Jeffran sekarang sedang bersama Kiara di rumah Kiara. Mereka tidak hanya berdua di sana. Ada mamanya Kiara yang sekarang sedang sibuk mengurus tanaman di halaman belakang rumahnya. Jeffran sengaja mampir setelah mengantar Kiara karena memang dia tidak ada pekerjaan lain dan sedang buntu untuk menulis lagu yang akan dia tampilkan untuk acara pameran nanti. Jeffran kemarin sudah menyelesaikan drama happiness-nya di rumah Flora jadi dia sekarang menjadi orang yang cukup gabut karena tidak memiliki tontonan lain.
"Minggu kemarin aku ketemu Flora di hotel, itu aku bareng sama Vera." Ucapan Kiara membuat Jeffran menghentikan aktivitas jarinya yang sedang scroll hp.
"Flora? Di hotel? Ngapain? Eh gak, sebelum ke Flora, ke kamu dulu. Kamu ngapain ke hotel?" tanya Jeffran.
"Ya kan aku bilang kemarin? Datang ke acara ulang tahun temen aku. Nah pas mau masuk iti hotel aku ketemu Flora bareng sana cowok!" Jeffran menajamkan matanya. Tatapan tajamnya mampu membuat siapa saja gugup, seolah ada raut marah yang sedang dia tahan saat ini. Jeffran antara percaya atau tidak pada Kiara karena dia tau jika Kiara ini jauh lebih sering menghianati Jeffran.
"Kamu gak lagi bohong kan? Aku tau kamu gak suka sama Flora. Tapi, gak baik kalau kamu bohong kaya gini." Kiara tersenyum sinis pada Jeffran, ada rasa kesal juga dalam diri Kiara karena kekasihnya tak mempercayainya.
"Terserah kamu mau percaya atau gak, tapi aku gak bohong. Tanya aja sama Vera, ahhh bentar ... tanya aja sama Javier, adik kamu."
Jeffran mengerutkan dahinya. "Javier? Kenapa dia?"
"Karena Flora disana bareng sama Javier juga. Wah, dari ekspresi kamu sih kayaknya kamu juga gak tau ya kalau mereka ke hotel bareng? Di hari pas aku ke apartemen kamu, kita bertengkar waktu itu. Dan mereka berdua si Flora sama Javier pamit pergi. Ternyata mereka ke hotel. Gak tau deh mereka ngapain."
Jeffran mengepalkan tangannya, dia cukup marah mendengarnya. "Hotel mana?" tanya Jeffran.
"Hope hotel. Dekat halte bus di simpang empat mall. Kamu tau kan? Hotel bintang 5 itu," ujar Kiara. Jeffran hanya mengangguk.
Berbeda dengan Jeffran dan Kiara. Javier dan Flora kini tengah berada di sebuah tempat untuk membuat keramik mereka. Mereka sedang mengecek bahan mentah mereka agar minggu depan dapat segera mereka buat. Fokus Flora kini terbagi-bagi juga. Dia harus fokus pada karya seninya untuk pameran ini nanti dan dia juga harus fokus pada skripsinya karena dia mengambil skripsi di semester ini bukan semester depan.
"Oke gak, Flo?" tanya Javier.
"Emm ... jujur aja nih ya gue gak ngerti bahan bagus sama enggak tuh gimana. Karena yang ngerti ini lo, Jav. Kalau menurut lo bagus, ya oke aja sih gue. Tugas gue kan diakhir, ngegambar piring porselennya," tutur Flora. Javier kembali merapikan bahan mentahnya.
"Gue ke hotel hari ini. Ada jadwal. Lo mau ikut gak?" tanya Flora.
"Gak bisa anjir. Gue kelas. Lo sampai malam?" Javier bertanya balik pada Flora.
"Gak lah. Sampai sore menjelang malam gitu sih."
"Oke, kalau balik kemaleman telfon gue ya? Nanti gue temenin. Atau gue antar malam, soalnya kan lo gak bawa mobil."
"Iyaaa."
"Jangan iya-iya aja lo, Flo! Gue serius loh, Flo. Sekarang kejahatan dan pelecehan seksual sama perempuan lagi marak, lo meskipun jago bela diri tetep aja lo itu perempuan, gue serius soal lo kalau balik malam. Gue antar baliknya. Kalau lo balik sore mau naik taksi online, ojek online, atau angkutan umum lainnya ya silahkan. Tapi kalau malam, telfon gue, atau bang Jeffran," tutur Javier. Flora tersenyum mendengarnya. Dua orang yang sellau cerewet dan mengkhawatirkan dirinya adalah Javier dan Jeffran. Meskipun mereka bertiga sering ribut satu sama lain bahkan saling mengumpat, tak menutupi fakta bahwa mereka bertiga memang saling peduli.
"Ini udah kelar belum? Kalau udah gue langsung pergi nih," ujar Flora.
"Hari ini sama Tendra?" tanya Javier.
"Gak sih, Tendra jadwalnya malem. Hari ini sama Lucky, sama koh Windar juga kok, dia datang hari ini. Jadi gue agak santai sih, soalnya hari ini banyak cowoknya dari pada ceweknya." Javier mengacungkan jempolnya, dia terlihat lega setelah mendengar siapa saja rekan kerja Flora hari ini. Mereka adalah orang-orang terpercaya Javier, teman dekat Javier.
"Yaudah. Gue antar yuk, sekalian gue ke kampus." Javier pada akhirnya menawarkan tumpangan pada Flora dan tentu saja Flora tidak akan menolaknya.
***
Tak sesuai harapan Flora yang dia pikir akan pulang sore. Ternyata perkiraannya meleset, Flora pulang saat hari sudah gelap. Tadi ada sesuatu yang membuat mereka jadi pulang terlambat dibandingkan biasanya. Flora menunggu Lucky yang sedang mengunci pintu tempat mereka bekerja. Laki-laki bertumbuh tinggi itu kerap menjadi orang terakhir yang akan pulang, namun tidak disangka hari ini dia bersama Flora yang menjadi orang paling terakhir pulang.
"Gilaa capek juga hari ini," celetuk Lucky setelah mengunci ruangan tempat mereka bekerja.
"Besok bakalan lebih banyak. Tapi gue suka sih besok, jadwal yang gue tunggu-tunggu."
Lucky menatap Flora heran. "Aneh lo, Flo. Aneh! Baru kali ini gue tau ada orang seneng kerja kaya lo. Besok weekend kalau lo lupa. Tapi lo malah seneng, kenapa sih anjir weekend kemarin harus libur. Jadi di limpahin ke weekend besok semua deh. Padet nih besok," ujar Lucky.
Flora menepuk bahu Lucky kemudian berjalan mendahului Lucky sambil berkata,"Hahaha ya dari pada gabut. Mending kerja, dpaat uang. Besok gue ajak Javier deh biar kita punya tenaga tambahan. Besok juga semuanya bakal berangkat gak dibagi tugas."
"Bisa remuk badan gue lama-lama." Flora tertawa mendengar ucapan Lucky. Mereka berjalan keluar hotel berdampingan.
"Lo beneran gak mau gue antar aja, Flo? Gue antar deh. Atau lo nunggu Javier nih? Kalau iya gue temenin sampai dia datang." Flora menggeleng.
"Gak usah, Luck. Gue naik bus aja. Mumpung masih ada. Lagian ini belum malam banget jadi gak masalah buat gue."
"Kabarin Javier deh mending, Flo. Soalnya dia kan selalu bilang ke lo buat kabari dia kalau pulang malam. Mending lo kabari dia." saran dari Lucky ditolak oleh Flora.
"Gak usahlah. Gue masih bisa balik sendiri. Nyusahin dia mulu ntar."
"Yaudah gue temenin sampai bus lo datang, yuk." Flora dan Lucky hendak melangkah menuju halte bus, namun langkah mereka terhenti saat Jeffran berdiri di hadapan Flora dan Lucky.
"Jeff?"
"Jadi bener kata Kiara? Lo disini? Lo ngapain disini, Flo?" tanya Jeffran dengan nada cukup tinggi. Lucky yang ada disamping Flora ikut bingung karena tiba-tiba ada laki-laki menghampiri mereka dan marah-marah.
"Kiara? Oh dia cerita? Cerita apa aja? Dia tau gak sebenernya gue ngapain disini?" Flora seolah-olah menantang Jeffran. Dia ingin tau apa saja yang Kiara katakan pada Jeffran.
"Lo tuh gak ada bedanya sama Kiara ya, Flo? Sama-sama munafik!" ucapan Jeffran justru membuat Flora diam. Hatinya terasa sakit usai mendengar ucapan Jeffran. Menurutnya ucapan Jeffran sudah keterlaluan.
"Munafik? Gue? Yakin lo?"
"Selama ini lo selalu bilang Kiara cewek gak bener, suka gonta ganti cowok, selingkuh sana sini, bahkan katanya dia pernah keluar masuk hotel juga. Tapi lo? Lihat lo! Ngaca lo! Lo juga sama kaya dia. Keluar masuk hotel? Gue kira Kiara ketemu lo minggu lalu yaudah cuma itu doang lo ke hotel mungkin ada urusan. Makanya gue coba kesini mastiin kalau lo gak sesering itu kesini. Tapi apa? Gue ketemu lo disini bahkan sama cowok!" Jeffran berkata dengan wajah memerah dipenuhi amarah, dia bahkan menunjuk-nunjuk wajah Lucky.
"Eettss ... Bro, lo kalau gak tau apa-apa mending cari tau dulu—" ucapan Lucky terpotong karena Flora mengisyaratkan Lucky untuk berhenti.
"Stop, biarin aja, Luck. Dia kakaknya Javier. Jangan cari masalah sama dia kalau lo gak mau cari masalah sama Javier," bisik Flora pada Lucky. Lucky yang mendengarnya pun mengangguk. Dia tidak mau jika nanti akan berujung ribut dengan teman dekatnya, Javier.
"Oke, gue munafik, gue jalan sama cowok, gue keluar masuk hotel, oke. Fine! Anggap aja kaya gitu, gak masalah. Tapi lo harus tau, Jeff. Yang sama kaya Kiara itu justru lo! Kalian berdua sama! Sama-sama gak bisa open minded! Gak bisa berpikiran luas, dan hanya memandang hotel sebagai objek seperti itu? Lo pikir kalau cowok sama cewek ke hotel bareng selalu berbuat hal negatif? Hahahaha dirty mind!" sindir Flora. Namun, Jeffran terlanjut dikuasai egonya.
"Lo gak pantes ngatain cewek gue pakai kata-kata yang biasa lo ungkapin ke dia, tukang selingkuh, gonta-ganti cowok, khianati gue, kecewain gue, kata-kata itu udah gak pantes lagi lo ucapin buat dia. Karena lo sama kaya dia!" Flora hanya bisa tersenyum getir, dia tidak menyangka Jeffran akan mengatakan hal demikian. Semuanya di luar ekspektasi Flora. Ungkapan Jeffran jauh lebih kasar dari pada yang Flora pikirkan.
"Bro, lo keterlaluan kalau gini, jaga mulut lo!" bentak Lucky. Dia bahkan mendorong tubuh Jeffran hingga Jeffran nyaris terjatuh, namun lagi-lagi Flora menahan Lucky.
"Luck udah Luck. Cukup. Gak usah di lanjutin, biarin dia beropini sendiri!" Jeffran berdecih, menatap Flora sinis, berbeda dari biasanya. Kemudian Jeffran berjalan pergi.
"Are you okey, Flo?" tanya Lucky.
"Gue gak apa-apa. Udah ya gue balik, busnya udah datang. Lo baliknya hati-hati." Flora langsung pergi setelah mengucapkan kalimat tersebut. Bahu yang biasanya tegap, kini terlihat melorot, dia juga terlihat lesu, berjalan dengan malas menuju bus dan menaikinya. Lucky dapat melihat semua itu, Flora tidak baik-baik saja. Lucky segera mengeluarkan ponselnya dan menelfon Javier, mengabarkan bahwa Flora tak baik-baik saja.
Flora duduk di dalam bus dan diam saja, menatap jalanan malam yang masih cukup ramai. Menyandarkan kepalanya pada kaca bus karena kebetulan dia duduk didekat kaca. Sebuah lagu terputar melalui ponselnya yang dia dengarkan dengan earphone miliknya, lagu milik Doyoung NCT berjudul hard for me yang juga menjadi salah satu soundtrack drama favorit Flora kini justru menjadi soundtrack perjalanan Flora menuju rumahnya. Lagu yang menurutnya cocok setelah dia mendapat banyak kalimat umpatan dari Jeffran yang sangat parah, benar-benar parah. Kalimat yang tidak pernah Flora bayangkan. Tanpa sadar air matanya menetes, Flora segera mengusapnya, takut bila nanti ada yang melihatnya.
Bus yang Flora tumpangi berhenti didepan gang kosnya. Flora berjalan dengan malas menyusuri gang tersebut untuk menuju kosnya. Membuka gerbang kos dengan malas, dan menaiki tangga menuju kamarnya seolah-olah tak memiliki tenaga. Langkahnya terhenti ketika dia melihat sosok Javier berdiri di depan pintu kamarnya. Flora mencoba tersenyum dan menghampiri Javier.
"Jangan omelin gue. Gue sengaja gak ngabarin lo karena gak mau ngerepotin lo. Gue niatnya mau ngabarin kalau gue udah balik pas nanti udah masuk kamar kok, Jav." Melihat Flora mencoba baik-baik saja ternyata membuat Javier tidak baik-baik saja. Dia ikut merasa miris melihar Flora.
"Jangan gini, Flo. Keluarin aja."
"Hah? Apanya?"
"Lucky ngabarin gue tentang bang Jeffran." Flora seketika membeku. Javier memegang kedua bahu Flora mengusapnya pelan.
"Lo manusia, bukan robot. Gak selamanya lo harus selalu baik-baik saja. Ada kalanya lo harus nangis, ada kalanya lo bisa tertawa. Sekarang lo dikasih kesempatan buat nangis. Keluarin semuanya. Lo manusia, Flo! Lo manusia!" tutur Javier dengan penuh penekanan. Flora tersenyum mendengarnya namun air matanya mengalir meskipun dia sedang tersenyum. Semua yang dia tahan sejak tadi akhirnya tumpah begitu saja dihadapan Javier. Rasa sesak yang dia tahan sejak tadi akhirnya dia lepaskan juga. Berawal dari tangisan tanpa suara hingga akhirnya menjadi sesegukan. Javier langsung menarik Flora kedalam pelukannya. Mendekap perempuan ini dengan sangat erat dan memberikan banyak kekuatan baginya. Perempuan dalam pelukannya ini memang selalu terlihat tegar dan kuat, namun Javier tau, Flora juga memiliki kerapuhan.
"Maaf atas ucapan kasar abang gue, Flo. Maaf," lirik Javier. Suara Javier bergetar, dia juga menahan tanggisnya melihat Flora menangis seperti saat ini.
"Jeffran jahat, Jav. Dia jahat! Gue benci Jeffran!" Javier semakin mengeratkan pelukannya.
"Dia lebih percaya Kiara dibandingkan gue! Dia cuma lihat sekali dan dari omongan Kiara tapi dia udah nyimpulin pikiran buruknya. Dia pikir gue cewek b******k! Padahal dia lebih b******k. Gue benci Jeffran!" Javier hanya bisa mengusap punggung Flora. Mencoba memberikan ketenangan. Membiarkan Flora mengumpati kakak kandungnya agar Flora bisa lega dan tenang. Tujuan Javier sekarang hanya satu, membuat Flora lega dan tenang.