bc

Latibule

book_age16+
904
IKUTI
4.2K
BACA
contract marriage
love after marriage
independent
confident
doctor
drama
sweet
bxg
city
wife
like
intro-logo
Uraian

Awal pernikahan menjadi perjalanan yang tidak mulus untuk Kaiden dan Mine. Berawal dari perjodohan dari lingkaran keluarga dekatnya, mereka harus menerima meski di antaranya belum saling punya rasa.

Kaiden yang belum selesai dengan masa lalunya membuat kisah pernikahan mereka semakin rumit. Belum lagi perasaan Mine yang bertekad akan mempertahankan rumah tangga bersama Kaiden sebagai suaminya.

Bagaimana lika-liku perjalanan awal pernikahan Kaiden dan Mine?

Akankah Kaiden menyerah dan memilih kembali pada masa lalu, atau Mine lah yang menang dengan segala tekadnya untuk bertahan?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Status Baru
“Saya terima nikahnya Jasmine Kaniour Hakim binti Arkan Azizi Hakim dengan mahar beruba emas seberat 25 gram, dibayar tunai.” "Saksi sah?" "Sah." "Sah." "Alhamdulillah." Seruan berbagai reaksi mulai memenuhi rumah keluarga Hakim, pasalnya, anak semata wayang mereka yang baru beberapa hari lulus SMA, sudah sah dipersunting oleh anak sulung dari kerabat mereka yang sangat dekat. Adalah Kaiden, sebagai mempelai pria—masih mempertahankan mimik wajah datarnya—kini duduk bersanding dengan Mine, gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Bukan karena mereka saling menyukai. Ketika mereka dinikahkan, Kaiden sempat menjadi satu-satunya orang yang paling menentang keputusan dari orangtuanya, tapi seperti biasa, ia kalah mutlak dengan Saffa—Mamanya—yang terlalu ia sayangi. Pernikahan yang diawali dengan perjodohan bukanlah hal yang buruk, karena orang tua Kaiden pun pernah ada di posisi mereka saat ini, namun Kaiden sangat menyayangkan, mengapa harus Mine yang jadi mempelai wanitanya. Ia tidak membenci Mine, hanya saja, ketika orangtuanya mengatakan jika adiknya itulah yang akan menjadi istrinya, segudang bayangan tentang rumah tangga impiannya hancur berantakan. Tidak ada sosok istri yang menyenangkan ketika ia baru pulang kerja. Tidak ada sosok istri dengan masakan enak, yang dapat memanjakan perutnya, dan tidak ada sosok istri yang telaten mengurus semua partikel yang ada di dalam rumah. Semua hal itu tidak pernah ia temukan dalam sosok Mine yang manja. Tidak berbeda dengan Mine, walaupun ia menerima pada awalnya, tapi setelah melihat respon Kaiden dari awal hingga di titik di mana ia benar-benar merasa Kaiden mengacuhkannya saat berdiri di panggung ketika resepsi pernikahan, Mine jadi pesimis. Sepanjang hari bahagianya, ia terus murung. Hal itu karena ia merasa jika Kaiden hanya berlaku pura-pura padanya. Tiba-tiba, mereka berdua merasa canggung entah sejak kapan. “Ini baru awal, Mine, gimana ke depannya. Aku kuat apa nggak?” Mine bergumam sambil menyapu ujung mata yang nyaris mengeluarkan air. Sementara Kaiden yang paham gadis di sebelahnya menangis, memilih tidak menanggapi. Ia masih menatap lurus ke depan dan hanya tersenyum jika para tamu menyalaminya. “Kenapa tamu dari tadi nggak abis-abis, gue sudah capek berdiri.” *** Sebulan sebelum pernikahan Kaiden dan Mine berlangsung. Saat malam di mana kedua keluarga Mahardika dan Hakim mengadakan perkumpulan dadakan. “Kita cuma punya Mine sama Kaiden, mereka lumayan cocok,” ujar Saffa yang saat itu tengah menikmati cookies buatan sahabatnya, Rose. “Setuju, sih, aku. Mine baru aja lulus SMA, daripada nanti kuliah macam-macam, mending dinikahkan saja sama Kaiden.” Alvin dan Arkan memilih menjadi penyimak. Keduanya kadang saling tatap tanpa ikut memutuskan. Kecuali jika keduanya ditanya. “Menurut kalian gimana?” Alvin kini menatap Saffa, “Menurut aku, sih, terserah Kaidennya aja. Kan, yang ngejalanin dia.” Semua tampak berpikir. “Kaiden punya pacar, nggak?” Arkan tiba-tiba bertanya. “Yara bilang nggak punya, yang naksir banyak.” Sahutan Saffa semakin membuat Rose bersemangat. “Sudah, daripada nanti dia pacaran sama cewek yang gimana-gimana, mending dijodohin aja sama Mine. Kan, kamu jadinya nggak perlu canggung sama menantu.” Saffa membalas tawa Rose. “Benar juga, lagian Kaiden sudah punya penghasilan sendiri, gajinya sebagai dokter muda juga lumayan, mampu, lah, dia bagi buat rumah tangga.” “Tapi tetap aja, kita harus diskusikan semuanya sama anak-anak. Ini menyangkut masa depan mereka. Kita nggak bisa ambil keputusan untuk langkah besar di hidup mereka berdua.” Semua pun terlihat setuju dengan pendapat Alvin. Sebulan berlalu, dan inilah hasilnya. Pernikahan cukup megah terselenggara di ball room hotel Bintang 5. Kaiden dan Mine berhasil dinikahkan oleh kedua orang tua mereka. Meski sempat ada tolak-menolak, tapi pada akhirnya, pernikahan tetap terlaksana. Seharian penuh lelah berdiri, tersenyum dan menyalami para tamu, akhirnya acara resepsi mereka selesai. Para orang tua kini memilih pulang, sementara Kaiden dan Mine disuruh menginap di hotel. Ketika di dalam hotel, keduanya berubah menjadi canggung, suasana pun terasa sunyi dan dingin. Kaiden yang sudah telanjur lelah, memilih mandi lalu tidur dengan posisi membelakangi istrinya. Sementara Mine, ia masih sibuk menatap langit-langit kamarnya sambil terus menghela napas. Ketika mata Mine hendak terpejam, ia merasa ponsel di nakas tempat tidurnya berkedip, ia pun mengambil dan mencoba mengecek, ternyata di sana Yara baru saja mengirimkan pesan singkat. Kak Yara: Sudah tidur? Mine tersenyum, satu-satunya orang yang benar-benar tahu seperti apa keadaan dari pernikahannya adalah Yara. Tanpa menunggu lama, Mine pun membalas pesan singkat Kayara.  Mine: Belum, baru aja mau tidur. Kak Yara: Abis ngapain emang? Mine: Nggak ngapa-ngapain, diem-dieman terus tidur, deh. Kak Yara: Ya udah, tidur, gih, pasti capek, nggak usah dibales. Mine mengembuskan napasnya lagi secara perlahan, membaca pesan terakhir Yara membuat jiwa sensitifnya menguar. Ia meletakkan ponselnya kembali ke nakas, lalu tidur menyamping membelakangi Kaiden. Berusaha menutup matanya meski sulit karena terhalang air mata yang tiba-tiba mengalir. *** Pagi hari tiba, selesai salat subuh bersama, Kaiden dan Mine masih saling diam. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing menunggu waktu pulang mereka. Sadar jika sekarang ia sudah jadi istri, Mine mencoba mengerjakan kewajibannya sedikit demi sedikit. Contohnya saja sekarang, ia mengalah dengan menyapa Kaiden lebih dulu. “Mau sarapan pakai apa, biar aku yang ambilin.” Kaiden menoleh. “Nggak perlu. Aku udah telepon hotel, mereka bakal anter sarapan jam tujuh.” Mine mengerjapkan matanya berkali-kali menatap Kaiden, perasaan tidak enak kini menyelimuti dirinya. “Sorry.” Mengerti ke mana arah permintaan maaf Mine, Kaiden hanya mengangguk kilat tanpa menoleh. Tidak terlalu lama menunggu, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Mereka kembali saling diam meski sedang sarapan. Jengah dengan rasa canggung ini, Mine pun memulai percakapan, “Mama bilang, kita harus pulang ke rumah sendiri, katanya di sana sudah ada barang-barang punya kita.” Kaiden menyahut dengan anggukan, ia berdiri setelah salad di piringnya sudah habis. “Cepetan abisin, kita mau pulang sekarang.” Mine bingung. “Kok, cepet? Kan, baru jam tujuh.” “Aku kerja jam delapan,” sahut Kaiden. Kening Mine kembali mengernyit. “Kerja, Kakak nggak ambil cuti?” Kaiden yang tadinya siap-siap, tiba-tiba terhenti. “Buat apa cuti?” “Ya, cuti. Kan, kita baru nikah, masa langsung kerja?” Kaiden mengembuskan napasnya pelan, ia mendekat ke arah Mine dan menatapnya datar. “Kalau aku nggak kerja, beli perlengkapan kamu pakai apa, daun?” Mine merasa tidak senang dengan sahutan Kaiden. Mine pun mendengkus sangat pelan. “Ya, nggak segitunya juga kali. Libur dua hari nggak bakal bikin Kakak langsung kere,” gumamnya yang tentu saja masih bisa didengar oleh Kaiden. Malas meladeni, Kaiden memilih kembali menyibukkan diri untuk bersiap. Ketika 15 menit berlalu, ia pun mengajak Mine untuk keluar kamar lalu pulang. Selama di perjalanan pulang, keduanya masih tidak terlibat pembicaraan. Mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Hingga tanpa terasa kini mereka tiba di sebuah rumah asing yang mana alamatnya tertulis di pesan singkat Mine. Kaiden turun dari mobil lalu berjalan begitu saja meninggalkan Mine yang berjalan di belakangnya. Gadis itu masih bingung dengan rumah yang katanya akan menjadi rumahnya tersebut. “Ini rumah, rumah kita?” tanya Mine saat ia mulai masuk. “Hhm,” Kaiden menyahut singkat, “kalo mau istirahat, kamar kamu di lantai dua, pintu warna putih di lorong sebelah kanan. Aku mau pergi, kamu jangan ke mana-mana.” Mine nyaris menyahut, namun Kaiden kembali bicara. “Satu lagi, jangan bilang Mama Papa kalo aku pergi kerja, ntar malam nggak usah masak, kita perlu bicara.” Setelah mengatakan hal itu, Kaiden dengan cepat berjalan meninggalkan Mine. Ia melangkah ke arah tangga lalu berbelok ke lorong sebelah kiri, tempat di mana kamarnya berada. Mine menatap punggung Kaiden dengan datar, ia menyipitkan mata lalu melayangkan genggaman tangannya seakan meninju udara. “Untung ganteng, coba kalo jelek, udah aku tinggal pulang kamu.” Pada dasarnya, Mine tidak berada pada posisi yang diuntungkan dan juga tidak dirugikan atas status barunya sebagai istri Kaiden. Selama ini, ia terlalu santai menjalani hidup, bahkan saat ia sadar ketika Kaiden tidak menyukainya saat ini pun, tidak menjadi pikiran berat baginya. Tidak pernah pacaran membuat Mine masih bisa bahagia. Katanya, ia sudah cukup banyak menerima kasih sayang dari orang-orang sekitarnya, tanpa perlu menambah sayang lagi dari orang di luar zona nyamannya. Baru beberapa bulan lulus sekolah, memang membuat Mine seakan terlahir kembali ketika ia memutuskan untuk mengiyakan keputusan kedua orang tuanya untuk mau dinikahkan dengan Kaiden. Sekadar informasi, Mine memang pernah menaruh perasaan lebih pada pria yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya tersebut. Siapa yang tidak menyukai pria seperti Kaiden? Dia tampan, baik, sopan, pintar dan juga sayang dengan dirinya. Namun semua hal itu berubah dalam satu malam, sifat Kaiden seakan luntur hanya karena satu kata, perjodohan. Tapi Mine tidak mau banyak ambil pusing, selama kebutuhannya tetap terpenuhi, selama kesibukan hobinya tidak dilarang oleh Kaiden, dan selama kebiasaannya tidak dirubah oleh pria yang saat ini sudah menjadi suaminya tersebut, Mine merasa hidupnya akan lebih bebas, dan ia cukup bahagia jika mengingat hal itu. Kini Kaiden sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu, Mine tersenyum ketika mendengar suara mobil sudah menjauh dari pekarangan rumahnya. Tanpa basa-basi, kini setelah ia mandi, ia melangkah ke arah dapur. Ia membuka kulkas dan mendapati banyak bahan persediaan di dalamnya, lagi-lagi ia tersenyum. “Bikin cookies kayaknya enak, nih.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Happier Then Ever

read
93.1K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Pengganti

read
304.1K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K
bc

Stuck With You

read
75.9K
bc

Ditaksir, Pak Bos!

read
149.8K
bc

Rainy

read
19.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook