Hana membeku ketika seseorang tiba-tiba datang diantara mereka. Sejak pria itu dipersilakan duduk di ruang tamu, tak ada obrolan yang terucap. Mereka saling membisu dengan wajah tertunduk malu. Diantara suasana hening yang tercipta–Maryam duduk seraya memandangi kedua anak manusia disana. “Maaf, Bunda.” Dua kata itu berhasil menelan keheningan. Lantas, Maryam memandang pria itu dan Hana bergantian. “Saya kesini mau minta maaf buat yang terakhir kalinya.” Hana mendongak lalu memandang wajah pria yang pernah memberinya luka. Ia tak mengerti, mengapa pria itu masih berani menginjakkan kakinya di panti. “Nak Axel ….” “Maaf kalau saya banyak salah sama Bunda dan ga bisa jadi imam yang baik buat Hana.” sela Axel. Ia langsung memasang wajah penuh penyesalan. ‘Ternyata selain pintar me

