“Nanti temani Mama arisan mau nggak?”
Farida muncul dari balik pintu kamar Sandra, masih berbalut daster bunga-bunga berwarna kuning yang sudah kotor terkena noda tepung di beberapa bagian.
Arisan lagi! Rasanya baru kemarin Sandra hampir kena serangan jantung karena kedatangan tamu yang tidak ia sangka-sangka saat acara arisan di rumahnya. Meski sudah lewat satu bulan lebih sejak hari itu, Sandra malas jika harus melewati peristiwa horor itu lagi. Gara-gara arisan, Sandra makin sering bertemu dengan Danny. Benar-benar tak terhindarkan dan itu membuat Sandra jengah.
“Di mana, Mam?” tanya Sandra dengan suara serak. Ia masih nyaman bergelung di balik selimut di atas tempat tidur.
“Di rumah Bu Mutia,” jawab Farida.
Bahu Sandra langsung menegang di balik selimut.
Sial! Walaupun mamanya terlihat santai-santai saja rupanya masih belum mau menyerah untuk membuat dirinya semakin dekat dengan Danny.
Sejujurnya Sandra masih tidak punya muka untuk bertemu dengan Danny–yang kemungkinan akan ada di rumah Bu Mutia–setelah pernyataan ‘saya takut jatuh cinta sama kamu’ yang Sandra ucapkan tanpa berpikir.
Ah, sebenarnya tidak begitu.
Sandra sudah berpikir banyak tentang hal, tetapi luput memikirkan konsekuensi setelahnya. Tidak ada gunanya menyesal. Kalimat itu sudah terucap dan Sandra tahu betul bahwa Danny masih akan merong-rongnya sampai laki-laki itu mendapat jawaban yang memuaskan.
Danny mungkin biasa-biasa saja. Atau bisa saja dia tidak biasa-biasa saja, tetapi tertutupi dengan ekspresi datarnya. Rumit sekali.
Sandra menghempaskan selimut dengan menjejakkan kaki lalu terduduk dengan bahu terkulai. Rencana untuk tidur hingga siang hanya tinggal wacana. “Aku antar aja, ya, tapi nanti aku tinggal. Kalau udah mau selesai aku jemput lagi. Gimana?”
“Ah, kalau kayak gitu Mama mending naik taksi aja,” tolak sang ibu. Wanita itu bertolak pinggang sambil menatap anak semata wayangnya dengan kesal.
“Mama, kan, udah tahu kalau aku nggak terlalu suka ikut arisan. Rasanya canggung berhadapan sama teman-teman Mama. Nanti aku pasti nyapa Bu Mutia dulu, kok, sebelum pergi. Gimana, Ma? Gitu aja nggak papa, ya, Ma, please,” mohon Sandra dengan menyatukan kedua telapak tangan di d**a.
Sandra sebenarnya malas melakukan tawar menawar dengan ibunya yang mana sangat keras kepala. Kekeras kepalaan yang juga menurun pada Sandra.
“Nggak. Mama maunya kamu ikut. Kamu nggak perlu gabung sama ibu-ibu yang lain. Danny di rumah, kok. Nanti biar kamu ditemani Danny. Ngobrol sama dia. Mama lihat kemarin kamu bisa akrab gitu waktu dia ke rumah. Tadi Jeng Mutia udah bilang kalau Danny lagi ada di rumah dan nggak mau ke mana-mana hari ini.”
Itu memang udah direncanain sama kalian! Skenario yang super nggak kreatif! geram Sandra dalam hati. Sengaja tidak Sandra utarakan karena akan sia-sia saja berdebat dengan sang ibu. Menghabiskan tenaga! Mana belum sarapan pula.
“Ma, kemarin aku cuma menuruti permintaan Mama sama Bu Mutia buat nemenin Danny ngobrol. Nggak lebih dari itu.”
"Kalau gitu sekarang kamu turuti permintaan Mama lagi, bisa kan? Masa kamu tega nolak permintaan Mama?”
Sandra menelungkupkan wajah di antara kakinya lalu menggeram gemas. Ia baru saja salah bicara dan membuat ibunya semakin berulah. Bagaimana dia bisa menolak kalau ibunya memasang ekspresi yang penuh pengharapan? Sangat sulit menolak karena Sandra tidak tegaan.
Setelah meredakan sedikit kekesalan di dalam hatinya terhadap Farida, Sandra menegakkan punggung dan dengan pasrah menatap sang ibu. “Aku temani Mama, tapi ini yang terakhir.” Helaan napas keluar dari bibir Sandra sebelum kemudian melanjutkan, “Ini yang terakhir Mama minta aku buat pedekate dengan Danny atau laki-laki mana pun. Pokoknya nggak ada lagi lain kali."
Mata Farida mengerjap berkali-kali sembari mencerna maksud ucapan anak gadis satu-satunya itu. “Ya sudah kalau kamu maunya begitu,” ucapnya kemudian.
“Serius, Ma?” Sandra menatap Farida dengan sanksi.
“Iya.”
Sandra melongo. Tidak terlalu mempercayai ucapan ibunya karena wanita yang berumur setengah abad itu suka pura-pura lupa dengan ucapannya sendiri.
“Udah sana mandi. Mama mau lanjut masak,” ujar Farida.
“Oke.”
Dengan langkah terseok, Sandra masuk ke kamar mandi. Ia berharap kalau mamanya benar-benar akan menepati kata-katanya tadi.
***
“Saya kira kamu nggak akan mau ketemu saya lagi setelah kemarin kamu membuat pernyataan kalau kamu takut jatuh cinta sama saya.” Itu adalah satu kalimat panjang yang Danny ucapkan saat mendapati keberadaan Sandra di beranda rumahnya.
Mengharapkan sapaan yang wajar dan hangat dari seorang Danny adalah sebuah kesia-siaan belaka. Sandra seperti orang bodoh saja karena sempat mengatakan akan mudah jatuh cinta pada laki-laki menyebalkan seperti Danny.
Kenyataannya, keberadaan Danny memang cukup berefek pada Sandra. Akhir-akhir ini, ia tidak bisa tidur nyenyak karena kehadiran Danny yang begitu mendadak dalam hidupnya. Satu malam yang penuh gairah itu tidak hanya sekali dua kali kembali meruak dalam ingatan, berdesakan dengan memori kebersamaannya dengan Laksa. Membuat Sandra cukup frustrasi karena kelimpungan menyingkirkan Danny sebentar saja dari kepalanya.
“Saya nggak akan menarik kata-kata saya kemarin,” ucap Sandra, “tapi sepertinya saya mulai sadar kalau mungkin ada sedikit ucapan saya yang salah.”
“Oh ya?" Kerutan muncul di kening Danny. "Bagian mana yang salah? Coba kasih tahu saya,” tantang Danny.
“Saya mungkin bisa jatuh cinta sama kamu, Danny,” Sandra membalas tatapan Danny yang tajam dengan berani, “tapi saya rasa nggak semudah itu soalnya makin ke sini saya tahu kalau kamu ternyata nyebelin. Asal kamu tahu, saya nggak suka sama orang yang nyebelin.”
Pupil mata Danny sedikit melebar, agak terkejut saat Sandra secara terang-terangan menyebut dirinya menyebalkan. “Kamu satu-satunya orang yang bilang kalau saya nyebelin.”
Sandra tersenyum kering. “Oh wow, saya harusnya tersanjung, ya?”
Danny mengabaikan senyum remeh Sandra. “Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan, Sandra. Kalau kamu mau mengenal saya lebih jauh, kamu akan mengucapkan hal yang berbeda.”
“Sayangnya saya nggak mau kenalan lebih jauh sama kamu. Lagian menurut saya first impression itu penting. Penilaian saya, kamu itu nyebelin. Dan itu udah cukup untuk membuat keputusan kalau saya nggak mau kenal kamu lebih jauh.”
“Kalau first impression kamu tentang saya seperti yang barusan kamu bilang, kamu nggak akan ngajak saya tidur bareng. Apalagi kamu masih perawan waktu itu.”
Dasar laki-laki tua pendendam! Hobi sekali membawa-bawa masa lalu, geram Sandra dalam hati.
“Saya mabuk waktu itu jadi nggak sepenuhnya sadar,” kilah Sandra.
“Kamu masih sober banget dan saya masih ingat dengan jelas.” Danny kewalahan menahan tawa. Ia cukup menikmati saat melihat Sandra kelabakan untuk membuat penyangkalan. Setelah tawanya reda, Danny kembali berkata, “Sandra... Sandra... kamu lucu banget, sih. Gemes banget saya sama kamu.”
“Saya nggak gemesin,” sanggah Sandra sambil mengeratkan gigi.
Sebenarnya jantung Sandra saat ini sedang kebat-kebit karena tawa Danny yang memunculkan lesung pipi. Manis sekali. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang lebih sering menampilkan wajah lempeng dan datar itu bisa berubah 180 derajat menjadi sosok yang manis? Sandra merutuk dalam hati.
“Buat saya kamu lucu dan gemesin,” ucap Danny lagi. Senyumnya terbit dan menampilkan lesung pipi itu lagi.
“Nggak. Please, deh, kamu bisa nggak sih berhenti senyum-senyum,” pinta Sandra setengah memelas.
“Kenapa saya nggak boleh senyum?” tanya Danny heran.
“Muka kamu aneh kalau senyum begitu,” ujar Sandra berbohong. Bisa habis harga dirinya kalau ia jujur dan mengatakan bahwa Danny terlalu manis hingga membuat Sandra ingin menciumnya.
“Masa, sih? Padahal banyak yang bilang kalau saya manis waktu senyum.”
Sandra terperangah. “Kamu percaya?”
Danny mengendikkan bahu, masih dengan senyum terpasang di wajah. “Kenapa tidak?”
“Oh, God.” Sandra mengerang frustrasi. Kesal dengan tingkah laki-laki itu dan bingung dengan perubahan sikap yang terlalu kentara itu.
Mungkin memang ada baiknya Danny tetap menunjukkan sisi yang lempeng dan dingin, bukannya malah mengumbar senyum. Karena demi Tuhan, Sandra tidak tahu kalau melihat Danny tersenyum–atau lebih parahnya lagi saat melihat Danny tertawa–langsung membuat jantungnya berdebar menyakitkan. Benar-benar tidak baik untuk kesehatan.
“Saya tahu kamu bohong waktu bilang muka saya aneh," kata Danny, "ekspresi di wajah kamu terbaca jelas.”
Sandra membuang muka karena tidak ingin Danny melihat wajahnya yang panas karena malu. “Nggak usah sok tahu.”
“Biar saya tebak apa yang ada di otak kamu sekarang.”
“Danny, nggak usah aneh-aneh bisa nggak, sih?”
Danny mengabaikan Sandra dan tetap berkata, “Kamu nggak suka saya senyum karena seperti yang orang-orang bilang, kamu juga menganggap senyum saya itu manis. Saking manisnya, kamu sampai nggak tahan pengen cium saya.”
Sekali lagi Sandra terperangah hingga bibirnya terbuka. Berhadapan dengan Danny yang overdosis kepercayaan diri benar-benar membuat Sandra jengah. Ia tidak bisa mengelak karena ucapan Danny sepenuhnya benar dan tepat sasaran.
Sandra kira Danny akan menertawakannya karena ia hanya diam, tetapi Danny justru mengalihkan pembicaraan. “Boleh saya pinjam hape kamu sebentar?”
“Buat apa?”
“Sebentar saja, Sandra.”
Sandra mengangsurkan ponselnya kepada Danny dengan enggan. Dengan tatapan penuh kecurigaan, ia menatap Danny yang sibuk mengetikkan sesuatu di sana.
Setelah beberapa saat Danny mengecek ponselnya sendiri lalu mengembalikan ponsel Sandra seraya berkata, “Saya sudah masukin nomor hape saya ke hape kamu.”
Sandra langsung mengecek ponsel dan mendelik kesal saat mendapati satu kontak bernama “Mas Danny” di ponselnya.
“Kamu bisa hubungi saya langsung kalau kamu kangen lihat senyum manis saya,” ucap Danny sambil terkekeh.
Ingin rasanya Sandra melemparkan ponsel ke muka Danny. Laki-laki itu ternyata tidak hanya menyebalkan, tetapi juga sangat gila dan sinting.
***
Akhirnya setelah percakapan–atau mungkin lebih cocok disebut perdebatan–tidak bermutu selama dua jam terakhir, Sandra bisa terbebas dari Danny.
Saat ini Sandra dan sang ibu sedang berada di mobil, dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Oh iya, Mama lupa bilang sama kamu.”
“Apa, Ma?”
“Tadi kamu bilang, kan, kalau kamu maunya ini yang terakhir Mama jodoh-jodohin kamu,” ucap Farida.
“Iya. Mama jangan coba-coba tarik perkataan Mama. Tadi itu udah deal.”
“Mama nggak akan tarik omongan Mama, kok. Tapi yang tadi pagi itu masih ada lanjutannya. Mama kelupaan sedikit.”
Dari balik kemudi, Sandra menatap ibunya dengan was-was. Perasaannya tidak terlalu enak menunggu kelanjutan kalimat dari mulut Farida.
“Minggu depan bawa pacar kamu ke rumah. Mama tahu kamu nggak mau dikenalin ke laki-laki pilihan Mama karena sekarang kamu udah punya pacar. Anak mama yang paling cantik ini terbukti masih laku. Iya, kan?”
Farida tersenyum ke arah Sandra. Keantusiasan dalam suaranya membuat Sandra speechless.
Sebelumnya Sandra tidak pernah kepikiran kalau kemungkinan di masa lalu ia terlahir sebagai penjahat, tapi kini ia percaya dan di kehidupannya yang sekarang ia sedang dihukum hingga dipertemukan dengan orang-orang yang membuat dirinya mau tidak mau belajar untuk tabah.
“Aku cuma perlu ke rumah sama pacarku, kan, Ma?” ucap Sandra dengan malas.
“Iya, kalau bisa sekalian sama orang tuanya.”
“Kok gitu? Emang Mama yakin mau langsung setuju tanpa kenalan dulu? Aku juga belum mau nikah dalam waktu dekat.”
“Itu artinya kamu harus membawa calon yang seperti Danny. Pasti Mama akan langsung kasih restu.”
“Nggak bisa gitu dong, Ma.” Sandra menoleh dengan cepat. “Lho, ya suka-suka Mama dong. Mama memang pengen punya mantu potensial seperti Danny.”
Sandra menggeram kesal. “Jelas-jelas sifat pacarnya yang sekarang berbanding terbalik dengan sifat Danny. Laksa adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Tidak seperti Danny yang lempeng, dingin–sekarang tidak lagi–dan menyebalkan. Laksa tidak suka mendebatkan hal-hal tidak penting dan lebih suka mengalah, sedangkan Danny sangat cerewet dan keras kepala. Secara fisik pun juga berbeda, Danny yang keturunan dari sang kakek yang asli Jawa–Sandra tahu ini dari cerita ibunya–memiliki kulit yang cokelat, iris mata yang hitam pekat dan badan dengan postur tubuh cukup tinggi berisi. Sedangkan Laksa lebih ‘bule’, dengan iris mata berwarna cokelat, kulitnya putih bersih, badannya menjulang seperti tiang dan agak kurus.
Sandra menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pikiran yang malah sibuk membanding-bandingkan antara Danny dan Laksa.
“Mama bahkan sudah bisa membayangkan wajah cucu Mama kalau kamu nikah sama Danny,” lanjut Farida.
Mulut Sandra kembali menganga. Ibunya benar-benar sesuatu. Pintar sekali membuat Sandra tak berkutik dengan kata-katanya. Ia hanya berharap agar tidak cepat gila.