"Vania kamu dari mana saja?" tanya Riko yang mendapati Vania baru masuk ke aula pesta.
"Maaf perut ku sakit, jadi agak lama di kamar mandinya. Terus tadi aku cari-cari dulu toiletnya," jelas Vania.
Riko memegang perut Vania, "Tapi kamu gak apa-apa kan? Atau mau kita ke rumah sakit?"
Vania memutar bola matanya jengah, Riko benar-benar mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Tidak usah aku baik-baik saja. Kapan kita pulang?" tanya Vania.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, sebentar lagi kita pulang. Kamu kuat?" tanya Riko sambil meraih pinggangnya.
"Hmm tidak apa-apa," ucapnya.
"Tidak lama lagi kamu Riko, aku akan menemukan buktinya," batin Vania.
Mereka berbaur kembali ke pesta, dan sialnya di pertengahan acara. Ada acara dansa, Riko mengajak Vania, mau tidak mau perempuan itu mengiyakan ajakan Riko. Sengaja Vania mengikuti keinginan Riko terus, agar dia tidak terlalu curiga padanya.
Riko dan Vania berjalan ke lantai dansa, dengan di aluni lagu 'Make You Feel My Love'. Tangan Riko melingkar di pinggang Vania, sedangkan Vania melingkarkan tangannya di leher Riko, mereka pun mulai berdansa.
"Senyum Vania, perlihatkan ke media kalau kamu bahagia menikah denganku!" pinta Riko sambil mempererat pelukannya pada Vania.
Vania membulatkan matanya saat jarak mereka semakin dekat. "Riko ini terlalu dekat!"
"Memangnya kenapa? Kita sedang menjadi sorotan sayang, mainkan peran mu dengan baik, jangan sampai aku melakukan lebih dari ini!" peringat Riko.
"Sialan cowo ini!" batin Vania yang tidak bisa menolak sama sekali.
Riko benar-benar memanfaatkan momen tersebut. Cukup lama mereka berdansa, membuat kaki Vania hampir kebas.
"Riko mau sampai kapan kita berdansa seperti ini? Kakiku sudah terasa pegal!" ucap Vania.
Riko tersenyum tipis ungkapan istrinya. "Kamu mau menyudahi dansa ini?!"
"Menurutmu? Kita sudah terlalu lama berdiri seperti ini Riko!"
"Ok, baiklah sayang Kalau begitu mari kita akhiri dansa ini."
Akhirnya mereka pun menyudahi dansa tersebut dengan berjalan ke pinggir area dansa.Vania langsung duduk di kursi yang kosong sambil memegang kakinya.
Melihat itu Riko langsung berjongkok, dan memegang kaki Vania. "Sakit hmm?"
Vania membulatkan matanya, saat ia ingin menarik kakinya dari pangkuan Riko. Namun, kakinya di tahan dan Riko memberikan tatapan tajam.
Pergerakan Vania pun terhenti, ia tahu Rico sengaja karena mereka sedang menjadi pusat perhatian. Akhirnya Vania menerimanya perlakuan manis dari Riko, walau aslinya dia benar-benar muak dengan pria di depannya ini.
Riko memijit perlahan kaki Vania, dan di saat itu juga beberapa wartawan mengambil foto mereka. Dalam hitungan detik mereka menjadi obrolan di pesta karena sikap manis Riko pada Vania.
"Sweet banget, aku mau punya suami kaya gitu."
"Beruntung banget Vania punya suami kayak Riko."
Kurang lebih seperti itulah yang dibicarakan beberapa orang yang ada di sekitar Vania dan Riko.
Vania memasang senyum manis tapi palsu, seolah dia adalah istri yang paling benar-benar beruntung di dunia ini.
Tidak lama Riko memijit nya, Vania sejarah menarik kembali kakinya dari pangkuan Riko. "Sudah Mas, kaki aku sudah lebih baik. Terima kasih!"
"Sama-sama sayang," balasnya sambil membantu Vania untuk beranjak dari tempat duduknya.
Riko langsung meletakkan tangannya di pinggang Vania. Dan tersenyum ke beberapa kolega yang ada di sana untuk berpamitan, begitu juga dengan Vania.
Di sisi lain ada seorang yang terus memperhatikan gerak-gerik Vania. Ia meraih ponselnya untuk mencari tahu lebih dalam tentang wanita itu.
"Tolong cari tahu tentang dia, saya ingin segera tahu lebih dalam tentang wanita itu."
Kini Riko dan Vania sudah berada di basement, dan detik itu juga Vania langsung menepis tangan Riko dari pinggang Vania.
Riko hanya tertawa pelan saat tangannya ditepis kasar oleh Vania. "Aku kira kamu sudah menerima pernikahan kita, karena sikapmu yang sedikit manis."
"Jangan banyak bicara, ayo cepat pergi dari sini. Aku lelah!"
Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Rega yang melihat sikap Vania pun tentu merasa aneh.
"Kenapa dia bersikap kasar pada suaminya? Apa jangan-jangan mereka? Apa aku pikirkan?" Rega pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
---
Vanya mengepalkan tangannya melihat berita tentang Vania dan juga Riko. Ia mendengus kesal melihat kemesraan mereka, ternyata ucapan kakanya tempo hari tidak sesuai dengan berita mereka yang sedang menjadi trending topik.
Vanya melempar ponselnya di atas tempat tidur. Ia benar-benar sangat kesal, hingga panggilan dari Evan aja Vanya tidak dengar.
"Anya..."
Vanya langsung menoleh ke arah Evan, matanya melebar sempurna saat melihat suamijya bertelanjang da-da. Ia segera memalingkan wajahnya yang sedikit memerah karena malu.
"Kenapa gak pake baju mas?" tanya Vanya.
"Aku lupa bawa baju ke kamar mandi, tadi kamu aku panggil-panggil tapi nggak jawab. Kenapa?"
Vanya mengerjapkan matanya, saking fokus pada berita kakanya, ia sampai tidak mendengar kalau suaminya memanggil.
"Maaf aku nggak denger Kamu manggil aku Mas. Biar aku siapkan bajunya." Vanya langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak usah biar aku saja, kamu fokus aja dengan apa yang sedang kamu kerjakan!" ucapnya yang berjalan dan berdiri tepat di belakang Vanya.
Wangi sabun menyeruak masuk ke dalam penciuman Vanya. Mengetahui suaminya tepat ada di belakangnya membuat Vanya sedikit gelagapan.
"Biar mas, aku saja kamu duduk saja di sana," ucap Vanya sambil mengambil kemeja hitam milik suaminya. Namun, tangan mereka bertemu di satu titik, hingga ke duanya sama-sama menoleh.
Jarak mereka begitu dekat, air yang menetes dari rambut Evan menambah kesan seksi di mata Vanya. Tatapannya tertuju pada da-da bidang Evan yang terekspos begitu saja. Tubuh atletisnya, yang bisa saja dia nikmati kapan saja.
"Mas..."
"Apa?" Jawabnya datar tapi tatapannya begitu mematikan. "Apa kita tidak terlalu dekat?" ucap Vanya.
Evan terdiam mendengar ucapannya istrinya. "Kenapa memangnya? Bahkan lebih dari ini juga kita bisa, kalau kamu mengizinkannya!" ucap Evan dengan nada berbisik.
Mendengar suara bariton Evan membuat Vanya sedikit goyah. Sebelah tangan Evan kini memegang dagunya agar Vanya menatapnya.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu hmm?" tanya Evan.
Vanya menggigit bibir bawahnya, ragu sebenarnya dia untuk menceritakan ini pada Evan. "Tidak mas!"
"Jangan bohong Vanya, apa yang sedang kamu pikirkan? Hingga tidak mendengar panggilanku!"
Tatapan Vanya tertuju pada bibir tebal Evan. "Itu... Tentang ka Vania..."
"Kenapa dia?"
"Aku ragu dengan ucapan nya tempo hari tentang Mas Riko. Sekarang sedang tersebar berita sikap manis mas Riko pada kak Vania," jelasnya.
"Jadi kamu masih memikirkan Riko?" tanya Evan dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan, seperti itu mas. Aku hanya ingat saja ucapan kak Vania tentang suaminya. Kalau dia bukan pria baik-baik, tapi nyatanya Kak Vania menelan bulat-bulat ucapannya," jelas Vania.
Evan terdiam menatap lekat ke arah Vanya. Napasnya cukup teratur, Vanya yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah.
"Mas kenapa liat aku kaya gitu?"
"Anya, tidak bisa kamu lihat saya sebagai suami mu?"
"Maksud mas?"
Ibu jari Evan mengusap bibir bawah Vanya, jujur saja dia hanya pria biasa yang tidak akan tahan berlama-lama dengan seorang Wanita cantik seperti Vanya dalam satu kamar. Walaupun Evan sudah berusaha menahan yang ada di dalam dirinya. Tapi perlahan pertahanan Evan pun akan runtuh dengan sendirinya, dan di sini lah mereka berada.
"Maksud saya ini!"