PENJARA CINTA

1107 Kata
"Tuan Won... Dimanakah dirimu..." Isak Ara menyesakkan d**a. Sudah puluhan purnama tak kunjung jua sang kekasih hati menampakan sosoknya di hadapan gadis cantik itu. Membuat kerinduan didalam d**a makin menyiksa batinnya, sudah berbulan bulan jiwa gadis yang merindu dipenjara dalam kegelapan. Mencari cahayanya yang hilang tak terlihat walaupun sesaat, hanya tangisan yang menemani hari-harinya. Ara kini dikurung didalam kamar oleh kedua orang tuanya, tembok kamar yang dingin makin menyiksa batinnya. Dunia yang cerah kini sudah tak tampak lagi, mendung merajai kehidupan gadis cantik itu. Di dalam kamar, Ara hanya dapat meratapi sang kekasih, yang telah hilang tak ada rimbanya. Hidup makin tak berguna, bunga yang selalu dirawat olehnya pun layu. Tak ada kehidupan yang ceria lagi, tak ada sinaran di bola matanya menunjukkan warna di alam semesta. Kerajaan batinnya telah hangus termakan rindu yang menggebu, tak ada yang sanggup mengobatinya, kecuali Tuan Won pujaan hati. Hanya nama itu yang menjadi lilin di dalam kegelapannya, hanya nama Tuan Won yang membuatnya damai. Walaupun sosoknya hidup, namun terasa jiwa telah mati, lenyap layaknya kekasih hati yang keberadaannya hingga kini entah dimana. Tubuh Ara yang dahulu cantik, bersih, putih. Kini lusuh tak terawat, bagaikan kebun bunganya yang sudah tak ada yang merawatnya lagi, kering. Tak ada seekor kupu-kupu dan burung menghampiri kebun bunga itu. Matahari pagi yang begitu hangat, kini tak terasa lagi di tubuh Ara, sejuknya udara pagi tak pernah lagi dihirup oleh gadis itu. Hanya jendela kamar yang terbuat dari kayu dan sedikit celah, yang mampu dimasuki oleh pancaran sinar mentari ke kamar sempit itu. Kedua orang tua Ara sudah pasrah dengan perilaku anak gadis mereka satu-satunya. Sebab sudah dibawa ke berbagai tabib untuk mengobatinya, tak juga sembuh. Sehingga membuat mereka frustasi dan membelengguh kaki Ara yang indah, diantara kayu yang dipahat untuk mengikatnya. Penyakit rindu tak ada satu pun obatnya, kecuali bertemu dengan pujaan hati. ***** Setelah melewati puluhan purnama, akhirnya Pangeran Naga menyelesaikan tugasnya di khayangan. Rindu yang telah lama terpendam akan segera terobati. "Nona Ara, tunggu aku..." Pangeran Naga dengan hati yang berbunga-bunga turun ke alam dunia, namun yang didapatinya tidak seperti dugaannya. Setelah berdiri di depan perkarangan rumah Ara, dirinya menemukan kebun bunga yang layu. Rumah yang dahulu asri dipandang, kini telah kusam, tidak bercahaya lagi. "Tok...tok...tok..." Pemuda tampan itu mengetuk pintu rumah Ara yang terbuat dari kayu tua. Tak ada yang menjawab, kedua orang tua Ara ternyata telah meninggalkan anak gadisnya dirumah tua itu. Kehidupan mereka semakin susah, sawah dan hewan ternak mereka sudah habis terjual untuk membiayai pengobatan Ara, sudah banyak uang yang dikeluarkan demi menyembuhkan anak satu-satunya. Tetapi tidak membuahkan hasil, sehingga mereka berputus asa dan meninggalkan Ara dirumah itu. Pangeran Naga membuka perlahan pintu rumah tersebut, ternyata tidak dikunci. "Nona Ara..." Panggilnya, namun tak ada jawaban. Ruangan yang gelap, membuat penglihatan Pangeran tidak begitu jelas. Dilihatnya seorang gadis tergeletak di lantai yang tak beralas, kaki yang dipasung membuat tubuh itu tak dapat bergerak bebas. Didekati tubuh yang tidak terawat itu, rambut panjang yang tak terurus menutupi seluruh mukanya. Pemuda tampan itu membuka jendela dan menyingkap tirai yang menutupi jendela agar cahaya matahari masuk menyinari rumah yang tidak terawat. Tubuh yang tergeletak dibawah tiba-tiba tersadar dan mengalingi wajahnya, silau karena sudah lama tak melihat cahaya matahari. Tubuh lusuh itu berusaha untuk menghindari cahaya. Pangeran masih penasaran, siapa sebenarnya sosok lusuh itu. "Siapa kamu ?..." Dengan samar, Pangeran iba melihat kondisi tubuh orang itu. Ternyata dirinya mengenali suara Pangeran. "Tuan Won..." Suara wanita terdengar lirih keluar dari mulutnya. "Araa...!!" Pangeran langsung mengenali suara itu, dan mendekati tubuh yang telah membuatnya iba. Rambut panjang yang tidak terurus menutupi wajah gadis itu, disingkapnya kebelakang. Barulah terlihat wajah Ara yang lusuh, kecantikannya dulu sudah terkubur. Tatapan mata yang dulu selalu cerah dan berbinar sudah tidak terlihat, hanya tatapan kosong menunduk kelantai. "Araaa...!!" Pangeran memeluk tubuh gadis itu, dan tidak menyangka hal ini akan terjadi. "Araaaa...!!!"" Dengan meratapi dan menyalahkan dirinya sendiri, tangisan Pangeran menggema, membuat hujan turun membasahi tanah bumi. "Ara, maafkan aku Ara... Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini..." Isak Pangeran merasa bersalah. "Tuan Won...Tuan Woon..." Kau kah itu...?" Kembali suara yang terdengar lirih keluar dari mulut mungilnya. "Iya Ara ini akuu..." Air mata masih menggenangi pipi halusnya Pangeran Naga. "Engkau telah datang Tuan Won..." Gadis itu pun meneteskan air mata di pipinya yang kotor penuh dengan debu. Pangeran Naga membuka pasungan yang mengikat kaki Ara, dan mengangkat tubuhnya yang kurus, ke rumahnya yang dulu sempat dia lenyapkan di alam dunia. Dimandikannya gadis yang dicintainya dengan penuh rasa sesal yang mendalam, masih dalam berurai air mata, Pangeran Naga merasa terpukul dengan keadaan Ara sekarang. "Maafkan aku sayang, aku tidak menyangka kalau kau sampai begini..." "Maafkan aku, yang tidak sempat berpamitan untuk meninggalkanmu sementara..." Masih keadaan tatapan kosong, Ara hanya melihat wajah Pangeran Naga kemana tubuhnya bergerak. Di dalam kamar, gadis itu dengan telaten disuapinya makanan, karena tubuh gadis itu seperti berbulan bulan tidak makan, terlihat sangat kurus. "Tuan Won...apa betul itu dirimu, atau hanya imajinasiku saja..?" Dirabanya wajah Pangeran Naga yang dia kenali dulu. "Iya nona Ara, sayangku... Ini aku..."ujar Pangeran, diraih kedua tangan Ara, agar dapat menyentuh pipinya. Dan akhirnya gadis itu tersadar bahwa ini bukan hasil dari permainan imajinasinya, karena selama ini bayangan Tuan Won kekasih hati hanya menemani di alam khayalan saja. Gadis itu pun mendekap tubuh Pangeran dengan hangat, "Akhirnya kau menemuiku Tuan Won...aku sangat sangaaatt merindukanmu..." Ara menangis dalam dekapan Pangeran. Tak kuasa dirinya menahan sesaknya rindu di dalam d**a, kehilangan Tuan Won di dalam diri telah membuatnya menjadi gila. "Jangan tinggalkan aku lagi Tuan Won... aku sendirian... aku kesepian..." Dengan erat tubuh kurus Ara merengkuh Pangeran. "Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi Ara..." Pangeran pun memeluk tubuh Ara yang lemah. "Maafkan aku sayang... Aku sudah membuatmu seperti ini..." Pemuda itu mencium kening Ara dan mengelus lembut kepalanya. "Makan lagi yaa... Biar tubuh mu bisa kembali kuat seperti dulu..." Pinta Pangeran, sembari menyuapi Ara yang masih lemah. "Tuan Won... Kemana saja kau selama ini ?... Aku selalu menunggu kehadiranmu..." Rengek Ara, sambil mengunyah makanan. "Aku kembali ke khayangan, dan dinobatkan sebagai Dewa..." Dengan nada datar, sepertinya Pangeran menyesali penobatannya menjadi Dewa saat itu. "Syukurlah kalau begitu... Aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi..." Ujar Ara pelan. "Mulai sekarang, nona Ara akan selalu berada disisiku... Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi..." Pangeran Naga berujar melayangkan janji kepada gadis yang dicintainya, sembari mengecup pundak tangan gadis itu. Wajah Ara yang pucat pasi perlahan memerah, terlihat matanya yang hampa kembali berbinar bagaikan taburan bintang di langit hitam yang cerah. Senyuman yang sudah lama hilang kini kembali merekah, kecantikan yang terkubur telah bangkit kembali. Pangeran tampan itu kembali memeluk hangat tubuh Ara. "Ara aku merindukanmu..." Bisiknya pelan dikuping gadis cantik itu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN