"Gue ke rumah lo!" Satu kalimat yang membuat Flora kesal hingga saat ini. Flora tadi mendapatkan telfon dari Jeffran yang kembali menanyakan dimana Flora, apakah sudah di kos atau masih di rumah? Tentu saja Flora menjawab jujur. Dia berada di rumahnya. Dan Jeffran langsung mengatakan jika dia akan ke rumah Flora karena dia lupa membawa kunci apartemennya dan Javier sedang tidak di apartemen. Iya, lagi-lagi Jeffran terkunci di luar apartemen. Flora ingin mengumpat dan melemparkan segala macam bentuk kalimat kasarnya untuk Jeffran namun laki-laki itu telah mengakhiri panggilannya.
Flora memutuskan untuk menyiram bunga di taman rumahnya ada terletak di bagian depan. Dari sini dia bisa melihat dengan jelas rumah orang tua Jeffran yang memang berseberangan dengan rumahnya. Lagi-lagi Flora mengerutu karena sekesal itu pada Jeffran. Terus mengganggu waktunya saat di rumah. Bahkan saat di kos juga terkadang Jeffran tak kenal waktu untuk mengganggunya. Sama halnya dengan Javier, namun Javier tidak begitu mengganggu seperti Jeffran. Javier tidak secerewet Jeffran. Javier juga tidak terlalu menyusahkan Flora. Berbeda dengan Jeffran yang ada saja kelakuannya yang bisa membuat Flora menaikan tensinya.
"Flooraaaaaa!!!" Suara seseorang meneriakan nama Flora. Flora yang masih memegang selang air pun celingukan mencari keberadaan orang itu namun tidak ada.
"Jeffran, lo kalau ngumpet gue siram air ya!" serunya.
"Floooo, di sini!!!" Flora menoleh ke arah balkon kamar Jeffran yang kebetulan terlihat dari tempat Flora berdiri sekarang. Jeffran terlihat mengenakan kaos hitam dan celana pendeknya serta rambut berantakan dan wajah khas orang baru bangun tidur. Hal ini semakin membuat Flora kesal karena dilihat dari penampilan Jeffran, itu artinya Jeffran memang berada di rumahnya sejak semalam, dia tidur di rumahnya bukan di apartemen. Flora kesal karena Jeffran menelfonnya dan membuatnya bangun lebih awal dari pada biasanya.
"Gue siram ya lo, Jeff!" teriak Flora. Jeffran bukannya takut dia justru menjulurkan lidahnya pada Flora seolah-olah meledek Flora.
Flora menghela nafasnya, mencoba menetralkan emosinya. Dia kembali menyiram bunga mengabaikan Jeffran. Baru saja dia menenangkan dirinya, emosinya kembali tersulut ketika tiba-tiba saja Jeffran sudah berdiri di belakang Flora dan mengagetkannya. Dengan sengaja Flora menyemprotkan air ke Jeffran.
"WOOII ANJIRR LO, FLO!" teriak Jeffran.
"Ya lo ngagetin anjir. Balik sono lo, gue siram lagi nih. Mana ngeselin!" Flora benar-benar menyiram Jeffran lagi.
"Bu! Lihat nih bu, Flora nyiram Jeffran!" Jeffran mengadu pada ibunya Flora yang kebetulan sedang ada di teras bersama ayahnya, menemani ayahnya berjemur.
"Flo, udah ah. Kamu itu, kasihan Jeffran masa di siram," ujar ibunya Flora.
"Ya habis dia ngeselin, bu. Pagi-pagi nelfon Flora, bangunin Flora, katanya kekunci di apartemen. Taunya dia di rumah. Dia habis nelfon Flora pasti tidur lagi. Liat aja nih mukanya masih ileran gini!" tutur Flora.
"Enak aja! Gue udah cuci muka udah gosok gigi!"
"Ya bagus dong, Flo. Ada yang bangunin kamu biar gak kesiangan." Ayahnya Flora ikut menimpali. Dengan cepat Jeffran mengambil selang yang di pegang Flora dan dia menyiram Flora.
"JEEEFFFRRAAANNN ANNJIINGGG!!!" teriak Flora dan secara spontan melontarkan kalimat cukup kasar. Namun, Jeffran hanya tertawa dan menyiram Flora lagi. Sampai akhirnya ibunya Jeffran datang sambil membawa sebuah rantang. Ibunya Jeffran memukul bahu putranya sendiri hingga selang yang di pegang jatuh ke atas rumput.
"Aduh ma! Kok di pukul sih?" Protesnya.
"Ya kamu ada-ada aja, pakai nyiram Flora! anak kesayangan mama nih! Main yang bener aja deh, Jeff!" omel mamanya Jeffran.
"Tau nih tan, masa Flora disiram sama Jeffran. Dia ganggu mulu." Flora juga mengadu pada mamanya Jeffran dia juga menceritakan bahwa Jeffran menelfonnya pagi-pagi.
"Ya bagus kamu disiram, Jeff. Orang belum mandi, siram aja, Flo." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ibunya Jeffran berjalan menghampiri ayah dan ibunya Flora.
"Ini tadi masak lumayan banyak, mbak. Buat mbak, mas, sama Flora sarapan nih," ujar ibunya Jeffran sambil meletakan rantang miliknya di meja yang ada di teras.
"Aduh pagi-pagi udah dikasih rejeki. Makasih loh ini," balas ibunya Flora. Hal seperti ini bukanlah hal yang jarang terjadi. Baik orang tua Flora maupun orang tua Jeffran memang sering bertukar makanan seperti ini, bahkan mereka kadang makan bersama-sama ketika ada acara tertentu.
"Tante masak apa?" tanya Flora.
"Ada sambel goreng nih kesukaan kamu," balas ibunya Jeffran.
"Ih mau cobain!" Baru saja Flora akan melangkah, Jeffran menahannya dan menariknya dari belakang tubuh Flora dengan lengannya yg seolah-olah mencekik Flora.
"Gak bisa lari lo!" Jeffran kembali menyemprotkan air pada Flora.
"JEFFRAN GUE PUKUL YA LO!"
"Aduccchhh takuuttt nicchh gue!" Flora berhasil mengambil selang dari tangan Jeffran dan menyemprot Jeffran balik. Berakhirlah mereka dengan acara semprot-semprotan hingga badan mereka basah semua.
"Aku udah nyerah sama anak-anak kita sih, mbak. Mau Jeffran, Javier, atau Flora. Semuanya sama!" celetuk ibunya Jeffran setelah melihat kelakuan anaknya.
"Setuju sama kamu," balas ibunya Flora. Sedangkan ayahnya Flora justru tertawa melihat interaksi putrinya dengan sahabat dekatnya itu.
Ibunya Jeffran menghampiri Jeffran dan menjewer telingga Jeffran sambil menarik Jeffran. "Ayo pulang kamu anak bandel!"
"Aduh ... aduh maaaa ... sakitt maa!"
"Bandel sih! Ayo pulang! Mbak, aku pamit yaaa!" teriak ibunya Jeffran.
"GUEE NANTI KE RUMAH LO, FLO. HAPPINESS KURANG DUA EPISODE LAGI! TEMENIN GUE NONTON! GAK ADA PENOLAKAN!" Teriak Jeffran saat sudah sampai di depan teras rumahnya.
"Orang gila!"
"Flo, Flo! Udah kamu ih sama aja! Sana mandi kamu, udah basah semua tuh. Habis ini tagihan air naik nih!" Flora juga kena omel dari ibunya karena ulahnya dan Jeffran.
"Padahal gara-gara Jeffran."
"Nanti kalian berdua patungan aja buat bayar tagihan air," celetuk ayahnya Flora.
"Ihhh ayah mah gitu!"
"Hahaha lucu banget anaknya ayah."
Jeffran benar-benar datang lagi ke rumah Flora. Dengan wajah tanpa dosanya sambil menenteng laptop dan charger laptopnya, dia masuk ke rumah Flora. Mengajak ayahnya Flora mengobrol sebentar dengan bumbu-bumbu membuka aib Flora yang membuat ayahnya Flora tertawa. Ayahnya Flora sekarang hanya bisa duduk di kursi roda, bila ingin berdiri pun dia tidak akan kuat lama karena tubuhnya yang semakin melemah bahkan terkadang drop dan harus dibawa ke rumah sakit. Jarang sekali ayahnya tertawa bila bukan karena Flora. Bila berkaitan dengan Flora, Jeffran, ataupun Javier, ayah Flora dapat tertawa karena pasti akan terjadi hal-hal lucu di antara mereka bila bertemu satu sama lain. Entah bertengkar atau saling mengejek.
"Flora di kamar kan ya, Yah?" tanya Jeffran diakhir obrolannya dengan ayah Flora.
"Iya, samperin aja anaknya paling lagi rebahan, pintunya jangan ditutup."
"Siaaappp!"
Jeffran berlari kecil menaiki lantai dua, tempat kamar Flora berada. Seolah dirumah sendiri, Jeffran bahkan berteriak, "Floraaaaaa ... Floooraaaaa ... mainnnn yukk!!!"
Flora yang mendengar suara Jeffran seketika merasa kesal, berkali-kali dia menghela nafasnya, terdengar sangat pasrah karena dia tidak bisa memarahi Jeffran. Memarahi Jeffran ketika Jeffran sedang mode usil sama saja dengan membuang-buang tenaga dan waktu. Jadi Flora memilih pasrah.
"Ayo nonton!" seru Jeffran saat sampai dihadapan Flora.
"Bosennn gue, Jeff! Lo ajak nonton drama korea yang udah gue tonton! Lo kan bisa nonton sendiri!"
"Gak bisa! Harus ditemenin. Ayook! Ke balkon!"
Jeffran tanpa menunggu persetujuan Flora langsung membuka pintu balkon dan duduk disana dengan santainya. Menyalakan laptopnya dan memutar drama yang hendak dia tonton. Flora berjalan dengan malas dan duduk di samping Jeffran dengan malas. Jeffran fokus dalam menonton drama yang sebelumnya sudah di tonton oleh Flora hingga episode terakhir. Dan Jeffran sekarang meminta Flora menemaninya menonton lagi, sedangkan Flora adalah tipe orang yang malas untuk re-watch tontonan yang pernah ia tonton. Flora hanya duduk dengan malas, sesekali dia menghisap vape yang sejak tadi dia pegang agar tak begitu bosan.
"Ih lo ganti liquidnya ya?" tiba-tiba fokus Jeffran buyar saat dia bisa menghirup aroma berbeda dari uap vape yang dihembuskan oleh Flora.
"Gue ganti liquidnya rasa papermint. Seger aja."
"Dih apa kaga pedes? Nampol gitu."
"Gak lah, lo kata cabe!"
"Coba deh, Flo."
"Gak ya! Gak boleh di pakai bersamaan! Lo pake punya lo sendiri! Ganti aja liquidnya."
"Pelit lo!"
"Dih udah diem, tuh tonton lagi drama lo. Buruan tamatin! Gue males disuruh nemenin mulu!"
Setelah Jeffran kembali fokus ke drama yang dia tonton. Flora kembali bosan. Dia meletakan vapenya di meja, kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya dia sangat mengantuk. Jeffran menoleh, meskipun dia terlihat fokus. Namun, dia tetap melihat ke arah Flora. Dia terkekeh kala melihat Flora sudah memejamkan matanya.
"Lo ngantuk, Flo?" tanya Jeffran.
"Hmmm." Dia hanya mendapat balasan berupa deheman dari Flora.
"Sini." Jeffran menarik Flora, membawanya kedalam pelukan Jeffran, membiarkan Flora menyandarkan kepalanya pada dadda bidang Jeffran, bahkan Flora melingkarkan tangannya pada perut Jeffran. Flora menyamankan posisinya dalam pelukan Jeffran dan kembali memejamkan matanya. Jeffran tersenyum melihatnya, sesekali dia mengusap pelan rambut Flora. Sebenarnya, hal seperti ini tidaklah asing untuk Jeffran maupun Javier. Mereka sering memperlakukan Flora seperti ini, bisa dikatakan ini merupakan love language mereka untuk Flora. Namun, orang lain yang melihatnya akan berpikiran lain, sehingga Jeffran dan Javier tak sembarangan memberikan action seperti ini, mereka tetap melihat tempat dan kondisinya. Karena pandangan orang lain dengan keluarga mereka sudah berbeda.