BAB 03. Kebingungan

2038 Kata
Sandra tidak pernah sebingung ini untuk mengambil keputusan. Bahkan saat keperawanannya ia serahkan kepada orang asing, Sandra tidak terlalu stres memikirkan dampak ke depan. Menyesal, iya. Namun, tidak berlangsung lama. Patah hatinya pun terobati seiring berjalannya waktu. Ia bisa move on dalam hitungan bulan dan bertemu dengan orang baru. Sampai akhirnya seseorang dari masa lalu datang. Menghidupkan kembali kenangan yang mulai meredup dan menghantamnya bak badai katrina. Danny El Arkan. Tidak jarang Sandra mengingat nama itu sebelum jatuh tertidur dalam mimpi atau sesaat setelah terbangun dari lelapnya tidur. Pemilik nama itulah yang telah menjadi antidote dan menyelamatkan Sandra dari keterpurukan akan patah hati yang berkepanjangan. Sandra menjalani hidup dengan begitu santai. Selama lima tahun terakhir ia dekat dengan banyak laki-laki. Walau hanya tiga yang berhasil menggaet hatinya. Yang terakhir bertahan lumayan lama. Sudah hampir satu tahun Sandra berhubungan dengan laki-laki yang pertama kali bertemu dengannya di stasiun Tugu. Setahun yang lalu, saat Sandra kembali dari dinas di luar kota. Panjang umur! Ponselnya berkedip menampilkan nama “Laksa Syarief” dengan foto profil bergambar kucing. Sandra membutuhkan beberapa deringan sebelum mengangkat telepon dari kekasihnya itu. “Lo masih di rumah nyokap?” tanya suara berat milik Laksa setelah basa-basi sedikit. “Masih. Gue balik subuh aja kayaknya. Udah nggak kuat nyetir. Pegel banget abis bersih-bersih sisa arisan tadi,” jawab Sandra sambil membaringkan tubuh dengan posisi tengkurap memeluk guling. Dari rumah Sandra yang berada di daerah Depok sebenarnya hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menitan untuk sampai ke apartemennya di Fatmawati, tetapi ia sudah terlalu lelah dan memutuskan untuk menginap semalam lagi di rumah orang tuanya. “Yah, yaudah kalau gitu gue terpaksa makan sendiri,” balas Laksa yang Sandra yakini tengah memasang wajah memelas yang dibuat-buat. “Manja amat makan harus bareng.” “Nggak papa, dong, sama pacar sendiri.” “Bapak Laksa yang terhormat, Anda sudah tiga puluh tahun, ya. Please behave!” Sandra memang agak geli setiap Laksa mulai membawa-bawa label pacar ke dalam pembicaraan. “Lo emang pacar gue. Gue nggak salah, kan?” Sandra tertawa kecil. “Lo nggak geli nyebut kita ini pacaran?” “Nggaklah! Kenyataannya begitu,” jawab Laksa dengan disertai tawa. Tawa yang begitu renyah dan yang membuat Sandra pertama kalinya jatuh hati kepada laki-laki itu. “Ya udah, iya. Makan dulu, gih. Udah mau jam sepuluh, lho, ini.” “Emang kenapa kalau udah jam sepuluh?” protes Laksa. Sandra berdecak. “Sibuk ngapain lo sampai baru mau makan malam jam segini?” Terdengar kekehan dari ujung telepon. “Biasa, keasyikan nge-game.” Sudah Sandra duga. Laksa dan game adalah satu paket yang tidak akan pernah terpisahkan. “Kebiasaan banget, deh.” “Besok makan siang bareng?” tawar Laksa setelah beberapa saat sibuk sendiri. Sandra berpikir sejenak sebelum menjawab, “Boleh. Gue lagi pengen nasi padang.” “Bukan pengen lagi itu, San. Tapi emang makanan wajib lo setiap hari Senin!” Sandra terbahak. Tidak jarang memang mereka berdua menghabiskan waktu untuk makan siang atau makan malam bersama. Entah sudah nasib atau memang sengaja, seringkali mereka berdua