Sandra benci saat ia harus melewati hari selama menstruasi. Mendekati menstruasi atau saat masa PMS, ia seringkali harus merasakan mual-mual, punggung serasa rontok, pinggul dan perut nyeri, dan hal-hal tidak menyenangkan lain yang dirasakan tubuhnya. Memasuki hari pertama dan kedua menstruasi, ia harus berkali-kali mengganti pembalut karena banyaknya darah yang keluar. Badan lemas dan nafsu makan pun ikut turun. Sudah seperti makhluk pesakitan saja dan Sandra harus melewati itu hampir setiap bulan.
Sandra tidak ingat sejak kapan ia mulai mengalami dismenorea parah. Ia sudah berencana untuk periksa ke dokter sejak gejala-gejala yang ia alami terasa semakin gawat, tetapi belum sempat. Terlebih hari ini, badannya benar-benar minta untuk diistirahatkan setelah semalam sempat muntah-muntah hingga ia lemas. Pagi harinya, Sandra merasakan kram dan nyeri luar biasa di perut, punggung bagian bawah, dan pada paha bagian dalam. Benar-benar pagi yang kacau. Sudah separah itu, Sandra pun tetap memaksakan diri berangkat kerja.
“Pucet banget, San. Lagi sakit, ya?” tanya Kemal yang sudah lebih dulu datang. Laki-laki itu muncul dari arah pantri dengan membawa secangkir kopi di tangan.
“Biasa, Kem. Hari pertama mens,” jawab Sandra sambil mendudukkan diri di kursi kubikelnya.
Kemal duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Sandra. “Udah makan atau belum? Sumpah, muka lo pucet banget kayak mayat.”
“Minum s**u doang tadi. Gue nggak papa, kok, biasanya juga gini,” sahut Sandra sembari menyalakan komputer.
Setelah jawaban itu meluncur dari bibir Sandra, Kemal tidak bertanya apa-apa lagi. Pengalaman mengajarkan dirinya untuk tidak bersikap berlebihan kepada para wanita di divisinya saat mereka sedang datang bulan. Sensitifnya minta ampun. Jadi, demi kenyamanan dan keamanan bersama, Kemal memilih untuk diam.
Pertanyaan yang sama pun dilontarkan rekan-rekannya yang satu persatu datang, dan dibalas Sandra dengan jawaban yang sama.
Sandra masih bisa bekerja dengan anteng walaupun sesekali tangannya multitasking, memijat pinggul dan perut yang terasa kram dan nyeri.
Untung saja hari ini sedang tidak ada jadwal meeting dengan atasan. Kalau seandainya ada, bisa-bisa Sandra akan melampiaskan rasa sakitnya dengan mengamuk di depan si botak Setyo Irawan yang banyak maunya itu.
Selama bekerja, Sandra masih bisa ikut bercanda dengan Mala yang curhat colongan tentang gebetan barunya yang lebih muda dari gadis itu. Sandra bahkan ikut menceritakan tentang kisahnya saat masih SMA, memacari adik kelas yang popular dan memiliki banyak pengagum. Sandra bercerita kalau hampir setiap hari ia mendapat teror dan ancaman lucu dari para pengagum pacarnya itu melalui surat yang diletakkan di laci mejanya, tteapi sama sekali tidak ada aksi nyata dar mereka. Hingga ada yang terang-terangan melabrak ke kelas Sandra dan memintanya untuk putus. Memang ada-ada saja tingkah anak sekolah zaman dulu.
Puncaknya adalah saat Sandra akan keluar kantor untuk makan siang. Sandra tiba-tiba limbung dan untungnya langsung ditahan oleh Kemal yang berjalan bersisian dengannya.
Ia langsung dibawa ke klinik terdekat diantar oleh Dania dan Kemal.
“Balik aja, ya? Gue anter. Nanti biar Dania yang izinin ke HRD,” ucap Kemal seraya mendudukkan diri di kursi bundar di samping brangkar.
Sandra yang terbaring dengan selimut menutupi tubuhnya dari sebatas perut hingga kaki, matanya masih setengah tertutup. “Nggak usahlah. Bentar lagi juga baikan.”
“Kalau lo paksa buat kerja bukannya baikan malah makin parah.”
“Gue nggak papa, Kem. Seriusan.”
“Nggak usah bawel. Tadi pagi lo bilang nggak papa, tapi ternyata nggak. Lo bahkan hampir pingsan. Kesehatan lo lebih penting daripada kerjaan,” omel Kemal.
“Lebai banget lo.”
“Nggak lebai, Sandra. Sumpah, deh, mending lo nurut aja tanpa banyak komentar. Semakin lo sakit, semakin banyak orang yang susah. Jadi, biar enak buat semua pihak, lo istirahat biar nggak makin sakit.”
“Iya, deh, gue balik. Perut gue makin kram denger suara lo,” ucap Sandra akhirnya sambil membenahi posisi berbaringnya, mencari posisi yang nyaman.
“Nah, gitu dong, anak pintar,” kata Kemal sambil nyengir. “Tinggal tunggu Dania urus administrasi bentar. Terus lo balik sama gue.”
“Gue balik sendiri aja,” tolak Sandra. “Gue bawa mobil tadi.”
Kemal berdecak kesal. “Mobil tinggal dulu di kantor. Nggak bakal ilang.”
“Nggak gitu maksud gue. Gue naik taksi aja kalau gitu. Lo santai aja kenapa, sih.”
“Sandra, dengerin gue, ya. Lo lagi sakit jadi, lebih aman kalau sama gue.”
Sandra menggeleng tak habis pikir. “Kepala lo abis kepentok apa, sih? Aneh lo. Gue nggak mau ya ada affair sama temen sekantor.”
Kemal tertawa mengejek lalu menoyor kening Sandra dengan gemas. “Gue juga ogah ada affair sama lo, please. Gue cuma mau berperan jadi teman yang baik.”
“Jijik banget, Kem.”
Laki-laki itu terperangah. “Ini tanda sayang gue sebagai teman baik lo. Malah dikatain jijik.”
Sandra baru akan membalas ucapan Kemal ketika suara lain menginterupsi. “Aw, gue tinggal bentar kalian udah mesra banget sampai sayang-sayangan.”
“Mesra palalu bau!” teriak Kemal geli.
Dania tertawa puas. “Dih, gitu doang ngegas. Kalian berdua jangan kebanyakan denial. Mending jalani yang nyata di depan kalian ini.”
“Dan, lo bikin gue makin sakit, nih,” seru Sandra.
“Hahaha udah, nih, jadinya balik kantor atau pulang, San?”
“Pulang.”
“Diantar Kemal?”
“Nggak. Gue naik taksi.”
“Gue yang pesen taksi,” sambung Kemal. “Taksi langganan gue yang udah terjamin aman.”
“Gila, gila! Kemal selalu jadi sweet banget kalau udah menyangkut tentang Sandra. Kabar bahagia harus langsung disebarkan kepada rakyat,” ucap Dania stabil mengerling. Kemudian ia sibuk berkutat dengan ponsel, mengirimkan sesuatu ke grup kantor yang di dalamnya berisi geng julid yaitu, Sandra, Kemal, Dania, Aryo, Andini dan juga Mala.
“Gue kepret ya lu, lama-lama ngeselin,” kesal Kemal sambil melotot. “Nih, kalau misal lu yang sakit, udah langsung gue gendong ke rumah sakit. Minta ditunggu juga gue jabanin.”
“Sayangnya gue yang ogah.” Dania memeletkan lidah sambil tertawa-tawa hingga membuat Kemal semakin sebal dibuatnya.
Kemal mengangkat tangan ke atas tanda menyerah. “Terserah. Capek gue ngomong sama cewek.”
***
Sandra sedang rebahan di ranjang di kamar apartemennya. Sibuk dengan sebuah botol berisi air hangat yang ia tumpukan di atas perut saat terdengar suara denting notifikasi tanda pesan masuk ke ponsel. Satu helaan napas langsung meluncur dari bibir Sandra saat membaca isi pesan yang ternyata dikirim oleh Danny.
Mas Danny
Bisa ketemu sebentar?
Ya, Sandra tidak mengubah nama kontak Danny sejak laki-laki itu dengan lancangnya menyimpan nomornya sendiri di ponsel Sandra. Sandra pun membiarkannya seperti itu.
Sandra Javinkha
Ada perlu apa?
Mas Danny
Ada yang mau saya obrolin
Sandra Javinkha
Penting banget?
Mas Danny
Kalau nggak penting, saya nggak boleh ketemu kamu?
Sandra menggerutu kecil. Sikap Danny yang begitu pemaksa benar-benar menyebalkan. Herannya, Sandra pun terkadang sulit menolak karena tak tega.
Sandra
Saya lagi nggak bisa ke mana-mana
Mas Danny
Memangnya kamu lagi di mana?
Sandra Javinkha
Saya di apartemen
Mas Danny
Share lokasi
Saya ke sana sekarang
Sandra Javinkha
Besok aja, Dan. Saya capek
Mas Danny
Besok sekalian makan siang?
Sandra menghela napas. Danny benar-benar tidak mau melepasnya begitu saja. Laki-laki itu terlalu keras kepala dan Sandra paham sekali bahwa Danny akan terus mengejarnya hingga tidak lagi mendapat penolakan. Wanita itu gamang. Mengiakan ajakan Danny untuk makan siang sama seperti memberi jalan kepada laki-laki itu untuk semakin masuk ke dalam kehidupannya. Sandra tidak menginginkan itu. Setidaknya untuk sekarang.
Walaupun selama beberapa minggu terakhir tidak hanya sekali Danny menguasai pikirannya, tetap saja Sandra masih belum bisa memberikan sedikit saja kesempatan kepada hatinya untuk memutuskan. Saat ini, Sandra masih bisa berpikir dengan cukup waras, dan Danny jelas tidak akan ia izinkan untuk masuk dengan mudah, karena masih ada satu hal yang belum ia selesaikan. Masalah kelanjutan hubungannya dengan Laksa yang masih belum jelas.
Pada akhirnya, Sandra membalas pesan Danny dengan mengirimkan lokasi untuk bertemu.
***
Empat puluh menit kemudian Sandra menemui Danny di sebuah kafe yang mengusung konsep rustic yang berada di samping gedung apartemen yang Sandra tinggali.
“Katanya kamu capek? Tadi itu bohong?” tanya Danny sambil mendudukkan diri di kursi di depan Sandra. Laki-laki itu baru saja datang dan sudah langsung menyemburkan pertanyaan yang membuat Sandra kesal.
“Ini terakhir kalinya saya mau terima ajakan kamu untuk ketemu seperti ini,” ucap Sandra, “Kamu mau ngomong apa?” lanjutnya tanpa basa-basi.
“Oh, itu ... sebenarnya saya cuma mau ngobrol aja sama kamu,” jawab Danny sambil mengendikkan bahu.
Sandra terperangah sesaat. “Kamu bilang kamu mau apa?”
“Ngobrol,” balas Danny enteng.
Sandra langsung mengumpat kecil. Kepalanya yang masih pening menjadi semakin terasa berat. Seharusnya ia sudah menebak ini. Mereka berdua tidak punya hal ‘penting’ yang perlu dibicarakan. Kenapa Sandra tidak terpikir sampai sana?
“Kamu baru saja ngumpat saya?” tegur Danny dengan kernyitan di kening.
“Kenapa? Nggak sopan? Please, Danny waktu saya bilang capek itu saya bukan cuma capek beneran tapi saya memang males dan nggak mau ketemu kamu. Masa kayak gini aja kamu nggak ngerti?! Stop it, Danny. Saya udah bilang kalau saya nggak bisa. Saya nggak mau berhubungan sama kamu, sebagai teman sekalipun. Are we clear now?” Sandra terengah setelah menyemburkan kekesalannya.
“Pelankan suara kamu, Sandra!” seru Danny dengan geram. Suara Sandra yang terlalu keras menarik perhatian beberapa pengunjung kafe itu. “Kenapa kamu jadi marah-marah sama saya?”
Sandra menatap Danny dengan pandangan yang lelah. “Please, Danny. Tolong pengertian sedikit. Saya nggak mau semuanya jadi rumit. Jadi, please, kamu nggak usah cari-cari waktu untuk ketemu saya. Saya nggak mau hubungan saya dengan pacar saya rusak karena kamu ngerecokin hidup saya terus.”
Danny berdecak tak terima. “Ngerecokin terus? Kapan, Sandra? Saya bahkan belum ngapa-ngapain. Kalau kamu goyah, itu berarti karena kamu sendiri yang nggak bisa menjaga perasaan kamu.”
“WHAT?!”
“Kenapa? Saya benar, kan?” tantang Danny. Tatapan dari mata tajamnya menghujam Sandra tanpa ampun.
Sandra bersedekap dan menyandarkan punggungnya di kursi. “Anggap aja saya emang goyah. Terus apa? Kamu mau semakin menghancurkan semuanya?”
“Sandra, saya udah bilang kalau saya bahkan belum ngapa-ngapain. Kamu yang bingung dan panik sendiri.”
Sandra menggeleng tak percaya saat Danny mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan. “Saya nggak mau kamu bikin kacau di hidup saya, Dan.”
“Calm down, Sandra. Saya nggak akan ganggu hubungan kamu sama pacar kamu, tapi biarkan saya deketin kamu dengan cara saya.”
“Sama aja, Dan. Saya lebih suka kalau kamu jauh-jauh dari saya.” Sandra sama sekali tidak bisa tenang. Apalagi dengan Danny yang selalu ngotot seperti sekarang ini. Bikin pusing. Sandra bahkan sampai susah payah memilikirkan cara yang paling tepat untuk mengabaikan laki-laki itu.
“Sayangnya saya nggak bisa,” timpal Danny bersikukuh, “saya telanjur tertarik sama kamu.”
Sandra mengembuskan napas dengan kasar. “Jauhin saya, Dan, sebelum ketertarikan kamu berubah menjadi rasa suka,” kata Sandra. Sebut saja ia terlalu percaya diri. Karena pada kenyataannya tingkah Danny sendirilah yang membuat Sandra bisa dengan lantang mengatakan itu.
Danny melipat lengannya di depan d**a sebelum menyahuti, “Kemungkinannya ada dua. Saya suka sama kamu atau saya ilfeel sama kamu.”
Mata Sandra membeliak lebar. “Tuh, kan! Dua-duanya nggak ada yang bagus.”
“Saya, sih, yakin kalau saya nggak akan ilfeel sama kamu,” ujar Danny percaya diri.
“Oh, God! Please help this desperate man!” teriak Sandra frustrasi. Kemudian dengan sedikit kasar ia menyeruput hot chocolate pesanannya, yang baru saja diantarkan pelayan, untuk sedikit meredakan kekesalan.
Danny menyeringai kecil lalu menikmati kopinya dengan tenang. Setelah beberapa sesap ia kembali berkata, “Kenapa, sih, kamu takut banget kalau saya suka kamu? Nggak ada ruginya buat kita berdua. Saya beruntung karena suka perempuan cantik seperti kamu. Dan kamu juga beruntung karena disukai laki-laki seperti saya.”
Sandra meloloskan tawanya yang cukup keras hingga orang-orang di sekitar mereka sekali lagi menoleh ke meja yang mereka temopati. “Kamu narsis banget, ya. Teman-teman kamu nggak ada yang jijik?”
“Saya nggak merasa narsis. Ini lebih pantas disebut self-love. Saya cukup percaya diri dengan apa yang saya punya.”
“Terserah.”
Keduanya kembali diam, menikmati keheningan yang menjalar nyata dengan sesekali menyesap minuman yang tersaji di depan mereka.
“Oke. Jadi, semua udah clear, ya? Kamu santai aja, saya nggak akan maksa kamu untuk ketemu saya setiap minggu,” ucap Danny.
“Whatever. Nggak ada gunanya debat sama kamu.”
Danny berdiri dari duduknya setelah menandaskan kopi. “Oke. Ayo, saya antar pulang.”
Sandra ikut berdiri. “Saya bisa pulang sendiri.”
“Saya tahu kamu bisa sendiri, tapi kamu lagi nggak sehat. Saya perhatikan dari tadi, muka kamu pucat dan kamu kelihatan lemas. Tolong, Sandra, jangan bikin saya jadi kayak orang jahat dengan membiarkan kamu pulang sendirian.”
“Fine,” jawab Sandra pasrah. Ucapan Danny benar-benar tidak bisa ia bantah.
***