Vanya ...!" teriak Vania, dengan napasnya yang tersengal, keringat dingin membasahi pelipisnya, mengingat bayangan kematian adiknya yang masih segar di dalam ingatannya.
"Ka, Kaka kenapa?"
Vania langsung menoleh ke arah Vanya, matanya melebar melihat sosok adiknya yang ada di hadapannya, dengan memakai dress putih yang cantik.
Vania langsung memeluknya dengan erat, air matanya pun tumpah membasahi pipinya, seolah permintaan terakhirnya di kabulkan oleh Tuhan. Vanya yang di peluk tiba-tiba pun terkejut dengan reaksi kakanya.
"Ka, kenapa sih?" tanyanya heran.
"Vanya kamu selamat, iya kamu selamat?" isaknya yang masih memeluk erat adiknya.
"Ka, Ka, aku susah napas ini!" rengeknya.
Vania pun melonggarkan pelukannya, ia tatap lekat adiknya sambil memegang ke dua pipinya. "Anya, Kamu selamat ," lirihnya dengan suara gemetar.
Vanya mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan apa yang terjadi pada kakanya. "Ka, kamu kenapa sih? Kepala kamu baik-baik ajakan?" Vanya memastikan keadaan kakanya.
Ia memeriksa kepala dan tubuh kakanya, tidak ada yang aneh semua baik-baik saja. Tapi perilaku Vania agak aneh setelah ia terbangun dari pingsannya.
Vania mengitari tempat di mana dia berada, melihat pakaian yang dia kenakan. Dan beberapa orang yang ada di sana, sedang menatapnya dengan wajah cemas.
"Kita di mana?" tanya Vania seperti orang linglung.
Melihat tingkah kakanya yang sedikit agak aneh. Vanya berinisiatif memanggil dokter, untuk memeriksa keadaannya.
"Tolong panggilkan dokter segera!" pinta Vanya pada salah satu pelayan.
"Baik nona." Pelayan tersebut langsung memanggil dokter pribadi keluarga Audrey.
Vanya kembali menatap Vania yang masih tampak bingung. "Ka, kamu baik-baik saja?"
"Kita di mana?" tanyanya.
"Kita di rumah ka, tadi kamu tiba-tiba pingsan saat sedang makan siang," jelas Vanya .
"Argh ...!" Ia memegang kepalanya yang terasa sakit dengan sebelah tangan.
Suara dengungan menggema di telinganya, napas Vania terasa sesak. Oksigen di dalam ruangan terasa begitu sempit. Ia pegang dadanya dengan sebelah tangan sambil menarik napas dalam-dalam.
Potongan-potongan memori itu, berputar secara bergantian di kepala Vania. Di mana mobilnya yang menghantam pembatas jalan, dan ledakan dahsyat yang menewaskan adik kesayangannya. Dan wajah itu... Wajah yang menyebabkan mereka mati begitu nahas.
"Ka ...."
"Hah... Hah..." Vania mengatur napasnya yang begitu sesak, keringat dingin kini membasahi dirinya, wajahnya tampak pucat pasih.
Vania seolah di tarik kembali ke masa lalu, apa yang telah dia alami begitu amat nyata, rasa sakit yang ada di tubuhnya dapat iya rasakan, bahkan sekarang. Jika yang tadi itu mimpi? tidak mungkin bisa sesempurna ini.
Vanya terkejut saat melihat tangan Vania yang terluka, seolah ada sayatan yang di ukir di tangan kirinya. "Ka tangan kaka terluka!"
Mata Vania langsung tertuju pada tangannya, ia melihat luka yang terukir di tangannya. Kepalanya kembali sakit, ingatannya muncul saat Riko memberikan goresan kecil di tangannya sebelum ia di bunuh.
Vania langsung menegakkan tubuhnya, ia tatap lukanya dengan lekat. Senyuman licik itu, mobil yang terbakar, hujan yang di sertai petir. Ini bukan mimpi, BUKAN!
Vania beranjak dari tempatnya, dengan tubuhnya yang masih lemas. Ia berjalan menuju meja miliknya, membuka meja lacinya dengan kasar, dengan tangan yang masih lemas ia mencari sesuatu—buku hariannya.
"Di mana? Di mana?" Mulutnya mengeluarkan suara pelan namun terdengar frustasi.
Vanya berjalan menghampiri kakanya yang sedang kebingungan, memegang pundak kakanya, untuk segera menghentikan tingkahnya.
"Ka, Kaka kenapa?" tanya Vanya sekali lagi.
Gerakan Vania pun terhenti, ia menoleh ke arah adiknya dengan mata yang sudah memerah menahan tangis. "Kaka kenapa? Kita periksa dulu yuk, kita obatin luka kaka," pinta Vanya dengan lirih.
"Apa kamu sudah menikah dengan Riko?" Dari sekian banyak pertanyaan di otak Vania, hanya itulah yang keluar.
Vanya langsung menggelengkan kepalanya, "Belum ka, aku belum menikah dengan Mas Riko, kaka lupa? Pernikahan kita besok."
"Besok?"