Danny menatap mobil Sandra yang berlalu dari parkiran supermarket dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ternyata tidak semudah itu untuk membuat Sandra melihat dirinya dengan tatapan biasa.
Getaran dari ponsel yang berada di kantong belakang celananya mengalihkan perhatian Danny yang sejak tadi menatap ke arah berlalunya mobil Sandra. Ternyata panggilan masuk dari adik bungsunya, Diana.
“Halo, kenapa, Di?” tanya Danny tanpa basa-basi.
“Mas, kenalkan aku sama teman pengacara kamu dong.”
“Hah?! Sudah gila kamu mau apa? Kamu sudah punya suami dan anak sudah mau dua, ada-ada saja kamu!” Danny memotong ucapan Diana dengan agak keras karena terlalu terkejut dengan ucapan sang adik.
“Jangan ngegas gitu dong, Mas. Aku belum selesai ngomong! Jadi, temanku ada yang mau gugat cerai suaminya dan butuh dampingan kuasa hukum. Suaminya agak ngotot nggak mau cerai, tapi temanku udah kukuh pengen cerai karena suaminya suka main tangan sama dia dan anaknya.”
Danny menahan napas saat mendengar penjelasan dari adiknya. Danny selalu membenci para manusia pengecut yang beraninya menindas orang-orang yang mereka anggap lebih lemah. Menjijikkan.
“Besok langsung suruh ke tempat kerja Mas aja gimana?” kata Danny setelah terdiam beberapa saat.
“Tapi rumahnya jauh, Mas. Dia di Tangerang. Kasian kalau harus jauh-jauh ke Sudirman. Anaknya masih bayi, dia juga nggak punya ART.”
“Nggak bisa dititipin dulu emangnya?”
“Mas, anaknya baru tiga bulan. Coba kamu bayangin kalau anakku yang aku titipin ke orang waktu umurnya segitu. Emang kamu tega?”
Danny memberengut. Jelas ia tidak akan tega. “Ya udah, nanti Mas kontak teman Mas dulu. Nanti malam atau besok Mas kabarin.”
“Siap, Masku sayang. Makasih ya.”
“Sama-sama.”
“Eh, ini Mas Danny lagi di mana?” tanya Diana.
“Di parkiran supermarket,” jawab Danny sambil membuka pintu mobil dan kemudian masuk ke dalamnya.
“Loh, ngapain?”
“Jadi tukang parkir,” dengkus Danny, “ya, belanjalah, Di!”
Diana tertawa mendengar suara kesal Danny. “Oh, ya udah. Aku tutup, ya, Mas?”
“Sebentar, Diana. Mas mau tanya sesuatu sama kamu,” ucap Danny dengan cepat sebelum sambungan terputus.
“Tanya apa, Mas?”
Sebelum kembali bersuara, Danny menarik napas dan mengembuskannya perlahan. “Suami kamu, memperlakukan kamu dan ponakan Mas dengan baik, kan?”
Danny menunggu dengan tidak sabar saat tidak kunjung mendapat jawaban dari Diana. Ia sampai harus beberapa kali memandangi layar ponselnya, memastikan panggilan itu masih tersambung.
Lalu setelah beberapa saat terdengar suara Diana yang menjawab dengan tenang, “Mas nggak usah khawatir. Dinar sayang banget sama aku dan Dirga.”
Danny menghela napas lega. “Syukurlah kalau gitu. Mas nggak akan segan memberi perhitungan sama suami kamu kalau dia menyakiti kamu dan ponakan Mas barang sedikit aja.”
Lag-lagi terdengar tawa Diana yang menggema sebelum kemudian menjawab, “Mas Danny bisa lihat sendiri kalau Dinar sangat menyayangi aku dan Dirga. Mas nggak perlu terus-terusan khawatir kalau aku akan kenapa-kenapa, oke? Kewajiban buat menjaga aku, itu sekarang udah jadi tugas suamiku. Mas Danny udah nggak punya kewajiban itu lagi. Di atas sana, Bapak juga pasti sudah melihat semuanya, kalau Mas Danny selama ini udah merawat dan menjaga aku dan Mbak Dahayu dengan sangat baik. Sekarang, Mas cukup melihat aku dan Mbak Dahayu dari jauh. Dan percayalah, Mas, aku akan baik-baik aja. Adik-adik kamu ini udah dewasa dan bisa menapak dengan kaki kami sendiri, Mas.”
Pernyataan panjang lebar yang tidak Danny sangka-sangka akan keluar dari mulut Diana membuat laki-laki itu tercekat. Adiknya yang satu itu benar-benar sudah berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa setelah beberapa tahun menikah. Selama ini, Danny mengira kalau adik bungsunya itu akan terus manja dan bergantung padanya. Namun, jelas tidak benar karena Danny-lah yang masih suka tidak percaya kalau adik-adiknya sudah bertumbuh dewasa, bahkan lebih dewasa daripada dirinya.
“Mas sayang sekali sama kamu dan Dahayu,” lirih Danny.
“Aku juga, Mas.”
Jawaban itu membuat Danny tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan senyum lebar di wajah ayu Diana. “Mas merawat kamu dan Dahayu bukan hanya karena tuntutan dari Bapak, Di. Mas sendiri yang mau melakukan itu. Kalian berdua berharga buat Mas.”
“Iya, iya. Udah, ah. Jadi pengen mewek nih,” kata Diana dengan suara yang agak pecah. Wanita itu kemudian mengalihkan pembicaraan. “Mas, daripada protektif berlebihan sama adik Mas yang udah bersuami ini mending Mas Danny cari calon istri dengan benar. Jangan memaksakan diri buat dapetin perempuan yang di bioskop itu. Udah ada yang punya, kan?”
Danny yang dapat mendengar nada ejekan dari suara adiknya langsung mendengkus sebal. “Kamu jangan bilang apa-apa sama Ibu.”
“Tentang apa, Mas?”
“Kalau Sandra udah punya pacar.”
“Memangnya Ibu kenal?”
Danny mendesah sebelum menjawab, “Kenal banget, Di. Ibu ngebet banget pengen jadiin Sandra menantu.”
“Tapi Ibu nggak tahu kalau Mbak Sandra itu udah punya pacar?”
Danny belum sempat menjawab apa-apa saat ia kembali mendengar suara Diana yang setengah mengomel. “Cari yang lain aja, Mas! Jangan mempersulit diri sendiri. Mas udah tuwir begitu, ngabisin waktu banget kalau masih harus ngejar-ngejar orang yang udah punya pacar. Capek sendiri nanti.”
“Nggak usah bawa-bawa umur, Di,” geram Danny.
“Sensi banget,” kata Diana sambil terkekeh, “pokoknya kalau mustahil buat dikejar mending cari yang lain aja, Mas. Kalau perlu jangan menghindar dari Ibu lagi kalau mau dikenalkan sama anak temannya Ibu.””
“Iya,” balas Danny. Tidak ingin repot mendebat. “Kalau gitu Mas tutup, ya?”
“Sip, Mas. Jangan lupa kabarin, ya, kalau ada pengacara yang bersedia bantu temanku. I love you, Mas.”
“Love you too, Sweety.”
Danny masih bergeming di posisinya setelah sambungan terputus sejak beberapa menit yang lalu. Ia sedang memikirkan perkataan Diana yang dengan tegas memintanya untuk mundur.
Padahal berjuang saja belum, masa sudah harus mundur? Danny menggerutu. Jelas tidak akan! Pertemuan dengan Sandra di rumah wanita itu, bagi Danny adalah awal perjalanan yang mungkin sudah digariskan Tuhan untuknya. Danny tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia tidak akan membiarkan Sandra lepas dengan mudah.
Danny langsung mendengkus sebal kala teringat kata-kata Sandra tentang ucapannya yang tidak akan pernah mengkhianati pasangan. Danny paham. Ia jelas tidak ingin menjadi perusak dalam hubungan orang, tetapi rasanya sudah kepalang tanggung untuk mundur. Ketertarikannya terhadap Sandra membesar seiring berjalannya waktu. Ditambah dengan pertemuan-pertemuan mereka secara tidak sengaja semakin menguatkan keyakinannya untuk membuat Sandra mau melihat dirinya.
***
Dengan langkah lebar, Danny rumah bergaya mediterania−yang didominasi cat berwarna putih− melewati halaman yang cukup lebar yang dirtumbuhi berbagai tanaman bunga. Rumah itu adalah rumah peninggalan Bapak. Rumah yang cukup besar untuk dihuni oleh Ibu seorang diri dan hanya ditemani oleh seorang asisten rumah tangga.
“Assalamualaikum,” seru Danny setelah mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara anak kunci yang dimasukkan ke dalam lubang, lima detik selanjutnya pintu terbuka.
“Waalaikumsalam,” sapa seorang wanita paruh baya yang mengenakan celemek yang terkena tepung di beberapa bagian. “Mas Danny toh ternyata. Rapi banget habis dari mana?”
Wanita itu menggiring Danny masuk ke dalam rumah setelah kembali menutup dan mengunci pintu.
“Habis ketemu klien, Bi.”
“Hari Sabtu juga kerja, Mas?”
“Seharusnya memang libur, Bi, tapi tadi mendadak dan agak penting,” jelas Danny singkat, “Ibu ke mana?” tanya Danny kemudian. Menatap wanita yang ia panggi ‘Bi’ itu dengan agak menyerong karena perbedaan tinggi badan yang amat sangat mencolok. Wanita itu adalah Bi Surti, asisten rumah tangga di rumah itu yang sudah mengabdi sejak Danny masih bayi.
“Ibu di dapur, lagi bikin kue buat arisan besok, Mas.”
Danny manggut-maggut. “Ya sudah, kalau begitu saya langsung naik, ya, Bi. Nanti saya turun setelah mandi.”
“Nggak mau minum dulu, Mas? Bibi buatin sebentar.”
“Terima kasih, Bi. Nanti saja,” jawab Danny sambil tersenyum sopam lalu berpamitan untuk menuju kamar dan membersihkan diri sebelum menemui ibunya.
Sesampainya di kamar, Danny tidak langung bergegas mandi. Ia mengeluarkan laptop dan berkas perkara dari tas kerja. Danny adalah seorang pengacara. Pekerjaannya fokus mengurusi masalah sengketa bisnis suatu perusahaan atau instansi. Kasus yang sedang ia tangani saat ini adalah terkait tentang sengketa perdata karena transaksi keuangan yang ilegal pada sebuah perusahan start up yang masih sangat baru.
Danny membuka-buka berkas perkara yang cukup tebal itu dengan begitu fokus. Sesekali membuat catatan pada sticky note berwarna-warni yang kemudian ia tempelkan pada bagian yang telah ia tandai dengan coretan-coretan.
“Ibu minta kamu pulang bukan untuk kerja, Dan,” tegur Mutia yang melongokkan kepala di celah pintu yang terbuka. Saking fokusnya pada pekerjaan, Danny sampai tidak mendengar suara ketukan pintu.
“Cuma ngecek sedikit, Bu,” jawab Danny ngeles. Ia mendongak sebentar untuk melihat ibunya dan kembali menatap berkas di tangannya.
Mutia geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak sulungnya itu lalu masuk ke dalam dan duduk di ujung ranjang. “Kamu ini, udah sepuluh tahunan sejak mulai bekerja, ambisiusnya nggak hilang-hilang. Pekerjaanmu nggak akan tiba-tiba lari walaupun ditinggal buat istirahat selama libur.”
“Iya, Bu,” gumam Danny. Matanya masih terpaku pada berkas yang penuh coretan itu.
“Jangan cuma iya-iya. Laptop sama berkasnya ditutup dulu, terus mandi,” omel Mutia, “nurut sama Ibu!” lanjutnya saat Danny masih juga tak bergeming.
Danny akhirnya menurut meski agak keberatan. Ia menutup berkas perkara dan mematikan laptop dalam diam.
“Langsung mandi, Dan. Nggak usah lama-lama. Sudah waktunya makan malam ini.”
“Iya, Bu.”
Mutia keluar dari kamar Danny beberapa saat kemudian. Sementara itu, Danny bergegas masuk ke kamar mandi.
***
Danny turun dari kamarnya yang berada di lantai dua, tepat pukul delapan. Ia langsung menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur. Di sana sudah ada Mutia dan Bi Surti yang sedang asyik mengobrol.
Melihat keberadaan Danny, Mutia langsung menggiring anaknya untuk duduk.
“Saya bisa ambil sendiri, Bu.” Danny menahan tangan Mutia yang tengah membalik piring yang sudah disiapkan di meja makan. Berniat mengambilkan nasi untuk laki-laki itu.
“Ibu tahu. Ibu cuma kangen ambilin nasi buat kamu,” ucap Mutia yang membuat Danny terdiam. Merasa bersalah karena jarang pulang selama beberapa bulan terakhir.
Danny membiarkan ibunya mengambilkan nasi dan lauk pauk yang tersedia di meja dan memasukkan ke dalam piring hingga penuh. “Terima kasih, Bu.”
Kemudian wanita itu mengambil nasi untuk dirinya sendiri lalu mempersilakan Bi Surti mengambil bagiannya. Karena hanya tinggal bersama Bi Surti, Mutia memang selalu makan bersama asisten rumah tangganya itu. Meski saat anak-anak Mutia pulang ke rumah pun, Bi Surti selalu ikut makan bersama. Bisa dibilang, Bi Surti sudah dianggap menajdi keluarga.
Mereka makan dalam diam.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan makan malam. Sementara Bi Surti membereskan meja makan, Mutia mengajak Danny untuk pindah ke ruang keluarga untuk mendiskusikan tentang sesuatu.
Mutia langsung to the point membahas inti pembicaraan yang sudah sejak tadi ingin segera ia bicarakan dengan Danny ketika anak laki-lakinya menjejakkan kaki di rumah.
“Dan, jadi gimana?” desak Mutia. “Kenalan sama anak teman Ibu yang jadi dosen hukum di UI, mau, ya? Kalian kan satu bidang, Ibu yakin bisa mudah menyesuaikan dan nyambung.”
Danny mengurut pelipis sambil meringis. Pusing karena ibunya sudah mulai menjodoh-jodohkan dirinya lagi dengan orang asing. “Bu, saya yang akan menikah dan saya yang akan menjalani. Kalau didesak begini saya nggak mau, Bu.”
“Kenalan, Danny. Cuma kenalan. Ibu nggak minta kamu langsung nikah juga,” sembur Mutia dengan galak, “tapi kalau langsung cocok malah makin bagus,” lanjutnya berharap.
“Ibu …,” tegur Danny. Danny paling tidak suka setiap kali ibunya mulai berpikir kejauhan.
“Dan, Ibu cuma pengen cepat-cepat punya mantu perempuan.” Mutia menatap anak laki-lakinya dengan tatapan yang membuat Danny tidak bisa berpaling begitu saja. “Sandra nggak mau, ya, sama kamu?”
Pertanyaan Mutia itu menohok Danny langsung tepat di d**a. “Kenapa tiba-tiba bahas Sandra?”
“Ya, habis kamu nggak ada kelihatan usaha. Padahal waktu di rumah Jeng Farida itu kalian kelihatan akrab.”
“Akrab bukan berarti cocok, Bu.”
“Terus kamu maunya yang bagaimana, sih, Dan? Sandra itu−”
“Kenapa Ibu ngotot banget kayaknya mau saya sama Sandra?” sela Danny.
