Setelah hari-hari kerja yang berlalu begitu lambat, memusingkan dan bikin stres, akhirnya sampai juga ke penghujung hari kerja. Weekend sudah di depan mata. Jumat sore yang masih cerah, tetapi Sandra sudah keluar dari kantor. Sesuatu yang terlampau jarang terjadi selama beberapa bulan belakangan karena ia selalu terjebak dengan segunung pekerjaan yang memaksanya tinggal hingga matahari sudah tenggelam di peraduan.
Dengan senandung riang, Sandra melajukan mobilnya ke rumah Rena di Bekasi, temen terdekat yang sedang ia butuhkan untuk berbagi keluh kesah. Mereka sudah janjian akan melakukan sesi pillowtalk–Sandra akan menginap di rumah Rena–setelah sekian lama kegiatan itu terlewat karena kesibukan masing-masing.
Sandra sedang membutuhkan berbagai macam umpatan, dari Rena untuk membuatnya sadar dan kembali ke jalan yang lurus.
Bukan. Bukan berarti Rena adalah orang suci yang selalu berada di jalan yang benar. Hanya saja Rena lebih punya pegangan ketimbang dirinya untuk tetap berada di jalur yang sesuai.
Sebenarnya ada Erika–tujuan yang paling baik di antara teman-teman Sandra yang lain–yang akan memberikan wejangan dan siraman rohani agar Sandra tidak oleng. Ya, Erika ibarat holy water. Namun, situasi Sandra belum terlalu mendesak untuk mendapatkan itu.
“Ren, please pisuhin gue sekarang!” teriak Sandra begitu sampai di pintu kamar Rena yang menjeblak lebar karena dorongan dari tangannya yang terlalu kuat.
“Si setan main banting pintu aja lo! Gimana kalau jantung gue nggak kuat terus kena serangan dan bikin gue kejang-kejang, hah?!” Rena berjengit kaget dari posisinya yang tadinya sedang tiduran di atas kasur dengan sheet mask yang menutupi wajah. Padahal belum ada sepuluh menit sheet mask itu terpasang. Terpaksa harus ia lepas karena kehadiran Sandra yang lebih cepat dari yang diperkirakan.
“Sorry. Gue lagi sumpek banget. Otak ngebul. Hati kebakaran. Bisa gilaaa,” cerocos Sandra sambil melangkahkan kaki ke dalam kamar Rena. Tidak begitu peduli dengan nasib sheet mask milik Rena yang baru saja tersia-siakan.
Rena memutar bola matanya mendengar keluhan Sandra yang sangat berlebihan. “Tolong dikondisikan. Nggak usah lebai.”
Setelah meletakkan tas, melepas setelan kerja yang menyisakan tanktop dan hotpans, Sandra duduk bersila di lantai beralaskan karpet lalu memulai sesi curhat, “Minggu lalu ada arisan di rumah gue–”
“Gue udah tahu bagian itu,” potong Rena dengan cepat. “Tante Farida bilang kalau lo nggak ngebolehin gue dateng, fyi. So, skip aja langsung ke inti masalah.” Ia menyodorkan kapas dan micelar water ke tangan Sandra yang berada di atas paha.
Sandra mendelik kesal. Tidak terima karena Rena asal memotong pembicaraannya begitu saja. Tangannya kemudian sibuk menghapus sisa make up di wajah sambil berkata, “Gue ketemu lagi sama cowok itu, Ren.”
Air muka Sandra berubah. Sebenarnya ia cukup malas mengungkit masalah Danny, tetapi tidak bisa. Ia ingin segera menyingkirkan pikiran tentang Danny yang mengganggu kinerja otaknya.
“Cowok yang mana? Kan banyak,” kata Rena sambil memperhatikan Sandra yang kembali menuang micellar water pada kapas.
“Yang itu.”
“Yang itu, tuh, yang mana? Gue bukan admin yang ngurusin deretan mantan-mantan lo,” jawab Rena dengan sewot.
Sandra berdecak sambil melemparkan kapas bekas ke muka Rena. “Lo kenapa jutek banget sama gue? Nggak ikhlas, ya, gue main ke sini?”
Rena memungut kapas yang hampir mengenai mukanya itu dan melemparkannya ke tempat sampah yang berada di dekat pintu kamar. “Emangnya gue selama ini ikhlas? Nggak ada ceritanya.”
“Sialan lo!”
“Jadi siapa?” tanya Rena lagi.
“Cowok yang di club, Ren. Masa lupa?” Sera menggeram karena geregetan. Mengobrol dengan Rena hampir selalu membuat Sandra naik darah karena temannya itu terkadang agak lemot.
“Yang kenalan sama lo di club kan nggak cuma satu, mana gue inget” jawab Rena dengan memutar bola mata. Rena malas menebak-nebak karena Sandra punya terlalu banyak gebetan yang gagal menyandang gelar pacar.
“Ini yang paling berperan besar di hidup gue setelah lulus kuliah, Rena sayang. Yang bikin gue lepas perawan,” terang Sandra dengan isi kepala melayang jauh ke kejadian bertahun lalu, kemudian beralih ke kejadian di hari Minggu kemarin. Ucapan Danny tempo hari itu terngiang-ngiang di telinga.
“Bercanda lo.”
Rena melebarkan mata. Terkaget-kaget. Akhirnya ia paham siapa yang dimaksud oleh Sandra. Laki-laki yang membuat Sandra lepas perawan di hari wisuda mereka. Laki-laki yang secara tidak langsung sudah mengubah hidup Sandra hanya dalam satu malam.
“Buat apa sih gue bercanda? Beneran Danny, Ren. Cowok yang sama dengan yang pernah tidur sama gue lima tahun lalu. Gue nggak lupa, begitu juga dia.”
Rena mencoba menelaah. “Lo tadi mau cerita dari pas arisan, kan? Maksud lo, si Danny dateng ke rumah lo dan ikut arisan?”
Sandra mengangguk lemah.
“Demi apa?!” Rena memekik tertahan.
Seolah dulu Rena tidak cukup kaget dengan berita Sandra lepas perawan sesaat setelah upacara wisuda kelulusan, kini ditambah dengan berita pertemuan kembali Sandra dan Danny–sang tersangka–yang tidak kalah mengejutkan. Lelucon macam apa ini?
“Sumpah. Gue juga kaget banget waktu dia nongol di depan pintu rumah gue. Sumpah keder banget gue. Mana dia santai banget bilang ‘long time no see, Sandra’. dikira temenan kali nyapanya kayak orang udah deket aja.”
Rena masih terkaget-kaget. “Kok bisa, sih?”
Sandra memasok oksigen ke dalam paru-parunya banyak-banyak dan mengembuskannya dengan perlahan. Kemudian berkata, “Jelas bisa. Dia nganterin nyokapnya yang ternyata juga anggota arisan yang sama barengan nyokap. Gue kenal baik sama nyokap si Danny ini pula. Sialnya, nyokap gue sama nyokapnya Danny ternyata emang sengaja kongkalikong di belakang gue buat ngejodohin gitu. Gue udah tahu sih masalah jodoh-jodohan dengan anaknya Bu Mutia ini, soalnya dia sering nyinggung tentang anaknya gitu tiap ketemu. Mana gue tahu kalau ternyata anaknya Bu Mutia ini si Danny.”
Penjelasan dari Sandra itu membuat Rena terdiam cukup lama.
“Oke. Gue paham.” Rena mengangguk dengan pasti, tetapi ada yang terasa mengganjal di otaknya. “Terus … masalahnya apa emang?”
“Danny bilang kalau dia pengen gue ngasih kesempatan buat gue sama dia,” ujar Sandra mengulang apa yang diucapkan Danny. Batasan waktu yang diberikan Danny akan habis dalam dua hari. Sandra belum menemukan jawaban pasti. Padahal seharusnya ia menolak dengan mudah. Bukankah seharusnya memang begitu? Hanya saja itu terasa salah dan Sandra tidak tahu kenapa.
“Serius?”
“Banget. Dia udah dikejar-kejar sama nyokapnya disuruh cepet kawin,” jawab Sandra menggebu.
“Kan udah pernah, tuh, sama lo!” seru Rena disertai tawa terbahak, yang langsung dihadiahi lemparan bantal dari Sandra.
“Maksudnya bukan kawin yang itu, Kambing! Ck, harusnya gue ke Erika aja tadi. Nggak bener kalau curhat sama lo.”
“Jadi alasan dia ngelamar karena nyokap? Bukan karena naksir sama lo?” tanya Rena, mengabaikan omelan Sandra.
“Dia nggak ngelamar gue!” sangkal Sandra cepat-cepat. Bayangan Oki yang melamarnya dadakan kembali mengisi otak, membuatnya kesal setengah mati. “Dia cuma nawarin buat berhubungan aja. Lo tahu, kan, maksud gue? Dan gue sama sekali nggak tahu Danny naksir gue apa enggak. Gue nggak bisa nebak isi hati orang.” Sandra menarik napasnya lalu kembali berkata, “Nggak mungkin juga dia naksir gue. Ketemu aja baru sekali.”
“Berhubungan itu maksudnya dia ngajak ML lagi? Sekarang udah naik tingkat jadi friends with benefits gitu? Udah bukan mantan partner one night stand?” tanya Rena sambil nyengir bego.
Pertanyaan yang berisi sindiran itu membuat Sandra tersedak kopi Starbucks yang tadi ia beli–sekalian membelikan titipan dari Rena yang terhormat.
“Otak lo kenapa mikirnya s**********n mulu, sih?” Sandra memprotes dengan kesal.
Rena tertawa keras hingga terbungkuk-bungkuk. “Sumpah, lo sensi banget. Gitu doang ngamuk. Gue bercanda kali,” ucap Rena disela-sela tawanya. “Terus lo maunya gimana? Mau mempertimbangkan tawaran dia?”
“Please, Ren. Dia mantan ONS gue! Gila aja kali gue mau berhubungan lagi sama dia. Gue nggak ingat gimana waktu pertama kali ketemu dia, tapi pas ketemu lagi tuh dia auranya kayak beda gitu. Dingin, cuek, entahlah pokoknya kayak patung es,” ucap Sandra masih dengan kekesalan yang memuncak. Membayangkan ekspresi datar di wajah Danny membuat Sandra semakin senewen. Dilamar oleh Oki yang humoris saja masih menimbulkan percik kengerian di hatinya. Apalagi harus mendengar ajakan lamaran dari bibir Danny. Sandra bisa mati berdiri.
“Nah, itu lo udah tahu jawabannya. Terus apa masalahnya? Tinggal ditolak. Abaikan. Buang jauh-jauh. Selesai perkara. Astaga, gue kira masalahnya beneran rumit. Ternyata gitu doang.”
“Gampang banget lo kalau ngomong. Nggak se-simple itu, kali!”
“Bagian nggak simple-nya di mana? Nyokap lo maksa buat kenalan lebih jauh? Nggak ada, kan?”
Sandra tergugu, masih tidak cukup puas dengan jawaban Rena, tetapi tidak ada argumentasi lain yang bisa ia lempar. Ia tidak mau berhubungan dengan Danny, tetapi tidak kuasa menolak. Entah apa yang dia inginkan.
“Bentar, deh, gue tanya. Lo masih sama Laksa, kan?” Rena memasang wajah yang berbeda. Gurat canda sudah hilang sepenuhnya.
“Masih.”
“Nggak bosen sama dia?”
“Nggak.”
“Masih sayang?”
“Ya, masih.”
“Pengen selamanya hidup sama dia?”
“Nggak tahu.”
Rena melipat kedua lengan di bawah d**a. Matanya menyipit, mencoba menelaah ekspresi kebingungan yang timbul tenggelam di wajah Sandra. “Kenapa lo bisa nggak tahu?”
“Gue belum yakin bakal bisa ngabisin hari tua sama Laksa,” jawab Sandra tanpa menutup-nutupi. Setidaknya untuk masalah ini, Sandra tidak akan pernah berbohong.
“Kenapa nggak bisa?” desak Rena.
“Karena status hubungan gue sama Laksa nggak akan pernah berubah.”
“Bukan berarti kalian akan pisah dan nggak bareng-bareng sampai tua, kan?”
“Gue bilang gue nggak tahu,” desah Sandra putus asa.
Membicarakan perihal masa depan yang tak pasti tentu tidak pernah mudah. Tidak ada yang bisa dijadikan jaminan. Yang bisa dilakukan adalah gambling dengan keadaan. Mempertaruhkan masa yang akan datang berdasarkan keputusan-keputusan yang akan kita ambil di masa sekarang. Tidak akan ada jalan mundur maupun tombol rewind setelah kakimu melangkah ke arah yang kamu pilih.
“Kenapa lo menyimpulkan begitu?” tanya Rena dengan sangsi.
“Gue ngerasa kalau Laksa itu bukan the one. Tapi masalahnya sampai sekarang gue masih betah sama dia. Belum mau pisah juga. Dia juga anaknya nyantai banget. Nggak pernah ngungkit masalah kawinan.”
Benar. Selama hampir satu tahun berhubungan, tidak pernah satu kali pun membahas tentang pernikahan. Mereka memang mendiskusikan tentang rencana masa depan. Tentang pencapaian apa yang ingin diraih. Tentang tempat-tempat menarik di Indonesia dan di dunia yang ingin dikunjungi bersama. Tentang banyak hal. Kecuali tentang pernikahan.
“Dan lo nggak masalah kalau ternyata Laksa nggak punya tujuan ke sana sama lo?”
Sandra diam tak berkutik.
“Lo pernah kepikiran pengen nikah nggak?” tanya Rena lagi.
“Sesekali gue kepikiran ke sana. Tapi bukan yang pengen banget. Dan untuk sekarang gue masih pengen begini.”
“Mending lo langsung tolak aja, ngomong baik-baik kalau lo belum siap diajak berhubungan serius. Kalau dia mau nunggu sampai lo mau serius, bisa lo buat sebagai pertimbangan. Dan gue yakin dia nggak akan mau nunggu. Umur dia berapa?”
“Thirty something gitu kayaknya.”
“Pertengahan tiga puluh, tuh, biasanya emang gencar-gencarnya cowok pada nikah. Sebelum empat puluh biar nggak terlalu om-om. Danny nawarin berhubungan serius gue rasa karena emang beneran udah mau atau juga capek sama desakan keluarga.”
Sandra mencebik saat teringat lagi dengan perkataan Danny. “Kayaknya emang dua-duanya, sih.”
“Sandra, temen gue yang punya mantan gebetan segambreng. Gue kasih tahu, ya, lo udah punya Laksa. Perjalanan kalian berdua masih panjang. Entah nanti berujung pernikahan atau nggak, gue sarankan lo bertahan. Atau paling nggak lo tanya sama Laksa juga dia maunya gimana. Terus kalau misal lo mau sama Danny, lo harus mulai dari awal. Butuh proses pendekatan yang makan waktu, sementara dia mau jalan cepet. Nah, lo sendiri gimana? Lo maunya jalan lambat, kan? Diburu-buru, tuh, nggak enak. Apalagi dengan hati yang berat dan terpaksa. Hasilnya nggak akan baik. Jadi sekarang, semua terserah lo. Pikir baik-baik. Putuskan setelah lo bisa mikir dengan logis, tapi jangan lupa pakai perasaan juga. Logika sama perasaan harus imbang pokoknya.”
Sandra menatap Rena dengan kekalutan yang berangsur hilang. Sudut hatinya telah memutuskan. Semoga pilihan yang ia ambil adalah hal yang benar. Ya, semoga saja.
“Gue minta sheet mask, dong! Mau memanjakan diri!” teriak Sandra sambil melemparkan badan hingga telentang di atas kasur.