BAB 10. What Are We Now?

2099 Kata
Laksa Syarief Pacaran, yuk! Biar kayak remaja lagi. Pacarannya malam minggu Sandra Javinkha *Sandra sent a sticker* Your place or mine? Laksa Syarief Tempat lo aja Masih berantakan banget nih apartemen gue Is it okay? Sandra Javinkha Oke banget. Ntar makan malam di apart gue aja. Gue udah belanja kemaren Mau nonton dulu nggak? Laksa Syarief Boleh. Ada film bagus apa? Sandra Javinkha Belum cek hehe Yang penting nggak horor, kan? Laksa Syarief No horror and romance things Sandra JavinkhaNoted, Sir! Sandra tersenyum-senyum sendiri saat berbalas pesan dengan Laksa padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Mungkin memang selalu begitu saat orang-orang sedang merindu. Menunggu balasan pesan dari Laksa, Sandra membuka aplikasi Tix ID untuk memesan tiket. Sesuai pesanan Laksa yang menghindari film dengan genre romansa dan horor, Sandra memilih film Joker yang sedang sangat ramai diperbincangkan. Laksa Syarief Can't wait to see you Sandra Javinkha Me too. Miss you so much *Sandra sent a sticker* Sandra tertawa kecil saat mendapat balasan sebuah stiker pentol sedang melemparkan hati berwarna merah. Menggemaskan sekali. Sandra langsung menyimpan stiker itu. Wanita itu lalu balas mengirim stiker pentol yang bokongnya bergoyang-goyang imut diikuti tawa yang menggema di kamar apartemennya. Setelah memandangi layar ponsel selama beberapa saat hingga tawanya terhenti, kemudian benda mati itu ia lemparkan ke atas ranjang dengan sembarangan. Ia bergegas melepas kaos dan celana training-nya lalu masuk ke kamar mandi dengan hanya mengenakan celana dalam dan bra. Tiga puluh menit adalah waktu yang lebih dari cukup untuk memanjakan diri. Sandra merasa segar menatap tubuh telanjangnya yang menurut dirinya sangat proporsional dan seksi. Ya, Sandra selalu percaya diri untuk menyebut dirinya sendiri seksi. “Astaga, gue selalu takjub melihat badan gue sendiri. Seksi banget,” ucap Sandra di depan kaca. Mengagumi diri sendiri saat melihat pantulan tubuhnya adalah hobi nomor wahid wanita itu. Sebut saja Sandra narsis. Sandra tidak akan menampik itu. Bagi Sandra, memuji diri sendiri adalah bagian dari self-love. “Gue aja bangga sama diri gue sendiri apalagi nyokap gue. Anaknya badass banget. Pantes aja Mama selalu nyodorin cowok-cowok yang hawt abis, pasti biar mereka nggak minder kalau jalan sama gue,” gumamnya sambil melingkarkan handuk untuk membungkus badan saat dering ponsel terdengar dari kamarnya. Sandra menyambar ponsel yang sedang ia isi dayanya yang berada di atas nakas dan mengangkat panggilan yang masuk dari Farida. “Halo, Mam. Kenapa?” “Assalamualaikum, Ma. Apa kabar? Mama sehat? Harusnya itu yang kamu tanyakan dulu ke Mama,” omel Farida. “Assalamualaikum, Ma. Apa kabar? Mama sehat?” beo Sandra. Hampir balas mengomel, tetapi kata-katanya tertahan di ujung lidah. “Alhamdulillah, Mama sehat, Nak. Kamu sehat, kan?” “Sehat, Ma. Kenapa Mama telepon?” “Memangnya telepon anak sendiri nggak boleh?” Farida langsung memprotes. “Boleh, dong, Mamaku tersayang yang udah melahirkan anak perempuan paling cantik dan seksi se-Jakarta ini,” jawab Sandra dengan kepala terangkat, “Mama nggak biasanya nelpon cuma buat basa-basi. Pasti ada maunya. To the point aja, deh, Mam. Aku buru-buru mau keluar, nih.” “Mau kencan sama siapa?” tanya Farida dengan antusiasme yang sangat berlebihan. Sandra tanpa sadar memutar bola matanya. “Keluar nggak mesti buat kencan kali, Mam.” “Ini malam minggu. Nggak mungkin kamu keluar buat kerja.” “Aku mau main. Udah hampir telat ini,” balas Sandra sambil mengeratkan handuk di d**a agar tidak melorot. “Sama laki-laki, kan?” tebak Farida. Ada nada berharap di sana. Sandra mendengkus. Kalau bukan sedang bicara dengan ibunya, sudah sejak tadi ia lempar ponsel ke kolong ranjang. “Mam, kalau ada anak gadisnya yang mau keluar itu harusnya dilarang atau dikasih wejangan gitu. Ini malah berharap aku jalan sama cowok. Emangnya Mama nggak takut kalau aku diapa-apain atau dijahatin sama cowok?” “Mama lebih takut kalau kamu jadi perawan tua!” sembur Farida. Tapi anakmu ini udah nggak perawan, Mam, jawab Sandra dalam hati. “Pokoknya Mama nggak mau tahu, secepatnya kamu harus bawa calon mantu buat Mama ke rumah. Kalau bisa minggu depan ajak pacar kamu pulang," lanjut Farida masih dengan omelan. Sandra menjatuhkan badan dan rebah di atas ranjang, masih dengan handuk yang melekat di tubuhnya. “Minggu depan aku nggak bisa pulang.” “Sandra, kamu jangan menghindar terus. Udah dua minggu ini kamu nggak pulang.” Farida terdiam sejenak sebelum kembali berkata, "Kamu pasti nggak mau pulang karena waktu itu Mama minta kamu bawa pacar kalau pulang lagi ke rumah, iya, kan?" “Minggu depan itu aku ada acara sama orang kantor, Mam. Mau CFD di Senayan.” “Kamu paling pintar cari alasan, ya.” “Serius, Mam. Sekalian cari jodoh. Kali aja ada yang nyangkut.” Sandra tidak berbohong tentang CFD. Minggu depan memang kantornya mengadakan acara donor darah yang bekerja sama dengan PMI sekalian penggalangan dana untuk para korban bencana alam. Untuk bagian cari jodohnya, Sandra hanya asal bicara. Namun, tidak menutup kemungkinan juga, ia akan benar-benar bertemu seseorang yang potensial untuk dibawa ke rumah dan dikenalkan kepada ibunya yang sudah sangat cerewet minta mantu itu. Sandra melengos kesal karena pemikiran itu muncul. Padahal sudah sempat hadir satu laki-laki potensial yang mengajaknya berhubungan serius, tetapi malah ia tolak dan ia usir jauh-jauh. Potensial di sini maksudnya adalah tipe laki-laki ganteng dan gagah yang cinta keluarga dan juga memiliki uang yang mengalir sampai jauh seperti mata air di gunung, alias berlimpah ruah karena karir yang cukup menjanjikan. Siapa lagi kalau bukan Danny? Laki-laki itu ganteng. Badannya cukup oke, kalau dilihat dari luar. Dalamnya juga oke, kalau masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Danny juga sangat cinta keluarga. Buktinya dia sangat manut dan mau mengantar sang ibu ke sana kemari, hingga mau menemani adik perempuan dan keponakannya nonton film Disney di bioskop. Karir Danny juga cemerlang. Danny adalah seorang pengacara senior di salah satu firma hukum ternama di Jakarta yang kantornya berada di daerah Sudirman. Sandra baru mengetahuinya saat arisan di rumah laki-laki itu beberapa minggu lalu. Mungkin keahlian laki-laki itu dalam mendebat kalimat-kalimatnya adalah sebagian kecil dari pengalaman laki-laki itu di meja hijau. “Sandra, kamu dengar Mama ngomong nggak, sih?” Sandra berjengit kaget saat suara teriakan dari ponsel menusuk gendang telinganya, mengaburkan bayangan tentang Danny. Sandra mengumpat kecil, lagi-lagi Danny menguasai pikirannya dengan mudah. “Sorry, Mam. Aku beneran buru-buru, nih. Aku matiin, ya. Bye, Mam.” Sandra langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dan bangkit dari posisi telentangnya. Membenahi posisi handuk di d**a lalu bergegas untuk mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan untuk kencan dengan Laksa. *** Setelah kencan di bioskop, Sandra dan Laksa langsung pulang ke apartemen Sandra. Sandra yang mengusulkan untuk dinner di apartemen karena dia sedang ingin memasak dan kebetulan Laksa juga sedang ingin makan steak buatan Sandra. Keduanya kini duduk berhadapan terpisahkan meja yang di atasnya terdapat dua piring berisi beef steak didampingi dua gelas ramping dengan batang panjang yang berisi anggur putih. Jangan membayangkan ada lilin dan bunga di tengah meja yang dilapisi taplak. Mereka hanya makan seadanya dengan mengenakan baju tidur couple untuk dresscode–benar-benar tidak elit sama sekali. “Laksa, let's talk,” ucap Sandra setelah menyesap anggur putih dari gelasnya. Laksa menatap Sandra dengan bingung. “Bukannya dari tadi kita ngobrol?” “Let's talk about us," jawab Sandra memperjelas maksud. “Kita kenapa?” Sandra menarik napas sebelum bertanya, “Lo mau kita gini-gini aja?” Laksa mengernyit tak mengerti, tetapi tak menghentikan gerakan tangannya yang sibuk memotong daging steak dari piring yang berada di depannya. “Maksudnya?” “Gue tiba-tiba kepikiran kalau gue pengen nikah,” ujar Sandra jujur. Matanya mencoba untuk membaca ekspresi Laksa, namun ia tidak menemukan apa-apa. "Maksud gue ... nggak sekarang. Dua atau tiga tahun ke depan mungkin.” Laksa berhenti menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya dan memandang Sandra dengan kebingungan. “Gue ... bingung karena lo tiba-tiba bahas ini.” “Sorry, gue cuma tiba-tiba kepikiran,” ucap Sandra dengan sedikit ragu, "kalau lo, pernah mikir ke sana atau nggak? Sandra tahu dia egois sekali. Namun, ia tidak mau mundur lagi. Kepalanya sudah mau meledak karena seperti diteror ingatan tentang pertemuan terakhir dengan Danny. Lalu permintaan Farida–lebih tepatnya desakan–untuk segera membawa calon ke rumah kalau tidak mau terus-terusan diobral di depan teman arisan ibunya. Ditambah lagi dengan terngiangnya wejangan dari Rena, yaitu untuk segera melepaskan siapa pun itu yang sedang dekat dengan Sandra dan tidak punya visi dan misi yang sama. Dan di kesempatan ini, Sandra ingin memperjelas visi dan misinya dengan Laksa. “Gue nggak bermaksud bikin lo bingung. Tiap minggu nyokap nanya kapan gue bakal kenalin calon gue ke dia. Gue nggak bisa jawab apa-apa sebelum lo memperjelas hubungan kita, mau serius atau nggak,” sambung Sandra ketika Laksa hanya terdiam. Laki-laki itu memandang wajah Sandra dengan tatapan yang berbeda dan tidak sehangat biasanya. Ada hening sejenak sebelum Sandra kembali berucap dengan hati-hati, “Are we on the same page?” Laksa meletakkan pisau dan garpu yang sedari tadi masih digenggamnya, lalu menjauhkan piring berisi beef steak yang masih tersisa setengah itu ke tengah meja. Nafsu makannya menguap tak bersisa. Laki-laki itu menegakkan punggung lalu menyilangkan kedua tangan di atas d**a dan berkata, “Untuk sekarang, gue belum bisa kasih jawaban pasti. Nikah sama lo ... jujur gue belum pernah mikir sampai ke situ. Hidup gue masih jauh dari stabil. Masih jauh buat gue mikir pernikahan, San. Lo ngerti, kan?” Sandra terpaku. Tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban itu dari bibir Laksa. “Terus ... hubungan kita ini mau dibawa ke mana, Sa?” Hubungan mereka mau dibawa ke