Mutia merengut karena dipelototi anak sulungnya. “Ibu sudah kenal lama sama Jeng Farida dan Sandra sejak lama. Sandra itu anaknya baik banget, Dan. Jeng Farida selalu cerita kalau Sandra itu susah diatur, banyak membantah, tapi yang Ibu lihat Sandra itu sayang sama ibunya. Sandra juga sopan anaknya. Nyambung kalau diajak ngobrol macam-macam. Pintar masak juga.” Mutia mendesah. “Baru bayangin Sandra jadi menantu aja Ibu udah senang. Kalau Sandra bisa jadi menantu, Ibu akan sangat bahagia.”
Danny geleng-geleng kepala. Ibunya benar-benar terobsesi untuk membuat Sandra menjadi menantu. “Perasaan seseorang, kan, nggak bisa dipaksakan, Bu.”
“Ibu tahu. Rasanya nggak ikhlas kalau Sandra jadi menantu orang lain.” Mutia menatap anak laki-laki satu-satunya itu dengan penuh harap. “Beneran nggak mau coba sama Sandra? Kamu yang suka Sandra atau Sandra yang nggak suka sama kamu, Dan?”
“Nggak gitu, Bu. Siapa tahu Sandra sudah punya pasangan, nggak enak kalau tiba-tiba mendekati dia gitu aja, Bu.”
Danny merada tidak enak membohogni ibunya, namun hanya itu yang bisa ia katakana sebelum semua jelas dan Sandra benar-benar menolak keberadaannya.
“Selama ini nggak kelihatan dengan siapa-siapa. Jeng Farida juga bilang begitu. Setiap disuruh bawa pacar ke rumah, Sandra nggak pernah mau.”
“Ah, sudahlah, kalau nggak mau sama Sandra ya nggak papa. Tapi Ibu minta buat nggak menutup hati. Ibu yang paling tahu kalau anak Ibu ini banyak yang suka. Jadi, kalau ada perempuan yang mau dekat, jangan langsung ditolak.”
“Ibu−”
“Semakin kamu berumur, kamu akan tahu kalau pasangan hidup itu penting. Banyak hal yang bisa dibagi dengan pasangan. Ibu nggak bisa tenang kalau kamu belum menikah, Dan.”
“Saya bukannya ngga mau menikah, Bu. Nanti kalau sudah waktunya, saya pasti menikah.”
“Kalau sudah waktunya itu kapan, dan? Nunggu sampai Ibu pergi?”
“Astaghfirullah, Ibu! Kenapa bicara begitu?” Danny menahan diri untuk tidak menaikkan nada suara.
“Kamu tahu kalau Ibu semakin menua, tapi kamu alasannya begitu terus. Ini bukan karena kamu ditinggal nikah sama perempuan itu, kan, Dan?”
Danny mengelus punggung tangan Ibu yang sudah nampak keriput dengan lembut. “Bukan, Bu. Saya sudah nggak papa.”
“Benar?”
“Iya, Bu. Sudah lewat lima tahun, Bu. Saya sudah lama melepaskan dia.”
Mutia menepuk punggung anak laki-lakinya itu dengan penuh kasih. “Maaf kalau Ibu cerewet dan mendesak kamu untuk cepat-cepat menikah.”
“Nggak papa, Bu.” Danny menengok ke sebelah kanan, melihat jam dinding yang kini menunjukkan pukul 9.30 malam. “Saya antar ke kamar, ya, Bu. Sudah waktunya tidur.”
“Ibu masih mau nonton sinetron.”
“Sudah malam, Bu.”
“Baru jam setengah sepuluh, Dan,” protes Mutia. Tidak rela melewatkan satu episode sinetron yang diikutinya.
Danny bersedekap dan menatap ibunya tajam. “Ibu lupa kata dokter waktu check up kemarin?”
Disinggung tentang hasil check up membuat Mutia hanya menggerutu.
“Ayo, Bu! Pindah ke kamar,” ucap Danny lagi yang tak bisa diganggu gugat.