Ke mana Indah? “MAU ke mana, Ray?” tanya Ratna ketika dilihatnya, Ray sudah berada dekat motor matic putihnya di halaman. “Ke rumah Bunda Dewi, Ma,” ucap Ray tanpa menoleh. Lalu tubuhnya yang berbalut paduan jaket biru tua dan celana jins warna senada, naik di motor. Kepalanya sudah mengenakan helm abu-abu. “Kan Bunda Dewinya lagi di sekolah kalau jam segini,” kata Ratna heran. Namun, tiba-tiba, ia teringat dengan Indah. Lalu mendesah. Ray seolah paham, kemudian tubuhnya sesaat turun dan menghampiri ibunya yang berdiri di ambang pintu depan. “Bukan mau bertemu Indah, ko,” bisik Ray di telinga Ratna. Ibunya pun mengulas senyum. Ia bangga dengan anaknya yang peka apa yang baru saja melintas di pikirannya. Itulah keunggulan Ray yang jarang dimiliki remaja seusianya. Meski Ratna tak pernah

