12. Shock Fact

1102 Kata
Mine menemani Kaiden makan siang walau sekarang sudah jam 2. Kaiden merengek minta masakkan Bucatini Carbonara pada gadis itu beberapa saat yang lalu. Saat ini, Kaiden tengah lahap menyantap makan siangnya, sementara Mine hanya duduk sambil memperhatikan Kaiden makan. "Kamu enggak makan?" tanya Kaiden. Mine menggeleng, ia mengambil selembar tisu lalu menyapukan sedikit krim di pinggir bibir Kaiden, "Aku kenyang." "Makan apa tadi?" "Masakan Mama, kan tadi aku kumpul di ruangan Papa, kita sekalian makan siang." Kaiden mengangguk, "enggak mau makan lagi? Ini enak banget lho, serius." Mine tersenyum hingga matanya juga ikut melengkung, "aku cuma buat 1 porsi." Kaiden sontak berhenti menggulung Carbonaranya, ia menatap Mine lekat setelahnya, "beneran cuma bikin seporsi? Kenapa enggak 2?" "Karena aku kenyang." Mine masih menyahut dengan alasan yang sama. Kaiden pun mengangkat garpunya lalu mengarahkannya pada Mine, "buka mulutnya, ayo." Mine menggeleng sambil menghindari garpu Kaiden, "enggak usah, aku kenyang, Kak, Kakak aja yang makan." Kaiden menatap datar Mine, ia masih diam menatap lurus ke arah Mine tanpa ekspresi, ternyata hal itu berhasil membuat Mine ciut, gadis itupun membuka mulutnya perlahan, senyum pun terbit dari wajah Kaiden. Kaiden menyuapkan Carbonaranya pada Mine sambil mengusap krim di ujung bibir gadis itu dengan jarinya. Mine bahkan membeku saat melihat Kaiden menjilat jarinya yang tadi sempat ia sapukan pada bibirnya. Sontak saja, wajah Mine memerah karena salah tingkah, napasnya memburu dan membuatnya terlihat gelisah. Kaiden yang tidak paham situasi hanya terus menyuruh Mine makan, tanpa ia tahu jika jantung gadis itu sudah berdetak dengan kencangnya. Selesai makan, Mine izin ke ruangan Xabara pada Kaiden. Kaiden mengangguk dan berjalan ke ruangan Kayara. Di dalam ruangan Xabara, Mine langsung duduk di sofa lalu menutup wajahnya dengan bantal, Star yang bermain di sofa pun menatap Kakak sepupunya itu bingung, "Kak Mine sakit ya?" Mendengar kata sakit, Xabara dengan cepat mengalihkan perhatiannya dari pc, "siapa yang sakit Star, Kak Mine?" Star menoleh, "iya Mi, Kak Mine nangis kayaknya." Mine dengan kilat menurunkan bantal dari wajahnya, "Kak Mine enggak sakit kok." Xabara datang mendekat lalu menatap keponakannya itu tidak kalah bingung dari Star, "enggak sakit, tapi kok muka kamu merah, Mine." Tangan Xabara pun mendarat pada dahi gadis manis itu. "Enggak panas padahal." "Iih Tanteee, Mine tuh enggak sakit, cuma salting." Xabara tersenyum, "aaahh Tante lupa, kamu kan sekarang udah punya cowok." Semakin dilancarkan aksi ciye-ciye oleh Xabara, semakin wajah Mine memerah, hingga gadis itu menyerah dan memilih keluar dari ruangan Tantenya tersebut. *** Kaiden berniat pulang ke rumah, ia berjalan keluar dari ruangan Yara dan ingin menghampiri Mine di ruangan Xabara, namun niatnya terhenti saat melihat 2 temannya tengah duduk berbincang asik di salah satu meja CandleLight. Mine yang sudah turun lebih dulu, tidak menyangka akan bertemu dengan teman Kaiden di CandleLight, ia pun berjalan saat Tama menyapa dan memanggilnya agar mendekat. "Kok kamu ada di sini?" tanya Tama. Mine tersenyum kecil menatap ke arah Tama dan Disty secara bergantian, "restoran ini punya Mama Mine, Kak." Sahutan dari Mine rupanya berhasil membuat Disty menatapnya dengan bingung, "bukannya ini restorannya orang tua Kaiden?" "Iya juga, Kak, Mama aku sama Mamanya Kak Kaiden sodara." Tama berseru sambil menepuk tangannya, "ohyaa, berarti Kaiden itu ponakannya dr. Arkan dong?" "Ponakan apaa, mertua kali," batin Mine yang tentu saja tidak didengar oleh keduanya. "Eeh tapi tunggu, benerkan, kamu sama Kaiden beneran sepupu?" tanya Tama lagi. Mine kini menatap Tama bingung, "kok Kakak nanya? Kakak kan sahabatnya, masa keluarganya aja enggak tau." Disty terlihat tidak suka dengan cara Mine menjawab, ia pun menyahut, "kita emang sahabatnya lama, tapi selama di London, kita enggak pernah bahas keluarga terlalu dalam, bahkan sampai sekarang kita pada enggak tau orang tua masing-masing, kecuali Kaiden yang akrab sama orang tua gue, btw, lo ngapain masih disini?" Giliran Tama yang menatap Disty tidak percaya, "jadi lo udah kenalin Kaiden ke orang tua lo, kok bisa? Gue kapan? Kan lo udah pernah ke rumah gue." Disty hanya menatap Tama malas, "enggak usah lebay deh, Tam." Ditengah pembicaraan ketiganya, Kayara datang dari arah belakang Mine lalu menggaet lengan gadis itu, "Kakak kira kamu sudah pulang, Kaiden nunggu kamu di ruangan Kakak." Mendengar nama Kaiden disebut, telinga Disty seakan melebar, "Kaiden ada di sini?" Kayara menoleh ke arah Disty sekilas, lalu beralih ke Mine, "siapa?" tanyanya pada Mine. Mine menggidikkan bahunya pelan, "ceweknya Kak Kaiden."  Setelah menyahut, Mine langsung berjalan menuju tangga lalu naik ke atas, ia berjalan ke arah ruangan Xabara, sementara Kayara masih terdiam menatap Disty yang juga melihatnya dengan pandangan bingung. "Kita temennya Kaiden, kita satu college di London, sekarang juga udah jadi teman satu kerjaan." Tama menjawab pertanyaan Kayara yang tidak terucap. "Oooh, temennya Kai," Kayara mengulurkan tangannya pada Tama, "gue Kayara, kembarannya Kaiden." Disty dan Tama sontak terkejut, "hah, Kaiden punya kembaran?" tanya Tama yang juga mewakili rasa terkejut Disty. "Waah, sadis juga pertemanan kalian, satu kampus kok pada enggak tau kalo Kaiden punya kembaran?" Pernyataan Kayara membuat Disty tidak nyaman, ia pun tiba-tiba berdiri lalu menatap tidak suka pada Kayara, "Tam, gue balik, gue kenyang." Tama yang masih terkejut tidak menanggapi kepergian Disty, ia masih menatap ke arah Kayara sambil mencari kemiripan antara gadis di depannya saat ini dengan sahabatnya, Kaiden. "Apa jangan-jangan, Kaiden juga enggak bilang sama kalian, kalo dia udah nikah?" Tama semakin terkejut, ibarat datap doorprize, ia dihujani box hadiah berkali-kali, "hah, siapa? Kaiden? Di…dia nikah?" "Hhmm, Kaiden udah nikah, kurang lebih seminggu yang lalu, gue enggak lihat kalian di pesta resepsi, emang enggak diundang atau enggak dikasih tau?" Tama merasa pening seketika, "Kaiden nikah? Sama siapa?" "Sama cewek yang tadi sempat ngomong sama kalian, udah kenal pasti, si Mine." "Mine? Jasmine anaknya dr. Arkan?" Kayara mengangguk, sementara Tama masih terduduk mencerna fakta yang baru ia tahu tentang sahabatnya yang luar biasa tertutup tersebut.  ***  Kayara berjalan cepat menuju ruangannya, ia bersyukur masih bisa menemukan Kaiden dan Mine yang terlihat berbincang namun berhenti seketika saat ia masuk. Kayara menyipitkan matanya menatap pasangan itu lalu berhenti dengan pelototan ke arah Kaiden. "Lo enggak cerita sama temen lo, kalo lo udah nikah Kai?" Pertanyaan Kayara membuat mata Kaiden terbuka lebar, "hah?" "Gue tanya, Kaiden, lo enggak cerita sama temen lo, kalo lo udah nikah?" Kaiden reflek menggeleng, setelah itu pun ia dihujani tamparan oleh Kayara, "Gila! Jadi bener, cewek di depan tadi itu cewek lo!" Kaiden terus menangkis pukulan Kayara, bahkan Mine juga ikut menarik Kayara agar bisa berhenti memukul Kaiden dan berbicara dengan sedikit lebih tenang. "Gue bisa jelasin, Yar, tapi jangan dipukul, sakit!" Kaiden terlihat sebal dengan saudari 15 menitnya tersebut. "Bodo banget, lo sakit kan digituin? Terus gimana rasanya jadi Mine yang udah jadi istri lo, tapi nyatanya lo punya cewek selain dia!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN