Flora terbangun dari tidurnya karena ponselnya berbunyi cukup nyaring. Entah siapa yang menelfonnya di weekend pagi ini. Flora melihat ke layar ponselnya. Memastikan siapa yang menelponnya. Ternyata Jeffran. Entah apa yang diinginkan laki-laki itu di pagi hari seperti ini. Flora segera mengangkat telponnya.
"Hmm? Apa?"
"Flo, bukain pintu. Gue udah di depan."
"Hah? Di depan mana? Perasaan gak ada yang gedor-gedor pintu rumah gue dah."
"Hah? Kok rumah? Pintu kos. Gue di depan kamar kos lo. Javier kurang ajar ngunciin gue di luar."
"Gue di rumah, Jeff. Gak di kos. Mending balik ke apartemen lo aja. Eh, tapi kan lo punya kunci cadangan kamar kos gue anjir!"
"Ya gue gak bawa! Makanya gue minta lo buat bukain pintu!"
"Nyusahin lo jadi orang. Gue di rumah." Usai kalimat terakhir ini diucapkan oleh Flora. Flora langsung mengakhiri panggilannya bahkan menonaktifkan ponselnya.
"Ganggu aja ni manusia!" gerutu Flora sebelum akhirnya kembali memejamkan matanya. Weekend memang tidak boleh di sia-siakan oleh Flora untuk bangun siang.
Setelah merasa cukup dengab tidurnya, Flora memutuskan untuk bangun dan cuci muka kemudian berjalan keluar kamar menuju meja makan karena perutnya sudah sangat lapar. Baru beberapa langkah keluar dari kamar, dia mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya. Flora bergegas mempercepat langkahnya menuju meja makan. Terlihat ada Jeffran yang sudah mengobrol dengan ayahnya dan sesekali tertawa bersama.
"Lo ngapain kesini, Jeff? Mana bukannya ke rumah lo malag ke rumah gue pula!" Jeffran hanya menoleh kemudian berdecih dengan tengilnya.
"Heeh gue nanya ya!"
Ibunya Flora mendekat kemudian memukul pelan lengan Flora. "Kamu tuh, masih pagi udah heboh aja. Ada tamu tuh disambut, malah disidang."
"Ya tamunya si Jeffran ngapain di sambut. Jeff, lo ngapain?" tanya Flora lagi.
"Ya kan gue dikunciin sama Javier. Ya gue kesini lah. Orang kos lo kekunci juga. Iya gak sih, Yah?" ujar Jeffran. Ayahnya Flora malah mengangguki ucapan Jeffran.
"Ayah gak usah deh deket-deket Jeffran. Nanti ketularan gak jelasnya kaya si Jeffran," celetuk Flora kemudian duduk disebelah Jeffran karena kursi yang kosong tinggal disitu.
"Kenapa? Bilang aja kamu cemburu ya?" Ucapan ayahnya Flora mengundang gelak tawa ibunya Flora dan Jeffran.
"Idihhh gak lah. Tuh kan ayah ketularan gak jelasnya Jeffran."
"Halah bilang aja lo cemburu sama gue. Kalau suka sama gue bilang aja, Flo. Wajar kok lo suka sama gue. Setara gue kan Gantengg, dompetnya cakepp, anaknya bapak Cahyono." celetuk Jeffran dengan menggunakan gaya bicara viral ala ayah ayu ting-ting yang memuji putrinya beberapa waktu lalu.
"Tuh kan, gak waras. Masa ayah sama ibu mau punya menantu kaya Jeffran? Jang
an mau, bikin malu pasti."
"Idiihh yang ada lo jadi famous kalau nikah sama gue."
"Iya famous karena dihujat adek-adek gemes lo kan? Gue takol juga nih lo, Jeff."
"Udah-udah kalian ini ribut mulu. Jeffran biar sarapan disini. Kamu juga sarapan sekalian sana bareng Jeffran, latihan buat nanti kalau berumah tangga sama Jeffran biar biasa." Ucapan ibunya Flora kembali membuat Flora mengeluarkan suara lengkingnya yang membuat ayahnya, ibunya, dan Jeffran menutup telingga.
Usai sarapan dan mencuci piring, Jeffran tak langsung pulang. Dia kini berada di balkon kamar milik Flora. Duduk di kursi panjang dan membaca salah satu novel koleksi Flora. Flora belum kembali ke kamarnya karena dia berniat mengambil cemilan dan minum untuk Jeffran. Bagaimana pun juga Jeffran adalah seorang tamu yang harus di suguhkan makanan atau cemilan, meskipun sebenarnya Jeffran bisa mengambilnya sendiri karena sudah menganggap rumah Flora seperti rumahnya sendiri.
Tak lama setelah itu Flora datang dengan membawa nampan berisi minum dan camilan, dia meletakan nampan tersebut di atas meja kecil yang ada di balkonnya kemudian duduk di sebelah Jeffran karena memang hanya tersedia satu kursi panjang di balkonnya. Flora membiarkan Jeffran fokus dengan novel yang dia baca tanpa menganggunya. Pandangan Flora beralih ke langit yang tidak begitu cerah, beberapa awan gelap juga mulai berkumpul dan sesekali terdengar bunyi guntur. Mungkin akan hujat. Semilir angin pun menerpa rambut Flora hingga membuatnya berterbangan.
Tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan membelai rambutnya, tepatnya menyisir rambut Flora dengan jari. Flora menoleh mendapati Jeffran--seseorang yang tengah menyisir rambut Flora--sedang bersusah payah mengeluarkan gelangnya. Flora tak tau untuk apa, namun pertanyaan itu segera terjawab kala Jeffran mengikat rambut Flora yabg diterpa angin dengang gelang miliknya.
"Dah, gak ribet terbang-tebang kaya layangan rambut lo," ujar Jeffran.
Flora berdehem. "Gue juga ada karet kali, Jeff. Ngapain harus pake gelang lo dah."
"Ya elah paling juga lo mager kan ngambil karetnya? Makanya gue pakai gelang gue aja biar gak ribet." Flora mengangguk.
"Flo, malam minggu nih, nonton mau gak?"
Flora menoleh ke Jeffran. "Gak lah, ngapain. Ngabisin duit aja."
"Dih orang nonton drama Korea di rumah lo hahaha gue mau lo nemenin gue nonton happiness itu loh. Gue kalau sendirian males nonton. Makanya temenin gue ntar. Gue yang kesini deh," tutur Jeffran.
"Yaaa ... emm ... yaudah, sok aja. Sih. Gue nurutlah. Eh tapi, berarti lo gak balik ke apart?" tanya Flora.
"Gak lah. Gue kerumah mama papa aja nanti tidurnya. Tinggal nyebrang ini. Yang penting ntar malam temenin gue. Oke?"
"Iya iyaaaa bawel!"
***
Hari ini Flora dan Javier memiliki jadwal untuk bertemu dengan pemilik bahan mentah yang akan Flora dan javier gunakan untuk membuat karya seni mereka untuk pameran nanti. Flora yang tidak paham tentang bahan mentah untuk membuat keramik atau porselen hanya diam saja dan membiarkan Javier berkomunikasi dengan pemiliknya karena ini memang bagian milik Javier dan bagian yang memang biasanya Javier kerjakan untuk kuliahnya. Flora memutuskan berkeliling melihat hasil keramik mereka yang sudah jadi dan siap jual. Sambil menunggu Javier selesai berdiskusi. Dia melihat beberapa guci-guci cantik dari keramik. Hanya saja terlalu polos menurut Flora. Lukisannya kurang menghidupkan keindahan porselen tersebut.
"Flo, udah." Javier menghampiri Flora usai berkomunikasi dengan pemiliknya.
"Udah? Beneran?"
"Iya, minggu depan kita dapat izin untuk ngerjain itu disini mulai minggu depan." Flora tersenyum lebar. Puas dengan hasil negosiasi Javier.
"Ayo balik, makan. Gue yang traktir soalnya lo udah berjasa nyari izin buat tim kita!" Flora berjalan mendahului Javier dan berjalan sedikit cepat.
"Hadehhh. Giliran gini aja baik lo ke gue!" Flora yang mendengarnya hanya tertawa dan terus melanjutkan jalannya.
"Lo kenapa kemari ngunciin Jeffran dah? Jadi ngerepotin tau dia pakai ke rumah gue. Rese banget." Flora akhirnya mengungkapkan keluah kesahnya akibat dari Javier mengunci pintu apartemen dan membuat Jeffran tak bisa masuk.
"Ya gue sebel anjir sama dia. Gue bilangin kalau si Kiara ngeselin, gue sebutin dah tuh jelek-jeleknya Kiara. Dia ngamuk dong. Ya gue usir lah!" jelas Javier dengan nada malasnya.
"Ya kalau itu lo yang aneh. Udah tau di Jeffran bucin mampus sama Kiara malah lo jelek-jelekin Kiara!"
"Tapi gue heran deh Flo sama abang gue. Dia tuh sebenernya beneran gak sih sayang sama Kiara? Soalnya dia meskipun tau buruk-buruknta Kiara. Dia tetep aja pertahanin hubungan dia. Aneh!"
"Yaaa itu! Definisi sempurna untuk manusia super bulol alias bucin t***l. Semua bakalan begoo kalau udah bucin. Jadi maklumi aja."
"Cih, dimaklumi apanya. Yang ada makin ngelunjak!"
***