MEMADU KASIH

1241 Kata
"Tuan Won... Mampukah dirimu selalu berada disisiku ?..." Terdengar suara Ara yang lembut berbisik halus, dalam lamunan pemuda tampan yang tak henti menatap penuh rasa sesal bercampur sedih kepada Ara. Antara rasa bimbangkah atau rindu yang kini mendarat di dalam lubuk hatinya. Walau kini dirinya sudah memiliki gelar seorang Dewa, namun cintanya telah dia berikan kepada seorang manusia yang cantik. Memang sudah melawan takdir alam, mungkin ini pun sudah mereka lalui di kehidupan sebelumnya, sehingga ingatan kedua insan terdahulu, sirna di tutup oleh penguasa alam. Setidaknya mereka telah bertemu lagi untuk dapat memadu kasih dan menyingkap kisah lama yang sempat sirna dari benak mereka berdua. "Nona Ara... Walau cinta kita terhalang oleh alam, aku akan selalu bersamamu... Percayalah..." Ujar Tuan Won, gadis cantik itu membisu seakan isi tubuhnya telah mengering termakan oleh penantian semu, dan mencoba untuk mempercayai ucapan yang dilontarkan kekasih hatinya. Ara dan Pangeran Naga memanglah dua insan yang tak dapat disatukan oleh alam, karena keduanya berasal dari alam yang berbeda. Pangeran Naga sebagai Dewa Naga penjaga alam semesta, sedangkan Ara hanyalah manusia lemah hanya dengan kekuatannya yang mampu melihat makhluk tak kasat mata. Jiwa rapuh milik gadis cantik itu mencoba memandang dalam wajah Tuan Won, meraba dibalik ketampanan kekasihnya dan bertanya dalam diri, apakah kekuatan cinta ini mampu meluluhkan perbedaan alam yang harus dilalui. Dalam dekapan lelaki yang kini telah menjadi tujuan hidupnya, Ara menghela nafas panjang, merasakan energi sayang yang diluncurkannya melalui kehangatan pelukkan itu. Kerinduan yang sudah lama tersimpan, membuat Pangeran Naga mengempaskan desahan nafas yang membelai lembut wajah Ara, sehingga gadis cantik itu pun menolehkan wajahnya menatap kembali kedua bola mata sang pujaan hati. Dengan cepat, Pangeran menangkap dan melumat bibir mungil Ara, penuh rasa rindu yang tak terbendung. Cinta yang telah layu kembali tersirami oleh kesejukan cinta yang diberikan oleh pemuda tampan itu. "Walaupun kau dilahirkan kembali selama ribuan tahun, aku akan tetap menunggumu..." Bisikan itu menyentuh halus di ujung kuping Ara, membuat detak jantung mereka berlomba untuk berpacu mengikuti irama kerinduan. Kain tipis yang menyelimuti tubuh Ara, terjatuh ke lantai, sehingga terlihat jelas tubuh Ara tanpa helaian kain apapun. Tubuh Ara yang mungil diangkat Pangeran keatas meja yang masih tergeletak piring dan gelas diatasnya. Lekukan leher Ara yang jenjang dibelai lembut oleh Pangeran dengan bibirnya yang basah, sehingga membuat desahan panjang keluar dari mulut Ara. Pemuda tampan itu pun mengecup tiap bagian dari tubuh gadis itu. Ara teringat kembali kenangan indah mereka berdua, waktu dimana Tuan Won kekasihnya kemudian pergi meninggalkannya sendiri dirumah yang besar namun telah kosong. "Tuan Won, aku tidak mau melanjutkan lagi..." Ara mendorong pelan tubuh kekar Pangeran. Dengan nafas yang masih menggebu karena rasa rindu yang tertanam, Pangeran berkata, "Ada apa Ara...?" "Aku takut, kalau kita akan melakukan hal yang serupa, Tuan Won akan menghilang lagi, dan meninggalkan aku sendirian disini seperti waktu dulu..." Ujar Ara, dengan raut muka yang cemberut. "Hahahahaha.... Nona Ara..." Pangeran tampan itu mundur selangkah dan mengambil kain yang tadi menutupi tubuh gadis itu terjatuh di lantai. "Ara lucu sekali wajahmu, kalau cembetut seperti itu..." Ujar Pangeran mencubit kedua pipi Ara. "Ya sudah makan lagi ya... Setelah badanmu sudah kembali bugar...aku akan menikahimu..." Kedua mata Ara yang layu seketika membulat, tidak menyangka pujaan hatinya akan berujar seperti itu. "Tuan Won, apakah benar ucapanmu...?" "Apakah aku harus mengulangi ucapanku...?" "Aku akan menikahimu..." Pangeran Naga mengulang kembali ucapannya, sambil mencubit hidung Ara yang masih terlihat pucat. "Setelah makan, kamu pakai bajumu ya...aku meletakkannya di kamar..." Pemuda itu meninggalkan Ara masih terduduk diatas meja makan yang terbuat dari ukiran kayu berwarna emas. Ara mengangguk dan tersenyum masih tak percaya atas ucapan Pangeran. "Apaa...? Aku akan menikah dengan Pangeran Naga..." Ara tersenyum lebar, sembari menutupi mukanya yang gembira mendengar kabar yang menyenangkan ini. Dengan lahap mulut kecilnya mengunyah tiap makanan yang masuk, dengan rasa hati berbunga bunga. Setelah dirinya mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan sutra berwarna putih, Ara menatap di cermin lebar yang tiap sisinya berukir gambar sisik naga dilapisi dengan emas pula. Tiap rambutnya di kepang kecil keatas sehingga menyerupai tali mengelilingi kepalanya, disematkan pernak pernik rambut cantik sehingga terlihat indah menghiasi rambut panjang hitam yang terurai sebagian. Ara menemui Pangeran sedang duduk di tepi sungai, yang letaknya dekat dengan depan perkarangan rumah milik lelaki tampan itu. Terlihat wajahnya memancarkan rasa tak sabar menunggu wanitanya keluar dari pintu agar menemaninya menikmati liukkan air sungai yang mengalir, dan mendengar merdu suara yang keluar dari tarian air tersebut. "Tuan Won..." Gadis cantik itu terlihat sangat cantik dari biasanya. Pangeran tercengang menatap penuh dengan pesona, tubuhnya yang kekar berdiri menatap Ara tak berkedip. "Ara..." Wanita yang sedang berjalan mendekatinya, menyerupai wanita yang selama ini selalu berada dalam bayangan di benaknya. Baju putih yang terbuat dari sutra berwarna putih bersih, dan hiasan rambut yang dikenakan. Sama persis tak ada bedanya. Ara tersipu malu, kupu-kupu cantik pun menghampiri tubuhnya yang bergerak perlahan, dan berdiri tepat dihadapan Pangeran. Pangeran tampan itu meraih kedua tangan Ara, dan mengecupnya halus. "Kau adalah milikku yang telah lama hilang..." Tubuh Ara yang mungil didekapnya dengan erat, dan mengecup pucuk kepala gadis cantik itu. Rasa yang mengalir dengan hangat keluar dari tubuh mereka, menciptakan suasana nyaman diantara dua insan yang sedang melepas kerinduan. "Tuan Won... Aku sangat mencintaimu, bawa aku kemana pun kau pergi..." Pinta Ara dalam dekapan pemuda kekar itu. Walaupun itu tidak kan mungkin terjadi, Pangeran hanya ingin membuatnya selalu berada disamping Ara. Kedua mata mereka bersatu, dan perlahan menyatukan bibir mereka dan melumat satu sama lainnya. Sehingga membangkitkan hasrat yang kuat. Dengan ilmu yang dimiliki Pangeran Naga, di tangan kanannya diciptakan cincin bertahtakan intan permata berwarna hijau. Pangeran melepaskan ciuman mesra mereka dengan perlahan, dan menyematkan cincin cantik itu kejari manis Ara. "Ara, mulai sekarang kau adalah milikku selama lamanya..." Ujar Pangeran tampan itu sembari mengecup pundak tangan Ara. Tubuh mungil itu, diangkatnya perlahan dan seketika mereka berdua lenyap dan sedetik kemudian sudah berada di dalam kamar Pangeran yang sudah dihiasi bunga cantik yang berwarna warni. "Kini kau sudah menjadi istriku Ara... Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi..." Ujar Pangeran berbisik halus dikuping Ara. Pipi putihnya merona dan tersipu malu, Ara menggigit bibir bawahnya. Sehingga terlihat menggemaskan di mata Pangeran tampan itu. Ara turun dari gendongan Tuan Won, namun pemuda tampan itu tak ingin hari yang dibuat sakral bagi mereka berdua terlewat begitu saja. Tuan Won mendekatkan wajahnya sehingga menyatukan bibir mereka, ciuman mesra pun kembali hadir diantara mereka berdua. Pakaian yang terbuat dari sutra berwarna putih itu perlahan lepas satu persatu dari tubuh mungil Ara, tanpa melepaskan pautan bibir mereka. Pangeran pun melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakannya. Masih diiringi ciuman yang menggebu, kedua insan yang sedang dimabuk cinta merasakan getaran yang dahsyat, irama jantung yang berlomba seolah olah menjadi alunan musik cinta, yang mengiringi percintaan mereka. Lekukan leher Ara yang jenjang dikecup kecil merayap dan akhirnya melumat kedua ujung gunung kembar yang sangat menantang. Dengan posisi tubuh Ara yang berada diatas bagaikan nahkoda kapal yang siap memandu para awaknya, sedangkan pemuda tampan itu tampak antusias mengulum puncak gunung kembar nya yang lembut, tangan satu lagi sibuk membelai pelan memutar sesuai arah jarum jam. Desahan panjang keluar dari mulut mungilnya Ara, menggetarkan sukma, seketika memecahkan pembulu darahnya yang mengetat dan pecah. Perlahan irama semakin memuncak, seolah bom telah meletus di dalam jantung mereka berdua. Dengan posisi yang sangat erotis, kedua insan tersebut masih bergumul dalam hangatnya selimut lembut yang menutupi tubuh mereka yang polos. Malam ini Tuan Won dan Ara, tak sedikit pun menyisakan waktu untuk keduanya mampu melupakan percintaan mereka yang indah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN