BAB 05. Arah

2216 Kata
Danny seperti kembali masa lalu saat seorang wanita dengan anggun berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu mengenakan kebaya brokat berwarna broken white berlengan pendek dengan jarik lilit bermotif mega mendung membungkus tubuh bagian bawah. Memperlihatkan tubuh sintalnya yang padat dan berisi di tempat-tempat yang tepat. Di tangannya tergenggam clutch yang serasi dengan kebaya. Kaki wanita itu terbungkus high heels berwarna senada. Danny kemudian melarikan mata pada wajah ayu yang juga sedang menatapnya. Harus Danny akui kalau ia terpesona. Ini kali kedua–setelah bertahun-tahun yang lalu–ia melihat seorang Sandra berdandan full make up.  Rambut hitam sebahu milik wanita itu tergerai bebas dengan hiasan jepit rambut beraksen bunga kecil di sisi kanan kepala. “Kamu ngapain di sini?” tanya wanita itu dengan agak judes. Sangat tidak sesuai dengan penampilannya yang anggun. “Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” Danny bertanya balik sambil menikmati ekspresi wajah Sandra yang seperti tengah menyimpan amarah terhadapnya. “Saya kondangan,” jawab Sandra dengan malas. Padahal salah dia sendiri yang pertama menanyakan tentang sesuatu yang jawabannya sudah jelas. “Jawaban saya juga sama,” Danny menjawab dengan spontan. “Kamu teman mempelai wanita?” tanyanya kemudian. “Bukan. Saya kenalan Oki Sanjaya.” Ada keengganan saat nama Oki terucap dari bibir Sandra. Pupil mata Danny melebar. “Lho, kamu kenal sama Oki?” “Iya. Kalau nggak kenal saya nggak akan di sini sekarang,” jawab Sandra masih mempertahankan nada jutek dalam suaranya. Lagi-lagi pertemuan tak terduga. Dunia memang sesempit itu sampai-sampai di acara kondangan pun kembali bertemu, sebagai tamu undangan dari Oki. Sandra masih tidak bisa habis pikir, bahkan mereka mempunyai kenalan yang sama. Semesta suka sekali mempermainkan manusia. Bersitatap dengan Danny tidak pernah tidak membuat hatinya tenang. Sulit untuk mengendalikan emosi karena hanya dengan melihat wajah lempeng Danny itu saja Sandra tidak tahan. Tidak tahan untuk membuat muka rupawan itu babak belur. Tadi saat Sandra menangkap siluet laki-laki itu dalam balutan batik saja sudah membuatnya mendesis kesal karena sudut hati terdalamnya dengan mudah memuji Danny. Kewibawaan laki-laki itu semakin terlihat dalam balutan batik berlengan panjang yang dikenakannya saat ini. Rambut ikalnya juga tersisir rapi. Hanya satu saja yang kurang. Laki-laki itu pelit senyum. Setiap kali melihat Danny, Sandra akan otomatis teringat dengan Nicholas Saputra saat sedang jelek. Yang artinya adalah Danny–kembaran pemeran Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta KW super–itu selalu tampil ganteng. “Oki nggak pernah bilang kalau kenal sama kamu,” gumam Danny pelan. “Kamu barusan ngomong apa?” “Saya nggak ngomong ke kamu, kok.” “Oh, oke. Kalau gitu saya duluan, Danny,” pamit Sandra saat melihat Laksa berjalan mendekat ke arahnya. Laki-laki yang tadinya pamit untuk ke kamar kecil dan meninggalkan Sandra sendirian itu sudah kembali. “Sandra, sebentar!” seru Danny, menahan Sandra yang sudah mau melangkah pergi. “Kamu sudah makan?” “Udah. Saya mau salaman terus pulang,” jawab Sandra buru-buru. Seperti enggan berlama-lama bersama Danny. Ia tidak ingin tambah pusing menghadapi Laksa yang mungkin saja curiga. Well, memang kemungkinannya kecil sekali. Laksa adalah tipe pasangan yang santai dan membebaskan Sandra untuk berteman dengan siapa saja. Tidak dipungkiri, laki-laki itu juga berteman dengan banyak wanita yang tergabung dalam komunitas gamers di Indonesia–bahkan sering mengadakan kopi darat sampai menyewa vila untuk menginap bersama–dan Sandra juga santai saja. “Saya bareng kalau gitu,” ujar Danny lagi. Seperti belum ingin melepas Sandra pergi. “Saya–” “Sandra, ayo!” Panggilan dari Laksa menghentikan kalimat yang akan diucapkan Sandra kepada Danny. Sandra pamit dengan cepat dan langsung menggandeng lengan Laksa menuju antrian untuk salaman dengan pengantin. Sandra menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Danny berada dan mencoba fokus ke depan. *** Butuh lebih dari sepuluh menit untuk akhirnya sampai pada giliran Sandra dan Laksa naik ke pelaminan. Mereka langsung disambut heboh oleh Oki Sanjaya yang notabene adalah atasan tidak langsung dari Laksa. “Saya patah hati lho, Sandra. Ternyata kamu diam-diam deketin anak buah saya sendiri. Pantas lamaran saya kamu tolak mentah-mentah. Saya masih patah hati lho, ini,” canda Oki yang langsung ditanggapi Laksa dan Sandra dengan dengusan. Sedangkan dari istrinya, ia mendapat bonus pukulan di lengan. “Saya sama Laksa kenal setelah lamaran aneh kamu itu, Ki.” Sandra menyalami Oki Sanjaya dengan sopan lalu beralih ke istri Oki yang tampak anggun dengan kebaya berwarna ungu yang sangat mewah dan melekat pas di badan. Senyumnya manis dan tulus. “Selamat, ya, Mbak Olivia. Saya mendoakan kebahagiaan kalian berdua.” “Terima kasih, Sandra. Saya beberapa kali dengar tentang kamu dari Oki. You’re such a great woman.” Olivia melebarkan senyum. “And please just call me Oliv.” Sandra sudah sering mendapat pujian itu, tetapi ia masih suka tersipu. Apalagi yang baru saja memujinya adalah seseorang yang dulu pernah ikut ajang Miss Indonesia. Kecantikannya paripurna. “Saya nggak sekeren itu aslinya. Cuma, saya nggak mungkin nunjukin kejelekan saya di depan laki-laki, kan?” balas Sandra disertai tawa. “Oki adalah orang paling jujur yang saya tahu. Dia nggak bohong waktu bilang kamu berhasil bikin dia kebakaran jenggot waktu kamu tolak.” Olivia tertawa pelan. Getaran punggung dan pergerakan tangan yang menutup bibir pun tidak mengurangi keanggunan wanita yang kini menyandang nama Sanjaya itu. Sandra tidak bisa untuk tidak berdecak kagum. “Keputusan saya nolak dia nggak salah, kan, Mbak?” Sandra ikut tertawa bersama Olivia. Dalam hati ia sibuk membandingkan dirinya dengan Olivia yang mana tidak akan sebanding. Sandra merasa dirinya terlalu urakan, sementara Olivia sangat berkelas. Sangat terlihat dari tutur kata dan cara tertawa Olivia yang begitu anggun. Dan Sandra benar-benar mensyukuri keputusannya untuk tidak menerima Oki Sanjaya. Laki-laki itu tampak bersinar di samping Olivia. Ada sinar bahagia yang tidak ia tutup-tutupi. “Ya, walaupun agak susah juga menarik dia dari patah hati,” ungkap Olivia dengan jujur. Keduanya tertawa lagi. “Sandra, kita udah dipelototin banyak orang, tuh,” ujar Laksa mengingatkan. Dagunya menunjuk ke arah belakang. Sandra nyengir dan buru-buru menuntaskan obrolannya yang cukup seru dengan Olivia. “Pokoknya selamat menikmati kehidupan pernikahan,” ucap Sandra kepada dua mempelai dan diakhiri cium pipi kanan kiri dengan Olivia. Sandra turun dari pelaminan dengan membawa janji Olivia untuk sesekali bertemu. Sama sekali tidak Sandra sangka-sangka akan menjalin pertemanan dengan istri Oki Sanjaya hanya karena obrolan ringan tentang masa lalunya dengan Oki yang tidak seberapa. “Mau ke mana setelah ini?” tanya Laksa saat sudah berjalan bersisian dengan Sandra. Keduanya meninggalkan aula hotel untuk menuju parkiran. “Pulang ke apartemen aja.” “Oke.” Laksa menarik kunci mobil dari saku celana. “Your place or mine?” Sandra berpikir sebentar sebelum bertanya, “Di tempat lo ada baju gue nggak, ya?” “Ada kayaknya. Minggu lalu, pas lo nggak jadi nginep itu, kan, ada baju yang lo tinggal,” kata Laksa sembari mengingat-ingat. “Kalau nggak ada, nanti tinggal pake kaos gue. Seperti biasa.” Sandra mengangguk setuju. Kemudian meereka memutuskan untuk singgah ke apartemen Laksa tanpa banyak berdebat. Sementara itu, dari kejauhan, Danny melihat interaksi akrab antara Sandra dan laki-laki itu dengan tatapan yang sulit diartikan. *** “Kapan-kapan mau nggak main ke rumah gue?” tanya Sandra kepada Laksa yang sedang berbaring dengan menggunakan paha Sandra sebagai bantal. Saat ini keduanya sudah berada di apartemen Laksa setelah pulang dari acara resepsi pernikahan Oki Sanjaya dan Olivia. Dan Sandra harus berpuas dengan memakai baju ganti kaus besar dan celana training milik Laksa yang tampak kedodoran di tubuhnya. Sedangkan Laksa kini hanya mengenakan celana kolor bermotif batik dan singlet putih, sangat bapak-bapak sekali. Laksa yang saat ini sedang fokus dengan ponsel di tangan tanpa sadar menaikkan alis. “Ke rumah yang di Depok?” tanya Laksa balik bertanya, tanpa mengalihkan mata dari ponsel yang sedang menampilkan sebuah game. Jari-jarinya dengan lincah menekan layar. “Iya. Sekalian kenalan sama Mama.” Sandra dan Laksa memang belum saling mengenalkan ke orang tua masing-masing. Alasan yang Laksa berikan adalah karena orang tua laki-laki itu tidak tinggal di ibu kota. Selalu dengan tambahan kata ‘lain kali’ setiap Sandra tidak sengaja mendengar Laksa menjawab telepon dari orang tuanya yang menanyakan tentang sang kekasih. Sandra maklum karena ia sendiri pun belum siap jika harus berkenalan dengan orang tua Laksa walau hanya sebatas melalui telepon. Sedangkan Sandra, awalnya memang belum ingin mengenalkan siapa-siapa. Namun, setelah beberapa minggu terakhir selalu saja tanpa sengaja berurusan dengan Danny, membuat wanita itu berpikir banyak. Tidak ada salahnya mengenalkan kekasihnya kepada Farida. Setidaknya agar ibunya itu mengejar-ngejar dirinya untuk menikah. Laksa masih terfokus pada ponselnya dan sesekali mengumpat kecil lalu kembali menyahuti, “Kenapa tiba-tiba? Biasanya lo selalu nolak tiap gue mau anterin lo.” Sandra yang agak sebal karena Laksa yang lebih memilih game-nya dengan sengaja menjambaki rambut cepak Laksa dengan gemas. “Ya nggak papa, kenalan biasa.” “Sandra, tangan lo jail amat. Ganggu konsentrasi, nih!” seru Laksa, tetapi tidak berpindah tempat. Kepalanya masih berada di paha Sandra yang sudah mulai kebas. Sandra mencibir kesal lalu matanya kembali beralih menatap layar TV yang sedang menayangkan serial di Netflix. Tangannya sesekali mencomot snack yang berada di samping pahanya. Menyuapkan satu biji ke mulutnya, lalu ke mulut Laksa saat laki-laki itu meminta, begitu terus hingga puluhan menit berlalu tanpa percakapan berarti karena keduanya sudah fokus pada layar yang berbeda. “Oh iya,” Laksa tiba-tiba menurunkan ponsel dan mengakhiri sesi main game-nya kala otaknya mengingat sesuatu yang tiba-tiba mengganggu otaknya, “di kondangan Oki tadi, lo ngobrol sama siapa sih waktu gue ke WC?” Laksa mengubah posisinya dari rebah menjadi duduk dan menghadap ke arah Sandra. Laksa menatap Sandra dengan tatapan yang bisa dikatakan biasa saja, tetapi Sandra bisa menangkap keingintahuan yang cukup besar di mata laki-laki itu. Sandra menjawab dengan tenang, “Anaknya teman arisan Mama. Pernah nganter nyokapnya gitu pas ada arisan di rumah gue beberapa minggu lalu itu.” Sandra tidak sepenuhnya berbohong. Danny memang hanya sebatas itu. Anak dari teman ibunya yang kebetulan ia kenal. Laksa masih menatapnya dengan tenang saat kembali mengajukan pertanyaan, “Kayak kelihatan akrab?” “Biasa aja. Tadi juga dia cuma nanya gue di sana jadi tamunya siapa.” Laki-laki yang memiliki iris mata berwarna cokelat itu mamnggut-manggut. “Yakin cuma kenalan?” Pertanyaan dari Laksa yang diucapkan dengan nada santai itu membungkam mulut Sandra selama beberapa saat. Hatinya mendadak tidak yakin hanya karena dua kali pertemuan yang Danny beberapa kali ini membuat Sandra semakin goyah. Padahal sebelumnya Sandra sudah mantap untuk tetap pada pendirian yaitu, menjalani hubungan bersama Laksa dengan santai dan membiarkan waktu yang akan memutuskan ke mana mereka berdua akan melangkah. Namun, kenapa harus ada setitik keraguan di dalam hatinya? Kenapa harus sekarang? “San, kenapa malah bengong?” Sandra tersenyum kaku dan menjawab, “Iya. Cuma sekadar kenal. Ketemu juga baru dua kali doang, kok.” Tiga kali kalau yang pertemuan pertama banget dihitung, lanjut Sandra dalam hati. “Oh, gitu.” Laks ayang merasa sudah cukup terpuaskan dengan jawaban yang diberikan Sandra beralih menatap ke layar TV yang masih menampilkan serial yang sama sejak tadi. “Jadi, gimana? Mau nggak main ke rumah? Biar Mama nggak jodoh-jodohin gue sama anak temennya mulu.” Laksa menoleh dengan cepat. Informasi ini adalah hal baru karena Sandra tidak pernah mengungkit-ungkit tentang mamanya yang suka menjodohkan wanita itu. “Dan laki-laki yang tadi juga dijodoh-jodohin ke lo?” tanya Laksa dengan kernyitan di dahi. Sandra meringis. Seperti sudah salah bicara. “Ya, gitu.” Laksa sejujurnya tidak terlalu ambil pusing karena dirinya pun sering kali diteror ibunya yang tinggal di Yogyakarta untuk segera membawa pulang calon istri. Beberapa kali juga ibunya mengirimkan nomor telepon milik anak temannya yang berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas negeri di Jakarta. Laksa mengabaikan itu, tentu saja. “Bulan depan gimana?” tawar Laksa setelah terdiam beberapa saat. “Nggak bisa weekend depan, ya?” “Gue dinas lagi dua minggu ke depan.” Sandra berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Enak banget ya kerja dinas mulu. Bisa liburan tipis-tipis pula.” Laksa tertawa geli lalu mendengus. “Kelihatannya aja enak. Badan gue remuk gara-gara seminggu sekali naik pesawat mulu.” “Nggak ada bedanya. Nih, b****g gue tepos duduk depan komputer tiap hari.” “Tepos dari mananya? Terakhir gue pegang masih montok.” Sandra memekik kesal dan melemparkan bantal ke wajah Laksa yang sedang tertawa keras. “m***m banget lo setan!” “Setan tapi ganteng, kan? Lo juga demen.” “Astaga, gue geli banget.” Sandra memukul lengan Laksa dengan segenap tenaga. “Sakit, Sandra!” Laksa menghentikan serangan Sandra dengan menahan pergelangan tanagn Sandra. “Gue cium nih kalau masih mukulin badan gue.” Sandra langsung berhenti dan kemudian tertawa melihat Laksa mengelus lengannya dengan ekspresi kesakitan yang berlebihan. “Sini gue tiupin, dijamin langsung sembuh.” Sandra mendekat dan langsung mencium lengan atas Laksa dengan beberapa kali kecupan. “Sembuh, kan?” Sandra mengerling dengan senyum tertahan di bibir saat melihat Laksa yang melongo dibuatnya. “Lo hobi banget mancing-mancing gue, ya,” ucap Laksa gemas, “sini Abang sun dulu. Jangan lari!” Sandra tertawa lagi dan membiarkan dirinya ditarik lebih dekat ke tubuh Laksa. Sandra juga membiarkan bibirnya disapu dengan lembut oleh bibir tipis milik Laksa. Keduanya kemudian larut dalam ciuman yang panjang dan dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN