Prolog
Aku menyukainya. Tanpa apa dan kenapa. Tanpa tahu sebab dan alasan kenapa aku bisa menjatuhkan hatiku padanya. Kamu tahu? Aku sangat sulit untuk jatuh cinta dan membuka hati. Jadi, saat kamu bisa melakukannya, kamu luar biasa. Ya ... orang itu kamu, Mario. Orang yang tak mau melihat aku disakiti orang lain. Tapi tanpa kamu sadari, ternyata kamu yang menyakitiku.
Mario, aku hanya ingin menulis. Tanpa harus ditanya kenapa dan untuk apa. Aku hanya ingin mengguratkan kisah kita agar menjadi abadi dan dikenang banyak orang. Meski aku tahu, kisah kita terlalu singkat. Namun, cerita itu menjadi salah satu memori yang sangat berkesan di hidupku.
Sebenarnya aku sedikit takut untuk menceritakan kisah ini. Ya, aku takut mereka akan ikut menyukaimu, Mario. Dan aku pasti ... cemburu.
Hehe, maaf ya. Aku bahkan mudah sekali cemburu padamu. Aku cemburu pada angin yang menyejukkanmu. Aku cemburu pada rintik hujan yang bisa bebas menyentuhmu. Aku cemburu dengan pakaian yang selalu kamu butuhkan. Dan aku cemburu pada dia ... orang yang kamu sukai setengah mati.
Mario, ijinkan aku menulis ini. Jangan marah, ya? Dan jangan meledekku jika di cerita ini aku seperti begitu mengagumi sosokmu. Dan ingat! Jangan besar kepala.
Jika kamu masih nekat ingin bertanya kenapa aku menulis semuanya di sini, baiklah akan aku jawab.
Karena setiap detik yang berlalu dalam hidup adalah kenangan. Jangan remehkan kebersamaan sebelum waktu mengajarkan arti kehilangan. Karena setelahnya, tak ada yang bisa kamu lalukan selain menyalahkan keadaan.
Jadi, aku sudah boleh menceritakkan semuanya, 'kan?
Boleh, kan, Mario?