Max dan Stephan menatap Cally dan calvin bergantian--"Ter-ternyata itu kau Cal, syukurlah!" ujar Stephan dengan gaya Cool,sambil turun dari pangkuan Max.
Calvin dan Cally hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan Stephan. Cally mendekati Max yang sedikit memegangi leher nya.
"ada apa Max?" seru Cally
"aku hanya merasa aneh dengan tempat ini Cal, serasa ada bau amis dan aku sama-sekali tidak tahan!" seru Max
Cally mengangguk, ia memang sudah menyadari bau itu sedari tadi. Sementara Calvin mulai fokus dengan benda yang sejak tadi mencurigakan--"Cal, ada bayangan lagi!" seru Calvin. Mereka berempat langsung memasang kuda-kuda siaga, namun bayangan itu tak kunjung bergerak. Cally memutuskan untuk melangkahkan kaki nya mendekati bayangan.
"mayat nya menghilang!" ujar Cally
"kau yakin membunuhnya di sini?" ujar Stephan
"Cally benar Stephan, tidak kah kau lihat ada bercak darah di sini?" seru Max
Calvin masih diam sambil menatap sekeliling--"Aku rasa kita terlambat, mereka pasti sudah memindahkan semua tangkapan mereka dari sini karena aku rasa kedua orang itu hanya pengalih saja!" seru Calvin sambil mendekati sebuah ruangan gelap.
Calvin mulai mencari saklar lampu dan --Tek, ruangan gelap itu berubah menjadi sangat terang. Cally menatap ruangan itu dengan mata tidak percaya--" ini sepertinya memang ruangan mereka Cal, kau tidak lihat?" seru Stephan sambil menunjukkan sebua layar komputer digital.
"Dan ini lebih canggih dari komputer biasa!" seru Max
Cally melangkahkan kaki nya menuju sebuah lubang kecil, lalu memperhatikan sebuah rantai yang saling terhubung dan sebuah tetesan air yang terus mengalir--"mereka menahan nya dengan rantai dan tetesan air ini adalah penyiksa mereka!" seru Cally pada Calvin yang mendekatinya.
"Cal, lihat ini!" seru Stephan
Sebuah gambar dari sebuah pulau, kampus dan beberapa tempat juga--"well, biar aku tebak. Itu adalah gambar lokasi yang mereka targetkan!" ujar Max
"Cal, bukan kah ini pulau itu?" seru Stephan. Cally hanya bisa mengangukkan kepalanya, target mereka ternyata adalah sebuah pulau pengasihan milik FBI. Lokasi dimana para mafia, tahanan negara di tempatkan dan di siksa. "Kita harus segera bergerak, ini menyangkut negara dan aku rasa sudah waktu nya kita serius Cal. Aku rasa kau harus berbicara dengan jendral!"
***
"kau harus menceritakan kepada ku alasan kau tidak pulang semalam Calvin, aku terpaksa berbohong pada ayah mu mengatakan bahwa kau berada di rumah ku!" seru Christian pada Calvin.
Calvin masih setia berjalan tanpa menjawab pertanyaan Christian, Ia masih memikirkan tentang semua percakapan Cally, Stephan dan Max. Jika mereka ingin menyelamatkan negara, lantas mengapa ayah nya mengatakan bahwa Cally itu berbahaya?
"Hey, kau tidak menjawab pertanyaan ku?" seru Christian sambil menatap Calvin malas
Calvin menghela nafas nya, mereka berdua melanjutkan langkah mereka menuju kelas mereka. Calvin menatap kursi yang biasa Cally gunakan. Kursi itu masih kosong dan belum menunjukkan bahwa gadis itu akan hadir hari ini. Calvin menatap ke arah pintu, stephan dan Max sudah datang dan tanpa gadis itu. Christian yang duduk di sebelah Calvin menatap kemana arah pandang lelaki itu.
"Apa kau mencari keberadaan gadis itu Cal? Jangan katakan bahwa kau memang sudah menyukia gadis itu!" bisik Christian.
Calvin menoleh lalu menatap Christian--" kau mungkin sudah tau seperti apa aku selama 5 tahun ini bukan Christ? Dan setelah kehadiran gadis itu, aku merasakan perasaan ku menjadi lebih baik dan sedikit lebih hidup." seru Calvin
"Baiklah-baiklah, aku juga berpikir demikian. Lalu apa kau masih tetap berkonsultasi pada psikolog mu nanti? Ayah mu mengatakan bahwa agar aku yang menemani mu nanti!"
"Aku curiga dengan ayah christ!" seru Calvin
"Sebenarnya aku juga merasa ayah mu menyembunyikan sesuatu dari mu!" sambung Christ. Calvin dengan cepat menoleh, ia menatap Christian yang juga sedang menatap nya- " Well, kau tau bahwa ibuku adalah seorang Psikiater bukan?" seru Christian begitu menyadari arti tatapan Calvin.
"Ya, tentu saja aku tau. Lalu apa hubungannya?"
"Aku sudah beberapa kali bertanya pada ibu tentang psikolog yang menangani mu. Mereka bilang tidak mengenal nya, hal itu terdengar aneh menyadari ibu ku terkenal punya relasi yang baik ke semua psikolog di negeri ini tapi ibu sama sekali tidak mengenal mereka!"
Calvin menatap Christian tapi bunyi langkah kaki yang memasuki ruangan mereka,menghentikan acara penyelidikan mereka. Mr.Erick datang dengan tatapan mengerikan dan menatap Calvin dengan seringai yang jelas tercetak di bibir lelaki itu.
"Baiklah, silahkan lanjutkan pelajaran kita yang tertunda kemarin dan untuk Calvin sandiego, temui saya setelah kelas saya selesai tanpa teman, hanya seorang diri!" seru nya menatap Calvin sambil tersenyum miring. Calvin hanya mengangguk saja dan tidak terpengaruh sama sekali dengan senyum miring Mr.Erick
Calvil lalu mengedarkan pandangannya, ia menemukan Alvira. Si gadis yang ternyata selama ini adalah jalang yang begitu licik.
"mengapa dia menatap mu begitu Vin? Ada yang salah dengan mu?" seru Christian
"Tidak ada, bisakah kau membantu ku Christ?" seru Calvin
" ada apa?"
"aku membutuhkan semua data-data para Psikolog yang memeriksa ku. Aku tidak akan datang nanti dan sebagai gantinya kau yang akan berpura-pura mewakilkan ku dan disitulah kau berkesempatan untuk mengambil data mereka!"
"Well, itu tidak masalah. Tapi kau harus menceritakan kepada ku kemana kau akan pergi nanti dan juga mengapa kau tidak pulang semalam!"
"Baik, itu sama sekali tidak masalah!" seru Calvin
Seusai kelas Mr.Erick selesai, Calvin mengikuti langkah nya menuju ruang rektor. Calvin terus berjalan mengikuti kemana langkah Mr.Erick dan ternyata lelaki itu membawanya ke ruangan pribadinya. Nuansa gelap sedikit membuat bulu kuduk Calvin terangkat di tambah dengan lambang garuda yang terpajang di ruangan lelaki itu.
"Senang kau bisa selamat Calvin!" seru Mr. Ercik sambil menyeringai dari duduk nya
"dan senang bisa melihat mu lagi Mr.Erick!" seru Calvin
"Aku tidak akan berlama-lama, aku menawarkan kau untuk bergabung bersama ku. Melakukan penelitian dan menciptakan sesuatu yang akan ditakuti oleh semua orang, karena kau tidak akan bisa menangkap ku tanpa bukti yang jelas, jadi lebih baik kau bergabung saja dengan sukarela!"
Calvin menatap wajah Mr.Erick yang bisa dikatakan cukup tampan dan berwibawa, tapi kelakuannya begitu biadap dan tidak layak untuk di puji.
"Aku tidak berniat sama sekali bergabung dengan komplotan tidak berguna anda Mr.Erick dan saya keluar dulu!"
Shutt -- Calvin menghindar, pisau itu tertanjap di pintu. Calvin membalikkan badannya--" kau tidak berpikir jika kau masuk ke ruangan ku maka tidak akan ada jalan untuk keluar Calvin!" kekeh Erick
Calvin menatap Mr.Erick tajam--"perbuatan anda begitu tidak terpuji Mr.Erick, ternyata aku salah menilai mu selama ini!"
"kau hanya bisa memilih, kau bergabung atau akan mati di ruangan ku ini dan asal kau tau. Ruangan ku ini adalah ruangan kedap suara, jadi jika aku membunuh mu dengan pistol ku. Maka hanya aku saja yang akan tau!" seru Mr.Erick sambil mengarahkan pistol nya tepat di kepala Calvin
tok...tok..tok
Mr.Erick langsung menurunkan pistol nya--"masuk!" seru nya
Mr.Clark memasuki ruangan sambil membawa beberapa dokumen, semetara Calvin menghela nafas. Setidaknya ia bisa selamat kali ini--" Kau di sini juga Calvin? Kebetulan sekali, bisa kah kau memberikan berkas ini pada Max?" seru nya sambil memberikan beberapa berkas
"aku belum selesai dengan nya Mr.Clark!" seru Mr.Erick dengan intonasi di tekan
"Saya rasa saya berhak memakai anak didik saya sendiri Mr.Erick dan saya berhak melindungi nya!" seru Mr.Clark sambil menatap Calvin seolah memberikan isyarat agar lelaki itu pergi.
Calvin dengan segera pergi sambil membawa berkas itu keluar --" jangan ikut campur dengan urusan ku Clark, atau tidak kau akan menyesal!" seru Mr.Erick
"aku tidak merasa mencampuri urusan mu Erick, hanya saja aku tidak bisa mempercayakan murid ku kepada mu!" seru Mr. Clark --"aku pergi dulu!" sambung nya
Erick mengumpat dalam hati "kau akan tau apa akibatnya jika bermain-main dengan ku Clark!" seru Erick
Shutt --" kau punya refleks yang bagus Erick, sama seperti Calvin!" kekeh Mr.Clark ketika mendapati Erick berhasil menghindari pisau yang ia lempar tiba-tiba
"Clarkk!" teriak Erick. Hampir saja pisau itu menembus kepalanya jika ia lalai sedetik pun. Erick mengumpat dalam hati, sepertinya ia ketahuan ketika melemparkan pisau itu. Erick mengumpat ketika menyadari bahwa ternyata di ruangannya terdapat sebuah CCTV dan ia baru sadar bahwa Mr.Clark adalah teknisi IT di kampus mereka. Pantas saja lelaki itu datang tepat waktu, batin Mr.Erick.
***
Calvin dengan cepat berjalan menuju ruangan kelas nya. Tapi suara yang memanggilnya menghentikan langkah nya.
"Tunggu sebentar Calvin!"
Calvin membalikkan badannya, ia menatap Mr.Clark yang sepertinya berusaha untuk mengejarnya
"ada apa Mr.Clark?" seru Calvin
"Lain kali kau harus berhati-hati dengannya, kau tidak akan pernah tau seperti apa kelicikan nya!"
"baik dan terimakasih telah datang tepat waktu Mr.Clark!"
"tidak apa-apa dan itu sudah kewajiban ku untuk melindungi kalian. Apakah sudah ada kabar terbaru dari Leo?"
"Maaf Mr.Clark, saya belum mendapatkan Clue apa-pun, tapi saya dan Christian akan berusaha ikut mencari nya!"
"baiklah! sekarang segeralah pergi, saya sarankan agar tetap berhati-hati!"
Calvin mengangguk dan segera pergi Mr.Clark hanya menatap kepergian Calvin, ia berharap semoga Cally bisa menyelesaikan masalah di kampus mereka dengan segera.
***
Cally berjalan dengan santai sambil sesekali melihat sekeliling. Bandara yang ramai akan pengunjung membuat gadis itu sedikit kewalahan untuk mencari sosok yang menjadi tujuan kedatangannya ke sini. Cally kembali mengecek handphone nya dan belum ada notif sama sekali.
Pandangan Cally lalu tertuju pada seorang pria bertubuh tegap mengenakan lambang garuda di bagian kerah lelaki itu. Cally memejamkan matanya, lambang itu,Lambang yang sama dengan lambang yang ia lihat semalam.
Cally mempercepat langkah nya, ia mengikuti langkah pemuda itu tapi pemuda itu sepertinya menyadari keberadaan Cally. Ia berlari dengan cepat lalu memasuki sebuah mobil yang juga berlambang garuda.
Shitt-- " mereka kabur lagi!" seru Cally sambil mengumpat
Cally akhirnya berjalan menuju ruang tunggu lagi. Ia kembali menatap sekeliling dan yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Pemuda bertubuh tinggi dan warna rambut kecoklatan berjalan dengan gaya nya yang Cool sambil mendekat ke arahnya. Cally yang sudah tidak sabar segera berlari dan menubruk tubuh pria bertubuh tinggi itu. Lelaki itu melebarkan tangannya dan lansung memeluk tubuh Cally sambil terkekeh.
"Apa abang membuat mu menunggu lama?" seru nya. Cally melepas pelukannya lalu beralih menciumi pipi lelaki itu.
"Udah Cal, tidak malu dilihatin orang?"
Cally menyudahi acara pelukan mereka, lalu menatap Alex lekat. Beberapa bulan tidak melihat abang kesayangannya ini memang benar-benar membuat Cally merasakan kerinduan.
"kau bertambah kurus saja Alex, apa selama di rusia kau lupa makan?" seru Cally
"Hell, tentu saja. Kau tidak ada dan aku selalu melupakan acara makan siang ku!" seru Alex
"Sudah aku tebak, ya sudah. Ayo pergi!" seru Cally sambil menggandeng lengan Alex dominic itu. Satu-satu nya abang yang ia punya.
Cally dan Alex sampai di markas Cally. Max dan Stephan berdiri di luar sambil menunggu kehadiran mereka.
"Well, apa tidak apa-apa jika aku tidak melapor pada Jendral Cal?" seru Alex
"Aku rasa tidak perlu, karena kau sudah dalam pengawasan dan sedang menjalan kan misi. Jika kau tetap pergi ke sana, maka aku jamin Jendral pasti akan melarang mu untuk melakukan misi ini dengan ku!"
"Well, baik lah!" ujar Alex
"Selamat datang komandan!" seru Stephan memberi salam hormat namun lain hal nya dengan Max yang sama-sekali tidak melakukan apa-apa. Max hanya membantu Cally membawa koper milik Alex.
"bukan kah kau sedang berhenti melakukan misi Steph?" seru Alex
"Well, begitu lah komandan. Tapi aku tidak bisa tidak terlibat ketika Cally sedang bermisi di kampus ku !"
Alex mengangguk, ia lalu memperhatikan sosok lelaki yang sejak kedatangan mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri dan membantu Cally. "Maaf komandan, dia Max. Robot Cally!" seru Stephan menyadari kemana perhatian Alex tertuju
"Apa dia modifikasi terbaru lagi?" seru Alex
"Siap, ia komandan. Dan jika saya perkirakan, Max memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Willer!"
"Lelaki yang malang!" seru Alex. Ia jelas tau semua robot-robot Cally. Adik genius nya itu akan menjadikan manusia yang mengganggu nya menjadi robot dan menjadikan mereka lebih berguna dan satu hal lagi, mereka yang dijadikan Robot oleh adik nya itu pasti mereka yang dengan lancang nya menyentuh kepala gadis itu.
"Dia lelaki yang begitu berani!" seru Alex sambil menghampiri Cally
"Ya, cukup berani untuk menyentuh kepala ku!" seru Cally sambil menyingkirkan tangan Alex yang mengacak rambutnya.
Alex terkekeh lalu menjauh kan kembali tangan nya sebelum ia juga akan di jadikan sasaran oleh adik kecilnya itu karena lancang memegang kepala nya. Sejauh yang tau, hanya ada satu sosok lelaki yang berhasil meluluhkan adik kecil nya itu. Dan itu adalah Ender Wiggin, sosok petinggi satuan sekaligus ketua team Alpha mereka dulu. Bahkan hanya sosok lelaki itu yang dengan bebas bisa menyentuh kepala Cally.
"Apa misi di Rusia berjalan dengan lancar?" seru Cally sambil memberikan Alex segelas kopi.
Alex duduk sambil menikmati kopi yang baru saja diberikan Cally. Sejenak Alex baru menyadari bahwa ia sudah sangat lama tidak meminum kopi ini lagi dan baru mendapatkannya kembali saat sudah bersama Cally. Rasanya sangat mirip dengan buatan almarhum ibunya dulu.
"Aku rindu dengan ibu Cal, mau menemaniku nanti sore?"
Cally hanya mneganggukkan kepalanya sambil menyiapkan mental nya nanti. Meski sudah lama sekali, tapi ia tetap merasa hampa karena kehilangan sosok ibunya di usia nya yang begitu muda.
"Sebenarnya misi di Rusia tidak berlangsung dengan baik Cal, aku kehilangan sosok utama dan aku hanya mendapatkan ini saja!" seru Alex sambil menunjukkan sebuah benda berlambang garuda
"bukan kah itu----!"