API ASMARA

1209 Kata
"Ara... Aku tak ingin jauh darimu...jika kukeluarkan bola kristal yang bersarang di tubuhmu...kita akan berpisah..." Mendengar ucapan itu Ara tercengang, dan tak ingin pula melepaskan cintanya yang telah berlabuh di dalam relung hati. "Apakah tidak ada cara lain Tuan...?" Tanya Ara, meneteskan buliran air mata kian membasahi pipinya yang putih bersih. Pangeran hanya menggelengkan kepala sembari merengkuh tubuh gadis cantik yang dicintainya. Jiwanya yang makin melemah tanpa bola kristal itu, memerlukan energi suci dari Ara yang menyimpan bola kristal di dalam tubuhnya.   "Aarchhh...!!" Tiba-tiba Pangeran merasakan dingin disekujur tubuhnya menerpa hingga ke tiap urat nadi.  Dipegangnya dahi yang seakan dihantam oleh besi berat. Pangeran Naga tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang menusuk hingga tulang belulang, di dekapannya tubuh Ara lalu menghilang dari kebun bunga itu, sesaat kemudian berada didalam kediaman Pangeran. Dirinya semakin melemah, aliran darah seakan berhenti, isi otak merasakan dingin dan membeku... "Aacchhh...!!" Pangeran Naga terjatuh dibawah kaki Ara. "Tuan Won... Tuan Won...!!' gadis itu berteriak dan berupaya menggendong tubuh Pangeran yang kekar, ke kamar yang berada di lorong bangunan. Dengan tergopoh gopoh, Ara berusaha dengan sekuat tenaga membuka gagang pintu yang berlapiskan emas. Direbahkan tubuh Pangeran dengan perlahan, masih dalam keadaan terengah-engah, Ara mencoba mengangkat kedua kaki pemuda itu keatas ranjang yang terbuat dari ukiran kayu mewah. "Tuan Won... Sadarlah Tuan..." Gadis cantik itu terisak dan bola matanya bergrilya mencari sesuatu untuk membantu pemuda tampan itu bisa kembali pulih. Disaat Ara melihat gelas kristal yang berisikan air, dan hendak mengambilnya, Pangeran menggenggam lengan gadis itu. "Nona Ara... Jangan pergi..." Dengan gigi yang beradu, serta tangan yang dingin, pemuda itu menarik tubuh Ara ke ranjangnya. Gadis cantik itu merasakan hawa dingin keluar dari tubuh Pangeran. Rasa sedih yang menghujam d**a, Ara tidak mau kehilangan laki-laki yang dicintainya. Sambil terisak, diciuminya bibir pemuda itu, dan membuka helaian demi helaian baju yang dikenakan oleh Pangeran dengan keadaan kalut. Ara pun tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti, dirinya pun membuka helai demi helai kain yang menutupi tubuhnya. Hawa panas yang berada di dalam tubuh Ara, disatukan dengan tubuh Pangeran Naga, dalam keadaan polos tanpa satu helai benang pun menjadi aling-aling. Layaknya api unggun menghangatkan tubuh disaat kehilangan daya, Ara mendekap erat tubuh Pangeran, dan menyatukan kedua bibir. Agar hawa panas yang keluar dapat dialirkan keseluruh tubuh pemuda itu. Didalam dekapan, bola kristal yang berada di dalam jantung Ara, bergeser keluar dari bibir mungilnya, kemudian masuk ke dalam tubuh sang Pangeran. Seketika Pangeran tersadar dalam deritanya, namun melihat tubuh Ara yang polos, jantung yang melemah menjadi irama detakan kencang Ara yang masih mencoba menyadarkan Pangeran dengan ciumannya yang hangat, tidak menyadari bahwa pemuda yang sedang dipeluknya sudah terbangun dari ambang kematian. Ciuman hangat seakan memecahkan gunung es yang sudah lama membeku, membuat suasana ketakutan menjadi suasana romantis. Dua bibir yang sedang bergelut mengalun lembut, bagaikan lukisan Maha Dewa yang penuh dengan seni keindahan cinta. Sebuah asa yang menjadi rasa melebur kian menyatu, layaknya terbang ke langit ketujuh, Ara merasakan kenangan masa lalunya yang terpendam ribuan tahun lalu terungkap. Lelaki yang sempat masuk dalam benaknya, kini terlihat jelas paras wajah serta tiap nada suara yang keluar dari mulut lelaki itu. "Pangeran... " Ara menghentikan kemesraan yang timbul secara tidak sengaja. "Ternyata engkau, lelaki yang selama ini mengganggu pikiranku.." Kembali Ara berkata dengan mata yang berbinar. Pangeran Naga hanya mengatupkan bibir mungil Ara dengan jari telunjuknya, kemudian kembali menciumi Ara dengan rasa yang membara termakan oleh api asmara. Seolah ingin menghentikan waktu, tangan kekar Pangeran membelai lembut p******a Ara penuh dengan gairah. Ara pun mendesah, tubuh indahnya menggeliat merasakan sesuatu yang mengalir dari dalam tubuhnya. Bagikan sengatan listrik yang meregangkan raga. "Aaahh... Tuan Won... " Tak kuasa menahan hasrat yang membara, Ara menciumi seluruh tubuh Tuan Won.  Pemuda tampan itu menggigit halus bibir mungil Ara, sehingga menambah sensasi nikmat dalam permainan cinta, yang tercipta melalui ketidak sengajaan. Hembusan nafas Ara, yang membelai lembut wajah Pangeran, memacu detak jantung di dalam dadanya. Senja berganti malam, malam pun berganti pagi. Dua insan yang memadu kasih seakan akan makin menambahkan api cinta, dan melewati malam yang begitu indah bagi mereka berdua. Mentari pagi membelai lembut wajah Ara melalui tirai kamar Pangeran. Masih dalam keadaan polos hanya terselimuti dengan kain sutra berwarna putih, Ara meraba-raba tubuh Pangeran yang semalaman membuainya dalam keindahan cinta. Namun ternyata tak dia temui,, "Pangeran..." Ara bangun dan mengenaikan pakaiannya. Dia berlari keruang tengah dari rumah tersebut. "Tuan Won...!" Teriak Ara, tanpa ada satu pun yang menjawab. "Tuan Won...!!" Wajah cantiknya pun kembali berubah panik. Dicarinya lelaki tampan yang dicintainya keruang baca. "Tuan Won...!!"  Kosong, ternyata Pangeran Naga Langit sudah pergi ke khayangan, memenuhi panggilan Raja Langit. Ara hanya terduduk lemas di kursi kayu yang berlapiskan emas. "Pangeran Naga Langit, haruskah kau pergi tanpa memberitahuku..." Isaknya, karena dirinya harus kehilangan lagi lelaki yang selalu berada di dalam benaknya. Kesedihan mendalam pun dirasakan oleh Pangeran di khayangan, karena dirinya sadar bahwa bola kristalnya telah kembali ke dalam tubuh. "Ara... Maafkan aku...aku pergi tanpa pamit..." Ujarnya dalam hati. Pangeran Naga Langit pun tak sadar sudah berada di khayangan, semalam dalam tidur yang lelap disamping gadis yang dicintainya, tiba-tiba saat terbangun dirinya sudah berada di kediamannya. "Aku akan berusaha menemuimu di alam dunia, wahai pujaan hatiku..." Sembari menatap cahaya mentari pagi, Pangeran berjanji di dalam hati. ****** Beberapa hari kemudian Raja Langit menobatkan Pangeran Naga menjadi seorang Dewa Naga Penguasa alam semesta. Dewa utama dari para Naga yang ada,, Selepas penobatan itu, Pangeran yang sekarang berpindah kedudukan menjadi Dewa Naga, meminta persetujuan kepada Raja Langit untuk bertemu gadis pujaan hatinya ke alam dunia, dan menetap disana untuk beberspa saat. Namun sayang, Raja Langit tidak mengizinkannya. Karena banyak beban yang sudah menumpuk, menunggu penobatan ini. Jika pekerjaan yang menyita banyak waktu itu usai, Raja Langit akan mengizinkannya. Dengan semangat yang menggebu, Pangeran yang sudah menjadi Dewa itu pun dengan segera menerima tugas yang harus dia selesaikan. Karena waktu di khayangan dan di alam dunia itu berbeda sangat jauh, rasa seminggu di khayangan, bagaikan berbulan bulan. Ara tiap malam menunggu kehadiran sosok dari Pangeran Naga, yaitu Tuan Won kekasih hatinya. Dengan memandangi bulan di kala malam menjelma, selalu berharap keajaiban, kehadiran kekasih hatinya muncul di depan mata. Sudah hampir setahun Ara tidak mendapatkan kabar dari pemuda itu. "Tuan Won... Apakah kau akan kembali lagi..." Isak Ara, yang kini menderita kehilangan lelakinya. "Sejahat itukah dirimu..." "Kau tega pergi begitu saja... Hanya meninggalkan kenangan manis itu...tanpa pamit dan berkata apa-apa...!!" Teriak Ara menangisi Tuan Won miliknya, di dalam kamar. Kedua orang tua Ara semakin bingung melihat kondisi anaknya yang kian hari makin memburuk. Ara kini dianggap tidak waras oleh keluarganya, semenjak pulang dari kediaman Pangeran Naga kala itu. Karena saat itu, seharian dia menghilang dari rumah, dan akhirnya keesokkan hari ditemui oleh warga di pinggir sungai, sedang menangis tersedu-sedu. Kediaman Pangeran Naga pun lenyap ketika beberapa jam kepergiannya, sebab itu lah Ara menangis di pinggir sungai layaknya orang yang sudah kehilangan akal. Dengan tatapan mata yang kosong, Ara hanya memanggil nama Tuan Won, setiap pemuda yang melintas di depan matanya, dikejar dan memanggil nama Tuan Won. Sedangkan kedua orang tua Ara sudah bertanya tanya kepada warga sekitar, siapa Tuan Won itu sebenarnya, namun tidak ada satu orang pun yang mengenalinya. ❤️Bagaimana kisah cinta mereka berdua? Terus simak ya dengan cara subscribe, like dan meninggalkan jejak komentar..terimakasih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN