"Kenapa mau nikah sama aku?"
Pertanyaan dari Kaiden membuat Mine mematung. Ia berusaha memproses otaknya agar memperoleh sebuah jawaban, tapi hasilnya, nihil. Mine tidak dapat gambaran jawaban sama sekali kecuali satu kalimat, "Disuruh, sama Mama."
Kaiden sontak mengernyitkan keningnya, "Hah, disuruh?"
Mine mengangguk sambil meletakkan sendoknya.
"Disuruh doang langsung mau?"
Mine kembali mengangguk, "Mama bilang, cuma sama Kak Kaiden, Mine enggak bakal disakitin, kalo sama cowok lain setidaknya pasti bikin Mine nangis, makanya dari awal Mine enggak mau pacaran, takut dimarahin Papa."
Kaiden menganga, mendengar jawaban polos Mine membuat kepalanya pusing seketika, "Segampang itu kamu iyain nikah sama aku, cuma karena kamu percaya aku enggak bakal bikin kamu nangis?"
Mine terdiam sesaat, ia menatap Kaiden lekat seraya meneliti mimik pria tersebut, "Aku enggak percaya Mama 100%, entah kenapa aku punya feeling Kak Kaiden bakal sakitin aku sampai nangis berhari-hari, feeling lho ya, just feeling."
Kaiden menghela napasnya pelan, ia menurunkan sendok ditangannya lalu meraih kedua tangan Mine untuk digenggam, "Sebelum nikah, aku pengen banget ngasih tau kamu sesuatu, tapi sampai sekarang masih mikir kapan waktu yang tepat, aku takut kamu kaget."
Mine menerima sinyal Kaiden dengan baik, ia menolak merubah ekspresi datarnya ke mimik penasaran, "Cerita aja, aku enggak Papa."
Kaiden menatap dalam manik mana gadis berambut panjang tersebut, ia tidak tega jika harus mengatakannya sekarang, tapi jika terlalu lama ditunda juga tidak akan baik bagi hubungannya dan Mine, "Aku cuma mau bilang, aku susah sayang sama orang, dan kalo udah sayang, aku bakal berusaha buat jaga orang yang aku sayang gimanapun caranya, termasuk perasaannya."
Kali ini Mine yang mengernyitkan keningnya, "Hah?"
"Aku udah punya cewek yang aku sayang Mine, dan itu bukan kamu."
***
Mall adalah pelarian Mine setelah ia dirundung perasaan kelabu karena pernyataan Kaiden. Tidak menutup kemungkinan, gadis mana yang menolak menikah dengan pria seperti Kaiden. Bagi Mine, Kaiden tampan, pintar dan lebihnya lagi, ia sayang dengan keluarga. Benar-benar pria sempurna bagi Mine.
Tapi semua seakan rata dengan tanah saat Kaiden dengan lantangnya mengatakan jika ia sudah punya gadis yang dia cintai. "Apa dia bilang, sayang? Waaahh, pengen ngehujat." Gadis berambut panjang itu terus menggerutu.
Saat jam makan siang selesai, Mine memang meminta izin Kaiden untuk pergi dengan alasan berbelanja, padahal ia lari ke Mall untuk pelampiasan rasa tidak nyamannya.
Ia bergegas menuju toko buku yang ada di dalam Mall tersebut kemudian memborong banyak novel. Nyaris muak dengan banyaknya blurb yang Mine baca pada bagian belakang novel, Mine akhirnya membeli 8 novel yang menurutnya beralur serupa dengan keadaannya saat ini. "Kenapa sekarang semua penulis novel ngangkat tema perjodohan, hamil diluar nikah, badboy vs badgirl dan om-om pengusaha? Bikin aku pengen ngeborong aja."
Mine berjalan keluar toko buku, ia melangkahkan Kakinya menuju tangga lalu tanpa sengaja matanya bertemu dengan Kaiden.
Mata Mine menyipit ketika melihat Kaiden berjalan tidak sendiri, ia pun kembali menggumam, "aaaa, pasti lagi jalan sama cewek yang dia sayang, kan kampret."
Mine dengan cepat mengalihkan tatapannya. Ia pura-pura tidak mengenali pria itu dan melanjutkan langkahnya berjalan meninggalkan sejoli menyebalkan tersebut.
Mine berhenti disebuah toko pernak-pernik dengan nama Strawberry, di toko tersebut, Mine fokus memilih-milih jepit rambut sehingga lagi-lagi tidak menyadari jika Kaiden dan gadis yang bersamanya juga masuk ke dalam toko tersebut.
Kaiden terlihat canggung, ia menatap Mine dan Disty secara bergantian, ia merasa takut jika Mine melakukan sesuatu yang membuat Disty salah paham.
Mine paham, ia sangat mengerti jika Kaiden memberi sinyal untuknya agar tetap diam, ia pun berlagak seperti orang yang tidak saling mengenal.
Mine beralih ke stand ikat rambut, di sana matanya berbinar saat melihat ikat rambut dengan aksen buah peach yang menurutnya lucu, saat tangannya terulur untuk mengambil, tidak sengaja bertumpuk dengan Disty yang juga berniat mengambil ikat rambut tersebut.
Disty menatap Mine kaget, "aku yang lihat duluan," ucapnya pelan.
Mine mengangkat ikat rambut tersebut, "tapi aku yang pegang duluan, sorry."
"Yaaah, padahal cuma satu, enggak bisa ngalah, aku beliin yang lain deh, tapi itu buat aku, boleh enggak?" bujuk Disty.
Mine menatap tidak suka ke arah Disty, Kaiden pun dapat merasakan aura tersebut, ia bergegas mendekat.
"Aku bakal tukar ikat rambut itu sama 3 item, kamu bebas milih." Kaiden ikut membujuk.
Mine jengah, ia menghembuskan napasnya pelan lalu menarik perlahan tangan Disty, ia menaruh ikat rambut peach itu sambil tersenyum, "sesuatu akan menjadi milik kita jika itu sepadan, ambil aja, harganya lumayan murah."
Mine berjalan begitu saja meninggalkan Kaiden dan Disty. Mendengar ucapan dari Mine, Disty terlambat menyadari, sehingga saat gadis itu sudah keluar dari toko, ia baru saja merasa tersinggung.
"Apa dia baru aja bilang gue murahan?"
***
Mine berjalan menunggu taksi pesanannya. Ia berdiri di trotoar depan Mall sambil membawa 2 paper bag yang berisi buku dan beberapa aksesoris.
Hawa panas membuat keringat mengucur di pelipisnya, matanya mulai mengabur dan niat hati sudah ingin melangkah menuju tempat yang teduh, namun sial, seseorang dari arah belakang tiba-tiba muncul mengejutkan Mine dan berusaha menarik tas dari tubuhnya.
Mine tersungkur, tasnya hendak dicuri oleh seseorang dengan menaiki motor. Ia berusaha mempertahankan tas yang dipasang melingkar di tubuhnya, Mine terjatuh saat ikut menarik tas tersebut dan berkat teriakan kerasnya, warga sekitar berdatangan dan pencuri itu pun berhasil kabur walau tidak mendapatkan apapun dari Mine.
Mine meneteskan air mata walaupun tidak terisak, ekspresi wajahnya terlihat biasa walau ia meringis dengan tangis karena lutut dan sikunya terluka.
Kaiden melihat banyak orang berkerumun saat ia dan Disty berniat pulang, tidak sengaja matanya menangkap sosok Mine yang berjalan sambil dipapah salah seorang warga, ia pun langsung menepikan mobilnya, membuat Disty bingung. "Kenapa Kai?"
Kaiden tidak menyahut, ia langsung keluar mobil lalu berlari menghampiri kerumunan tersebut, "Ada apa Mas, kok rame?"
Pria yang ditanya Kaiden pun menoleh, "Tadi ada yang hampir kecopetan Mas, Mbaknya ngelawan copet terus jatuh, ngeri sih, tangan sama Kakinya lecet semua itu."
Kaiden membelah kerumunan, ia melihat Mine duduk dikursi halte sambil meringis, ia pun mendekat, "Mine, kamu enggak Papa?"
Mine mendongak, ia segera menyentak tangannya saat disentuh oleh Kaiden, "Enggak usah dipegang!"
Kaiden menatapnya tidak percaya, "Ayo pulang."
Namun lagi-lagi, ajakan Kaiden ditolak, "Aku bisa sendiri kok, naik taksi, aku udah pesan tadi."
Kaiden menatap keadaan Mine yang tampak kesakitan, ia tidak punya pilihan lain, ia harus membawa Mine pulang, apapun alasannya.
Mine berontak saat Kaiden hendak menggendongnya, warga sempat menghalangi Kaiden agar tidak memaksa Mine namun Kaiden dengan cepat menyanggah warga, "Dia istri saya, salah kalau saya bawa pulang?"