Hanya butuh satu jam sejak kedatanganku di rumah orangtua Ken, kini kami sudah diposisikan duduk berhadapan dengan Bapak dan Ibu. Atmosfer yang tercipta, kami akan membicarakan hal serius saat ini. Jadi aku pun sudah mulai menarik nafas dan mengluarkan nafas secara teratur untuk menghilangkan kegugupan. “Bapak, Ibu, ini Ayasha yang Ken ceritakan melalui telepon sebelumnya,” Ken memulai pembicaraan dengan kembali mengenalkanku, padahal sejak tadi kami sudah saling berkenalan. Mungkin ini semacam kata pengantar dari sebuah skripsi kali ya, atau seperti kata sambutan sebelum wisudaan. “Ehem ....” dehaman pelan keluar dari arah Bapak duduk. “Iya, ibu seneng banget akhirnya bisa ketemu sama Ayasha yang satu bulan ini diomongin Mas terus via telepon. Ternyata Ayasha bener seperti yang diceri

