Rumah Tepi Jurang LANGIT mulai diselimuti gelap, ketika motor yang ditumpangi Pak Rahman bersama Bu Sri istrinya, melewati rumah itu. Namun motor mendadak dihentikan Pak Rahman ketika istrinya mulai merajuk. “Kang… aku ingin ke rumah itu!” serunya memaksa. “Tadi kulihat tulisan… rumah ini akan dijual!” “Aku tak melihat tulisan itu!” kata Pak Rahman serius. Kepalanya menoleh ke belakang. Rumah itu tampak sepi sekali, seperti tak berpenghuni. Tidak bagus tapi tidak jelek. Mungkin karena catnya sudah pudar. Atau mungkin karena hari mulai gelap. Begitu yang terpikir oleh Pak Rahman. Azan Magrib baru saja terdengar dari kejauhan. “Ayolah…” Bu Sri bersikeras. “Besok saja,” kata Pak Rahman lembut dan pelan. Matanya melirik ke samping. Terlihat tanah kosong dengan pepohonan rimbun dan di sek