mana? Mau tetap jalan di tempat atau mau melangkah ke arah yang lebih serius? Itu yang sedang ditanyakan Sandra. Dan Laksa langsung tahu apa jawaban yang ada di benaknya. “Lo mau putus dari gue. Itu mau lo?” tembak Laksa dengan ekspresi terluka. Jantung Sandra bergemuruh hebat karena ucapan Laksa yang tidak ia sangka-sangka. “Nggak gitu, Laksa.” “Terus apa? Maksud lo apa kalau bukan itu?" “Gue sayang sama lo dan gue seneng ngejalanin ini bareng lo," jujur Sandra. "Gue bilang gini karena gue pengen kita cari jalan keluar bareng-bareng.” Laksa berdecih tidak suka. “Lo mau cari jalan keluar bareng-bareng sama gue, tapi yang gue tahu jalan keluarnya cuma dua. Kita nikah atau kita bubar. Iya, kan?” “Emangnya kamu nggak mau nikah sama aku? Kamu nggak mau kita sama-sama terus?” Mata Laksa berkilat kaget saat Sandra tiba-tiba mengubah panggilan dari gue-lo menjadi aku-kamu. Wanita itu rupanya sangat serius dengan akan keinginannya untuk upgrade hubungan ke jenjang yang lebih serius. Rasanya sangat tidak adil bagi Laksa yang langsung ditodong dengan semua itu tanpa persiapan apa-apa. *** Sandra tidak berusaha menahan Laksa untuk tetap tinggal. Ia membiarkan laki-laki itu pergi dan meninggalkan Sandra sendirian di apartemen setelah percakapan mengenai hubungan-kita-mau-dibawa-ke-mana itu pada akhirnya hanya mengambang dan tidak berujung pada penyelesaian. Sandra termenung di sofa menghadap layar TV, memikirkan apa yang akan selanjutnya terjadi dalam hubungannya dengan Laksa. Sebelum dengan Laksa, Sandra pernah melewati masa-masa ini. Ia yang pertama menawarkan untuk melangkah ke arah yang lebih serius. Ia jugalah yang akan menjadi pihak yang terbuang. Ia dicampakkan begitu saja karena, sekali lagi, kebanyakan laki-laki hanya mendamba tubuhnya.Tidak ada yang benar-benar mau untuk mencoba membangun hubungan serius dengannya. Mendapati Laksa yang bereaksi di luar dugaan, Sandra tergugu. Walaupun Laksa tidak akan berbuat hal berengsek seperti laki-laki lain, Sandra tetap saja khawatir kalau Laksa akhirnya lelah juga. Laksa adalah sosok yang selalu tahu diri. Tidak pernah melanggar batas yang sudah Sandra tetapkan sejak mereka menjalin hubungan, bahwa wanita itu tidak ingin melibatkan seks di dalamnya. Dan sampai sejauh ini, Laksa menjaga itu. Laki-laki itu yang justru selalu tahu cara berhenti saat mereka berdua hampir keluar jalur. Sandra sangat menghargai Laksa dalam hal itu. Namun, lagi-lagi Sandra merasa kalau Laksa melakukan itu karena tidak benar-benar mau terikat dengannya. Sandra merebahkan tubuhnya di sofa. Saat ia memejamkan mata, suara Danny tiba-tiba terngiang di telinga Sandra, membuat wanita itu hampir gila. "Let me take the responsibility." Itu adalah perkataan Danny saat mereka bertemu di supermarket beberapa waktu yang lalu. Sandra gusar karena ucapan Danny itu terasa begitu tulus dan meyakinkan. Dengan frustrasi, Sandra menggelengkan kepala. Ia terus merapal dalam hati kalau ia tidak akan goyah hanya karena ucapan Danny saat di supermarket berminggu-minggu yang lalu itu, ketika dirinya dengan jujur mengatakan kalau ia tidak akan pernah bisa melupakan kejadian malam itu. Malam yang sudah lewat bertahun-tahun lalu itu. Malam semakin larut. Isi kepala Sandra pun semakin semrawut. Pada akhirnya, wanita itu kelelahan dan terlelap di sofa dengan membawa serta bayangan Danny ke dalam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN