Bertemu kembali dengan partner one night stand di acara arisan sungguh tidak pernah terlintas di benak Sandra sama sekali. Rasanya sangat memalukan dan amat sangat canggung saat harus berhadapan kembali dengan satu dosa yang hampir terlupakan. Kalau saja pertemuan itu terjadi di luar rumah, Sandra pasti akan langsung lari ngacir untuk melarikan diri. Sayangnya, Tuhan menggariskan yang lain. Tidak tanggung-tanggung, Farida kenal dekat dengan ibu dari laki-laki ganteng bernama Danny yang sekarang duduk di teras bersamanya.
Tampaknya Tuhan sedang ingin melucu. Bagaimana tidak? Ini jelas bukan kali pertama Sandra bertemu dengan Bu Mutia. Sandra juga pernah beberapa kali bercakap-cakap dengan wanita itu. Tidak jarang–ah, hampir setiap ada kesempatan, lebih tepatnya–Bu Mutia mempromosikan anak sulungnya sebagai calon suami potensial. Tentu sama sekali tidak Sandra sangka kalau anak yang sering Bu Mutia ceritakan itu adalah Danny.
Dunia ternyata tidak selebar itu atau memang Jakarta saja yang terlalu sempit. Amat sangat sempit!
Sandra hanya mampu merutuk. Kalau tidak salah ingat, usia Danny berjarak tujuh tahun lebih tua darinya. Saat mereka pertama kali bertemu, laki-laki itu berumur dua puluh sembilan tahun. Itu artinya sekarang dia sudah tiga puluh empat tahun. Coba katakan, laki-laki seumuran Danny mana yang masih begitu penurut hingga mau ke sana kemari mengantar ibunya arisan tiap minggu? Tidak ada! Hanya Danny seorang yang kurang kerjaan!
“Kamu sudah menikah?” Pertanyaan yang terlalu pribadi itu sukses meluncur dari bibir tipis Danny yang saat itu tengah memandang Sandra dengan lekat.
Sandra mungkin akan tersedak hebat kalau saja ia sedang minum air mineral dingin yang tersaji di meja bundar kecil dari kayu yang memisahkan keduanya.
“Maaf, kayaknya nggak sopan banget menanyakan sesuatu yang begitu privat kepada seseorang yang tidak Anda kenal di pertemuan pertama,” jawab Sandra sinis.
“Kamu tahu kalau ini bukan pertemuan pertama. Saya masih mengingat kamu dan saya yakin kamu tidak pernah melupakan saya. Menurut saya, pertanyaan saya tadi nggak ada salahnya. Saya nggak tahu makna privat bagi kamu seperti apa, sementara kamu dan saya pernah berbagi ranjang yang sama, menikmati tubuh masing-masing dengan suka rela.”
Ekspresi datar bertahan di wajah Danny saat membalas ucapan Sandra dengan kalimat panjang yang terdengar begitu santai sekaligus mantap. Tidak ada kecanggungan sama sekali.
Kepercayaan diri yang begitu tinggi milik laki-laki itu sangat patut diacungi jempol. Namun, kalau mau jujur, Sandra lebih ingin melempar kursi ke muka laki-laki es kutub itu. Bagaimana bisa laki-laki itu berbicara tentang urusan ranjang yang sudah lama lewat dengan tanpa ekspresi yang berarti? Bagaimana bisa dia sesantai itu, sementara hati Sandra sudah begitu kalang kabut?
Lima tahun berlalu, cinta satu malam yang sudah kabur dari ingatan Sandra itu terasa memuakkan sekarang. Cih! Cinta dari mana? Mereka hanya terjebak waktu yang salah. Saat itu mereka berdua hanya sama-sama sedang patah dan rapuh.
“Saya nggak tahu kalau kamu tipe orang yang susah move on. Memangnya kenapa kalau kita pernah tidur bareng? Bukan berarti itu bisa kamu jadikan tolok ukur untuk bisa menanyakan hal-hal yang nggak perlu kamu ketahui,” sanggah Sandra sambil mencoba untuk mempertahankan kewarasan yang mulai menipis. Baru beberapa menit berhadapan dengan Danny, tetapi rasanya seperti sudah berjam-jam. Tenaganya seperti telah terkuras habis.
“Saya mungkin akan mudah lupa kalau partner tidur saya bukan seorang perawan,” balas Danny masih dengan ekspresi wajah yang super datar, tetapi sangat menusuk hati.
Percuma juga Sandra mengais ingatan tentang ekspresi apa saja yang pernah ditunjukkan Danny selain ekspresi datar, karena yang berada diingatannya sekarang adalah rasa sakit yang menusuk ketika sesuatu yang asing menerobos masuk ke dalam tubuhnya.
Sandra menyilangkan lengan di depan d**a dan berkata, “Bisa nggak kalau nggak mengungkit hal yang udah lewat? Keperawanan saya bukan urusan kamu. Saya kira kamu paham.”
“Tentu jadi urusan saya karena saya yang ikut andil membuat kamu nggak lagi perawan,” jawab Danny dengan mata menyipit.
Selain bertambahnya angka dalam usia, tampaknya laki-laki es kutub itu tidak berubah. Atau mungkin perangainya semakin buruk setelah kegagalan dalam kisah percintaannya dahulu.
Sandra mencoba untuk tidak memekik marah. Ia kira akan ada kecanggungan yang mendominasi saat melihat Danny berada di depan matanya tadi. Ternyata kehadiran laki-laki itu justru memantik emosi dalam diri Sandra.
“Cukup. Nggak ada gunanya juga membahas itu lagi.” Sandra memijat pelipisnya untuk mengendurkan saraf yang menegang dan membuatnya sakit kepala.
Melihat Sandra yang tampak terpancing emosinya, Danny memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Kamu apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat. Saya sangat sehat,” ujar Sandra menanggapi. Cukup menghargai usaha Danny untuk tidak menyudutkannya.
“Yang saya lihat sekarang kamu sepertinya sedang banyak beban pikiran. Mata kamu nggak bisa berbohong. Dan saya tahu itu sama sekali nggak sehat.”
“Nggak usah sok tahu.” Sandra mengalihkan tatapan ke depan. Menolak untuk balas menatap netra milik Danny yang bisa saja membuat dirinya tenggelam.
“Saya cuma menjabarkan apa yang saya lihat.”
“Kamu salah lihat kalau gitu,” sangkal Sandra dengan malas.
“Saya nggak salah lihat. Kamu terlalu mudah dibaca.”
Pintar sekali dia memutar kata! batin Sandra menjerit kesal.
“Fine. Saya nggak akan menyangkal lagi.” Sandra mengalah dan memilih untuk menyandarkan punggung dengan santai lalu balas bertanya, “Apa saya juga perlu tanya kabar kamu, biar adil?”
Danny mengangkat ujung bibirnya ke atas. Hanya sekejap sebelum kembali ke mode datar yang selalu menjadi tampilan andalannya. “Saya ... nggak begitu baik. Saya agak pusing karena Ibu saya gencar menyuruh saya menikah, sementara calonnya belum ada.”
“Belum move on dari mantan kamu?” tebak Sandra salah sasaran.
“Nggak.” Danny menggeleng. “Bukan itu. Memang belum ada yang cocok aja sama saya.”
Danny tidak berbohong. Sudah ada belasan wanita yang masuk dalam tiga kategori hubungan yang ia labeli yaitu, dekat, hampir dekat, dan gagal dekat dengannya, selama beberapa tahun belakangan. Hampir semua pilihan ibunya–yang sayang sekali belum ada yang benar-benar klik.
“Lalu apa rencana kamu ke depan?” Sandra langsung menyesal begitu pertanyaan itu meluncur. Sama sekali bukan urusan lo, Sandra!
“Saya belum ada rencana apa-apa, sih, tapi sepertinya ibu saya punya.”
Untuk pertama kalinya, Sandra mengeluarkan tawa walaupun hanya sebentar sekali. “Kamu mau bilang kalau ibu kamu juga mudah dibaca?”
“Bukan. Akhir-akhir ini, ibu saya semangat sekali cerita tentang seorang wanita yang mau beliau jadikan mantu. Padahal biasanya tidak pernah sesemangat itu. Ah, kalau kamu belum tahu, saya anak sulung dari tiga bersaudara. Adik saya semua perempuan, sudah menikah dan punya anak. Jadi, saya bukan kepedean kalau maksud Ibu itu mau membuat saya tertarik dengan orang yang diceritakan beliau.” Danny memiringkan badan hingga agak condong ke arah Sandra sebelum lanjut berkata, “Sekarang saya sudah tahu siapa orangnya.”
“Bagus, dong!” seru Sandra. “Kamu nggak akan pusing lagi buat cari pasangan.”
“Kamu nggak penasaran siapa yang ibu saya maksud?”
“Nggak. Saya rasa itu bukan urusan saya,” jawab Sandra santai.
Setelah Sandra mengucapkan kalimat itu, obrolan terhenti. Sebenarnya situasi ini cukup aneh karena kecanggungan yang Sandra cemaskan sama sekali tidak terjadi. Walaupun sempat kesal, Sandra tetap bersikap cukup sopan dan bisa menahan diri.
Waktu berlalu dalam hening. Yang kemudian terdengar hanyalah samar-samar suara para ibu di dalam rumah yang mungkin sedang asyik mengometari anak si ibu A yang begini, menggunjing anak si ibu B yang begitu, hingga menyombongkan pencapaian-pencapaian anak dan suami.
Sandra sudah begitu paham dengan isi kepala para ibu arisan itu. Setiap kali menemani Farida arisan, Sandra akan mendapati hal serupa, bahkan ditarik masuk ke dalam pembicaraan yang ia tidak mengerti. Obrolan yang memuakkan. Dan ia kesal sendiri karena ibunya termasuk dalam lingkup itu dan sudah terlalu sulit untuk ditarik keluar.
“Kamu orangnya, Sandra.” Danny memecah keheningan setelah beberapa waktu keduanya membisu.
Sandra menunjuk dirinya dengan mimik syok. Lebih tepatnya pura-pura syok. “Saya?”
“Ya.”
“Kok bisa?”
“Tante Farida beberapa kali main ke rumah–tentu saja saya nggak pernah tahu kalau beliau adalah ibu dari seseorang yang saya kenal bertahun-tahun yang lalu. Saya nggak bermaksud curi dengar karena Ibu dan mama kamu sering ngobrol dengan suara yang berresonansi tinggi. Mama kamu bilang kalau kamu masih sendiri dan sudah lama tidak berhubungan dengan laki-laki. Mamamu juga sempat bilang kalau beliau sudah sangat menantikan kamu untuk mengenalkan pasanganmu sejak kamu umur dua puluh lima tahun. Sayangnya belum pernah ada laki-laki yang datang untuk meminang kamu. Saya benar, kan?”
Helaan napas berkali-kali keluar dari bibir Sandra. Danny yang judes. Danny yang sedingin es. Danny yang tidak punya ekspresi. Danny yang bermulut pedas. Ditambah dengan Danny yang ternyata bisa begitu cerewet adalah perpaduan yang sangat buruk.
“Apa yang kamu harapkan?”
“Saya bukan mau menarik kesimpulan sendiri, tapi saya dengar dengan jelas kalau Ibu dan Tante Farida mengharapkan akan ada sesuatu yang lebih antara kamu dan saya setelah hari ini yang tanpa mereka tahu kalau kamu dan saya sudah pernah terlibat sesuatu.”
Sandra benar-benar tidak mengerti pembicaraan mereka ini akan mengarah ke mana. Pertemuan yang begitu mendadak setelah bertahun-tahun lamanya itu saja sudah membuat Sandra tertampar. Belum lagi dengan kenyataan kalau kedekatan Farida dan Bu Mutia ternyata benar-benar mengandung konspirasi. Situasi ini menjadi sangat menyebalkan karena dua-duanya sudah terlalu ngebet level akut ingin punya mantu!
“Menurut kamu gimana?” tanya Danny melihat Sandra yang tak kunjung bereaksi.
Akan lebih mudah kalau saja Danny menunjukkan sedikit saja ekspresi kesal atau mungkin ketertarikan. Jadi, Sandra bisa dengan memutuskan akan mengikuti alur atau memilih untuk mengelak saja dan menapaki jalan aman yang sudah lama ia tempuh.
“Ini sejenis perjodohan, iya, kan?”
Danny menatap Sandra dengan tajam. “Terserah kamu mau menganggapnya apa.”
“Kalau saya nolak?”
“Nggak masalah. Itu pilihan kamu.”
Poin plus yang dimiliki Danny selain berwajah ganteng, badan masih oke–dari luar kelihatan kokoh dan gagah–walaupun umur sudah di pertengahan tiga puluh, Danny adalah makhluk langka yang menjunjung tinggi kesopanan. Walaupun banyak kalimat nyelekit dan frontal yang keluar dari bibir tipisnya itu, Sandra bisa melihat bahwa Danny adalah pribadi yang santun di hadapan para orang tua. Sayang sekali, laki-laki itu pelit senyum dan ekspresi. Mungkin memang setting dari lahir sudah begitu, jadi akan sangat sulit untuk diubah.
“Terus kamu gimana?” tanya Sandra lagi.
Danny menatap Sandra lama, menimbang dengan hati-hati lalu mengatakan hal yang berbanding terbalik dengan isi hatinya, “Saya nggak masalah. Saya ke sini memang hanya dengan niat antar Ibu. Yang tadi itu, saya hanya mengungkapkan dari sisi saya. Kalau nanti mama kamu menyinggung tentang masalah ini, kamu nggak akan terlalu kaget.”
“Tanpa kamu bilang pun saya nggak akan kaget. Mama saya sudah sempat nyinggung tentang kamu minggu lalu,” ungkap Sandra dengan jujur. “Bisa kita ganti topik kalau gitu?”
Danny belum sempat membuka mulut saat Farida muncul dari dalam rumah dan menginterupsi percakapannya dengan Sandra.
“Sandra, Nak Danny diajak makan dulu. Jangan cuma disuruh makan kacang.”
Sandra hampir memutar bola matan di depan mamanya saat mendengar Farida mengucap kata ‘Nak Danny’ dengan sok akrab. Terdengar sangat menggelikan karena Danny sudah terlalu tua untuk dilabeli dengan kata ‘Nak’.
***
Acara arisan sudah selesai sejak tiga puluh menitan yang lalu. Para tamu sudah pulang ke rumah masing-masing, kecuali dua manusia, Bu Mutia dan anak lelakinya.
Sandra duduk berseberangan dengan Danny di ruang tamu. Sementara itu, dua ibu yang membentuk kongsi untuk mendekatkan anak mereka itu sibuk di dapur. Entah lanjut mengobrol atau sengaja memberi waktu lebih banyak untuk Sandra dan Danny berduaan.
“Sepertinya ini bukan pertemuan terakhir kita,” ujar Danny.
“Maksudnya?” tanya Sandra tidak begitu mengerti.
“Selama saya masih belum menikah, saya akan diseret ibu saya buat ikut hadir ke acara seperti ini dan akan dikenalkan dengan wanita yang sekiranya sesuai dengan kemauan beliau.” Lagi, tanpa diminta, Danny menjelaskan duduk perkara yang akan ia hadapi, setelah pancingan sebelumnya gagal menarik Sandra mendekat.
Ya, awalnya Danny memang sudah kepikiran untuk memasukkan wanita pilihan ibunya ini dalam kategori gagal dekat karena penolakan langsung yang terlontar tanpa aba. Sayangnya, ada sesuatu yang mengusik d**a saat berhadapan dengan Sandra. Memintanya untuk sedikit berusaha.
“Dan hubungannya dengan saya?” Sandra mengernyit. Tidak paham dengan ucapan Danny.
Mungkin orang yang sudah berumur–tolong dimaklumi sedikit karena sejak tadi membawa-bawa angka–seperti Danny memang sangat suka berbelit-belit. Menyusahkan otak Sandra yang sedang tidak dalam kondisi bagus untuk berpikir.
“Saya yakin mama kamu akan melakukan hal yang sama. Bukan begitu?”
Sandra menahan diri untuk tidak mendengus. “Saya punya kuasa buat nolak. Lagian saya jarang di rumah. Nggak tiap minggu juga saya ada di sini buat nemenin Mama arisan.”
“Saya ngerti.”
“Terus inti pembicaraan ini apa? Saya nggak paham.”
“Gimana kalau kamu kasih ‘kita’ kesempatan?”
“Hah?!” Sandra terperangah hingga bibirnya membuka lebar. Tidak menyana akan ‘ditembak’ langsung oleh seseorang yang selama ini bayangnya tersimpan rapat dalam kotak pandora di sudut hatinya yang terdalam.
Namun, apa yang terjadi sekarang? Laki-laki itu tiba-tiba membuka jalan baru, dan menuntun Sandra menuju persimpangan. Mana yang akan Sandra tempuh? Jalur aman yang sudah sangat membosankan atau jalan baru yang konturnya tidak ia tahu?
“Hubungi saya kalau kamu sudah memutuskan.” Danny menyelipkan kertas kecil yang berisi nomor ponselnya–entah dari mana laki-laki itu mendapat kertas dan pena–ke dalam genggam tangan Sandra. “Saya tunggu kabar dari kamu sampai minggu depan.”