BAB 12. Chaos

2366 Kata
"Hape lo ke mana, sih, San? Kenapa gue hubungin dari tadi nggak bisa?” tanya Laksa dengan geraman tertahan. Mata cokelatnya yang bening itu menyorot tajam. Seperti ada kemarahan yang sedang mencoba untuk ditahan. “Sorry, Sa. Hape gue mati. Batre abis,” jelas Sandra, “kok lo bisa di sini?” tanya Sandra kemudian dengan heran. “Gue nggak boleh dateng ke apartemen pacar gue sendiri?” Laksa kembali berbicara dengan sarkastis. “Bukan gitu. Gue kira lo masih dinas ke luar kota,” jawab Sandra. Ya, mereka sekarang sedang berada di depan unit apartemen Sandra. Laksa sudah berdiri di sana saat Sandra dan Danny keluar dari lift. Tadi, Danny benar-benar memaksa untuk mengantarkan Sandra hingga sampai di depan unit apartemen milik wanita itu. Sungguh tidak disangka-sangka di sana sudah ada Laksa yang saat ini terlihat begitu marah. “Kenapa? Lo berharap gue nggak pulang-pulang dari luar kota biar lo bisa jalan sama dia?” tuduh Laksa dengan penuh kecurigaan. Mereka berdua memang sudah tidak bertemu lebih dari dua minggu selain karena pertemuan mereka yang terakhir yang tidak berjalan cukup baik, juga karena Laksa yang sedang berada di luar kota, sehingga belum ada waktu yang pas untuk bertemu. Masih dengan tatapannya yang tajam, Laksa kembali berucap, “Tadi gue ke kantor dan ketemu Kemal. Katanya lo sakit, makanya gue langsung ke sini. Tapi lo nggak ada dan malah pergi sama laki-laki yang lo bilang cuma kenalan?” “Ini nggak seperti yang lo pikir, Laksa. Gue beneran sakit dari semalam. Ini juga gue masih capek dan pusing banget.” “Kalau capek itu istirahat, Sandra! Bukan malah kelayapan malam-malam begini!” seru Laksa dengan suara keras. Ini adalah pertama kalinya Laksa menaikkan suaranya sampai beberapa oktaf hingga membuat Sandra terkejut. Ini jelas aneh. Laksa sudah berkali-kali melihat Kemal keluar masuk apartemen Sandra, bahkan pernah sekali Kemal menginap karena sedang galau diputusin Ambar, pacarnya. Namun, kenapa Laksa terlihat begitu marah hanya karena Danny yang bahkan baru sekali menjejakkan kaki di sana? Mereka berdua bahkan berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Sandra sama sekali tidak mengerti. Sandra diam. Ia sudah terlalu lelah menghadapi Danny tadi, dan ia sudah tidak punya tenaga yang cukup untuk mendebat Laksa yang terlihat begitu marah sekarang. “Menaikkan suara di depan wanita sangat nggak elit,” sela Danny yang sejak tadi hanya diam dan menyimak perdebatan antara Sandra dan Laksa. “Back off, sucker!” umpat Laksa seraya memandang Danny dengan sengit. “Lo nggak usah ikut campur masalah gue sama Sandra.” Dalam sekejap, Sandra langsung menyesali keputusannya membiarkan Danny mengantarkan dirinya hingga apartemen. Benar-benar merepotkan karena harus menyaksikan dua laki-laki dewasa itu membuat drama di depan apartemennya. “Laksa, please. Kita ngobrol di dalam aja, yuk,” ajak Sandra dengan kalem, lalu menatap Danny, “Dan, mending kamu pulang.” “Saya nggak akan pergi kalau laki-laki ini juga masih di sini,” ucap Danny. Sandra menahan diri untuk tidak mengeluarkan umpatan. Kekeraskepalaan Danny benar-benar tidak tahu tempat. “You have no right to say that. Laksa pacar saya dan saya mau dia yang tetap di sini, bukan kamu.” “Saya nggak suka lihat kamu dibentak-bentak,” ujar Danny sambil bersedekap, “kalau saya pergi, dia bisa berbuat yang lebih kasar. Saya nggak mau kemungkinan itu terjadi.” “Itu bukan urusan kamu, Dan.” Sandra mendesis kesal. Di saat-saat seperti ini, kekeras kepalaan Danny semakin memperkeruh suasana. “Saya nggak masalah kalau itu jadi urusan saya sekarang,” cetus Danny bersikukuh, membuat Laksa semakin geram. Aroma permusuhan itu terasa nyata dari tatapan mata yang saling beradu tajam. Sandra yang berdiri di tengah-tengah antara Danny