punya waktu longgar di hari Senin, yang mana Sandra tidak akan mau makan siang selain dengan nasi padang. Kecuali kalau sedang benar-benar sibuk dengan pekerjaan dan tidak sempat untuk keluar maupun meng-order lewat ojek online. “Sewot banget, sih. Kalau bosen makan nasi padang, kita ketemu malem aja.” Laksa mendesah dengan keras. “Gue ada dinas ke Bali, berangkat besok sore.” “Minggu lalu baru dari Surabaya. Sekarang dinas lagi?” “Lagi sinting-sintingnya ini kerjaan. Sebelum tahun baru mau peluncuran game baru. Pengennya, sih, mau cepet kelarin semua biar bisa pacaran terus tapinamanya juga kerjaan, nggak ada yang namanya kelar. Yang ada tuh selesai satu, tambahnya sejuta.” Sandra bekerja sebagai staff administrasi di bagian keuangan di PT Persona Raya, salah satu perusahaan asuransi terbesar di Indonesia. Sedangkan Laksa sendiri bekerja sebagai game designer and developer di Master Inc, perusahaan game nomor satu di Indonesia. Gedung kantor mereka letaknya berseberangan, tetapi intensitas pertemuan mereka jangan ditanya. Sangat minim. Pintar-pintarnya saja memanfaatkan waktu senggang untuk bersua. Kalau tidak disempatkan, siap-siap saia kandas di tentah jalan. “Tapi masih sempat nge-game?” sindir Sandra. “Jangan salah, gue nge-game bukan cuma buat hiburan doang tapi upgrade skill sekalian cari inspirasi,” jawab Laksa sebagai pembelaan. “Gue udah tahu.” Sandra bukan keberatan atau apa, sama sekali tidak. Hanya saja Sandra agak heran, saat di kantor, Laksa tentu tidak pernah lepas dari segala hal tentang game dan masih akan berlanjut lagi di apartemen. Sangat mengherankan karena laki-laki itu tidak pernah bosan dengan aktivitasnya yang begitu monoton. “Tidur, gih. Besok lumayan jauh kan perjalanan dari rumah.” “Ya udah. Gue tutup, ya. Awas lo lanjut nge-game. Gue gentayangin ntar.” “Lo kan belum mati, mana bisa gentayangan.” Setelah basa-basi–mereka berdua memang terlalu banyak basa-basi sampai basi beneran–mengucapkan selamat tidur dan lain-lain, Sandra memutus sambungan terlebih dahulu. Otaknya agak tidak mau bekerja sama saat nama Danny kembali menyeruak ke permukaan. Sandra sudah berbaring telentang dengan selimut yang membalut tubuhnya sebatas pinggang. Matanya tidak kunjung menutup. Danny sialan! Padahal sudah berjam-jam yang terlewat sejak ajakan untuk berhubungan serius–kalau Sandra tidak salah mengartikan ucapan Danny–tetapi rasanya seperti baru saja kejadian. Laki-laki itu pasti sudah gila karena tuntutan dari ibunya untuk segera menikah sampai menawarkan hubungan tanpa basa-basi. Bukan salah Danny kalau menganggap Sandra masih sendiri, karena ibunya Sandra pun tidak tahu-menahu tentang hubungannya dengan Laksa. Selama berhubungan dengan Laksa, mereka belum pernah membahas ke jenjang yang lebih serius–pernikahan. Sandra sudah cukup nyaman dengan statusnya saat ini. Menikahi Laksa? Sama sekali belum terpikirkan. Sepertinya Laksa juga belum–atau mungkin tidak pernah–memikirkan akan membawa hubungan mereka ke arah yang lebih dari berpacaran. Lalu bagaimana dengan tawaran yang diajukan Danny kepadanya? Apakah memang ini saatnya berganti jalur? Sandra menggeleng keras saya pemikiran itu terlintas di otaknya. Tidak! Tolong, jangan semudah itu! *** Sandra gagal makan siang dengan Laksa. Laki-laki itu mengabarkan subuh tadi kalau jadwal keberangkatannya ke Bali dimajukan. Bukan masalah besar. Mereka berdua sudah terlalu sering menghadapi ini. Pekerjaan akan selalu menjadi nomor satu dan tidak akan pernah berubah. Setidaknya itu yang terlihat dalam hubungan Sandra dan Laksa. Pada akhirnya, Sandra juga terpaksa delivery untuk makan siang karena harus meng-handle pekerjaan salah satu rekan kerjanya–Dania–yang sedang cuti mendadak karena ibunya dirawat di rumah sakit. “Mbak Sandra, Pak Setyo minta laporan keuangan dari bulan April sampai bulan September segera dikirim. Paling lambat besok pagi katanya,” kata Mala yang baru saja kembali dari membeli makan siang. Sandra ingin mengumpat keras. Seharusnya deadline masih tersisa dua hari dari tenggat waktu yang diminta. Sayang sekali, Pak Setyo Irawan, atasannya yang hampir botak itu tidak pernah bercanda saat menyangkut masalah uang. Di luar pekerjaan pun tidak bisa diajak bercanda. Terlalu kaku dan nyebelin! “Masih Senin dan gue harus lembur. Ah, sialan si botak satu itu,” keluh Sandra sambil merapikan anak rambut yang terlepas dari kuncir kudanya. Sandra jarang menggerai rambut rambut hitam lurus yang hanya sebahu itu karena mudah gerah. Mas Aryo, Mala, Andini, dan Kemal yang sudah duduk di kubikel masing-masing itu hanya tertawa menanggapi keluhan Sandra. Pasalnya mereka juga harus terjebak lembur karena pekerjaan yang menggunung. Mendekati akhir tahun, load kerjaan memang sedang sinting-sintingnya, kalau mencatut kata Laksa. “Makan dulu, San. Nggak ada yang sanggup handle kerjaan lo sama Dania kalau lo ambruk,” ucap Aryo sambil membuka kotak makannya yang berisi ayam geprek. “Makanan gue belum dateng, Mas,” keluh Sandra sambil menyeruput jus mangga yang dibelikan Andini. Tidak gratis. Sandra hanya nitip. Makanannya–nasi padang, menu andalan Sandra setiap hari Senin–belum datang karena ia memesan terpisah. Tidak ada yang mau dititipi karena jarak yang terlalu jauh dari kantor mereka yang berada di daerah Sarinah dan terlalu ramai di jam makan siang. Siapa pula yang mau repot mengantre kalau bukan Sandra sendiri? “Mau makan bareng gue?” tawar Kemal dengan mulut penuh sambil menaik-naikkan alis. “Ogah! Mending gue nahan laper.” “Ngemil Regal dulu, nih, Mbak.” Mala menyodorkan sebungkus Regal yang isinya sudah berkurang beberapa biji. Sandra menerima dengan senang hati. “Besok gue bawain Regal dua bungkus bonus Pringles khusus buat lo, Mal.” Sandra mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa. “Kirain bakal ditraktir makan siang selama seminggu,” canda Mala yang dibalas cengiran. “Gue traktir es teh, deh! Sebulan juga bakal gue jabanin.” “Mending nggak usah kalau itu, Mbak. Gue nggak kuat minum es teh. Bikin beser.” “Kerjaan cuma jadi cungpret tapi perut sok eksklusif banget sampai nggak doyan es teh.” “Mending traktir gue aja, San. Perut gue merakyat, kok.” Andini yang baru kembali dari pantri ikut menimpali. “Kan tadi gue udah mau lo titipin jus mangga.” “Sialan lo! Pamrih banget!” “Di ruangan ini, setahu gue nggak ada yang pernah bener-bener ikhlas waktu dimintain tolong,” balas Andini. “Bener juga lo!” teriak Kemal dengan mulut yang penuh dengan makanan. “Kemal! Itu ditelen dulu nasinya baru ngomong! Jijik banget, tuh, muncrat ke mana-mana!” teriak Sandra dengan sebal. Kemal nyengir tak berdosa. Yang langsung dihadiahi lemparan pena oleh Sandra dan sukses menghantam kepalanya. “Sakit, Bego!” teriak Kemal setelah menelan nasi dengan susah payah. Kemal mengelus bagian kepala yang terkena lemparan Sandra dengan punggung tangannya yang bersih. “Lo ngatain gue bego?!” Sandra melotot tidak terima. Kemal memang tidak pernah absen mengganggunya setiap ada kesempatan. “Lo emang bego. Kalau nggak, lo nggak mungkin sampai nolak lamaran Oki yang udah jelas tajir melintir dan malah pilih setia jadi cungpret di sini. Padahal kalau lo kawin sama Oki udah pasti lo bakal jadi Nyonya Oki Sanjaya yang sibuk arisan, pamer harta sana sini dan ongkang-ongkang kaki. Kurang bego apa lo?” Kemal sialan! Pakai mengingatkan acara lamaran heboh di lobi kantor akhir tahun lalu. Ya, sebelum dengan Laksa, Sandra memang sempat dekat dengan Oki Sanjaya, salah satu pemegang saham di perusahaan game di tempat Laksa bekerja. Tawaran itu datang sebelum Sandra mengenal Laksa. Oki Sanjaya dan para petinggi di kantor Sandra saling mengenal. Oki sempat beberapa kali bertandang ke kantor Sandra dan saat itulah Oki berpapasan dengan Sandra di lobi kantor. Tertarik pada pandangan kedua, begitulah kira-kira awalnya. Oki Sanjaya adalah orang yang menarik. Humoris dan cerdas. Perpaduan yang sangat langka. Sandra sendiri sempat tertarik dengan Oki kalau saja ajakan menikah itu tidak cepat datang. Oki terlalu ngebut sedangkan Sandra masih ingin jalan santai. Ingatan tentang Oki membawanya berjalan mundur ke hari kemarin. Danny tidak ada beda dengan Oki. Maunya segera mengikat ke pernikahan. Sandra tidak ingin cepat-cepat menuju ke sana. Masih belum begitu ingin. Lantas kenapa yang satu ini tampaknya menyulitkan? Apa bedanya? Seharusnya lebih mudah bagi Sandra karena Danny hanyalah mantan partner one night stand yang sudah sepantasnya hanya menjadi masa lalu. Semua sudah selesai sejak bertahun-tahun yang lalu. Tidak akan ada kisah yang harus dibuka atau dimulai kembali. “Kenapa lo diem? Jangan-jangan lo lagi menyesali keputusan udah nolak Oki? Gara-gara undangan dari dia tadi pagi?” Kemal memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan yang diabaikan oleh Sandra. Tadi pagi, undangan khusus dari Oki Sanjaya datang diantarkan oleh orang suruhan Oki untuk mengantarkan langsung ke Sandra–yang langsung mendapat sorakan riuh dari teman-teman sekantor. Belum ada yang melupakan kejadian memalukan tahun lalu ternyata. Mana sekarang Oki benar-benar akan menikah pula! Sandra tidak bisa lagi mengelak untuk semakin menjadi bahan olokan. “Masih ada dua minggu buat bikin Oki berpaling dari calonnya, San. Dari kabar yang gue dengar, mereka dijodohin. Perjodohan bisnis,” ucap Kemal sambil berbisik yang masih bisa didengar oleh rekan kerjanya yang lain. “Gue yakin Oki masih tertarik sama Sandra, sih,” komentar Aryo setelah menghabiskan makan siangnya. “Gue setuju!” seru Andini dan Mala berbarengan. “Berisik banget, sih, kalian! Gue mau makan di pantri dan jangan ganggu! Gue mau telponan sama pacar gue!” Sandra melenggang dengan cepat ke arah pantri setelah pesanannya datang. Tidak mempedulikan teriakan Kemal yang masih saja mengungkit tentang Oki. Masalah yang sekarang bukan lagi tentang Oki. Namun, manusia bernama Danny yang membuat Sandra tidak bisa konsentrasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN