BAB 8 - Peringatan!!

1584 Kata
"Vania ...!" Terdengar suara bariton yang memanggil namanya. Jantung berdegup kencang, wajahnya tampak panik saat Vania mengenal suara itu. Vanya pun sama, dia ikut panik karena melihat reaksi kakanya. Mereka saling tatap dan berpegangan tangan. Terdengar suara hentakan kaki, suasana berubah menjadi tegang. Menunggu kehadiran seseorang yang memanggilnya. Pintu rooftop terbuka, dengan suara nyaring dari pintu yang sedikit usang. Terlihat sosok pria bertubuh tegap, membuka pintu dan menatap mereka berdua dengan senyuman menyeringai. "Vania, aku cari-cari kamu di mana. Ternyata kamu ada di sini," ucapnya sambil menatap mereka berdua secara bergantian. "Ada apa?" tanya Vania dengan tatapan datar. "Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya khawatir saja sama kamu. Sudah kalian berbicaranya?" tanya Riko yang melingkarkan tangannya pada pinggang Vania. "Jangan sentuh aku Riko!" peringat Vania. Riko tersenyum Smirk mendengarnya. "Kenapa? Kita sudah sah menjadi suami istri, apa salahnya? Tubuhmu adalah milikku!" ucap Riko. Vania benar-benar muak mendengar hal itu, ingin sekali rasanya dia mencabik-cabik mulut Riko saat itu. "Jaga ucapanmu Riko!" balasnya. "Kenapa? Ada yang salah? Lihat Vanya saja bisa menerima suaminya yang sekarang, benarkan?" tanya Riko pada Vanya. Vanya hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Riko. "Riko, jangan ikut campur pernikahan orang lain. Mau apa kamu sampai menyusulku ke sini?" tanya Vania mengalihkan pembicaraan. Karena dia tahu Vanya tidak nyaman dengan pertanyaan Riko. "Aku ingin mengajakmu pulang Vania, tidak etis bukan kalau kita pulang sendiri-sendiri?" ungkap Riko. "Pernikahan kita masih disorot oleh wartawan, jangan sampai membuat celah untuk mereka mengeluarkan berita yang merugikan saya!" ungkap Riko dengan tatapan tajam. Vania mengepal kan kedua tangannya di samping tubuhnya. Mau tidak mau dia juga harus mengikuti drama yang telah dia mulai. "Anya ayo kota ke bawah bersama," ajak Riko. Vanya langsung menggelengkan kepalanya, "kalian duluan saja, aku menunggu mas Evan," tolaknya. Vania menoleh ke arah Vanya, seolah tatapannya begitu penuh arti. "Ok, kalau begitu. Ayo sayang kita duluan!" ajak Riko. "Jalanlah, ada yang mau kau bicarakan sedikit dengan Vanya," pinta Vania. "Ok, aku tunggu kamu di pintu. Jangan lama-lama, aku tidak suka menunggu!" balasnya. Riko pun meninggalkan Vanya dan Vania berdua. Vania langsung memegang tangan adiknya. "Kakak pulang dulu, jaga diri kamu baik-baik!" peringat Vania. Vanya hanya terdiam tidak merespon ucapan Vania. Jujur sampai saja Vanya masih belum percaya dengan ucapan Vania tentang Riko. Semuanya begitu tiba-tiba baginya, seolah banyak keganjalan dari perkataan Vania, ia pun pada Akhirnya ingin mencari tahu tentang Riko. "Akan aku cari tahu sendiri kebenarannya!" --- Mobil Lamborghini berwarna hitam melaju dengan angkuh di atas aspal. Mendahulu pengendara lain, meliuk-liuk di jalan raya. Vania hanya terdiam selama perjalanan, Riko tidak masalah dia pun tidak menuntut. Dia fokus menatap jalan, memasuki perumahan elite. Mereka masuk ke sebuah rumah mewah, Vania hanya terdiam dan memasang ekspresi dingin. Setelah memarkirkan mobilnya asal, Riko segera keluar dari mobilnya tanpa menunggu Vania. Vania tersenyum smirk melihat sifat Riko yang ternyata tidak seperti saat di tempat umum. Namun, Vania tidak masalah, ia lebih suka seperti ini. Setidaknya dia tidak harus berpura-pura mesra dengan pria b******k itu. Vania keluar dari mobil Riko, ia berjalan masuk dengan langkah pastih. Memasuki rumah mewah bak istana, ia melihat Riko sedang duduk di ruang tengah sambil menatapnya. "Kamarilah," titah Riko. Vania menaikkan sebelah alisnya, menatap Riko dengan penuh curiga. "Ada apa?" "Ada banyak hal yang harus kita bicarakan!" ucap Riko. Vania mendengus kasar, kakinya pun melangkah menuju dimana Riko berada. Vania duduk di sebrang Riko, ia memilih tidak mau dekat-dekat dengan pria itu. "Ada apa?" tanyanya. "Karena sekarang kamu tinggal di sini, jadi kamu haru mengikuti aturan di sini!" ucap Riko. Vania menatap curiga ke arah Riko, ia benar-benar sangat hati-hati pada pria satu ini. "Apa?" "Aku tidak suka kalau kamu menyentuh barang yang berharga milik ku." "Lalu?" "Kita akan satu kamar!" Vania langsung terkejut mendengar ucapan Riko. Ia menatapnya tajam ke arahnya. "Apa maksud mu? Tidak ada dalam kesepakatan kalau kita akan tidur satu kamar!" ucap Vania dengan nada tinggi. Riko langsung tertawa mendengar betapa takutnya dia. "Kenapa? Takut hmm? Kita suami istri Vania, aku memiliki hak atas tubuh kamu," peringat Riko. "Bicara yang jelas Riko! Aku sedang tidak main-main!" balas Vania dengan penuh penekanan. Riko tertawa sarkas, ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celananya. Langkahnya tertuju pada sofa yang Vania duduki. Tubuh Vania menegang saat Riko berjalan menghampirinya. Namun, ia tetap berusaha untuk tenang. Tatapannya begitu tajam seolah mengintimidasi setiap langkah Riko yang mendekat padanya. Kini Riko sudah berdiri tepat di depan Vania, ia mendongak menatap Riko yang sedang menatapnya dengan senyum seringai. Riko membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan dirinya dengan Vania. Sebelah tangan Riko memegang dagu Vania, kini jarak wajah mereka begitu sangat dekat. Riko menatap mata Vania dengan tajam, tatapannya turun ke bibir mungil Vania yang merah merona. "Dengarkan Vania, aku tahu kamu ini menikah denganku bukan hanya sekedar karena pernikahan bisnis bukan?" Degup jantung Vania kini benar-benar sangat tidak karuan. Ia takut semua rencananya gagal begitu saja, dari mulai sekarang dia harus berhati-hati. Mungkin Vania jangan terlalu kasar pada Riko agar dia mudah masuk ke dalam dunia Riko. Riko tersenyum menyeringai sambil mengusap bibir ranum Vania. "Aku tidak sebodoh itu sayang. Jika kamu ingin tetap hidup, jangan pernah ikut campur ke dalam hidupku. Paham?" peringat Riko. Sudut bibir Vania tertarik membentuk senyuman miring. Dari sorot matanya tidak ada rasa takut sama sekali, ia membalas tatapan Riko tidak kalah tajam. Vania menarik kerah baju Riko hingga lebih mendekat padanya, dan berbisik. "Selama kamu tidak mengusik keluargaku, aku tidak akan mengusik. Tapi kalau kamu menyentuh sedikit saja, bersiaplah untuk hancur sehancur-hancurnya." Vania menjauhkan tubuh Riko, sambil menatap matanya tajam. "Tunjukan di mana kamarku!" ucapnya lagi sambil menghempaskan kerah bajunya. Riko terkekeh pelan, "Ternyata besar juga nyalimu Vania. Aku beruntung memiliki istri seperti mu sayang. Wanita tangguh dan pemberani," ungkapnya sambil mengusap lembut pipinya. Vania langsung menepis tangan Riko dari pipinya. "Jangan sentuh aku!" peringatnya. "Ok," balas Riko yang langsung menjauhkan tangannya. "Kemarilah, akan aku tunjukkan kamar mu!" ajak Riko yang berjalan menaiki anak tangga rumahnya. Riko menunjukkan sebuah kamar yang tentu saja bersebelahan dengan kamar Riko. Ia membuka handle pintu kamarnya, tampak sebuah kamar dengan nuansa dominan putih. Kamar yang sangat luas, dengan wardrobe yang lengkap. "Ini kamarmu, kalau kamu butuh kehangatan atau apa pun itu. Kamar ku berada tepat di depan kamarmu sayang," ucap Riko sambil mencolek dagu Vania. Vania mendengus kesal, ia segera masuk dan menjaga jarak dengan Riko. "Kalau butuh apa-apa kamu bisa panggil kepala pelayan di sini, namanya bi Sumi. Ada lagi yang kamu tanyakan istriku?" tanya Riko. "Tidak ada!" jawabnya. "Ok kalau begitu selamat beristirahat sayangku!" ucapnya, pergi meninggalkan Vania sendiri di dalam kamarnya. Vania langsung mengitari kamarnya, dia memeriksa kamarnya takut jika ada cctv atau yang lainnya. Setelah Vania periksa semua, ia rasa kamarnya aman, tidak ada cctv dan alat penyadap. Vania merebahkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum dia mulai menyusun rencananya. Pertama dia harus mengenali isi dari rumah ini, dia yakin pasti ada barang bukti yang Riko simpan di sini. "Mulai dari sekarang aku harus sering menemuinya di kantor, demi mendapatkan yang aku inginkan!" --- "Kamu kenapa?" tanya Evan yang sejak tadi melihat Vanya seperti sedang banyak pikiran. "Oh gak apa-apa mas," jawabnya. "Gimana sekarang keadaan kamu? Udah baikan?" tanya Evan dengan sebelah tangannya memegang kening Vanya. Tubuh Vanya menegang, saat tangan Evan menyentuh keningnya. Sekujur tubuhnya kaku, "Aku udah baikan kok mas," jawabnya. "Baguslah, istirahatlah. Jangan banyak melamun tidak baik untuk kesehatan," jawabnya. Vanya hanya mengangguk, tapi saat melihat Evan akan pergi Vanya segera bertanya pada Evan. "Mas tunggu, kamu mau ke mana?" "Saya mau ke kantor sebentar, kenapa? Mau titip sesuatu?" tanyanya. Vanya menggigit bibir bawahnya, sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam otaknya. Seolah tahu Evan pun duduk di samping Vanya. "Ada apa?" tanyanya. "Hmm, gini mas. Soal semalam, apa itu mas Evan yang memakaikan bajuku?" Wajah Evan langsung memerah sempurna, ternyata ini yang ada di dalam pikiran Vanya. "Jadi dari tadi kamu mikirin ini?" tanyanya. Vanya langsung menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan ini aja, aku kepikiran tentang ucapan ka Vania tadi." "Apa katanya?" Evan berhasil mengalihkan pembicaraan tentang siapa yang memakaikan bajunya. "Ini tentang—, eh bentar jangan ngalih kan pembicaraan. Jawab dulu pertanyaan aku yang awal, mas yang pakein baju aku?" tanyanya lagi. Evan menelan ludahnya kasar, wajahnya kembali memanas. "Itu ..." "Jawab aja mas ..." Vanya benar-benar menunggu jawaban darinya. "Iya saya yang pakaikan baju kamu," jawab Evan membuat Vanya terkejut. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Jadi, mas udah liat badan aku?" tanya Vanya. Evan mengangguk kan kepalanya pelan, sontak Vanya langsung menutup da-danya dengan ke dua tangannya. "Astaga mas ..." "Ya abis saya bingung, gak mungkin juga saya suruh orang buat pakein baju kamu. Apa nanti kata orang, jadi mau gak mau saya pakaikan. Maaf kalau telah lancang, tapi saya tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan," ungkap Evan merasa bersalah. Vanya terdiam, dia juga bingung harus bersikap seperti apa. Toh sebenarnya tidak apa-apa kalau Evan yang memakaikannya, hanya saja dia merasa malu. "Gak usah minta maaf mas, gak apa-apa kok. Makasih ya..." Evan langsung menatap ke arah Vanya. Ia bingung dengan reaksi Vanya, ia kira Vanya akan memarahinya. "Kamu gak marah?" tanya Evan. Vanya menggelengkan kepalanya, "aku gak marah kok mas, toh kamu juga gak ngapa-ngapain aku," jawabnya. Evan hanya mengangguk, lalu kembali menatap ke arah Vanya. "Makasih sudah tidak marah. Mengenai kaka kamu, memang dia bilang apa?" "Ini tentang mas Riko, katanya kalau mas Riko itu jahat. Apa mas tahu tentang siapa dia?" jelas Vanya. Evan mengernyitkan keningnya, "Jahat? Saya tidak terlalu ingin tahu urusan orang, selama dia tidak mengusik saya," jelas Evan. "Boleh aku minta tolong sama mas?" "Apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN