"Sha, mulai hari ini gue akan antar jemput lo. Oke?" kata Mario setelah kami tiba di depan rumahku. Aku yang tak bisa berkata-kata lagi hanya mengangguk. Masih teramat shock dengan kejadian tadi.
"Gak perlu takut, Sha. Kalau dia berani dekatin lo lagi, dia gak akan selamat." Mario tersenyum.
"Makasih, Mar." Aku menatapnya penuh penghargaan. Dia mengangguk lalu melajukan motornya meninggalkan lingkungan rumahku.
Punya teman cowok memang menyenangkan. Tapi hal itu akan jadi boomerang pada diriku sendiri ketika hati ini tanpa kusadari telah jatuh kepadanya. Hah? Apa? NO WAY!
***
Keesokan paginya, Mario benar-benar menjemputku. Tapi sayangnya, aku tak bisa berangkat ke sekolah karena demam.
"Gue gak masuk dulu, Mar. Ijinin ke guru, ya," ucapku ketika menemui Mario di ruang tamu. Tubuhku terasa sangat lemas.
"Yaampun Sha, kalau emang sakit ya gak usah temuin gue juga gak apa-apa kok. Sana, balik ke kamar!" seru Mario. Aku menghela napas pelan lalu duduk di sofa. Menyandarkan punggungku yang amat lemas.
"Eh, Sha! Siapa itu?"
Aku menoleh malas pada Mama yang berdiri dengan ekspresi menggodanya. Pasti dia berpikir yang tidak-tidak.
"Selamat pagi, Tante. Saya Mario. Temannya Varsha." Mario menyalami tangan Mama.
"Oh hai, sayang. Em, Varsha kayaknya hari ini gak masuk dulu. Panas badannya," ucap Mama seraya mengusap puncak kepalaku.
"Iya, Tante. Eh, Sha, gue duluan ya. Get well soon, Plankton!" Mario berdiri. Aku mendelik.
"Kok Plankton, sih?"
Mario terbahak. "Lo, kan, kecil. Kayak Plankton."
Sial. Bukan aku kali yang kecil. Dianya aja yang kebesaran!
"Gue bukan anak kecil, Mario! Nama gue Varsha! Sekali gue tendang, lo bakal mental!"
Mario tertawa terpingkal. "Kayak si Shiva aja."
"Aduh, kalian ini lucu deh!" cetus Mama. Aku memutar bola mata malas.
"Udah sana, Mar! Nanti lo telat dihukum Bu Mungil, lagi!"
"Ah, iya sekarang Bu Mungil di jam pertama. Sekretaris kelas mah tahu aja. Hehe, Tan, permisi ya. Assalamu’alaikum." Mario tersenyum lalu beranjak pergi.
"Iya, wa’alaikumsalam, ganteng! Nanti mampir lagi ya!" teriak Mama. Aku menepuk dahi. Kenapa sih punya Mama secerewet itu?
"Sha ... dia menantu idaman banget, lho. Kapan diresmiin?" tanya Mama dengan mata berbinar.
Aku menggeleng. "Apaan sih, Ma? Mario udah punya pacar kok!"
"Ya tikung aja kali. Masih pacar, kan, belum istri?"
"MAMAAAA!"
***
Hari libur itu bagaikan surga untukku. Karena aku bisa bermalas-malasan sepuasnya. Tapi libur ini menyiksa karena kepalaku yang teramat pusing.
Makan terasa pahit, main ponsel tambah pusing, jadi aku hanya diam saja di kamar. Nyaris menjadi fosil karena tidak tahu mau melakukan apa. Lagipula ini masih sore, malas tidur.
Tiba-tiba saja kelebatan kejadian kemarin terputar kembali. Axel yang b******k dan Mario yang datang seolah jadi penyelamat.
"Non, ada yang mau ketemu!" Teriakkan Bi Jum menggema dari ambang pintu kamar.
Aku yang sedang menenggelamkan kepala di bantal langsung mendongak. "Siapa?"
"Cowok. Namanya Mario."
Mario? Dia mau ngapain? Kok ke sini lagi?
"Orangnya suruh ke sini aja ya, Bi. Aku pusing ...." ujarku.
"Yaampun, Non. Lemes banget. Tuh, kan, makanya makan, ya? Nanti Bibi ambilin makanan dan obat. Tunggu sebentar." Bi Jum pergi. Aku memejamkan mata tapi tak berniat untuk tidur.
"Hai, Sha. Gimana, udah mendingan?"
Aku merasa senang ketika mendengar suara itu. Mataku terbuka dan ia menyambutku dengan senyuman lembut. Namun, ada yang berbeda di wajahnya.
"Masih pusing," jawabku. Mario menarik kursi belajarku lalu duduk di sana.
"Lo sakit karena apa, sih? Kayaknya kemarin baik-baik aja, deh." Mario bertanya. Matanya mengamati kamarku yang bernuansa pink dan hitam.
"Ya mana gue tahu." Aku menyahut dengan suara pelan.
"Mar, muka lo kenapa memar-memar begitu?" Aku akhirnya memutuskan menanyakan hal aneh itu.
"Lo sakit gara-gara Axel ya, Sha?" Mario balik bertanya.
Aku mengangkat bahu. "Kecapekan kali. Ya ... mungkin gara-gara itu juga. Gue ketakutan. Takut dia apa-apain gue kemarin."
Mario menghela napas. "Lo tahu hal apa yang gue lakuin selanjutnya?"
Aku menatap wajahnya dan mengangguk mengerti. "Lo nonjok dia lagi, ya? Dan lo balas ditonjok. Itu, kan, yang bikin pipi lo memar?"
Dia mengangguk lalu tersenyum. "Cowok jantan."
"Lo emang cowok. Tapi baru kali ini gue lihat lo ribut sampai saling tonjok."
Mario terkekeh. "Gue hanya ingin membela cewek." Aku tersenyum.
"Gue memang kesal sama si Axel. Ternyata dia juga yang bikin Oliv sering marah-marah ke gue. Dia nyoba rebut Oliv dari gue, Sha. Ya, jadinya gue balas dendam gitu. Gue sekalian bilang ke dia untuk gak deketin Oliv lagi."
Senyumku memudar dan hatiku terasa dicubit. Mana mungkin dia setulus itu menolongku? Oliv selalu yang utama, kan?
Aku bingung. Kenapa bisa merasa tak terima dan kesal? Aku seakan tak terima jika ada orang lain yang harus Mario jaga. Tapi di detik berikutnya aku sadar jika Oliv memang lebih penting untuk Mario. Iyalah. Dia, kan, pacarnya. Sedangkan aku? Entahlah. Aku dan dia hanya sebatas teman biasa. Bersahabat? Kurasa kami tak sedekat itu.
"Mar ... lo cinta banget ya sama Oliv?" Aku bertanya.
Mario mengerutkan dahinya sebentar lalu mengangguk. "Kalau nggak, buat apa gue bertahan sejauh ini, Sha?"
Iya juga ya. Ah, kurasa Oliv begitu beruntung dimiliki dan dicintai sebegitu dalamya oleh Mario. Cowok itu sangat setia dan pengertian.
"Tapi, gue belum begitu sempurna untuk dia." Mario menghela napas. "Oliv selalu ingin pacaran di tempat-tempat mahal. Sedangkan ya, gue, kan, bukan cowok kaya. Gue cuma anak kost yang dikirimin uang sebulan sekali. Itupun pas-pasan. Oliv juga selalu malu kalau gue dekatin dia di sekolah karena gue gak begitu populer."
Aku tersenyum hambar. Di saat orang lain mencari kesempurnaannya, entah kenapa aku malah menyukai kesederhanaannya.
"Permisi, Non." Aku dan Mario refleks melirik ke arah pintu. Bi Jum berjalan mendekati kami dan meletakkan semangkuk bubur, segelas s**u putih dan obat pereda sakit kepala di atas nakas.
"Makan dulu, Non. Tadi Mama pesen sebelum dia pergi katanya Non harus makan dan minum obat," ucap Bi Jum.
Aku menggeleng kuat-kuat. Aku sangat membenci obat! "Gak mau!"
"Non ... ayolah. Nanti tambah sakit," bujuk Bi Jum.
"Sha, makan nggak! Nanti gue gak mau temenan sama lo lagi," sahut Mario. Matanya menyorotku tajam.
"Pahit, Mar!" Aku menutup mulut.
"Yaampun, Sha. Bandel banget, sih!" sungut Mario. Dia berdiri lalu memencet hidungku.
"Ih, sakit tauk!" Aku meringis seraya menepuk-nepuk tangannya.
"Makanya makan! Gue suapin. Oke?" paksa Mario. Aku menghela napas pasrah lalu mengangguk. Dia menjauhkan tangannya dari hidungku yang pastinya kini memerah.
"Aaakkkk pesawat datang." Mario menyodorkan sesendok bubur ke mulutku. Aku menelannya tanpa minat.
"Aish, kalian cocok, deh!" Bi Jum berseru senang. Aku dan Mario saling berpandangan. Canggung.