2. Rules

1240 Kata
Malam tiba, kenyang dengan menghabiskan seloyang cookies membuat Mine enggan untuk makan malam. Ia duduk di ruang tengah rumah barunya sambil menonton televisi, sesekali matanya menoleh ke arah jendela, ia berharap Kaiden cepat pulang. Suara mobil mulai terdengar, Mine langsung mematikan tv lalu menggantinya dengan buku. Tentu saja ia berpura-pura membaca. Kaiden masuk ke dalam rumah lalu menatap sekilas Mine di ruang tengah, ia tidak menyapa, melainkan hanya berlalu begitu saja. Merasa jika Kaiden tidak memperhatikannya, Mine pun kembali membuka televisi kemudian melanjutkan aksinya menonton drama. Setengah jam berlalu setelah kedatangan Kaiden, Mine terkejut ketika pria itu tiba-tiba duduk di sampingnya. Mine menoleh setelah mem-pause video dramanya. “Sibuk?” tanya Kaiden. “Iya, nggak lihat dari tadi aku ngupas bawang?” sahut Mine sarkas. Kaiden menoleh malas. “Aku tanya serius.” Mine membalas dengan memutar matanya jengah, “Nggak ngapa-ngapain, emang Kak Kaiden lihat aku lagi ngerjain apa?” “Nggak usah jawab pertanyaan pakai pertanyaan, aku nggak suka digituin.” “Aku juga nggak suka kalo ditanya cuma buat basa-basi, to the point aja, mau apa? Mau ngomong, ayo.” Kaiden masih menatap Mine datar. “Ngomong penting, kenapa tivinya masih dinyalain?” “Nggak ada yang nyuruh matiin.” Mine bukan lawan yang cocok untuk sekadar berdebat ringan, ia handal, mewarisi gen dari Mamanya. Kaiden mengembuskan napasnya pelan, ia berusaha menekan jengkelnya dan tetap berlaku sabar. “Matiin sekarang, kita perlu ngomong.” Tanpa babibu, Mine langsung mematikan televisinya lalu duduk menghadap Kaiden. “Kita perlu ngomong.” Mine masih diam, ia menjawab Kaiden hanya dengan anggukan. “Tentang pernikahan kita,” kata Kaiden lagi. “To the point.” Mine membuat Kaiden lagi-lagi menatapnya jengah. “Aku nggak bisa ngelakuin banyak aktivitas suami istri seperti pasangan lainnya, kamu pasti tau apa alasannya.” “Kakak nggak suka Mine. Oke, alasan diterima.” “Segampang itu?” Reflek Kaiden kaget. Mine memberi tatapan bingung. “Memang aku harus apa, misuh-misuh sambil minta sentuh gitu? Dih, sorry, aku bukan cewek kayak gitu.” Tidak dipungkiri, Kaiden sedikit lega mendengarnya, walaupun ada rasa aneh beberapa detik yang melintas di hatinya. “Aku punya peraturan, aku bakal diskusi sama kamu, biar kita sama-sama enak.” Mine diam beberapa saat kemudian mengajukan pertanyaan yang kembali membuat Kaiden seolah terjungkal. “Peraturannya perlu dicatat? Apa perlu aku ambilin kertas? Stempel punya nggak? Ya, biar kelihatan niat aja gitu.” “Mine, aku serius,” ucap Kaiden setengah lelah. “Aku dari tadi nggak ngelawak, serius, kok, nanyanya aja aku serius.” “Oke, jangan banyak omong dulu, aku catat di note ponsel peraturan punya aku, kamu juga. Punya aku yang pertama, jangan mencampuri urusan masing-masing. Kamu apa?” “Tidur pisah kamar,” sahut Mine. “Setuju, terus punya aku, ngurus rumah sama-sama.” “Cuci piring sama baju sendiri-sendiri.” Mine mencatatnya cepat di note ponselnya. Kaiden kembali mengajukan peraturannya. “Jangan bawa teman ke rumah.” “Dilarang kedengaran teleponan sama pacar.” Kaiden menatap Mine bingung. “Hah, coba ulang?” Mine mengembuskan napasnya pelan. “Jangan teleponan sama pacar sampai kedengaran.” “Kok, gitu?” “Suka-suka Mine, lah. Ayo, apa lagi?” “Jangan pulang lewat dari jam sepuluh malam.” “Harus izin kalo mau jalan.” “Nggak bisa,” Kaiden menyela, “balik ke peraturan pertama, dilarang mencampuri urusan masing-masing.” “Berarti terserah aku, mau pulang subuh. Kan, urusan aku.” Jawaban Mine membuat Kaiden terdiam. “Peraturan kamu, ulang.” “Kasih aku mobil.” “Nggak, ntar nabrak.” “Terus aku ntar kuliah pakai apa? Aku nggak berani naik angkutan umum, pakai taksi mahal, naik motor ntar rambut aku pakai helm lepek.” Mine mulai sebal. “Aku antar.” “Oke, deal,” sahut Mine sambil tersenyum. Kaiden pun sadar jika ia baru saja membuat dirinya repot. “Dari aku, terakhir, kalo nanti kamu kuliah, jangan ngaku kalo sudah nikah. Seandainya ada yang nanya siapa aku, jawab kakak kamu, paham?” Mine mengangguk, “Dari aku terakhir, jangan larang semua hobi aku.” “Tergantung, kalo hobinya mencemari udara dan penglihatan, aku patut protes,” Kaiden menyahut. “Nggak, kok, hobi aku cuma fangirling sama nonton drama, paling bikin-bikin kue di dapur.” Mine menambahkan. “Ya sudah, berarti selesai, ya, ini. Ingat, jangan ada yang dilanggar, atau kamu bakal dihukum.” Mata Mine yang tadinya sayu mengantuk menjadi cerah. “Dihukum? Ada hukumannya emang?” Kaiden mengangguk. “Aku bakal kurangi uang harian kamu.” “Kalo Kakak yang langgar, apa hukumannya?” Kaiden lantas berpikir. “Nanti aku pikirkan, sekarang mending kamu pergi tidur.” “Kakak nggak makan malam?” Kaiden yang sudah membuka laptopnya di meja sontak menggeleng, “Aku udah makan tadi.” Mine mengembuskan napasnya pelan. “Jangan keseringan makan di luar. Makanannya mungkin kelihatan sehat, tapi, kan, nggak menutup kemungkinan cara bikinnya yang buat makanan itu jadi nggak sehat. Nanti besok-besok, biar Mine yang masak.” Mine yang berdiri tidak jauh dari Kaiden langsung ditatap datar. “Kamu? Bisa masak?” Pertanyaan Kaiden melukai harga diri seorang Jasmine Kaniour, ia pun mendengkus sebal sambil menaikkan lengan bajunya. “Waaah, ngeraguin skill masak aku, nih.” Maklum saja, dibandingkan dengan Kayara yang tinggal di Indonesia, Kaiden yang sempat pergi ke London sejak SMA, memang tidak terlalu dekat dengan Mine. “Tidur sana, jangan bikin keributan. Aku sibuk.” Dengan perasaan dongkol, Mine pun berjalan menuju kamarnya sambil menggerutu. Ia masuk kamar dan langsung disambut nada dering dari ponselnya, ketika dibuka, ada nama Kayara sebagai penelpon. “Halo, Kak Yara,” sapa Mine lebih dulu. “Hai, Sweetheart, gimana rumah baru?” Mine terkekeh pelan, ia berjalan ke arah kasur lalu duduk di sofa kecil di ujung tempat tidurnya. “Aku suka rumahnya. Dapurnya bagus, ada taman di belakang rumah juga cocok buat olahraga.” Tawa renyah Yara terdengar dari seberang telepon. “Kaiden niat banget bikin rumah masa depannya. Fyi, nih, rumah itu sudah lama selesai, mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Katanya Kaiden pulang dari London punya niat nikah, aku kira ngarang, eh taunya beneran dinikahin sama kamu.” “Rumah ini bukan beli dari orang?” “Bukan, lah, Kaiden yang bikin. Dia bahkan minta desain ke salah satu temannya yang kuliah arsitektur. Kaiden itu niat banget sama yang namanya pernikahan, kamu beruntung dia nyiapin semuanya lebih awal.” Mine sempat terdiam. “Tapi, Kak, kok, Mine ngerasa dari semua plan yang dipunya Kak Kaiden, kayaknya Mine nggak seharusnya ada di sini, bener nggak, sih?” Tanpa Mine tahu, Kayara tersenyum dari seberang telepon. "Walaupun sekarang kamu ngerasanya kayak gitu, tapi beneran, deh, Mama sama Papa nggak pernah mau sembarangan buat ngasih Kaiden ke cewek lain. Kamu itu pilihan tepat, Mine. Cuma Kaiden yang kelamaan di London, jadi matanya masih terbiasa lihat bule.” Kali ini, Mine ikut tertawa. “Oiya, Kak, besok aku ada daftar ulang di kampus, selesai dari sana, nanti aku ke CandleLight, sekalian mau lihat Star juga.” “Ya sudah, kalo gitu, sekarang kamu tidur. Sampai besok, Mine.” Mine mematikan sambungan teleponnya, ia mulai berdiri lalu berjalan pelan menuju kamar mandi yang memang tersedia di kamar. Tanpa sepengetahuannya, ternyata ada pendengar lain yang menyimak pembicaraan teleponnya. Siapa lagi jika bukan Kaiden. Pria tinggi itu masih berada di depan kamar Mine, setelah mendengar gadis itu menutup telepon, ia pun mengangguk. “Pasti Yara,” gumamnya, lalu setelahnya berjalan menuju kamarnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN