10. Perlahan

1275 Kata
"Kak, ini aku tidur di mana? Di sini, atau di sini?" Mine bertanya sambil menunjuk sofa dan kasur. "Di sini, kan muat." Kaiden menyahut walaupun tidak menoleh, ia sibuk membaca buku. Mine mendengus pelan, ia duduk di sebelah Kaiden dan berusaha membujuk pria itu agar diperbolehkan untuk tidur di kasur. "Kenapa enggak di kasur aja sih, kan aku masih sakit, ntar kalo jatuh lagi gimana?" Kaiden menatap Mine heran, ia menutup buku dan merasakan hawa hangat menjalar  saat gadis itu bersandar pada tubuhnya. "Di kasur ya, kan kasurnya Kak Kaiden luas, Mine janji enggak bakal nakal, serius deh." Kaiden berdiri kemudian berjalan menuju kasur, ia masih terlihat membeku sambil meletakkan buku di nakas sebelah kirinya. Mine tidak menyerah, ia mengikuti Kaiden dan naik ke kasur serta duduk menghadap pria yang saat ini masih diam tersebut. "Kalo enggak, aku nginap nih, di kamar Kak Yara, gimana, boleh enggak?" bujuk Mine yang sarat akan ancaman sebenarnya. Kaiden sontak terkekeh, "nginap aja sana, kalo bisa buka pintunya, aku bakal bolehin kamu tidur dimana pun." Mine mendatarkan ekspresi wajahnya, ia menoleh ke arah pintu dan hapal jika pintu itu sudah dikunci oleh Kaiden, ia pun mendengus sebal, "jahat banget, jadi aku beneran nih, tidur di sofa malam ini?" Kaiden mengangguk, semakin membuat Mine meringis tidak karuan. Melihat Mine mendumel, Kaiden kembali tertawa, ia menarik gadis itu pelan saat ia hendak turun dari kasur, "boleh tidur di kasur tapi ada syaratnya." Mine membuka lebar mata dan juga senyumnya, "apa?" Kaiden menatap luka di siku dan lutut Mine lekat, ia pun mengusapnya pelan, "kalo udah sembuh, masakin aku tiap sarapan, gimana?" Senyum Mine semakin lebar, ia bergegas merebahkan tubuhnya ke kasur dan menaikkan selimut hingga d**a, "deal, setuju, sepakat." Tidak terhitung berapa kali Kaiden dibuat tertawa oleh tingkah Mine malam ini, bahkan sampai hendak tidur seperti sekarang pun, mereka masih sempat bercanda. Beberapa saat setelah mereka tidak lagi saling bicara. Dengkuran halus mulai terdengar dari Kaiden, rupanya pria itu sudah jauh terlelap ke alam mimpi, sementara Mine masih belum memejamkan matanya. Ia menatap langit-langit kamar dengan datar sambil sesekali menoleh ke arah Kaiden yang tertidur pulas. Mine memberanikan diri untuk mengubah posisi tidur telentangnya menjadi menyamping agar bisa menghadap Kaiden. Ia menatap wajah pria di sampingnya ini dengan lekat, bahkan ia tidak menyadari jika kini tangannya mulai terangkat untuk menyentuh bagian wajah dari Kaiden. Mine menopang kepalanya dengan tangan, ia masih menatap wajah Kaiden sambil sesekali membelainya pelan. Jujur saja, saat ini ia merasa bahagia. Mine memperhatikan struktur wajah Kaiden yang menurutnya nyaris sempurna, dengan alis yang tebal, hidung yang mancung, mata yang tajam hingga bibir merahnya yang tipis. Sekali lagi, Mine tersenyum. Saat Mine larut dalam bahagianya yang semu, tiba-tiba terlintas dipikirannya ucapan Kaiden yang telah lalu. "Sudah ada cewek yang aku sayang, dan itu bukan kamu." Mine merasakan hatinya nyeri seketika, ia segera menjauhkan tangannya dari wajah Kaiden lalu berbaring dengan kasar. Mine sadar apa yang membuatnya sakit, ia paham jika sekarang api cemburu mulai menggerogoti dirinya. Mine menatap Kaiden yang masih terlihat pulas tertidur, "kita saat ini, entah untuk sekedar belajar atau sedang berjuang, aku akan mempertahankan apa yang seharusnya aku punya, bagaimanapun caranya." *** Pagi cerah di hari senin, Kaiden terbangun lebih dulu dari Mine yang susah bangun pagi jika ia tidak harus sholat. Merasakan sekujur tubuhnya sakit, Mine bangun tanpa sadar meringis dengan cukup nyaring, membuat Kaiden menoleh cepat. "Kamu enggak Papa, badannya masih sakit ya?" Mine menggeleng pelan, "udah mendingan, cuma sedikit Kaku aja." Kaiden menatap Mine lekat ke arah matanya, membuat Mine risih seketika. "Malam tadi kamu enggak langsung tidur?" Mine langsung gelagapan, "enggak, aku nyenyak kok tidur," sahutnya sambil berusaha turun dari kasur untuk menghindari Kaiden. Namum sepertinya, Kaiden tidak mudah menyerah, "kamu emang biasa susah tidur?" Mine tidak menyahut, ia memilih masuk kamar mandi lalu membersihkan diri. Menunggu hingga 15 menit, Mine lagi-lagi harus terkejut ketika Kaiden berdiri di depan pintu. "Kamu insomnia?" Pertanyaan Kaiden kembali membuat mata Mine memutar jengah, "enggak, aku enggak insom, cuma tidur agak lambat aja kemaren malam." Kaiden masih mengikuti Mine yang berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Kini mereka berdua duduk di sofa depan kasur dengan posisi Kaiden menghadap Mine, "kenapa? Susah tidur?" "Aku biasa tidur sendiri, tiba-tiba harus tidur sama cowok dan ini pertama kalinya, apa Kakak pikir wajar kalo aku bisa tidur nyenyak?" Kaiden tampak berpikir, "kamu tidur bukan sama sembarang cowok, tapi sama Suami kamu, apa salahnya?" "Ya salah lah." "Salahnya dimana?" Kaiden tidak mau kalah. "Salahnya karena Kakak enggak pernah lihat aku sebagai Istri, kita udah nikah, enggak ada penjajakan, enggak ada perasaan, enggak ada rasa saling perhatian satu sama lain, apa bedanya kita sama orang asing?" Pernyataan Mine menghantam Kaiden tepat di wajahnya, bahkan sudut hatinya terasa tahu tidak nyaman seketika. Ia terdiam dan menatap Mine yang terlihat biasa saja setelah mengatakan hal tersebut. "Lagian aku emang enggak biasa tidur kalo keadaannya terlalu hening, aku punya kondisi yang cukup berbeda dengan orang kebanyakan." Pernyataan Mine membuat Kaiden menyerngitkan dahinya, "maksudnya?" "Maksudnya, waktu aku mau tidur, aku bakal enggak bisa tidur kalo keadaannya terasa sunyi, aku baru bisa mulai ngantuk kalo denger sesuatu, makanya tiap malam aku biasa setel lagu setengah jam, seiring lagu terputar, aku baru bisa tidur nyenyak." Mine berdiri setelah selesai mengeringkan rambutnya, ia terkekeh melihat Kaiden yang masih melihatnya dengan sorot tidak menyangka, "Kak Yara bilang, sarapan udah siap, kita harus ke bawah."   *** Saffa menatap kesal ke arah anak sulungnya, ia sempat merajuk kecil karena Kaiden menolak untuk menginap lebih lama di rumah. Hal ini tentu saja membuat Alvin kena imbasnya, seperti sekarang. "Kamu ini gimana sih, Mas, masa enggak tau kalo Kaiden enggak ambil cuti waktu pasca nikah, harusnya kamu ngadu dong sama aku." Alvin hanya bisa menghela napasnya pelan, "ya gimana, aku juga baru tau dia tetap masuk." "Alasan kamu, kamu itu Direktur, Mas, enggak main-main, Direktur, sama kayak Arkan yang juga salah satu dewan direksi Rumah Sakit, aku yakin Rose juga enggak tau anaknya ditinggal kerja setelah nikah, boro-boro Kaiden ngajak bulan madu." Baterai Saffa seolah-olah masih penuh untuk mengomel. Sementara yang sudah diperjalanan, Kaiden mengemudikan mobilnya menuju rumah. Mine yang duduk di samping mulai merasa ponselnya bergetar, ia pun bergegas mengangkat panggilan yang ternyata dari Papanya tersebut. "Halo, Mine disini, enggak ada yang perlu dibantu." Sahutan khas Mine pada Arkan membuat Kaiden tersenyum sambil menoleh, bahkan gadis itu tidak menyadari tolehan Kaiden. "Ngapain, kok Mine disuruh ke sana?" "Mama kebetulan mau antar makan siang Papa, jadi kita bisa ketemuan, kamu enggak kangen Papa sama Mama emangnya?" Mine sontak tertawa pelan, "Papa mau sampai kapan sih manja banget sama Mama, sama Mine juga, masa makan siang harus dianterin terus, makanan kafetaria Rumah Sakit kan enggak kalah enak, Pa." "Tapi masih kalah enaknya masakan kamu sama Mama kamu, udah deh, siang ini Papa tunggu di Rumah Sakit, dateng ya, Sayang." "Hhm, ntar Mine bikinin salad buah juga buat Papa." Dari seberang telpon, suara tawa Arkan menggema, "makasih Minenya Papa, tau banget Papa lagi pengen makan salad, ya udah, Papa tutup ya, Papa masih ada kerjaan." Mine mengakhiri panggilan Arkan sambil tersenyum. Selesai menelpon, Mine dikagetkan Kaiden yang tiba-tiba menyodorkan sebuah kunci ke arahnya. "Apa ini?" Kaiden menoleh dengan senyumnya, "kamu bisa pakai mobil kan, ya udah, itu buat kamu, biar gampang ke mana-mana." Mine senang luar biasa, ia berseru kemudian memeluk Kaiden erat. Kaiden bahkan tidak kalah terkejutnya, untung saja mereka sudah sampai di depan rumah sejak tadi. "Makasih ya Kak Kaiden, tau banget Mine lagi perlu mobil." "Aku ngasih enggak gratis tapi." Mine melepas pelukannya, ia kini menatap malas ke arah Kaiden, "kali ini apalagi?" "Gampang, jamin makan malam aku, gimana?" Mine tentu saja kembali menerbitkan senyum lebarnya, "siap, komandan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN