Masih dalam keadaan polos kedua insan dalam posisi bercinta, saling berpelukkan.
Hanya kain lembut berbahan sutra yang menutupi tubuh mereka. Terbalut lembut menjadi saksi percintaan berdua.
Air keringat yang keluar dari kulit putih Ara dan Tuan Won menjadi hiasan malam yang cerah.
Bulan purnama yang kian meninggi, memancarkan cahaya putih kebiruan membuat suasana yang hangat menjadi nikmat.
Dalam pelukkan hangat itu, Ara berkata,
"Tuan Won, aku sangat mencintaimu... biarkan aku disini menunggumu, jika kau memiliki tugas yang harus diselesaikan di khayangan..." masih dalam perangkap tubuh kekar itu, Ara mengelus lemah tubuh Pangeran tampan itu.
"Ara...aku akan selalu berusaha ada disampingmu...dan menemanimu sampai kapanpun...itu janjiku padamu..." Tuan Won mengecup mesra kening Ara, sehingga meninggalkan cahaya putih di dahinya.
Sepasang kekasih itu, dengan rasa cinta menikmati cahaya bulan purnama dari balik jendela kamar yang sengaja dibuka lebar.
Agar alam pun menyaksikan percintaan mereka.
Masih dalam rangkulan, Ara terkulai lemas. Tubuh mungilnya yang hangat perlahan menjadi dingin, berawal dari jari kaki gadis cantik itu. Kemudian menjalar ke bagian tubuh, sehingga berjalan menuju puncak kepalanya. Bibirnya yang basah merona pun mengering dan membiru.
Tuan Won, hanya terdiam. Tubuhnya tak bergerak, air mata keluar dari pelupuk mata yang tajam itu. Tanpa melihat wajah dari kekasih hatinya.
Dia tidak sanggup untuk menatap mata Ara yang sudah menutup rapat dengan bahagia, kini wanita itu sudah tenang. Tak ada lagi derita yang membelengguhnya.
Bagaimana pun juga Ara hanyalah seorang manusia, yang memiliki akhir dari kehidupan.
Penantian panjang yang dia lalui, menunggu Pangeran Naga Langit membuatnya kehilangan daya untuk melanjutkan perjalanan di dunia.
Hanya kecupan yang membekas di keningnya, Ara bisa mengingat kisah cinta mereka berdua, disaat gadis cantik itu akan terlahir kembali ke dunia.
Pangeran tampan itu masih memeluk tubuh kekasihnya yang sudah membeku, hatinya hancur karena kesalahan yang membiarkan Ara menderita seperti ini.
Berharap malam terakhir ini akan selalu dikenang oleh Ara selama lamanya.
Tak ingin dia melepas tubuh Ara, rasa rindu itu belum terpuaskan olehnya.
"Nona Ara... sekarang aku tidak meninggalakanmu, tapi kau yang meninggalkanku..." isak nya masih mendekap gadis pujaan hati.
Dengan posisi membelakangi tubuh Pangeran, jasad Ara dipeluk dan memberikan rasa hangat di tubuh Ara yang sudah tidak bernyawa lagi.
Berharap penuh kekasihnya bisa kembali bernafas, dan selalu menemani hidupnya sampai kapanpun.
"Biarkan aku bersamamu seperti ini Ara, janganlah kau cepat meninggalkanku..." tangisan Pangeran tampan itu makin sesak.
Dikecupnya puncak kepala Ara dengan lembut,
"Aku sangat mencintaimu Ara, izinkan aku memelukmu malam ini...hanya malam ini..."
Pangeran tak beranjak dari ranjangnya yang makin dingin, menangisi kepergian Ara dengan pilu.
Tak ada yang bisa dia salahkan, kecuali menyesali kepergiannya saat itu.
Suara binatang malam pun, mengiringi kepergian Ara. Bersorak rasanya tak ingin kisah cinta mereka berakhir memilukan seperti ini.
Bulan purnama yang tadi indah pun, kini malas menyinari bumi, bersembunyi dalam gelapnya awan.
Terdengar suara gemericik air hujan, membasahi tanah bumi. Pangeran tampan itu, masih mematung dalam ranjang berselimutkan kain sutra yang mewah. Mendekap jasad Ara, tanpa bersuara, hanya ribuan penyesalan menghujam rasa.
Mentari pagi, pun mulai meninggi.
Pangeran Naga Langit, membuka matanya yang menyipit. Dilepaskan dekapannya, memohon kepergian Ara hanyalah buah dari mimpi buruknya.
Tetapi sayang, kejadian itu tidak terelakkan dari perjalan panjangnya. Hidupnya yang kekal, selamanya akan menunggu kehadiran wanita yang dicintainya kembali dilahirkan.
Pangeran Naga Langit, menyelimuti jasad kekasih hati yang sudah menemani sepanjang malam, untuk dikubur di halaman belakang rumahnya.
Dengan mengenakan pakaian terakhir digunakan Ara, jasad itu dikubur dengan paras wajah yang cantik.
Terlihat senyuman tipis rasa bahagia menghiasi wajahnya yang jelita.
Pangeran Naga mengecup pelan untuk terakhir kalinya bibir Ara yang sudah membiru.
Buliran air mata, menggenangi pipinya yang putih.
"Ara... kau berjanji padaku akan selamanya menunggu disini... aku akan kembali lagi kesini dan menemuimu..." ujar Pangeran diatas pusara kekasih hati.
Gundukkan tanah yang menjulang tinggi, dimana kekasih hati di semayamkan, ditanamkan bunga cinta yang selalu bersemi tak akan pernah mati, disamping batu nisan berwarna putih bersih, sebersih cintanya kepada Ara.
Setelah puas meratapi kekasih hati, Pangeran Naga Langit dengan berat hati kembali ke alam khayangan, dan menerima tugas selanjutnya dari Raja Langit.
Setiap malam purnama dirinya datang ke bumi dan menemui pusara Ara, dan bercerita apa yang sudah dia lalui di alam khayangan.
Bercerita tentang bagaimana dia melaksanakan tugas yang diberikan oleh Raja Langit.
Pangeran tampan itu, kini mulai memahami. Mengapa Sang Penguasa melenyapkan ingatan dirinya terhadap rasa cintanya kepada gadis bumi itu.
Semua demi ketenangan hati Pangeran, karena cinta itu tidak akan mungkin bisa bersama selama lamanya.
Cinta yang bersemi melawan takdir tidak akan bisa dianyam walaupun menggunakan rasa cinta yang membelit sukma.
Karena cinta yang hadir akan menimbulkan bercak noda yang menyayat perlahan hati dua insan.
Ara yang kini telah pergi selalu membayangi di dalam benak Pangeran tampan itu, tersiksa batin, dan merasakan apa yang dulu gadis itu rasakan.
Kehilangan belahan jiwa yang tidak sempat berpamitan dan mengatakan kalimat terakhir perpisahan.
Kini hidupnya hampa, layaknya sebuah boneka yang melanjutkan langkah kecilnya di padang pasir, sehingga menemukan mata air yang dapat menyejukkan jiwa.
Kisah cintanya belum berakhir, karena rasa itu akan selalu ada di dalam asa. Walaupun umur bumi akan menua, tapi tidak menyurutkan rasa cintanya kepada belahan hati.
Ratusan hingga ribuan purnama, Pangeran tampan itu selalu menemui pusara kekasih hati di bumi.
Batu nisan yang dulu terlihat putih dan bersih, saat ini masih saja terlihat seperti awalnya.
Cuaca yang silih berganti, merawat keindahan pusara wanita yang dicintainya. Pohon bunga cinta yang ditanamkan dulu masih menjulang tinggi dan kokoh, menunggu si pemilik datang.
Rindu yang memuncak selalu terobati dengan melihat pusara itu, olehnya disuci kan dari para warga sehingga tak dapat menjamah dan berani mendekati.
Biar waktu dan pusara yang akan menemani langkah Pangeran tampan itu, menanti kembalinya belahan jiwa.
Wajah tampan nya yang akan selalu abadi dan terukir indah, tak akan memudarkan ingatan pujaan hati.
Suatu saat nanti, dia akan kembali kesini, dan menemuinya.
Bumi ini sudah berganti alur, tak ada yang mampu mengusik.
Kerinduannya membuat raga menetap di bumi, wujudnya sebagai manusia perlahan membatu sebagai seekor naga yang membelit pusara pujaan hati.
Bola kristal yang bermukim di dalam tubuhnya, diletakkan di tengah pusara belahan jiwa.
Setia menanti kehadiran sang kekasih, walaupun kapan waktu itu akan menghampiri.