dan Laksa bisa dengan jelas merasakan bulu kuduknya berdiri. Suasana di situ benar-benar sangat buruk. “Lo nggak punya malu banget, ya, b*****t!” Laksa melangkah maju dengan kilat dan hampir melayangkan bogem mentah ke muka Danny, tetapi langsung digagalkan oleh Sandra dengan pelukan erat dari belakang tubuhnya. Sandra dapat merasakan tubuh Laksa yang sangat kaku dan tegang. Sementara dari sudut matanya, Sandra bisa melihat Danny berdiri dengan tenang. “Please, Laksa, jangan. Kita ngobrol pelan-pelan di dalam, yuk,” kata Sandra dengan lembut, perlahan melepaskan dekapannya dan meminta laki-laki itu untuk berbalik menatapnya. “Lo cuma salah paham. Gue udah bilang kalau gue sama Danny nggak ada apa-apa. Gue sama dia cuma ngobrol sebentar doang tadi.” Ekspresi di wajah Laksa semakin mengeras. Entah kenapa, ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya kali ini. “Cut that bullshit. Bisa nggak, sih, lo berhenti kasih stupid reason kayak gitu? Mana ada ngobrol sebentar sampai diantar balik ke apartemen?!” Laksa berang. Ia melampiaskan kemarahannya dengan meninju pintu apartemen Sandra dengan keras. Membuat Sandra terkejut bukan main. “What the hell, Laksa?! Stupid reason? Gue ngomong apa adanya dan lo malah ngatain gue g****k?” Sandra menatap Laksa dengan penuh kekecewaan. Tidak disangkanya hanya karena sebuah kesalahpahaman kecil–yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mengobrol sekali duduk–Laksa sampai tega mengucapkan kalimat-kalimat menyakitkan itu. Sandra terlalu kecewa hingga mengabaikan buku-buku jari milik Laksa yang mulai membiru karena terlalu keras berbenturan dengan pintu. “Lo masih mau bela laki-laki ini?” Laksa menjauhkan tubuh dari Sandra. Jari telunjuk laki-laki itu mengarah ke Danny, tetapi matanya tetap memaku wajah Sandra dengan sorot kemarahan yang masih menyala. “Atau jangan-jangan dia yang bikin lo tiba-tiba berubah pikiran, tiba-tiba pengen nikah, karena dia yang udah ngajakin lo nikah duluan? Iya?” Sebelum Sandra sempat menjawab, Laksa tiba-tiba tertawa sinis dan menyembur wanita di depannya itu dengan luapan kemarahan yang tak terbendung, “Lo nanya ke gue kapan gue bisa ketemu orang tua lo, dan gue udah sanggupin buat ketemu nyokap lo minggu depan! Why did you do this to me, Sandra? Why?” Laksa merangkai skenario di kepalanya dengan cepat dan menarik kesimpulan dan kembali berkata, “Lo goyah karena dia. Atau lo nanya ke gue cuma buat basa-basi aja karena lo tahu gue belum siap buat nikah, dan lo pengen gue mundur biar lo bisa sama dia?” Laksa dengan sengit menunjuk wajah Danny yang masih berdiri tegak dengan tenang dan memasang wajah dinginnya. “Gue juga baru sadar kalau kalian romantis banget ngobrolnya saya-kamu.” Kepala Sandra pening bukan main. Laksa yang sedang dipenuhi kemarahan adalah hal yang tidak pernah Sandra lihat. Ini pertama kalinya dan itu benar-benar membuat Sandra amat sangat kecewa. “Kalau lo cuma mau nuduh-nuduh nggak jelas mending lo pergi aja. Kita bicara kalau lo udah waras,” putus Sandra akhirnya. Laksa tertawa sinis. “Lo tahu keputusan apa yang paling bagus sekarang? Just forget about us. Nggak perlu repot kenalin gue ke orang tua lo. Kita bubar aja. Toh, lama-lama lo bakal capek sendiri nunggu gue. Lebih baik udahan, kan?” Sandra mematung. Lagi-lagi ia harus melewati ini. Diputuskan secara sepihak oleh seseorang yang ia sayangi dengan tulus. “Lo lagi emosi, Laksa. We better talk tomorrow.” “There’s no tomorrow. I’m done. We’re done,” ucap Laksa final. Setelah mengucapkan itu dengan raut kesedihan di wajah–yang bisa Sandra tangkap di antara sorot kemarahannya–Laksa pergi. Meninggalkan Sandra yang hanya bisa menatap punggung laki-laki itu dengan hati yang patah. Sandra tergugu. Entah karena rasa sayangnya terhadap Laksa yang besar, atau karena Danny melihat dirinya diperlakukan dengan tidak begitu baik oleh kekasihnya, Sandra merasa begitu sakit hati dan malu. *** “Kamu kenapa pacaran sama sumbu pendek begitu, sih?” komentar Danny. Ia melihat kepergian Laksa dengan kerutan di kening. Masih tidak habis pikir dengan tindakan laki-laki pemarah itu. Danny bahkan malas menyebutkan namanya. Sandra menyipitkan matanya. “Kamu ngapain masih di sini?” Danny menghela napas. “Saya cuma mau memastikan kalau kamu nggak akan kenapa-kenapa.” “Nggak usah sok baik. Just go, now! I don’t want to see your face. Not anymore,” ucap Sandra dengan sengit. Bukannya pergi, Danny justru bersandar di dekat pintu unit apartemen milik Sandra dan bersedekap sambil menatap Sandra dengan ketenangan yang mematikan. “Sandra, open your eyes. Dia bahkan nggak mau dengar penjelasan kamu dan main hakim sendiri. Sesayang apa pun kamu sama dia, kamu nggak seharusnya menutup mata. Dia bahkan nggak segan bentak kamu dan maki-maki kamu di depan saya. Itu bukan sikap yang baik. Laki-laki seperti dia nggak pantas kamu pertahankan.” “Itu urusan saya dan Laksa. Dan kamu, urusi saja hidup kamu sendiri. Jangan ganggu saya lagi. Jangan muncul di hadapan saya lagi,” tandas Sandra dengan amarah yang begitu besar. “Tapi saya nggak suka lihat kamu dibentak-bentak.” Danny merendahkan suaranya. “Saya nggak suka lihat kamu seperti ini.” Suara Danny yang melembut membuat Sandra melemah. “Please, just go,” ucap Sandra sembari menahan air mata. “Lepaskan saja, Sandra. Kamu boleh nangis di depan saya.” “PLEASE, JUST f*****g STOP IT, DANNY! STAY AWAY FROM ME! Kamu bilang kalau kamu nggak mau merusak hubungan saya dan Laksa. But you just did it! Ini yang kamu mau, kan?! Puas kamu melihat hubungan saya dan Laksa berantakan?! Seneng kamu?!” Sandra berteriak marah. Matanya berkilat penuh kemarahan dan kebencian yang berbaur menjadi satu. Air matanya luruh melalui ujung matanya dan mengalir di pipi. “Pergi dari sini sekarang! Saya muak lihat muka kamu.” Setelah meneriakkan kemarahannya, Sandra bergegas masuk ke dalam unit apartemennya dan membanting pintunya dengan keras. *** Tubuh Sandra meluruh setelah pintu apartemen tertutup dengan sempurna. Air matanya merebak tak terkendali. Sudah lama sekali Sandra tidak menangis begitu keras. Yang Sandra ingat, terakhir ia menangis hingga begitu sesak adalah saat neneknya meninggal. Waktu itu, Sandra masih berada di kelas dan sedang menempuh ujian sekolah saat gurunya menyampaikan kabar duka itu. Dan hari ini, emosinya kembali meledak. Campuran antara rasa kecewa dan sakit hati yang disebabkan oleh Laksa dan juga kemarahan tak berdasar kepada Danny. Sandra terisak. Ia tidak pernah mengira kalau hubungannya dengan Laksa akan berakhir berantakan seperti ini. Memang, pernah sesekali Sandra memikirkan skenario kalau ia putus dengan Laksa. Namun, tidak dengan cara seperti ini. Ini adalah skenario paling buruk yang tidak pernah Sandra bayangkan. Laksa yang menatapnya dengan amarah dan benci, bukan seperti Laksa yang ia kenal. Laksa yang tidak lagi tersenyum untuknya. Laksa yang memalingkan wajah darinya. Laksa yang akhirnya pergi dari hidupnya. Sandra tidak pernah mengharapkan itu. Sungguh. Kalau bisa memutar waktu, Sandra ingin kembali ke satu hari sebelum ia bertemu Danny di acara arisan di rumahnya itu. Seandainya mungkin, Sandra akan dengan tegas menyatakan kepada ibunya kalau ia sudah memiliki seorang kekasih dan mengenalkan Laksa meski laki-laki itu menolak. Seharusnya Sandra melakukan itu. Ya, seharusnya. Namun, Sandra tidak melakukannya dan berakhir bertemu Danny. Hingga akhirnya berujung menjadi seperti saat ini. Sungguh sayang, waktu tetap berjalan sebagai mana mestinya. Semuanya berantakan. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan keadaan menjadi lebih baik. “There’s no tomorrow. I’m done. We’re done.” Pernyataan yang dengan jelas menyatakan akhir dari hubungannya dengan Laksa itu membuat Sandra tidak bisa berhenti menangis. Ia kesal dan begitu ingin mengutuk situasi yang membuatnya terjerat dalam posisi ini. Sandra tidak ingin menyalahkan diri sendiri. Namun, keadaannya kini membuat wanita itu tak bisa untuk tidak berpikir ke arah sana. Ia mulai mengeja, mana saja yang kira-kira menjadi salahnya. Di tengah-tengah tangis yang mulai mereda, Sandra mengumpat kesal. Tidak perlu diulang-ulang, Sandra tahu betul letak kesalahannya. Perasaannya sudah bercabang. “Danny sialan!” umpat Sandra. Hanya itu satu-satunya yang membuat Sandra merasa lebih baik. Ketimbang menyalahkan diri sendiri, rasanya lebih melegakan saat mengumpat dan menyalahkan Danny sebanyak mungkin. Danny juga bersalah di sini karena laki-laki itu adalah pemicu terbesar yang membuat Sandra berada di posisi menyedihkan ini. Setelah puas menyumpah, Sandra beranjak ke kamar. Mengisi daya ponsel lalu menyalakannya setelah terisi beberapa persen. Begitu ponselnya menyala, Sandra membuka ruang obrolan yang beranggotakan dirinya, Rena, dan Erika. Dua sahabat baiknya sejak kuliah.   Sandra Javinkha SOS   Sayangnya setelah menunggu bermenit-menit tidak kunjung ada jawaban dari mereka berdua. Dengan tidak sabar, akhirnya Sandra menghubungi nomor Erika lewat sambungan telepon. Butuh beberapa deringan sebelum diangkat oleh si pemilik nomor. “Halo, San. Kenapa?” tanya suara milik seorang wanita di seberang telepon yang Sandra kenali sebagai suara sahabatnya. “Sibuk nggak, Er?” “Enggak. Gue baru kelar skincare-an, nih. Baru aja mau bales chat lo di grup. Ada masalah apa, San?” Sandra mendesah kecil sebelum menjawab, “Gue sama Laksa putus.” “Lo atau Laksa yang mutusin?” Suara Erika tetap datar. Ia tidak terdengar terkejut. Sifat Erika yang cenderung tertutup dan pendiam itu itu memang jarang menunjukkan reaksi berarti meski sejujurnya dialah yang selalu paling paham dan pengertian ketika temannya sedang kesulitan dan butuh teman cerita. “Laksa yang mutusin. Dia salah paham. Gue tadi abis ketemuan sama Danny, terus dia nganterin gue balik ke apartemen. Gue nggak tahu kalau Laksa udah nungguin di depan apartemen gue dan akhirnya dia ketemu sama Danny. Terus ya gitulah, lo pasti tahu kelanjutannya gimana.” “Danny siapa?” “Mantan ONS gue, Er. Yang waktu itu gue cerita.” Hening sejenak sebelum Erika menyahuti, “Oh iya, kemaren Rena cerita sama gue kalau kalian reunian.” Sandra berdecak sebal. “Reuni sialan. Kalau nggak ada acara arisan sialan itu di rumah gue, gue pasti masih sayang-sayangan sama Laksa.” Terdengar tawa Erika selama beberapa detik. “Suara lo kayak serak-serak gitu, lo abis nangis?” “Siapa yang nggak bakal nangis kalo diputusin tiba-tiba cuma gara-gara masalah sepele, Er? Gue syok dan sedih banget. Nggak pernah ngira bakal putus dengan cara kayak gini. Laksa kelihatan benci banget sama gue sekarang, Er. Gue harus gimana?” tanya Sandra dengan gelisah. Ia sedang merana. “Tenangin diri dulu, San. Laksa cuma lagi emosi aja, gue yakin. Besok diomongin lagi sama dia pake kepala dingin. Kalau lo merasa punya salah karena bikin dia salah paham, lo juga baiknya minta maaf. Sekarang lo tidur dulu aja. Sisanya dipikirin besok,” ujar Erika dengan tenang. Sandra memijit pangkal hidungnya dan memejamkan mata. "Gue sayang banget sama Laksa, Er," lirihnya. Ungkapan itu adalah sebuah kejujuran. Sandra tidak menampik kalau ia menyayangi Laksa. Dan itu membuat Sandra merasa menjadi wanita paling jahat karena sebagian hatinya telah berkhianat. Ia menyayangi Laksa, namun sebagian hatinya juga menginginkan Danny. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN